
Setelah mereka semua sampai di perkarangan rumah orang tua Zain, Zain membawa mereka masuk ke dalam.
Ketika Papanya Meka keluar dari mobil, dia melihat sekeliling dan seketika dia melihat bayangan hitam berdiri di depan sebuah kamar. Papanya Meka tidak tau kamar siapa yang ada di situ.
Sandy menyadarkan Abang Iparnya karena melihatnya terdiam berdiri terpaku.
"Bang, kenapa malah bengong? Ada apa?" tanya Adik Iparnya. "Ah iya, aku tau. Pasti Abang takjub ya melihat rumah besan yang sangat besar," ledek Iparnya yang memang suka sekali menjahilin Iparnya.
"Hussst kamu ini San. Ada aja yang di ucapkan," kesal Abang Iparnya.
"Lah terus ngapain Abang diam di sini?" tanya nya lagi.
"San, Abang melihat bayangan hitam di sana," jawabnya sambil menunjuk ke arah sebuah kamar.
"Abang nih ngeledek aku ya. Mana bisa aku melihat yang tak kasat mata. Yang aku lihat hanya jendela kamar yang tertutup. Terus ada bunga di depan jendela itu dan beberapa pot bunga besar," guyonnya.
"Ah kamu ini. Abang serius Sandy....," kesalnya.
Sandy memang sangat dekat dengan Iparnya itu. Kakak dan Abang Iparnya itu sangat menyayanginya sejak dia remaja. Sehingga tidak ada kecanggungan lagi jika Sandy menggoda Iparnya.
"Terus maksudnya apa itu Bang? Masa sih orang tua Zain melakukan pesugihan atau apapun yang berhubungan dengan hal ghaib Bang?" tanya Sandy dengan suara pelannya.
"Abang juga tidak tau San, apa tujuan mahluk itu," jawabnya. "Astaghfirullahal'adzim San....dia melihat ke arah Abang!" serunya tapi tetap dengan suara pelan.
Mahluk itu menyeringai memamerkan gigi taringnya yang panjang, menatap tajam dengan bola mata yang memerah, rambutnya panjang dan kuping panjang ke bawah. Tentu saja Papanya Meka tidak tau mahluk apa itu. Tapi dari sorot matanya yang tajam, mahluk itu seperti menginginkan sesuatu.
"Jadi apa yang harus kita lakukan Bang?" tanya Adik Iparnya. Mereka berdua masih berdiam berdiri di halaman luas itu.
Sementara Meka, Zain dan Istri Omnya sudah berjalan di depan meninggalkan mereka di belakang. Namun Meka merasa tidak mendengar langkah kaki yang mengikutinya. Meka pun berhenti.
"Ayo sayang, kenapa berhenti?" tanya Zain yang juga ikut berhenti di samping Meka.
Meka pun menoleh ke belakang dan melihat Papa serta Omnya masih berdiam berdiri jauh dari mereka.
"Loh Pa, kenapa malah berhenti?" tanya Meka ketika melihat ke belakang.
Zain dan Istri Omnya juga menoleh ke belakang melihat mereka yang berhenti tidak mengikuti langkah Meka.
"Bang, kok berhenti?" tanya Istri Sandy yang datang menghampirinya.
"Ini tadi Abang Ipar berhenti karena kakinya agak kesemutan. Mungkin karena tadi duduk di dalam mobil," jawab Sandy yang terpaksa berbohong.
Sandy tak ingin jika Istrinya mengetahui apa yang di katakan Abang Iparnya. Istrinya akan merasa tak nyaman jika mengetahui ada sosok mahluk ghaib di rumah ini.
"Oalah, kenapa gak bilang Bang," seru Istrinya.
"Ya sudah gak apa-apa. Abang udah baikan karena tadi berhenti sebentar," elak Abang Iparnya.
"Papa baik-baik aja kan?" tanya Meka yang datang menghampiri Papanya.
Meka melihat Papanya baik-baik saja. Tapi saat Meka memperhatikan dengan teliti, mata Papanya melirik ke arah sebuah kamar. Kamar itu milik mereka. Dan sekejap Meka mengerti mengapa Papanya berhenti.
"Pa, ayo kita masuk," ajak Meka yang pura-pura tak mengetahui apapun.
"Ah iya sayang. Ayo kita masuk ke dalam."
Papanya meka memegang lengan Meka dan berjalan ke arah rumah itu. Meka mencoba tidak memperdulikan keberadaan mahluk bayangan hitam itu. Zain dan yang lainnya ikut berjalan ke arah rumah.
Pintu rumah itu terbuka lebar, menyeruakkan suara-suara riuh dari dalam. Keramaian dari dalam rumah sudah terdengar saat mereka menginjakkan kaki di atas teras rumah itu.
"Sepertinya di dalam rumah sangat ramai ya nak Zain," ucap Papa mertuanya.
"Iya Pa. Mungkin keluarga sudah pada ngumpul di dalam," balas Zain.
"Assalammu'alaikum....!" ucap Zain hingga membuat mereka yang berada di dalam ruangan itu sontak terdiam karena mendengar suara Zain dengan kuat.
Mama dan Papanya Zain yang kebetulan berada tak jauh dari pintu rumah, melihat kedatangan anak, menantu dan orang yang belum mereka kenal. Mamanya Zain menghampiri mereka semua.
"Wa'alaikumussalam Zain....," sahut Mamanya dengan gembira. "Sayang, kalian lama sekali datangnya?" tanya Mamanya yang sekilas melihat ke belakang bahu Zain.
"Maaf Ma, Zain agak telat bangun tadi," jawabnya. Oh ya Ma, Pa, ini kenalkan Papanya Meka dan Om serta Istrinya," Zain memperkenalkan keluarga Meka dengan kedua orang tuanya.
"Ya Allah, ayo Pak besan masuk," ajak Mamanya Zain.
"Ayo Mas masuk," Papanya Zain pun ikut menyambung kedatangan keluarga Meka.
Mereka berjalan memasuki ruangan yang di penuhi dengan keluarga Zain.
"Oh ini rupanya orang tuanya Meka yang memilih tidur di hotel?" tiba-tiba Omanya Zain menghampiri mereka dengan raut wajah mencemoh dan tersirat rasa tidak suka dalam kata-katanya.
Seketika Papa dan Omnya Meka menoleh ke sumber suara. Papanya Zain bisa melihat ketidaksukaan permepuan tua yang berada di belakangnya.
"Maaf siapa ya?" tanya Papanya Meka yang memang sengaja mempertanyakannya.
"Apa Nenek tua ini keluarga kita?" tanya Omnya Meka yang menyambung ucapan Iparnya. Omnya Meka juga bisa melihat kalau wanita paruh baya itu tidak senang akan kehadiran mereka.
"Iya Oma ini Papanya Meka dan ini Omnya serta Istrinya," Zain maju untuk menjadi penengah diantara mereka.
"Pa, Om, ini Oma saya. Ibu dari Papa," jelas Zain terhadap mertuanya.
Sementara kedua orang tua Zain diam seperti orang yang terhipnotis tak berkutik. Namun setelah Zain menjawab dan memperkenalkan masing-masing keluarga, kedua orang tua Zain tersadar. Mereka merasa tak enak dengan perkataan Omanya Zain.
"Ah ayo Mas, kita duduk. Maaf atas sikap Ibu saya seperti itu," ucapnya minta maaf.
"Tidak masalah besan. Saya juga minta maaf karena bertanya seperti itu," balas Papanya Meka.
"Tidak apa-apa. Kadang kesalahan itu menjadi pembelajaran buat kita agar tidak berbicara menyakitkan," ucap Papanya Zain dengan tersenyum dan sengaja memperkeras suaranya agar terdengar sama Ibunya dan meliriknya sekilas.
Ibunya yang duduk di samping mereka merasa tersindir dengan ucapan anaknya sendiri. Tapi dia tidak ingin melanjutkannya dan pergi dari tempat itu. Ibunya pun melengos menatap tajam anaknya dan berjalan ke arah ruang tengah.
"Zain, apa Meka dan Papanya Meka serta Om dan istrinya sudah sarapan nak?" Mamanya Zain yang masih berdiri di dekat mereka langsung bertanya setelah kepergian Mama mertuanya.
"Sudah Ma, tadi kami sudah sarapan. Zain tidak mau Meka dan yang lainnya terlambat sarapan Ma. Papanya Meka juga gak mau merepotkan Mama," jelas Zain.
"Oh tentu tidak Zain. Mama malah senang bisa meladeni keluarga nak Meka. Apalagi mereka baru ini datang ke Jogja. Iya kan Pa," ucap Mamanya yang meminta dukungan suaminya.
"Iya Mas, jangan sungkan-sungkan. Kedatangan kalian sekeluarga merupakan hal yang kami tunggu dari kemaren. Kami sangat bersyukur kalian mau ke sini. Jadi biarkan kami memberikan servis yang baik untuk kalian," jelas Papanya Zain.
"Terima kasih karena besan sangat bermurah hati menyambut kedatangan kami. Kami akan menikmati acara ini. Karena ini merupakan acara pertama untuk cucu pertama kita semua," balas Papanya Meka.
Mereka asyik ngobrol hingga tawa dan canda terdengar sampai ke telinga saudara-saudara lainnya. Hingga acara pun di mulai. Tamu-tamu yang di undang sudah berdatangan dan memenuhi ruangan sampai ke halaman belakang.
Meka dan Zain sangat senang dan bahagia karena acara berjalan dengan tenang dan tak ada gangguan. Tapi ternyata perkiraan mereka itu salah. Meka terusik akan kehadiran sosok perempuan yang selalu datang dalam mimpinya.
"Assalamu'alaikum....!" sapa Mona dengan baju yang terlihat seksi. Mona berjalan berlenggak lenggok bak artis papan atas. Dia menghampiri Zain dengan tak tau malu.
"Mas Zain....Mona gak nyangka, Mas Zain akan memiliki anak. Selamat ya Mas Zain....," ucap Mona sambil memeluk pinggang Zain dari samping dan dengan sengaja menggesek-gesekkan dadanya yang bersentuhan dengan punggung Zain sehingga membuat Zain mendorong Mona ke samping.
"Apa yang kau lakukan Mona!" bentak Zain.
Zain memelototi Mona dengan tatapan garang dan emosi yang tertahan. Matanya menatap tajam ke arah Mona. Namun Mona justru tersenyum-senyum malu dengan menutup bibirnya.
Meka dan Papanya Meka serta Omnya melotot melihat keberanian Mona yang memeluk Zain di hadapan mereka semua. Dan bertanya-tanya siapa perempuan yang dengan berani melakukan itu ke pada menantu mereka.