Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 240


Rudy tak menghiraukan tatapan tajam dari Papanya Meka. Dia menyalami keluarga lainnya mengikuti anak-anak pengajian lainnya.


"Terima kasih Ustadz, Kek sudah mau datang ke acara penyambutan cucu kami," ucap Papanya Zain. "Ayo silahkan di nikmati hidangannya. Ayo, ayo," ajak Papanya Zain.


"Ayo Bu, Nek di nikmati hidangan ala kadarnya," ajak Mamanya Zain.


"Pak besan, ayo silahkan nikmati hidangan bersama yang lainnya," Mamanya Zain juga mengajak Papanya Meka untuk gabung dengan yang lainnya untuk menikmati hidangan acara.


Keadaan yang tadinya ricuh, sekarang berubah menjadi hangat dan tegang. Semua yang baru datang menikmati hidangan yang sudah tersaji.


Mona dan Mamanya hanya bisa menatap tamu undangan Meka dan Zain dengan wajah melongos. Berbeda dengan Omanya Zain yang ikut nimbrung bersama rombongan Ustadz Ahmad.


Saat mereka semua menikmati hidangan itu, Mona yang memang sengaja mencari masalah, menghampiri Rudy. Karena diantara rombongan Ustadz Ahmad hanya Rudy laki-laki tampan yang menyita perhatian Mona.


"Hai...., kenalkan namaku Mona," dia menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Rudy.


Rudy hanya menoleh menatap Mona dengan mengerutkan keningnya.


"Maaf, saya tidak berminat berkenalan dengan sembarangan perempuan," ketus Rudy, tetapi lirikan matanya mengarah ke arah Meka yang berada di hadapannya.


"Ih....aku suka banget sama laki-laki seperti kamu. Kalau kamu gak mau kenalan sama aku, biarkan aku yang mengenalmu," Mona tidak sungkan-sungkan menjabat tangan Rudy dan tersenyum lembut ke arah Rudy.


"Aku akan makan bersamamu," ucap Mona yang sudah mengambil makanannya dari tadi.


Meka tidak berani menatap ke arah Rudy. Setiap dia melihat Rudy, dia seperti memiliki ikatan yang sudah terjalin dari dulunya. Sehingga dia memutuskan untuk fokus ngobrol dengan Ummi, Nenek, Mama mertuanya dan Tantenya yang duduk di sebelahnya.


Sementara Zain sedang ngobrol bersama Papa dan Mertuanya serta Ustadz dan Kakek tua. Selain itu juga ada Oma yang ikut nimbrung bersama mereka.


Kakek tua yang memiliki kemampuan lebih dari Ustadz, tersenyum saat menatap ke arah Papanya Meka. Senyum yang penuh makna.


"Jadi selama ini Zain dan Meka sering berkunjung ke tempat Ustadz?" tanya Papanya Zain.


"Ya, mereka sering bersilaturrahmi ke tempat saya. Saya senang bisa menerima orang yang ingin belajar dan membantu mereka dalam keadaan tidak baik," jawab Ustadz Ahmad.


"Dan Kakek tua dari berasal dari Desa tua?" tanya Papanya Zain dengan menyipitkan matanya menatap Kakek tua.


"Ya, saya berasal dari Desa tua. Dan gak sengaja bertemu dengan Zain serta Meka di sana sehingga sekarang saya tinggal di rumah Ustadz Ahmad," jawab Kakek tua.


"Bukannya itu Desa yang angker? Dan beberapa bulan yang lalu, bukannya di temukan beberapa mayat tanpa busana di hutan angker itu?" tiba-tiba Omanya Zain yang pernah mendengar kisah Desa tua menyela obrolan mereka.


Kakek tua serta yang lainnya menoleh ke sumber suara. Mereka yang terlibat dengan Desa tua terkejut mendengar penuturan Omanya Zain.


"Ah iya itu hanya berita saja," jawab Zain mendadak.


"Loh kamu tau juga Zain berita itu?" tanya Omanya yang sepertinya curiga dengan Kakek tua.


"Kebetulan saja Oma. Kemaren Zain lihat berita itu. Tapi Zain tidak mengikuti beritanya dengan jelas. Karena beritanya juga tidak jelas," sangkal Zain.


Sementara Papanya Meka meneliti Ustadz dan Kakek tua. Dia bisa merasakan kalau orang yang di hadapannya bukan orang sembarangan. Papanya Meka ingin memberikan banyak pertanyaan, namun dia tidak ingin kelebihan anaknya terbongkar.


"Papanya Meka kapan datang?" tanya Kakek tua yang mencoba akrab.


"Kemaren saya dan Omnya serta istrinya sampai di Jogja. Dan baru saja tadi kami tiba di rumah ini. Saya sangat senang bisa berkenalan dengan Ustadz dan Kakek yang selalu menjaga Meka dalam hal apapun," ucap Papanya Meka yang penuh arti.


Tentu saja Ustadz dan Kakek tua menyadarinya dan langsung mengerti arti ucapannya itu.


"Ah, jangan sungkan Pak. Saya sangat senang bisa membantu mereka yang masih belum sempurna," balas Ustadz Ahmad dengan senyum mengangguk penuh arti.


"Terima kasih Ustadz. Saya ingin bersilaturrahmi ke tempat Ustadz biar kita lebih dekat. Apalagi ada Kakek yang bisa memberikan pencerahan buat saya dan anak saya," lagi-lagi Papanya Meka berbicara menggunakan kata penuh makna.


"Dengan senang hati Pak. Kami akan menunggu kedatangan anda dan yang lainnya. Kita bisa saling memberi khabar," balas Ustadz Ahmad.


Mereka pun menikmati makanannya dengan hikmad. Omanya Zain semakin penasaran dengan apa yang mereka sampaikan. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mendengarkan obrolan mereka.


Sementara di bagian kumpulan perempuan, Mona masih setia berdekatan dengan Rudy. Sesekali Mona melirik ke arah Meka dengan menyunggingkan senyum sinisnya. Rudy duduk diantara kumpulan lelaki dan perempuan bersama murid lainnya.


Lalu tanpa di duga, Rudy beranjak dari tempat duduknya dan dia berjalan ke arah Meka. Rudy pun duduk di antara Zain dan Papanya Meka. Karena ada celah di antara mereka. Tentu saja membuat keduanya terkejut. Papanya Meka dan Zain menoleh menatap Rudy dengan tatapan tajam dan berbeda.


Sedangkan Mona mendengus sebal karena dia tidak bisa mendekati Rudy yang sangat tampan. Mona pun kembali ke dekat Mamanya.


Rudy yang sudah duduk diantara Papanya Meka dan Zain tersenyum melihat mereka berdua yang tercengang.


"Maaf kalau saya duduk di sini," ucap Rudy santai.


"Kenapa kamu duduk di samping sini?" tanya Zain dengan mengatupkan bibirnya.


""Kenapa? Bukankah bebas duduk dimana saja?" tanya Rudy lagi.


Kali ini Zain memilih diam. Dia tak ingin ribut dengan laki-laki yang membuatnya cemburu.


Sedangkan Papanya Meka bertanya-tanya, kenapa Ustadz Ahmad membawa laki-laki yang aslinya adalah kombinasi sosok mahluk ghaib dan manusia.


"Apa yang anda pikirkan Pak?" tanya Rudy yang mendekatkan bibirnya ke samping telinga Papanya Meka.


"Maksud kamu?" Jangan terlalu di pikirkan Pak. Nanti anda akan mengetahuinya kalau sudah saatnya," ucap Rudy yang membuat Papanya Meka terkejut.


Papanya Meka langsung menoleh ke arah Rudy dengan mendelik. Dia tak percaya Rudy mengucapkan kata seperti itu.


"Kenapa dia bisa berbicara seperti itu? Apakah dia bisa membaca pikiranku?" bathin Papanya Meka yang masih bingung.


Rudy tak memperdulikan tatapan mendelik dari Papanya Meka. Dia duduk dengan santai dan mendengar obrolan Ustadz dan yang lainnya.


Hingga akhirnya acara pun selesai. Ustadz dan rombongannya berpamitan pulang.


"Saya dan yang lainnya mengucapkan terima kasih atas suguhan yang di hidangkan buat kami semua. Semoga berkah buat kita semua," ucap Ustadz Ahmad di antara mereka semua.


"Aamiin Ustadz," balas Meka dan Zain bersamaan.


"Iya Ustadz, Aamiin," balas Papanya Meka.


"Aamiin, sama-sama Ustadz," Papanya Zain dan Mamanya juga mengucapakan terima.


"Aaamiiin," balas yang lainnya.


Stelah itu Ustadz Ahmad dan rombongan pergi meninggalkan rumah orang tua Zain. Tapi Rudy tiba-tiba menghampiri Meka dan mengatakan hal yang aneh menurut Meka.


"Aku akan menunggumu Meka. Kita akan bertemu kembali," ucap Rudy sambil memberikan sebuah cincin bermata biru ke tangan Meka. "Gunakan ini jika kamu mengalami hal yang sulit di hindari," ucap Rudy lagi.


Meka kaget mendapatkan sebuah benda di genggaman tangannya. Tapi dia tetap menggenggamnya. Meka mencoba tak begitu memperdulikannya karena saat ini Zain berada tak jauh dari mereka.


Zain menatap tajam ke arah Rudy. Dan dia mengerutkan keningnya melihat perlakuan Rudy terhadap istrinya. Dia pun menghampiri Meka. Namun Rudy malah pergi dari hadapan Meka.


Rudy berjalan menghampiri rombongan Ustadz Ahmad. Mereka pun pergi meninggalkan kediaman rumah orang tua Zain.