Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 254


Meka terus menahan kesakitan yang dirasakannya di bagian perutnya. Dia menekan lengan Zain hingga memberikan bekas di lengannya.


Sedangkan Rudy mempercepat lajunya mobil. Mahluk-mahluk ghaib itu terus menerus mencoba menembus pelindung ghaib. Lalu di depan mobil itu di hadang oleh iblis yang sangat menginginkan janin Meka. Iblis itu berdiri menghadang mobil itu dengan tubuh besarnya dan mata yang sangat merah menyala.


Namun tiba-tiba Khodamnya Meka muncul dan menyingkirkan iblis itu dengam bola berwarna biru.


"Enyahlah kau iblis, jangan halangi dia?!" bentak Khodamnya Meka.


Iblis itu meraung marah dan dia memberikan serangan balasan kepada Khodamnya Meka. Namun bola api yang di lepaskan iblis itu tak mengenai Khodam Meka.


"Rudy, bawa cepat dia ke rumah sakit...!" teriak Khodamnya Meka. "Kau harus menyelamatkannya, kalau tidak semua akan selesai," ucap Khodam itu lagi.


Rudy terus melajukan mobil itu dengan kecepatan yang tinggi. Kemudian dia membuat mereka yang berada di dalam mobil tertidur kecuali Meka. Dalam sekejap mobil itu menghilang dan muncul di halaman rumah sakit. Rudy segera memarkirkan mobilnya dan langsung membawa Meka dalam gendongannya.


"Suster tolong istri saya!" teriak Rudy yang tak memperdulikan reaksi dari Meka.


Meka terkejut mendengar Rudy mengatakan istri. Dia bingung bercampur kesakitan. Namun alam sadarnya masih menginginkan keinginan tahu tentang ucapan Rudy.


"Ayo tuan, bawa istri anda ke ruang ICU," ucap salah satu perawat dan Dokter.


Rudy meletakkan Meka di tempat tidur dorong. Lalu dia membawa Meka ke ruangan itu.


"Meka bersabarlah, semua akan baik-baik aja. Maaf aku harus melakukannya," ucap Rudy.


"Tolong buat mereka kembali normal. Aku ingin suamiku ada di sini," pinta Meka.


"Baiklah, aku akan melakukannya. Aku akan memberikan pagar pelindung terlebih dahulu untukmu," ucap Rudy.


Sebelum Rudy meninggalkan Meka, dia meminta beberapa jin untuk melindungi Meka di ruangan itu. Lalu Rudy menghilang dan kembali ke mobil. Setelah itu dia membuat Zain dan yang lainnya kembali terbangun.


Zain yang berada di dalam mobil kebingungan karena Meka tidak ada disampingnya.


"Meka mana? Kau apakan Meka, hah!" teriak Zain yang langsung menarik kerja baju Rudy dari belakang.


"Zain sabar, jangan melakukan tindakan gak baik. Sebaiknya kita dengarkan dulu apa penjelasannya," Papanya Meka menahan lengan Zain dari posisi depan.


"Meka sudah berada di ruang ICU, dia sedang ditangani beberapa Dokter di sana. Aku kemari untuk memberitahukan kamu dan yang lainnya. Serta mengajak kalian semua ke sana," jelas Rudy.


Tanpa memperdulikan Rudy, Zain langsung keluar dari dalam mobil. Dia bergegas masuk ke dalam rumah sakit dan mencari keberadaan Meka. Hingga dia melihat Meka sedang ditangani oleh Dokter.


Zain berdiri di depan ruangan itu dan dia mondar mandir menunggu hasil dari penanganan Dokter terhadap Meka.


Sementara Papanya Meka yang masih berada di dalam mobil, bertanya kepada Rudy.


"Kenapa kamu bisa melakukan ini?" tanya Papanya Meka dengan curiga.


"Saya tidak bisa memberitahukannya. Maaf kalau saya terpaksa membuat kalian tertidur sementara. Ini demi keselamatan Meka," ucap Rudy.


"Kamu hutang penjelasan dengan saya nanti," balas Papanya Meka.


Lalu mereka keluar dari dalam mobil dan berjalan ke arah rumah sakit. Papanya Meka mencari keberadaan Zain.


Lalu Papanya Meka berjalan ke bagian dalam dan dia melihat Zain sedang mondar-mandir di depan sebuah ruangan.


"Bagaimana keadaan Meka, Zain?" tanya Papanya Meka saat sudah berdiri dihadapan menantunya.


"Belum ada khabar Pa," jawab Zain. "Oh ya Pa, dimana Ustad dan yang lainnya?" tanya Zain ketika menyadari keberadaan Ustadz Ahmad yang tak terlihat.


"Oh iya, Papa gak sadar Zain. Sebentar, Papa coba menghubunginya dulu," jawab mertuanya.


Kemudian, tak lama Zain menunggu, pintu ruangan itu terbuka dan Dokter keluar dari ruangan itu.


"Keluarga Meka!" panggil Dokter itu.


"Ya dok, saya suaminya. Gimana keadaan istri saya?" tanya Zain.


"Syukurlah Pak, anda cepat membawanya ke sini, karena kalau tidak, kami gak akan bisa mempertahankan janin dalam kandungannya. Dan saat ini Bu Meka baik-baik aja. Dia sedikit syok karena kejadian ini. Dan janinnya Alhamdulillah baik-baik saja. Saya juga sudah memberikan obat penguat kandungan. Anda bisa melihat istri anda sekarang," jelas Dokter itu.


"Terima kasih dok, saya akan menemui istri saya," ucap Zain yang bersyukur karena Meka dan bayi dalam kandungan Meka selamat.


"Iya dok," balas Zain. Setelah Dokter itu meninggalkan ruangan itu, Zain dan Om Sandy serta istrinya masuk ke dalam ruangan itu.


Meka yang berada di dalamnya, terbaring diatas tempat tidur dorong.


"Sayang, gimana keadaan kamu?" tanya Zain saat melihat Meka di tempat tidur pasien.


"Mas, anak kita selamat. Dia berhasil melewati masa kritisnya," jawab Meka menangis.


"Meka, Alhamdulillah kalian berdua selamat," ucap istrinya Sandy.


"Iya sayang, Om sangat mengkhawatirkan keadaan kamu," sambung Omnya.


"Papa dimana Om?" tanya Meka yang tidak melihat keberadaan Papanya.


"Oh.., Papa kamu sedang menghubungi Ustadz Ahmad agar segera ke rumah sakit ini. Sebentar lagi akan kesini," jawab Omnya.


Kemudian perawat masuk ke dalam ruangan itu dan meminta mereka untuk segera keluar.


"Maaf Pak, Bu, kami harus memindahkan pasien ke ruangannya," ucap salah satu perawat itu.


"Baik suster," balas Zain.


Zain dan yang lainnya keluar dari ruangan itu. Mereka mengikuti perawat itu membawa Meka ke ruangan kelas VIP Bougenville.


Setelah Meka dipindahkan, Zain menemaninya. Sedangkan Om Sandy menghubungi Abang iparnya untuk memberitahukan keberadaan mereka.


Sementara Rudy kembali menemui Khodamnya Meka. Dia melihat pertarungan antara Khodam itu dengan iblis.


Rudy pun membantu Khodam itu menghancurkan iblis itu.


"Kau rupanya," ucap iblis itu saat melihat kehadiran Rudy dalam wujudnya.


"Enyahlah kau dari sini dan jangan mengganggu nya," perintah Rudy.


"Hahahaha, dasar jin ingusan. Beraninya kau memerintahkan ku untuk menjauh dari santapanku?!"


Rudy hanya diam, namun dia memberikan tatapan yang tajam hingga membuat iblis itu merasa kesakitan.


"Apa ini, hentikan..! Akhhhhh, hentikan jin ingusan.....!" teriak iblis itu yang merasa badannya kesakitan tatkala menatap mata Rudy.


Akhirnya iblis itu memilih menghilang daripada musnah dengan sia-sia.


"Bagaimana dengan Meka?" tanya Khodam itu.


"Aku menyelamatkannya. Dan kau berhutang nyawa kepadaku," jawab Rudy.


"Aku tidak merasa berhutang padamu. Terima kasih atas bantuanmu," balas Khodam itu yang masih tidak ingin memberikan penjelasan.


Lalu Khodamnya Meka kembali ke sisi Meka dan melihat keadaannya.


"Syukurlah kamu bisa bertahan Meka," ucap Khodamnya.


Tak berapa lama Papanya Meka dan Ustadz Ahmad serta yang lainnya memasuki ruangan itu.


Sedangkan Rudy masih berdiri di halaman rumah sakit itu. Dia akan terus mendesak Khodam itu menjelaskan alasannya menikahkan Meka dengan manusia.


Di dalam ruangan, Meka tertidur karena lelah. Zain senantiasa menemani Meka disampingnya.


Ustadz Ahmad dan Kakek tau serta para istri mereka sudah melihat keadaan Meka. Mereka bersyukur keduanya baik-baik saja. Lalu Ustadz Ahmad berpamitan kepada Papanya Meka dan Zain.


"Zain, Pak, kami kembali dulu ke rumah. Insyaallah kami akan datang kembali ke sini," pamit Ustadz Ahmad.


"Iya Ustadz, terima kasih atas kebaikan Ustadz telah menemani kami di sini," balas Zain.


"Jangan sungkan Zain. Kita bersaudara, jadi sudah seharusnya menolong," sambung Kakek tua.


Setelah berpamitan, Ustadz Ahmad dan yang lainnya pergi meninggalkan rumah sakit itu.