
Setelah selesai membayar, Zain dan Meka kembali ke mobil. Zain melajukan mobilnya ke arah Apartement mereka. Dalam perjalanan yang lumayan lama, Meka dan Zain asyik ngobrol.
"Mas, sepertinya Mona masih mengharapkanmu untuk menjadi suaminya. Kamu memang gak punya perasaan apa-apa dari dulu sama dia?" tanya Meka menyelidik.
"Mas tidak pernah menganggap dia berbeda. Mas hanya menganggapnya adik. Dan perasaan Mas hanya buat kamu sayang. Kamu ingatkan bagaimana Mas mendapatkanmu. Agar kamu tidak berpaling ke orang lain," jawab Zain yang memberikan ingatan tentang awal mereka bertemu.
"Hehehe, kamu emang jahat banget waktu itu Mas. Menjebakku dengan cara seperti itu," balas Meka sambil senyum-senyum malu.
"Tapi kamu memang sudah punya perasaan kan dengan Mas? Ayo ngaku!" serunya.
"Ah Mas, jangan di ingat lagi, aku malu, balas Meka dengan wajah yang semakin merona.
"Oh ya, gimana khabar kedua sahabat kamu sayang? Apa mereka ada khabar?" tanya Zain yang masih menyetir.
"Tidak Mas," jawab Meka sambil menggelengkan kepalanya. "Aku juga gak ngerti Mas, kenapa mereka pergi dan tidak perduli dengan masalah yang ku hadapi," ucap Meka penuh sesal.
"Ya begitulah manusia sayang, nanti kalau giliran mereka yang kena masalah, pasti nyari kamu sayang," balas Zain.
Meka pun mengangguk-angguk membenarkan dugaan suaminya. Meka masih tak habis pikir dengan sikap Deon dan Isna yang kabur menghindarinya.
"Sekarang yang penting masalah dengan Bu Arin udah selesai ya Mas," ucap Meka.
"Iya, Mas merasa legah. Semoga mereka tidak mencari masalah lagi ya sayang."
"Iya Mas, tapi sekarang yang membuat pikiranku gak tenang yaitu sepupu kamu Mas. Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu Mas," ucap Meka yang menatap Zain serius.
"Kenapa kamu bisa bilang seperti itu? Kita gak baik memfitnah orang lain sayang. Mas tidak suka menuduh tanpa ada bukti," balas Zain dengan nada keras.
Zain melupakan kalau Meka saat ini sedang mengandung. Dan jangan sampai Ibu hamil sampai mengalami setress. Dia tidak suka Meka sembarangan menuduh orang lain. Sementara Meka terdiam, hatinya terasa sakit karena Zain tidak mempercayainya. Padahal Zain tau kalau kemaren Mona sudah berbuat jahat terhadapnya. Namun semua itu belum menjadi bukti untuk Zain.
Meka diam dan memalingkan wajahnya ke arah jendela. Matanya sudah mulai memanas, tapi dia mencoba menahan agar air matanya tidak sampai terjun bebas. Dia tidak ingin Zain melihatnya menangis. Meka tidak tidak ingin lagi membahas mengenai Mona. Karena bagaimanapun Mona adalah sepupunya yang sudah di anggapnya sebagai adik.
Zain pun diam tanpa mengajak Meka ngobrol lagi. Dia hanya fokus menyetir mobilnya. Tak berselang lama, akhirnya mereka sampai di Apartemennya.
"Hah, akhirnya sampai juga," ucap Meka yang merasa legah.
"Ayo sayang kita masuk," ajak Zain yang sudah melupakan masalah di mobil.
Meka hanya mengangguk dan berjalan bersama Zain memasuki Apartementnya. Saat menuju ruangan mereka, Meka dan Zain hanya diam tanpa suara.
"Aku mandi dulu Mas," ucap Meka yang tidak memperdulikan aktifitas Zain di kamar.
Meka berjalan ke arah kamar mandi dan masuk ke dalam. Dia pun mulai membersihkan tubuhnya. Saat sedang asyik berendam, Meka masih teringat dengan kata-kata Zain yang agak keras.
"Kenapa dia malah marah dan tidak mau Mona di jelek kan? Apa ada sesuatu di antara mereka sehingga dia seperti itu?" bathin Meka yang melamun memikirkan peristiwa tadi.
Meka berada di dalam kamar mandi sudah cukup lama, sehingga Zain baru menyadarinya. Lalu dia mengetuk pintu kamar mandi Meka karena khawatir terjadi apa-apa dengan Meka.
"Tok tok tok, sayang.....kamu kenapa lama banget!?" tanya Zain dengan sedikit berteriak.
Zain menunggu, namun tak ada sahutan dari dalam kamar mandi. Zain semakin cemas karena Meka tak menjawabnya. Sebenarnya Meka mendengar teriakan Zain dari luar. Tapi dia males menjawabnya. Saat Zain hendak mendobrak pintu itu, Meka keluar dari dalam dan pintu pun terbuka.
"Astaghfirullahal'adzim sayang....! Kenapa kamu tidak menjawab panggilan Mas?" tanya Zain yang heran bercampur legah karena Meka ternyata baik-baik saja. Namun dia bingung kenapa Meka tidak mau menyahutnya.
"Maaf Mas, aku lagi malas menyahutnya," jawab Meka acuh tak acuh.
Meka berjalan melewati Zain, dia tidak memperdulikan Zain yang terbengong mendengar jawaban Meka. Zain pun mengikuti Meka dan mencecarnya.
Zain membalikkan tubuh Meka sehingga menghadap ke arahnya. Mata mereka saling bertatapan. Meka tidak ingin membahas ataupun berdebat untuk saat ini. Karena dia ingin pikirannya tenang, apalagi ada calon bayi di dalam rahimnya.
"Iya Mas, aku males menjawabnya, tapi aku langsung keluar membuka pintu. Biar kamu tidak menunggu lama di luar," jawab Meka yang mencoba memaksakan senyumannya.
"Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?" tanya Zain lagi sambil memicingkan matanya.
"Ah tidak Mas, aku hanya lelah saja. Mungkin bawaan orang hamil kali ya," jawab Meka yang berkilah.
"Ya sudah kalau gitu, kamu istirahat aja duluan ya. Mas mau mandi dulu," balas Zain.
Meka pun mengangguk dan berbalik berjalan menuju tempat tidur. Meka langsung membaringkan tubuhnya dan menutup tubuhnya sampai sebatas dada. Lalu dia mulai memejamkan matanya.
Sedangkan Zain masih diam berdiri menatap Meka yang sudah tertidur.
"Kenapa istriku sikapnya berbeda? Apa karena gara-gara tadi di mobil? Apa dia marah karena aku bicara seperti itu ya?" bathin Zain. Lalu Zain pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Sementara di tempat lain, Mona dan Ibunya ternyata sudah berada di rumah dukun sakti yang sangat tersohor di wilayahnya. Mona dan Ibunya rela mengendarai mobil ke kota lain demi tujuannya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya dukun itu sambil melihat ke arah ke dua wanita itu.
Mona dan Ibunya sebenarnya ketakutan karena rumah dukun itu harus melewati hutan. Dan jauh dari pemukiman masyarakat. Tapi karena keinginan Mona, Ibunya menyetujui untuk membawa Mona ke dukun itu.
"Begini Mbah, saya meminta bantuan Mbah," jawab Ibunya dengan tangan yang sudah berkeringat dingin.
"Duduk!" perintah dukun itu.
Mona dan Ibunya duduk di hadapan dukun itu. Dukun itu melihat Mona yang masih perawan dan belum tersentuh.
"Saya sudah tau apa keinginan kalian berdua. Kalian menginginkan laki-laki itu menjadi pasangan wanita cantik ini bukan?" tanya dukun sakti itu yang bernama Ki Sundul.
Mona dan Ibunya saling berpandangan karena kaget mengetahui dukun itu bisa tau maksud tujuan mereka datang ke tempatnya.
"Gimana Ki Sundul bisa mengetahuinya?" tanya Ibunya Mona dengan polos.
"Hahahahaha," dukun itu tertawa puas.
Lagi-lagi Mona dan Ibunya saling berpandangan. Mereka ketakutan mendengar tawa mengerikan dukun itu. Mona menggenggam erat tangan Ibunya karena takut.
"Saya ini dukun, pasti tau tujuan kalian itu apa. Apa kalian siap dengan persyaratannya jika saya membantu hingga berhasil" tanya dukun itu menyeringai.
Mereka berdua terdiam, tidak langsung menjawab. Lalu Ibunya Mona bertanya, "Emang apa persyaratannya Ki?"
"Anak perempuanmu harus melayaniku selama tiga malam dan di mulai dengan malam ini. Setelah itu aku akan mandi bersamanya dengan kembang tujuh rupa. Dan akan ada ritual lainnya yang harus di jalaninya setelah tiga malam. Bagaimana, apa kalian setuju?" tanya dukun itu. "Kalau tidak silahkan keluar dari gubuk saya ini," ucapnya dengan menyeringai.
Mona terkejut mendengar persyaratannya dan tidak ingin melayani Aki-aki yang sudah tua.
"Bu, Mona gak mau melayaninya. Mona takut Bu...!" Mona merengek sambil menarik-narik baju Ibunya.
"Maaf Ki, maksud melayani yang bagaimana ya? Apakah Mona harus tinggal disini selama tiga hari Ki dan melakukan semua ritualnya?" tanya Ibunya Mona yang penasaran dengan ucapan dukun cabul itu.
"Melayaniku di ranjang. Puaskan hasrat ku selama tiga hari berturut-turut. Itu adalah syarat mutlaknya. Dan jangan khawatir, jika dia berhasil menikah dengan laki-laki itu, tidak akan ada yang tau kalau anakmu sudah tidak perawan lagi," jelas dukun itu.
Dukun sakti itu sedari awal sudah tertarik dan sangat menginginkan Mona. Dia menatap tubuh Mona dari atas sampai bawah. Setiap inci tubuh Mona di telusurinya dengan matanya yang sangat menginginkan Mona. Hingga air liurnya hampir menetes.
Dukun itu menjilati bibirnya dan terus menatap ke arah bibir Mona. Dia sudah tidak sabar ingin segera mencicipi tubuh Mona yang berpakaian seksi itu.