
Zain segera membersihkan tubuhnya. Dia tidak mau meninggalkan Meka lama-lama didalam kamarnya. Setelah selesai bersih-bersih, Zain langsung keluar dari dalam kamarnya dan dia menuju kamar Meka.
"Sayang, kamu sudah selesai?" tanya Zain yang berada didepan pintu kamar Meka.
Meka membuka pintu kamarnya dan menutup Zain masuk kedalam.
"Masuklah Zain. Aku sudah bersih-bersih. Oh ya Zain, aku kepikiran sama Papa kalau besok kita balik ke Jogja," ungkap Meka.
"Jadi bagaimana sayang? Gak mungkin kita undur keberangkatan besok. Aku harus bekerja dan kamu juga harus kuliah kan."
"Iya, ya sudah kita ke kamar Papa aja. Biar nanti aku tanyakan. Kasihan kalau Papa sendirian disini. Pasti beliau akan teringat terus nantinya sama Mama dan Biyu."
"Kamu benar yang. Ayo kita kekamar Papa kamu sekarang," ajak Zain.
Lalu mereka berdua keluar dari kamar Meka. Meka melihat ruangan rumah yang sepi dan dia pun bergidik karena rumah sebesar ini hanya ditempati Papanya sendiri nantinya. Zain dan Meka berjalan kearah kamar Papanya.
"Tok tok tok, Pa...ini Meka!" panggil Meka dari luar kamar.
Namun tak ada sahutan dari dalam kamarnya. Meka kemudian membuka pintu kamarnya dan perlahan-lahan dia masuk dan melihat Papanya sedang melamun menatap foto Mamanya Meka.
"Papa, kangen ya sama Mama?" tanya Meka saat dia memegang pundak Papanya.
"Eh Meka, sini sayang," Papanya Meka menyuruh dia duduk disampingnya.
Meka pun duduk disebelah Papanya dan melihat sebuah kotak antik yang berukuran bulan sabit.
"Itu kotak apaan Pa?" tanya Meka penasaran.
"Meka, kamu sudah mengetahui bahwa dirimu adalah pilihan dari khodam leluhur kita. Jadi sudah saatnya Papa menyerahkan kotak ini kepada penerus khodam," jelas Papanya.
"Maksud Papa gimana? Dan buat apa kotak itu?" tanya Meka yang merasa bingung.
"Didalam kotak ini ada kalung mutiara yang memang diberikan kepada setiap generasi yang memiliki khodam leluhur. Kalung tersebut memiliki kekuatan supranatural yang banyak diincar para dukun sakti untuk meningkatkan ilmu mereka. Dan Papa harap benda ini jangan sampai jatuh ke tangan yang salah. Simpanlah, karena sudah waktunya ini beralih ke kamu nak," ungkap Papanya sambil menyerahkan kotak antik itu.
"Ini buat Meka Pa?" tanya Meka yang menerima kotak itu.
"Iya, bukalah nak. Dan teteskan darahmu sehingga kalung itu memiliki mengenali pemiliknya.
Meka ragu untuk melakukannya. Dia tidak membuka kotak itu seperti yang disuruh Papanya.
"Nanti saja Pa, Meka buka pas diJogja. Oh ya Pa, besok kami berangkat ke Jogja. Apa rencana Papa?" tanya Meka.
"Papa mau tinggal dirumah Ompung kamu saja di kampung. Disana, Papa akan buka usaha. Karena sepupu-sepupu Papa banyak disana. Biar Papa tidak kesepian kalau disana."
"Kalau itu sudah keputusan Papa, Meka mendukung aja. Jadi rumah ini bagaimana Pa?" tanya Meka.
"Rumah ini akan Papa jual. Papa gak mau terus-terusan mengingat kenangan bersama Mama kamu dan Biyu."
Meka mengerti perasaan Papanya yang sangat kehilangan Mama dan Biyu.
Meka menatap kearah Zain yang mendengarkan obrolan mereka.
"Apa kami tunda keberangkatan kami Om, sampai Om pergi ke kampung?" tanya Zain.
"Tidak usah nak Zain. Kalian tidak boleh menunda keberangkatan kalian. Jangan lupa khabari Om kalau sudah ada keputusan tentang pernikahan kalian," ucap Papanya Meka.
"Iya Om, saya pasti ngabari Om jika sudah membahasnya dengan keluarga saya," balas Zain.
"Ya sudah Meka, sekarang kamu tidurlah. Karena nanti tengah malam, kita tidak tau apa yang akan terjadi. Biar Papa dan Zain tidur di situ," suruh Papanya Meka.
"Iya Pa, Meka istirahat dulu ya Pa. Papa juga jangan tidak istirahat."
"Iya, nih Papa mau rebahan juga," balas Papanya.
"Selamat tidur sayang," ucap Zain.
"Selamat tidur Zain!" balas Meka.
Lalu Meka naik ketempat tidur Papa dan Mamanya. Dia mulai memejamkan matanya. Namun hatinya merasa gelisah sehingga sulit baginya memejamkan matanya.
Zain dan Papanya Meka pun merebahkan tubuhnya. Mereka mulai memejamkan matanya. Namun Zain merasakan Meka kurang nyaman. Lalu Zain terduduk dan melihat Meka yang gelisah.
Zain menghampiri Meka ditempat tidurnya.
"Zain, perasaanku gak enak ya malam ini. Seperti akan ada terjadi sesuatu disini," ucap Meka khawatir.
"Kita berdo'a saja ya sayang. Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi," balas Zain.
"Meka...,berhati-hatilah tengah malam nanti. Akan ada serangan kerumah ini. Aku akan coba menghalau kiriman itu," bisik sosok Harimau itu.
Meka ertegun mendengarnya. "Maksudnya apa ya?" gumam Meka.
Zain yang mendengar Meka bergumam, menatap penuh tanda tanya dan dia mengerutkan keningnya.
"Ada apa sayang? Kenapa kamu ngomong sendiri?" tanya Zain.
"Aku mendengar bisikan akan ada kiriman kerumah ini tengah malam nanti Zain. Lebih baik kita jangan tidur. Dan biarkan Papa yang tidur," pinta Meka.
"Baiklah sayang, aku akan menemanimu sampai waktunya selesai."
Lalu Meka dan Zain duduk di depan TV sambil menonton film.
"Sayang, kamu tidurlah, biar aku yang berjaga. Nanti kalau ada apa-apa, aku akan bangunin kamu," Zain menyuruh Meka untuk istirahat saja.
"Tidak Zain, aku akan bersamamu menunggu apa yang akan terjadi tengah malam nanti," cemas Meka.
"Baiklah kalau gitu."
Waktu pun terus berjalan. Hingga jam 24.00 sudah. Tanda-tanda adanya kiriman belom terdengar. Hingga beberapa saat, pintu kamar Papanya Meka terbuka, hembusan angin kencang menerpa masuk kedalam kamar. Meka dan Zain terkejut melihat jendela itu terbuka.
Lalu Zain berjalan kearah jendela itu dan berusaha menutupnya. Namun matanya menangkap sosok anak kecil yang berdiri didepan jendela. Zain terkejut dan segera menutupnya. Dia pun merinding.
"Ada apa Zain?" tanya Meka yang bingung.
"A..ada anak kecil didepan kamar Papa kamu Mek," jawab Zain.
"Anak kecil?" tanya Meka.
"Ya, anak kecil dia menatap kearah kamar ini Meka. Aku tidak berani menatapnya, makanya aku langsung menutup jendelanya," jelas Zain.
Lalu terdengar suara dentuman diatas atap kamar Papanya Meka.
Meka dan Zain terkejut dan menatap keatas.
"Apa itu Zain?" Meka mulai ketakutan. Dia memeluk Zain dengan erat.
"Aku juga gak tau sayang," balas Zain yang juga ketakutan.
Lalu Harimau putih itu muncul dihadapan Meka.
"Dia sudah mulai melakukannya Meka. Bersiaplah, teruslah berdo'a dan berdzikir mohon perlindungan sama sang Pencipta," ucap Harimau itu.
"Siapa yang kamu maksud?" tanya Meka dalam hati.
"Dukun itu sudah mengetahui tentang pemilik tali pocong itu yang tidak berkhasiat. Dan kuncen yang berada di pemakaman sedang berusaha mengembalikan tali itu ketempatnya. Saat ini sedang ada perang ghaib. Karena dukun itu ingin mengambil jasad adik kamu yang akan ditumbalkannya ke Iblis yang disembahnya. Kuncen itu berusaha menghalaunya. Dan aku akan menjagamu disini," jelas Harimau itu.
"Kenapa dia mau mengambil jasad adikku. Bukannya dia tidak ada khasiatnya?" tanya Meka.
"Karena Iblis itu harus diberi tumbal malam ini. Dan sasarannya adalah jasad adik kamu yang masih murni dan bersih," terang Harimau itu.
Meka masih belom bisa mencerna semua keadaan ini. Dia berharap malam ini akan cepat berlalu.
"Ustadz Anwar juga akan membantu untuk melindungi jasad adik kamu dari tempatnya," ucap Harimau itu lagi.
Lagi-lagi Meka mendengar suara dentuman keras diatas atap kamar Papanya. Meka semakin ketakutan dan memilih untuk memeluk Zain dengan erat. Hingga pagi pun tiba.
Pukul 04.50," suara adzan subuh terdengar. Meka dan Zain memutuskan untuk tidur dan beristirahat.
Hingga Pagi yang cerah, Papanya Meka terbangun dan melihat Meka dan Zain masih tertidur. Sehingga Papanya tidak ingin membangunkan mereka.
Papanya Meka keluar dari dalam kamarnya, dia melihat ruangan tamu yang sudah berantakan, akibat hantaman bola api yang dikirimkan dukun itu kepada Harimau Putih.
"Apa yang terjadi?" Papanya Meka kaget dan heran dengan penampakan ruangan yang berantakan di Pagi hari.
Lalu Papanya bergegas masuk kedalam kamar dan mencoba membangunkan Meka.