Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 59


Meka ingin berlama-lama dicafe tersebut. Namun mereka harus mengejar waktu untuk sampai di Stasiun Kereta Api.


"Meka udah selesai minumnya? Ayo kita ke Stasiun. Nanti keburu lama, besok kita harus masuk kampus," ucap Dosganya yang sekarang menjadi suaminya.


"Iya Zain. Nih dikit lagi," jawab Meka.


"Sekarang kamu jangan panggil aku Zain lagi dong sayang, tapi panggil aku mas. Aku lebih suka dipanggil seperti itu," pinta Zain yang mau Meka memanggilnya seperti itu.


"Iya mas Zain," balas Meka sambil tersenyum


Zain pun tersenyum melihat istrinya yang menggemaskan.


"Ayo kita berangkat sekarang sayang. Biar cepat sampai Jogja nya," ajak Zain yang kemudian beranjak dari tempat duduknya.


"Ayo, aku udah selesai," Meka pun beranjak dari tempat duduknya.


Mereka menuruni tangga dan menuju tempat Bus DAMRI. Meka dan Zain menunggu hampir setengah jam lamanya. Hingga akhirnya Bus pun datang. Lalu mereka naik kedalam DAMRI yang menuju Stasiun Kereta Api.


Didalam Bus, Zain menyuruh Meka merebahkan kepalanya dipundaknya, hingga mereka nanti sampai, Zain akan membangunkannya.


Meka pun setuju dengan keinginan Zain. Namun dia merasa tak tenang, karena beberapa bangku dibelakang mereka, Meka melihat sosok tak kasat mata yang berada disamping penumpang. Meka melihat orang tersebut tidak akan bertahan lama, karena sosok itu mengincar nyawanya.


Zain yang melihat kegelisahan istrinya menjadi bingung. Dia pun bertanya, " Sayang kamu kenapa? Kok gelisah gitu bawaannya?" tanya Zain yang kebingungan.


"Zain, aku takut karena dibelakang kita ada sosok yang sedang mengincar penumpang itu," jawab Meka setengah berbisik.


"Maksud kamu, ada mahluk dibelakang kita sayang?" tanya Zain yang agak ketakutan.


"Iya Zain. Dia melihat ke arahku Zain. Dia tau aku bisa melihatnya," jawab Meka.


"Trus ini gimana dong sayang. Kamu jadi gak nyaman gini," ucap Zain yang melirik kearah belakang mereka.


"Udah kamu jangan ikut-ikutan melihat kebelakang sayang. Aku gak mau kamu kenapa-napa," balas Meka.


Mereka diam sejenak hingga Meka mendengar suara bisikan ditelinga nya.


"Jangan takut Meka, dia tidak akan berani menyentuhmu, karena ada aku disini yang menghalaunya," ucap khodam yang berada disamping Meka.


Meka tidak bisa melihat khodamnya sesering mungkin. Dia bisa melihat jika khodamnya menginginkannya dan jika Meka juga menginginkannya.


Meka semakin merekatkan rangkulan tangannya kelengan Zain. Dia pun menyenderkan kepalanya kebahu Zain.


"Zain, kamu tidak masalah kan dengan kelebihan yang kumiliki saat ini?" tanya Meka yang merasa tak enak.


"Tidak sayang, asal kamu juga tidak merasa terbebani. Kalau kamu merasa tidak nyaman, kamu lepasin dan suruh dia pergi dari kehidupanmu," ucap Zain yang mencoba mengerti keadaan Meka.


"Makasih sayang sudah mengerti keadaanku," balas Meka yang merasa senang dan nyaman.


Bus terus melaju hingga beberapa jam lamanya. Mereka akhirnya sampai di Stasiun Kereta Api.


"Ayo sayang, kita beli tiket dulu. Kamu tunggu di bangku ini aja ya, biar aku yang beli," ucap Zain yang menyuruh Meka menunggunya.


"Heum," balas Meka.


Lalu Zain meninggalkan Meka sendirian dibangku itu. Meka mengambil ponselnya dan menghubungi Papanya.


"Hallo Assalamu'alaikum Pa!" sapa Meka.


"Wa'alaikumussalam sayang, kamu sudah dimana ini? Jadinya kalian naik apa sekarang?" tanya Papanya yang khawatir.


"Kami naik Kereta Api Pa, Meka pengen naik Kereta Api aja. Papa jadi ke kampung?" tanya Meka balik.


"Jadi sayang. Nih bentar lagi bernagakt. Tunggu dijemput sama Om Shandy dan istrinya yang ingin ikut juga," jawab Papanya.


"Oh...Om Shandy ikutan juga ya Pa?" tanya Meka balik.


"Iya sayang, katanya pengen ajak istrinya liburan ke kampung. Karena kampung Om Shandy tak jauh dari tempat Papa," jawab Papanya.


"Papa hati-hati dijalan ya. Khabari kalau sudah berangkat. Ini Meka juga lagi nungguin Zain beli tiketnya Pa," jelas Meka yang masih duduk di bangkunya.


"Kalian juga hati-hati dijalan. Banyak baca istighfar ya nak. Minta perlindungan sama yang maha kuasa," ucap Papanya.


"Iya Pa, ya sudah kalau begitu Pa. Nanti Meka khabari kalau kami sudah sampai di Jogja ya."


"Iya nak, Assalamu'alaikum," ucap Papanya yang menyudahi obrolannya.


"Wa'alaikumussalam Pa," sahut Meka.


Setelah Meka selesai menghubungi Papanya, Zain datang menghampiri Meka dibangkunya.


"Tadi aku menghubungi Papa. Mau nanya kapan jadinya berangkat ke kampung," jawab Meka.


"Oh.., kapan Papa berangkat sayang?" tanya Zain dengan santai.


"Hari ini, tapi katanya Om Shandy dan istrinya juga ikut mau ke kampung juga," jawab Meka.


"Oh Om Shandy ikut juga. Emang kampungnya berdekatan ya?" tanya Zain keingin tau.


"Iya kampung Papa dan Mama berdekatan. Oh ya udah dapat tiketnya mas? Jam berapa kita berangkat?" tanya Meka yang melihat tiket ditangan Zain.


"Ini sudah dibeli. Sekitar sejam lagi baru kita berangkat ya."


"Lama lagi ya mas. Aku pengen istirahat," balas Meka dengan manjanya.


"Nanti di Kereta Api, kamu bisa istirahat ya sayang. Sabar gak lama kok," ucap Zain penuh kasih sayang.


Meka menghabiskan waktu dengan memejamkan matanya dibagi Zain. Sedangkan Zain mengirim pesan kepada kedua orang tuanya bahwa dia kembali besok ke Jogja. Orang tua Zain belom mengetahui perihal pernikahannya dengan Meka.


Setelah sampai di Jogja, Zain akan memperkenalkan Meka dengan keluarga besarnya. Dia tidak ingin menyembunyikan pernikahannya dengan Meka dari yang lainnya. Dia ingin merayakan pernikahannya secara terbuka dan besar-besaran.


Hingga tak terasa waktu sudah berjalan sejam, kereta yang mereka tungguin, akhirnya datang juga.


"Sayang, ayo bangun. Keretanya udah mau datang. Ayo kita siap-siap," Zain membangunkan istrinya.


"Oh udah datang ya mas. Aku keenakan tidur dibahumu," balas Meka dengan senyuman.


"Iya gak apa sayang. Ayo kita siap-siap. Tuh keretanya udah datang," tunjuk Zain kearah kereta api yang datang.


Mereka berdua beranjak dari tempat duduknya dan segera menghampiri Kereta Api yang datang menuju Jogja.


"Ayo kita naik ke kereta sayang," Zain menggenggam tangan Meka dan membawa barang-barang mereka.


Zain mencari tempat duduk yang sesuai dengan tiketnya.


"Nah itu dia bangkunya. Ayo kita duduk," ajak Zain.


Meka hanya mengikuti suaminya dari belakang. Dia terus memegang tangan Zain agar tak terlepas.


"Nah, kamu duduk dekat jendela aja ya sayang," Zain menyuruh Meka duduk duluan.


Sedangkan Zain menata barang-barang bawaan mereka bagasi kabin. Lalu dia pun ikut duduk disamping Meka. Mereka naik Kereta Api tercepat yaitu Taksaka. Jarak tempuhnya hanya sekitar 6jam saja.


Meka mulai menikmati perjalanannya bersama suaminya. Ini adalah pengalaman pertamanya naik Kereta Api bersama pasangan. Dia pun mulai memejamkan matanya kembali untuk beristirahat.


"Mas, aku tiduran dulu ya. Nanti kalau sudah sampai, bangunin aku," pinta Meka.


"Iya sayang," jawab Zain.


"Mas, kamu tau kenapa aku lebih senang memejamkan mataku saat perjalanan begini?" tanya Meka tanpa melihat kearah suaminya.


"Itu yang ingin aku tanyakan Meka. Kenapa dari tadi kamu memejamkan mata terus dari tadi," jawab Zain.


"Aku menghindari sesuatu yang bakalan aku lihat mas. Aku tidak ingin melihatnya untuk saat ini. Jadi aku memilih istirahat dari pada membuka mataku saat ini. Aku belom siap mas untuk menerima kelebihan ini," ucap Meka yang masih menutup matanya.


"Kamu harus siap sayang. Ini sudah jalannya. Kamu gak boleh seperti itu. Aku akan mendukung dan selalu bersamamu. Kamu harus siap dan berani ya sayang," balas Zain sambil mengusap rambut Meka yang panjang.


"Iya mas.


Meka pun membuka matanya, dia harus membiasakan penglihatannya yang berlebihan. Dia mencoba menenangkan hatinya. Lalu perlahan-lahan dia melihat sesuatu yang tak kasat mata di hadapannya.


Meka ingin menjerit tapi dia menahannya dengan telapak tangannya.


"Sayang, jangan takut. Kalau kamu takut, mereka akan semakin membuatmu ketakutan," Zain mencoba menenangkan Meka.


"Iya sayang, tapi mereka kenapa sangat jelas terlihat. Perasaan kemaren masih samar-samar. Kenapa sekarang semuanya terlihat jelas," gumam Meka yang tak ingin penumpang lainnya mendengar.


"Itu karena, kuncen itu sudah membuatmu membuka mata bathinmu seutuhnya sehingga semua terlihat jelas Meka," ucap khodam yang mengikuti Meka. Tentunya hanya Meka yang bisa mendengarnya.


"Kapan kakek kuncen itu melakukannya?" tanya Meka penasaran.


"Saat terkahir kalian bertemu. Saat kamu menyentuh tangannya. Dan disitulah energi disalurkan untuk membantumu membuka seutuhnya mata bathinmu, tanpa sepengetahuanmu," balas khodam itu dengan berbicara melalui bathin.


"Aku masih takut Mas. Mereka banyak sekali. Dan mereka semuanya jelek-jelek Zain. Dan disamping kita membawa jin pesugihannya," bisik Meka ketelinga Zain.


Zain terperangah mendengar ucapan istrinya yang mengatakan hal gaib yang berada disamping mereka. Tapi Zain berusaha tenang agar Meka tak ikutan ketakutan.