Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 49


Tidak ada yang mendengar teriakan Meka. Seakan-akan mereka semua terbuai dalam mimpi.


Meka gemetaran melihat sosok anak kecil yang menyeramkan dengan mata yang hilang satu dan kepala yang retak hingga darah bercucuran keluar.


"Kembalikan milikku! Kembalikan....!" teriak sosok tak kasat mata itu.


Meka lari sekencang-kencangnya, dia langsung membuka pintu rumahnya, tapi terkunci.


"Loh kenapa ini terkunci. Bukaaaaaa...Papa....buka pintunya...!" Meka terus berteriak sekencang-kencangnya, namun tak ada yang membukanya.


Sedangkan sosok anak kecil itu mendekat kearah Meka.


"Kakak...kembalikan..! Kembalikan taliku...! Dia jahat, dia mengambilnya..! ucap sosok itu yang ingin menggapai tubuh Meka.


Seketika Meka pingsan didepan pintu rumahnya. Tak ada seorangpun yang mendengar teriakannya.


Pagi pun tiba dengan cuaca yang sangat cerah. Meka menggeliat diatas tempat tidurnya. Lalu perlahan dia membuka matanya. Dia terkejut dan langsung bangkit duduk. Meka mengedarkan pandangannya keruangan kamarnya.


"Kenapa aku berada disini? Bukannya kemaren malam aku pingsan ya didepan rumah.Trtus siapa yang mindahin aku?" tanya Meka bingung.


Lalu dia bangkit dan keluar dari dalam kamarnya menuju kamar Zain. Meka membuka pintu kamar Zain. Meka kaget melihat pemandangan menggugah hasrat.


"Zain, kamu kenapa pakai handuk gitu? Trus nih pintu gak dikunci lagi!" Meka merasa kesal dengan tingkah Zain yang masa bodo'.


"Kan yang masuk kamu sayang! Kamu kenapa pagi-pagi gini udah ngomel kayak gitu, hah?" tanya Zain heran.


"Zain, apakah kamu yang mindahin aku kedalam kamarku ya?" tanya Meka menyelidik.


"Yup benar, lagian ngapain kamu tidur didepan pintu? Kemaren aku cari-cari malamnya kekamar kamu, malah gak ada orangnya. Terus aku pikir kamu dikamar Papa kamu. Tapi saat aku mau masuk kedalam kamar, aku dengar seperti ada suara benda terjatuh didepan pintu. Ya aku beranikan diri untuk melihatnya. Ternyata kamu yang tertidur didepan pintu," terang Zain menceritakan kejadian semalam.


"Tapi aku gak tidur didepan pintu rumah Zain!" protes Meka.


"Terus itu namanya apa Meka ku....!" seru Zain.


"Kemaren malam, saat aku berada didalam kamar, tiba-tiba jendela kamarku terbuka lebar hingga angin kencang masuk kedalam kamarku. Terus, aku penasaran kenapa anginnya begitu kencang. Lalu aku mencoba menutup jendelaku. Gak sengaja mataku menangkap sosok anak kecil berdiri didepan pagar menghadap jendelaku," jelas Meka.


"Sosok anak kecil?" tanya Zain memotong cerita Meka.


"Iya anak kecil Zain..! Trus aku memberanikan diri keluar rumah untuk melihat anak kecil itu, saat aku mendekatinya, aku baru melihat jelas kondisi anak itu dengan salah satu matanya hilang atau bolong dan kepalanya retak hingga darah bercucuran. Aku ketakutan dan berlari kearah rumah. Aku panggil-panggil orang yang berada didalam, namun tak seorangpun membukanya. Dan anak itu mendekatiku, dan dia hendak memegang pundakku, aku langsung menoleh dan berteriak lalu aku pingsan," jelas Meka panjang lebar sambil bergidik ngeri membayangkan kondisi tubuh anak itu.


"Aneh sekali mimpi kamu itu sayang. Apakah ini semua ada sangkut pautnya ya?" tanya Zain sambil menatap Meka.


"Aku juga gak tau Zain. Semuanya membingungkan," balas Meka.


"Jam berapa kita ke Pemakaman sayang? Mendingan sekarang kamu temui Papa kamu dikamar, biar beliau siap-siap," perintah Zain.


"Iya-iya. Dan kamu jangan keganjenan pake pintu kamar gak dikunci segala. Mau nunggu perempuan lain datang ya?" selidik Meka dengan memicingkan matanya sedikit.


"Hahaha, kamu jangan berpikir aneh-aneh sayang. Aku sudah berjanji sama Almarhum Ibu kamu. Dan gak akan aku ingkari jika Allah SWT me.persatukan kita," jawab Zain tegas.


Hmmm, baiklah aku kekamar Papa dulu ya Zain. Kamu kalau sudah selesai, temui Papa juga ya," pinta Meka memohon.


"Iya Meka ku, nanti aku akan nyusul kamu. Aku masih ada kerjaan dulu ini untuk kampus. Kemaren Bu Arin nanyai tentang tour kalian. Apakah kita ikut ,atau bagaimana?" tanya Zain.


"Iya lusa kita sudah kembali. Jadi kita bisa ikut dalam tour tersebut," balas Meka.


Meka pun pergi meninggalkan kamar Zain dan berjalan menuju kamar Papanya.


Papanya Meka langsung membuka pintu kamarnya.


"Papa baru bangun ya?" tanya Meka saat masuk kedalam kamarnya.


"Nggak sayang, Papa sudah dari tadi bangunnya kok," jawab Papanya.


"Pa, gimana hari ini kita jadi ke Pemakaman Mama dan Biyu kan?" tanya Meka penuh harap.


"iya sayang, kita akan kesana. Tapi apakah sarapan pagi sudah siap?" tanya Papanya.


"Oh iya, Meka lupa. Kalau gitu Meka siapkan dulu ya Pa sarapan kita. Mudah-mudahan Tante sudah bangun." Meka pun keluar dari dalam kamar dan menuju dapur untuk membuat sarapan untuk keluarga besarnya.


Meka mulai masuk kedalam dapur dan menyiapkan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng. Saat Meka sedang asyik berkutat dengan bahan-bahan dapur, dari belakang Meka dikejutkan dengan spatula yang terjatuh. Meka melihat benda yang jatuh itu tadinya berada ditempat yang tidak mungkin untuk terjatuh.


Meka melihat kesana kemari namun dia tidak menemukan siapa pun dan mahluk tak kasat mata juga tidak terlihat sama sekali.


"Siapa yang membuatnya terjatuh ya. Perasaan tadi letaknya disitu dekat gas. Masa bisa terjatuh gitu?" pikir Meka heran.


Lalu dia melanjutkan mengiris-iris bawang merah dan cabai. Namun lagi-lagi ada benda yang terjatuh. Hingga membuat Meka ketakutan. Tapi dia berusaha menyembunyikan rasa takutnya.


"Siapa itu? Bentak Meka.


"Tunjukkan sosok kalian. Jangan sembunyi seperti ini?" Meka pun mengambil benda yang jatuh tadi.


Dia melihat ruangan dapur yang sepi dan tak ada suara apapun.


"Buat bulu kuduk gw berdiri aja. Sepi banget," gumam Meka.


Lalu dia mulai memasak nasi goreng kesukaan Papanya. Dia mulai fokus mengoseng-oseng bumbunya.


Dari arah belakang, ada sosok yang memperhatikan Meka dengan tidak suka, dia menatap punggung Meka dengan tajam. Orang yang sedang berdiri dibelakang Meka tak lain adalah Omnya sendiri. Abang dari Papanya yang menginginkan dirinya untuk diserahkan sebagai tumbal agar dia menjadi orang kaya raya tujuh turunan. Namun Omnya tidak mengetahui bahwa Meka adalah orang spesial. Orang yang memiliki tanda bulan sabit dibelakang punggungnya mempunyai kelebihan bisa melihat kematian seseorang. Semua itu bisa Meka dapati, dengan dia bermeditasi.


Saat Omnya termenung, Meka membalikkan badannya dan melihat keberadaan Omnya didepan dapur.


"Loh Om, ngapain bengong disitu?" Meka menyadarkan Omnya dari lamunan.


"Eh ah itu, Om tadi mau ambil air minum. Trus kaget ngelihat kamu di dapur. Kamu lagi masak apa Meka?" tanya Omnya berpura-pura.


"Ini Om, buat nasi goreng untuk sarapan bersama. Papa juga sudah laper katanya," ucap Meka sambil mengaduk nasi gorengnya.


"Wah enak nih sepertinya ya. Om tunggu ya dimeja makan nasi gorengnya," ucap Omnya yang kemudian berlalu dari ruangan dapur.


"Iya Om, nanti Meka hidangkan ya!" balas Meka.


Omnya langsung kembali kedalam kamarnya, dan melihat tali pocong Biyu yang diambilnya masih aman. Dia akan segera memberikannya kepada dukun saktinya. Dan hari ini dia berencana untuk pergi ke rumah dukun itu.


"Pa, kamu kenapa? Dari tadi diam aja ngelihatin tali itu!" seru istrinya yang melihat suaminya diam saja.


"Iya Bu, aku harus segera menemui dukun kita, untuk memberikan tali ini. Biar kita kaya raya Bu dan bisa keliling dunia. Kamu mau kan Bu jadi orang kaya?" tanya suaminya.


"Ya maulah Pak, siapa sih yang gak mau kaya. Apalagi Ibu, mau banget biar bisa beli tas branded, baju branded dan semua yang berbau branded, Ibu mau beli Pak. Biar nyamain artis-artis lain loh Pak, pakai branded semua. Kan lagi ngetren Pak branded-branded," jawab Istrinya yang semangat 45.


"Ya udah kamu tunggu aku dirumah aja ya Bu. Habis sarapan, aku mau pergi ketempat dukun itu. Tapi inget Bu, jangan kasih tau siapapun, baik anak kita sendiri ya," pinta suaminya.


"Iya pak, Ibu gak akan kasih tau. Tenang aja Pak," balas istrinya.