Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 177


"Sayang, apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit aja? Biar luka kamu di obatin," ucap Zain memberikan sarannya.


"Iya Mas, besok aku izin tidak masuk Kampus dulu. Kita ke rumah sakit biar ngobatin lukaku," balas Meka.


Setelah Zain selesai mengobatin luka Meka, dia meletakkan kaki Meka di sofa.


"Mas mandi dulu ya. Nanti Mas akan temani kamu," ucap Zain.


"Iya Mas, kamu juga harus membersihkan tubuh kamu. Aku akan menunggu disini," balas Meka.


Zain berlalu dari hadapan Meka. Dia segera membersihkan tubuhnya.


Sementara Meka sedang berbicara melalui bathinnya kepada Khodamnya.


"Khodamku, apakah aku harus menemui Kakek tua itu di rumah Ustadz Ahmad? Atau aku langsung menemui Ki Baron?" tanya Meka.


"Kamu lebih baik menemui Kakek tua itu terlebih dahulu, lalu kalian segeralah menemui Ki Baron. Bagaimanapun Kakek itu berasal dari Desa tua itu," jawab Khodamnya.


"Aku akan membicarakannya terlebih dahulu dengan suamiku. Semoga masalah ini selesai," bathin Meka.


Meka tak mendengar lagi balasan dari Khodamnya. Dia pun berpikir langkah apa yang harus dilakukannya. Lalu Meka mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Zain keluar dari dalam kamar mandi dengan keadaan yang sudah segar.


"Mas, ada yang ingin aku ceritakan ke kamu," ucap Meka.


"Lebih baik besok kita membahasnya ya sayang. Perut Mas laper banget. Kita pesan makanan dulu ya. Teman kamu juga pasti kelaparan," balas Zain.


"Baiklah Mas, kita pesan makanan aja. Aku temua mereka dulu ya," Meka beranjak dari sofa, berjalan ke arah pintu.


Namun Zain menahannya. Dia menyarankan agar Meka menghubungi temannya melalui tlp saja. Biar kaki Meka istirahat dulu.


Meka pun mengambil ponselnya dan segera menghubungi Isna.


"Na, sorry gw menghubungi Lo. Kaki gw sakit, dan tidak kuat jalan. Gw cuma mau bilang, kita pesan makanan aja. Kalian pasti laper kan?" tanya Meka.


"Loh kaki kamu sakit? Kok bisa Mek?" tanya Isna kepingin tau.


"Besok aja aku ceritakan ya Na. Kalian pesan apa? Biar sekalian aja aku pesan dari sini. Nanti kalau sudah datang khabari," jawab Meka.


"Ok Mek, kami ngikut aja mau pesan makan apa. Tapi gw pengen steak Mek," mau Isna


"Udah di pesan sayang?" tanya Zain.


"Udah Mas. Mungkin sekitar sejam sampai disini," jawab Meka.


"Sini duduk," pinta Zain.


"Iya Mas, ada apa?" tanya Meka.


Meka menghela nafasnya dan menatap Zain dengan serius.


"Sepertinya nanti saja akan ku ceritakan Mas. Aku laper banget. Gak apa-apa kan Mas?" tanya Meka dengan wajah memohonnya.


Saat mereka asyik ngobrol, terdengar suara bel. Isna dan Deon beranjak dari sofa. Mereka berdua berjalan ke arah pintu. Deon melihat dari kaca bulat kecil siapa yang datang. Setelah memastikan yang datang delivery makanan, Deon membuka kan pintunya.


"Pak, makanannya udah datang," ucap Isna yang memberitahu.


"Oh iya, biar saya ke depan," balas Pak Zain.


Isna menoleh ke dalam dan melihat Meka duduk di sofa.


"Masuk aja Na, gak apa-apa. Sini!" panggil Meka.


Isna pun masuk ke dalam kamar Meka. Dia melihat kaki Meka yang di letakkan di atas meja depan sofa.


"Mek, kaki Lo masih sakit?" tanya Isna saat melihat kondisi kaki Meka.


"Iya Na, besok gw gak masuk kampus dulu. Mau ke rumah sakit ngobatin ini luka," jawab Meka yang ikut melihat kakinya.


"Mudah-mudahan gak parah ya Mek. Dan cepat sembuhnya. Lo istirahat aja. Besok gw akan izinin Lo sama Dosen yang masuk besok," ucap Isna.


"Makasih Na. Sorry jadi ngerepotin kalian berdua. Aku jadi gak enak, kalian harus terlibat dalam hal seperti ini," Meka merasa gak enak hati.


"Mek gak usah dipikirin. Kita ini sudah bersahabat sangat lama. Kami akan selalu membantu dan mendukung Lo kok. Karena Lo juga udah banyak bantu gw dan Deon," balas Isna tersenyum.


"Iya Na. Aku kepikiran nasib Robby. Aku gak bisa melihatnya hari ini," sesal Meka.


"Iya Mek, aku hampir lupa dengan keinginan kita menjenguknya. Mudah-mudahan dia tidak apa-apa ya," harapan Isna seperti itu.


"Iya ya Na. Besok khabari gw ya gimana perkembangan berita tentang Robby," pinta Meka.


"Tentu, aku akan sampaikan. Dan kamu juga harus menceritakan tentang apa yang terjadi tadi. Kalau saat ini kamu istirahat aja. Kalau sudah siap, ceritakan lah," balas Isna penuh harap.


"Pasti Na, gw akan cerita ke kalian berdua."


Lalu Pak Zain masuk membawa makanan ke dalam kamarnya.


"Na, saya dan Meka makan disini, Meka tidak bisa gabung makan di ruang makan," ucap Pak Zain.


"Oh iya gak apa-apa Pak, saya ngerti kok. Kalau gitu saya kelaut dulu Pak," balas Isna.


"Mek, gw nemuin Deon dulu ya Udah laper juga nih," ucap Isna ke Meka sambil memegang perutnya.


Isna akhirnya keluar dari dalam kamar Meka. Dia menghampiri Deon yang sudah berada di meja makan. Isna melihat banyaknya makanan di atas meja. Membuat perutnya semakin meronta untuk diisi.