
Setelah menyelesaikan acara mandi bersama, Zain dan Meka keluar dari kamar menuju lantai bawah untuk sarapan. Mereka berjalan ke arah Restaurant. Meka tersenyum senang karena hati ini Zain akan mengajaknya jalan-jalan sampai puas.
Mereka pun memasuki Restaurant yang memang sudah di sediakan untuk sarapan. Zain dan Meka mengambil tempat duduk yang masing kosong. Setalah mereka duduk, Zain dan Meka mulai menikmati makanannya.
"Mas, aku suka banget tempat ini. Hotelnya ramai pengunjung ya Mas" ucap Meka.
"Iya sayang, Hotel ini memang menjadi salah satu Favorit wisatanjika berkunjung ke Paris," balas Zain.
Mereka menyantap makanannya sambil berbincang-bincang. Di saat mereka menikmati makanannya, tiba-tiba Zain di tegur dengan seseorang.
"Zain..., Lo disini?"sapa orang tersebut yang ternyata sahabat Zain kuliah di Paris.
Zain menoleh ke belakang, dengan penasaran dia melihat orang itu dan terkejut menatapnya.
"Hei Ramon....!" sahut Zain yang langsung berdiri dan menjabat tangan sahabatnya itu sambil berpelukan.
"Lo kesini lagi?" tanya Ramon.
"Ya, gw kesini sama istri gw," jawab Zain.
"What....! Istri Lo bilang?" tanya Ramon tak percaya.
"Ini istri gw yang cantik, namanya Meka," Zain memperkenalkan Meka kepada sahabatnya itu.
"Kapan Lo nikah? Kok gak ngundang-ngundang gw?" tanya sahabatnya itu.
"Kemungkinan minggu depan, gw baru ngadakan pestanya. Karena permintaan istri yang gak mau di rayakan. Tapi kemauan gw untuk merayakannya," jelas Zain.
"Selamat buat Lo sekarang udah gak sendiri lagi. Akhirnya bisa juga Lo jatuh cinta ya. Gw kira Lo bakal jadi bujang lapok selamanya, hahaha," ledek Ramon.
"Sialan Lo, ngeledek gw," kesal Zain.
Meka hanya diam mendengarkan obrolan keduanya yang sepertinya sudah lama tak bertemu. Meka senang melihat Zain yang memiliki sahabat juga.
"Lah Lo sama siapa disini?" Zain celingak-celinguk tapi tak melihat ada yang dekat dengan Ramon.
"Gw lagi nunggu seseorang, wanita bule yang cantik," jawab Ramon.
"Lo belom nikah juga?" tanya Zain lagi.
"Nikah sih belum tapi kawin udah, hahaha," jawab Ramon yang konyol.
"Setres Lo. Gini nih kalau gak punya kekasih, jadi sarafnya bergeser," ledek Zain.
"Asem Lo Zain. Gw bukan gak punya kekasih, tapi gw gak mau sembarangan memilihnya. Lo tau kan gimana bokap gw, selektif banget," balas Ramon.
"Jadi Lo masih tinggal disini? Terus kegiatan Lo apa? Bukannya Lo harus menjalani Perusahaan bokap Lo?" tanya Zain lagi.
"Awalnya sih iya Zain, gw ikut sama bokap, tapi lama kelamaan gw males karena gak berminat sama sekali. Gw lebih suka mengembangkan bakat gw sebagai pelukis.m," jawab Ramon.
"Lo berdiri disitu, nanti kena asam urat, lebih baik Lo duduk disini," ajak Zain.
"Sorry Zain, gw harus menemui kekasih gw dulu. Dia sudah menunggu disana," ucap Ramon sambil menunjuk ke arah seorang wanita yang duduk di pojokan.
"Mana no Lo. Apa masih yang dulu?" tanya Zain lagi.
"Iya no gw masih yang lama. No Lo juga masih yang lama kan?" tanya Ramon balik.
"Yup masih yang lama," jawab Zain.
"Kalau gitu nanti gw hubungi Lo. Biar kita banyak ngobrol, ok Zain!"
"Sip, gw tunggu khabar Lo," balas Zain.
Ramon juga berpamitan sama Meka yang dari tadi hanya terbengong menyaksikan percakapan kedua sahabat itu.
Setalah Ramon pergi meninggalkan mereka, Zain tersenyum melihat ke arah Meka.
"Itu sahabat Mas waktu kuliah disini," jelas Zain.
"Aku pikir Mas tidak punya sahabat. Ternyata aku salah," balas Meka.
"Hahahaha, tentu Mas punya sayang. Tapi kami berpisah setelah kuliah selesai. Mas kembali ke Indonesia, sedangkan dia masih ingin berlama-lama disini. Setelah itu tidak ada lagi komunikasi antara kami," jelas Zain.
"Wah sayang banget ya Mas, persahabatan harus berakhir karena tak ada khabar dari masing-masing, sesal Meka.
"Ya seperti itu lah sayang," balas Zain.
Lalu mereka berdua terus menikmati makanan sarapannya. Meka sangat menyukai sarapan paginya kali ini.
Setelah mereka menyelesaikan sarapannya, mereka kembali ke kamarnya. Meka dan Zain bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan keluar.
"Sayang, kamu sudah siap?" tanya Zain.
"Sudah Mas, aku sudah siap. Ayo kita berangkat," balas Meka.
Kemudian mereka keluar dari kamar dan pergi meninggalkan Hotel itu. Kali ini Zain akan membawa Meka ke tempat yang sering dikunjungi wisatawan yaitu Menara Eiffel.
Dimana Menara ini merupakan tempat yang terkenal untuk dikunjungi. Menara yang disebut sebagai menara besi yang dibangun di Champions dengan Mars di tepi Sungai Seine, Paris. Selain itu Menara ini telah menjadi ikon utama negara Prancis dan salah satu struktur paling terkenal di dunia.
Meka yang mendengar penjelasan Zain, sudah sangat tidak sabaran untuk segera sampai di tempat tujuan.
"Kamu senang sayang?"
"Tentu Mas aku sangat senang. Saat aku nanti pulang, aku akan bercerita dengan Isna bagaimana kita Paris ini. Dan aku udah gak sabaran ingin mengabadikan momentku saat di Menara Eiffel."
"Sekarang kita sudah sampai, ayo turun."
Akhirnya mereka sampai di Menara Eiffel. Meka tak percaya saat dirinya benar-benar berada di hadapan Menara itu. Menara yang sering di dengarnya dari teman-teman di Kampus yang memang dari keluarga kaya.
Sekarang, Meka tak perlu lagi mendengar cerita tentang kota Paris. Dia sendiri sudah mengunjungi kota ini. Sehingga dia bisa berbagi kebahagiaan dengan sahabatnya di Jogja.
Mereka berjalan mendekat ke arah menara itu. Meka meminta Zain untuk mengambil fotonya di depan menara.
Zain pun dengan senang hati memfoto istrinya yang sangat cantik. Lalu mereka bersantai duduk di dekat menara itu.
"Ternyata seperti ini ya Mas tempatnya," ucap Meka takjub.
"Ya ini memang sangat terkenal di kalangan wisatawan. Salah satu tempat yang harus dikunjungi disini. Makanya Mas bawa kamu kesini," balas Zain.
"Habis dari sini, kamu mau bawa aku kemana lagi Mas?" tanya Meka.
"Ada tempat lagi yang harus kamu kunjungi. Tempat dimana banyak lukisan dan toko-toko menjual benda-benda antik. Pasti kamu akan menyukainya."
"Wah, aku mau kesana Mas. Aku pengen beli benda antik dari sini. Sapa tau ada benda yang sangat antik bisa aku bawa sebagai kenang-kenangan dari kota Paris," harap Meka.
"Tentu kita akan kesana sayang."
Setelah beberapa jam menghabiskan waktu di Menara Eiffel, Zain dan Meka melanjutkan perjalanan mereka ke suatu tempat yang sangat di sukai Meka nantinya.
Tak berapa lama, mereka akhirnya sampai di Louvre Museum, Arc dengan Triomphe dan tempat surganya pecinta seni. Tempat ini adalah salah satu museum yang banyak memajang karya-karya seni yang berkualitas dengan bangunan bersejarah yang berdiri megah di tengah kota.
Zain mengajak Meka masuk ke dalam museum. Saat keduanya menginjakkan kakinya ke dalam, Meka takjub melihat banyak nya lukisan unik dan bersejarah. Mereka berjalan menyusuri ruangan megah itu.
Selain itu Zain juga mengajak Meka ke puncak Arc de Triomphe. Dimana Meka bisa menikmati view yang luas dari ketinggian sekitar 50 meter. Dan mereka bisa melihat salah satu pemandangan yaitu jalan Avenue des Champs-Elysées yang ikonik dan selalu ramai dengan turis.
"Wah Massss, ini benar-benar indah banget....!" ucap Meka sedikit teriak.
"Kamu suka sayang?"
"Suka banget Mas. Aku sangat menyukainya."
Meka terus memandang ke bawah. Dan tak lupa dia selalu mengabadikannya dengan foto dirinya dan berdua dengan Zain.
Setelah puas dengan semuanya, Zain mengajak Meka berjalan kaki melihat toko-toko yang ada di sepanjang jalan. Meka memasuki salah satu toko yang menjual barang antik. Meka tertarik untuk membeli salah satu benda antik yang dijual di toko tersebut.
"Mas, aku suka benda ini. Aku beli yang ini aja ya," pinta Meka.
Zain tidak pernah melarang apapun yang di inginkan Meka selagi itu baik. Zain sangat memanjakan Meka.
Setelah puas dengan melihat barang-barang antik, mereka melanjutkan untuk beristirahat. Zain mengajak Meka ke suatu tempat yang enak buat tongkrongan.
Sesampainya di cafe itu, Zain membawa Meka masuk ke dalamnya. Banyak turis-turis yang menatap ke Meka terutama para laki-lakinya. Meka memiliki wajah Indonesia dan kulit yang putih bersih.
Zain dan Meka memilih tempat duduk yang agak jauh dari kumpulan turis-turis. Setelah memesan makanan, Meka melihat-lihat foto yang tadi diambilnya.
"Wah Mas, fotonya bagus-bagus banget ya. Lihat ini, aku akan memajangnya sebagai foto profil WA ku," tunjuk Meka ke sebuah foto mereka berdua.
"Tapi Mas kurang bagus disitu. Yang lain aja," protes Zain.
"Tapi aku suka foto ini Mas. Boleh yah Mas...," bujuk Meka yang sedikit merengek.
"Iya, iya, pasanglah."
Zain menyetujui apa yang diinginkan Meka. Dia geleng-geleng kepala melihat sikap manja istrinya.
Kemudian makanan pun datang ke meja mereka. Pelayan mempersilahkan mereka untuk menikmati makanan yang di sajikan.
"Ayo sayang, kita harus isi perut dulu. Setelah ini kita kembali ke Hotel ya. Jangan terlalu di paksa untuk jalan-jalannya. Nanti kamu kecapean," Zain mengingatkan Meka.
"Iya Mas, habis ini kita pulang," Meka tak ingin membantah ucapan suaminya. Kalau Zain sudah memutuskannya, maka Meka harus mengikutinya.
Mereka makan dengan santai dan tidak terburu-buru. Meka dengan santai menyuapi Zain. Dia ingin menyenangkan suaminya. Sedangkan Zain menerima perlakuan Meka yang romantis.
"Habiskan sayang makanannya. Kalau tidak habis juga ya tidak apa-apa, ucap Zain.
"Iya Mas, aku udah kekenyangan Mas. Ini terlihat banyak menu yang di pesan. Aku gak sanggup menghabiskannya."
Meka terduduk dengan perut yang sangat kenyang. Dan Zain tertawa melihat Meka yang tak sanggup buat berdiri karena perutnya kenyang.
"Hahaha, Mas pikir kamu akan menghabiskan semuanya," ledek Zain.
"Isssh kamu Mas. Mana sanggup aku menghabiskannya. Lambungku juga kecil," balas Meka tak terima.
"Kalau tidak habis, gak apa-apa sayang."
"Mas, kita tunggu sebentar ya. Perutku rasanya penuh banget," ucap Meka memohon.
"Iya sayang, kita istirahat sebentar disini."
Zain dan Meka tidak langsung kembali ke Hotel. Mereka beristirahat sejenak di cafe itu.