Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 101


Zain menuntun Meka memasuki pekarangan rumah itu. Dia tidak membiarkan Meka yang menuntun mereka berjalan. Zain ingin menjadi pelindung Meka disaat berbahaya.


"Mas, rumahnya sepi sekali. Tidak ada tetangganya juga. Rumah disini jaraknya jauh-jauh ya," ucap Meka saat memperhatikan sekeliling mereka.


"Mek, ini benaran rumahnya? Kok sepi banget ya," Isna menghampiri Meka yang berjalan di depan mereka.


"Iya, ini rumah yang diperlihatkan oleh mahluk itu.Tapi gw juga gak tau kalau disini ternyata sepi," jawab Meka yang sedikit takut.


"Sayang, Mas takut mahluk itu membohongi kamu. Mas takut dia yang menginginkanmu."


"Kayaknya gak mungkin Mas. Mahluk itu gak mungkin berbohong, karena aku bisa lihat kebenaran di matanya Mas," balas Meka.


Saat Meka hendak mengetuk pintu rumah itu, tiba-tiba pintunya terbuka lebar dan memperlihatkan sosok wanita tua yang sudah rentan.


Wanita itu terkejut dengan kehadiran Meka dan yang lainnya. Dia berdiri di depan pintu menatap satu persatu Meka dan yang lainnya.


"Kalian siapa? Dan mau cari siapa?" tanya wanita tua itu.


Meka maju selangkah berdiri tepat dihadapan wanita itu dan berkata,


"Bu, kami temannya Inem, anak Ibu yang bekerja di Kota," jawab Meka berhati-hati.


"Inem! Inem anak saya? Hiks hiks hiks, Inem, dimana dia? Kenapa gak pulang melihat Ibunya?" tanya wanita tua itu dengan menangis.


Meka dan yang lainnya menatap wanita tua itu dengan rasa iba dan kasihan.


"Mek, gimana nih? Ibunya menangis!" Deon berbicara pelan di dekat Meka.


"Bu, bisa kita bicara di dalam?" Meka memberanikan diri untuk menyentuh wanita tua itu.


Lalu wanita tua itu mendongakkan wajahnya menatap Meka dengan tatapan tajam.


"Kamu siapa? Gimana bisa kenal sama anak saya, hah," sentak Ibu itu.


Meka ketakutan, namun Zain langsung maju kehadapan Meka dan berkata,


"Anak Ibu meminta bantuan kepada istri saya. Apa bisa kami menjelaskannya di dalam Bu?" pinta Zain dengan suara lembutnya.


Lalu wanita tua itu melihat Meka dan Zain bergantian, dan dia mengangguk.


"Mari masuk," ucap Ibu itu.


Meka masuk bersama Zain dan diikuti oleh Isna dan Deon.


Mereka melihat ruangan kecil itu dipenuhi dengan foto-foto Inem. Mulai dari bayi hingga dewasa. Semua foto Inem dipajang di ruangan itu.


"Silahkan duduk," Ibu itu mempersilahkan Meka dan yang lainnya duduk.


Mereka pun duduk di tempatnya masing-masing.


"Maaf Bu kedatangan kami kemari ada hubungannya dengan anak Ibu yang bernama Inem. Tapi sebelumnya saya ingin mengetahui cerita tentang Inem dari Ibu. Apakah Ibu bersedia menceritakannya?" tanya Meka.


"Kenapa saya harus menceritakannya kepada kalian. Berarti kalian bohong, bukan teman anak saya kan!" bentak wanita tua itu


"Kalau Ibu mau tau bagaimana anak keadaan Inem, tolong ceritakan bagaimana dia bisa bekerja di rumah majikannya," pinta Zain yang berusaha tenang.


Wanita tua itu menangis, dia sangat merindukan anaknya yang gak pulang-pulang.


"Saat itu Inem baru lulus SMA, dan umurnya masih sangat muda. Dia membantu saya berjualan kue di pasar hingga setahun berlalu. Ketika itu saat saya dan Inem sedang berjualan, ada suami istri menghampiri kami. Istrinya sangat cantik dan suaminya juga tampan. Mereka mencoba kue yang kami jual. Lalu dia memesan banyak kue untuk disumbangkan ke acara anak yatim di panti asuhan. Saya merasa hari itu hari keberuntungan kami karena mendapat banyak pesanan. Saya sangat senang, begitu juga dengan Inem. Hingga waktu untuk pengambilan pesanan tiba. Mereka datang kerumah ini mengambil pesanan kuenya," wanita tua itu menghentikan ceritanya sambil menangis.


"Maaf kalau Ibu harus mengingatnya kembali," ucap Meka tulus sambil memegang tangannya.


"Maksud Ibu, Inem gak pulang-pulang setelah pertama kali pergi dari sini?" tanya Meka hati-hati.


"Iya, saya menunggunya sebulan, dua bulan bahkan setengah tahun, Inem gak memberi khabar. Saya khawatir dan cemas. Saya mencoba menghubungi no tlp perempuan itu, dan dia menerimanya. Dia bilang kalau Inem baik-baik saja, dan lagi sibuk karena diberi tugas tambahan kerja di kantor suaminya. Dan saya dengan bodohnya mempercayai ucapannya. Hingga sampai sekarang, Inem gak pulang-pulang dan memberi khabar," Ibu itu menangis tersedu-sedu. Hatinya hancur dilanda kesedihan yang tak berujung.


Tiba-tiba sosok mahluk itu muncul disamping wanita tua itu. Meka terkejut dan kaget karena kehadirannya yang mendadak.


"Astaghfirullahal'adzim," ucap Meka sambil memegang dadanya.


"Kenapa Mek?" tanya Isna heran.


"Ah gak apa-apa Na," jawab Meka tenang.


Zain mengerti dengan ucapan istrinya itu. Bahwa saat ini dia melihat mahluk tak kasat mata di hadapannya.


"Meeekaaa, aakuuu iingiiin meemeeluuk Iibuukuu! Piiinjeemkaan aakuuu tuubuuhmuu, aagaarr aakuuu biisaaa meemeeluuknyaa, aakuuu moohoonnn," pinta mahluk ghaib itu.


Meka menoleh kesamping dan berbisik ke telinga suaminya.


"Mas, mahluk itu sekarang berada dihadapan ku, dia memintaku meminjamkan tubuhku untuknya, agar dia bisa berkomunikasi dengan ibunya. Apakah Mas memperbolehkannya?" tanya Meka.


Zain berpikir dan dia agak khawatir dengan keinginan mahluk ghaib itu.


"Biarkan dia menggunakan tubuhmu Meka, aku akan menjagamu," ucap Khodamnya yang tiba-tiba muncul sebagai laki-laki dan berdiri disamping wanita ghaib itu.


Meka menatap wajah suaminya, berharap Zain memberinya izin atas keinginan wanita ghaib itu.


Zain melihat ada harapan memohon terhadap dirinya. Dia menjadi bimbang, takut jika mahluk ghaib itu tidak mau melepaskan Meka setelah dirasuki. Namun disisi lain, Zain merasa kasihan melihat wanita tua rentan itu yang sangat merindukan anaknya. Hingga kemudian Zain memutuskan memberi izin kepada Meka.


"Baiklah sayang, Mas izinkan dia menggunakan tubuhmu untuk memenuhi keinginannya yang terakhir. Tapi Mas tidak ingin dia berlama-lama melakukannya," ucap Zain tegas.


"Iya Mas."


Lalu Meka menatap wanita ghaib itu dan mengangguk, memberinya kesempatan untuk menggunakan tubuhnya.


"Peejaamkaan maataamuu Meeekaaa. Aaaku aaakaan meeemaasuukiimuu seekaaraang," ucap wanita ghaib itu.


Deon dan Isna yang tidak mengerti tentang hal ghaib dan tidak bisa melihat apa yang terjadi secara tak kasat mata, hanya diam memperhatikan semua yang akan terjadi.


Lalu Meka mulai memejamkan matanya dan berkonsentrasi. Hingga hitungan detik, Meka menggelinjang seperti orang kesurupan. Kemudian dia mendongakkan kepalanya mengahadap kearah wanita tua rentan itu.


Deon dan Isna menatap dengan harap cemas dan khawatir dengan keadaan Meka. Mereka mewaspadai nya.


"Bu," Meka yang sudah kerasukan wanita itu memanggil Ibunya.


Wanita tua itu terkejut kala mendengar seperti suara anaknya.


"Inem! Kamukah itu?" ucap wanita tua itu dan berdiri melihat kearah pintu.


Namun tak terlihat siapapun yang berada di depan pintu rumahnya.


"Ibu, aku disini. Dihadapan Ibu. Ini aku Bu, anakmu Inem!" ucap Meka menirukan suara Inem.


Lalu wanita tua itu menoleh dan menatap Meka dengan lekat. Dia menghampiri Meka dan melihat kearah mata Meka.


"Inem anakku?! Ka...kamu Inem?" tanya Ibunya yang bingung dan tak percaya.


"Iya Bu, ini Inem. Maaf kalau Inem tidak bisa lagi menemui Ibu. Karena Inem sudah tidak ada di dunia ini Bu," ucap Meka sambil menangis.


Wanita tua itu langsung memeluk Meka dengan penuh kerinduan. Dia meluapkan segala rindunya yang ditahannya bertahun lamanya. Air mata terus mengalir di pipi wanita tua itu. Meka juga ikut menangis. Mereka berdua meluapkan kerinduan besarnya