Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 105


Meka sudah terbiasa mendengar cibiran dari Mahasiswa di Kampusnya. Baginya itu sudah hal biasa dan membuat telinganya menjadi bebal. Tidak ada yang mengetahui tentang status Meka dan Dosga mereka sampai saat ini. Hanya Deon dan Isna saja yang mengetahui hubungan Meka.


"Udah selesai, ayo kita ke bus nya. Sepertinya teman-teman lain sudah pada kumpul," ajak Meka.


"Oh ya Mek, kita tour kemana emangnya?" tanya Asih yang penasaran.


"Katanya sih ke daerah Kulon Progo pedalaman. Kalau gak salah Desa Tua namanya. Disana kita akan mengadakan penyuluhan tentang membangun usaha kecil-kecilan yang bisa menghasilkan uang untuk masyarakat disana," jelas Meka sedikit tau tentang kegiatan nantinya.


Asih mengerutkan keningnya. Dia merasa heran dengan lokasi yang dituju buat tour Kampus.


"Kenapa pihak Kampus Meka memilih Desa itu? Apa Meka dan yang lainnya gak tau ya tentang Desa itu? Ah gak mungkin Dosennya gak tau, apalagi jika dia berasal dari Jogja, pasti tau. Tapi apa maksudnya?" gumam Asih pelan.


Meka yang melihat ekspresi Asih seperti orang yang bingung dan takut, langsung bertanya.


"Ada apa Sih, kenapa Lo jadi bengong gitu saat gw cerita Desa tua?"


"Mek, siapa penanggung jawab kegiatan ini?" tanya Asih penasaran.


Deon, Isna dan Meka serta Dosga mereka menatap kearah Asih dengan kening mengkerut.


"Kenapa Lo tanya begitu Sih?" tanya Isna heran.


"Masa sih kalian gak tau atau gak pernah dengar tentang Desa itu?" tanya Asih yang semakin membuat mereka penasaran dan sedikit takut.


"Emang ada apa dengan Desa itu Sih?" tanya Meka penasaran.


"Hussst jangan kencang-kencang ngomongnya Mek! Sini gw bilangin," Asih menyuruh mereka mendekat kearahnya kecuali Pak Zain.


"Ada apa Sih?" tanya Meka curiga.


"Iya ngomong yang jelas dong, jangan buat kita penasaran," celetuk Deon.


"Udah jangan ribut napa! Yang gw pernah dengar bahwa Desa itu angker. Dan kalian tau, Desa itu bersebelahan dengan Desa ghaib yang berada di dekatnya. Yang gw tau juga bahwa di Desa itu dihuni oleh orang-orang sepuh dan separuh baya. Konon Desa itu suka meminta tumbal bagi mereka yang datang kesana," jelas Asih sambil mengembalikan posisinya duduk tegak.


Deon dan Isna serta Meka saling menatap satu sama lain. Deon yang mendengar cerita Asih sahabat baru mereka, langsung nyalinya ciut dan sudah mulai ketakutan. Lalu dia memegang tangan Isna kekasihnya.


Isna pun melirik kearah tangannya yang digenggam Deon.


Meka menatap suaminya yang diam menunggu cerita darinya. Lalu Meka kembali melihat kearah Asih.


"Lo gak salah informasi Sih?" tanya Meka.


"Mek, gw serius. Itu cerita sudah lama dan orang tua gw juga pernah cerita. Kebetulan Ayah gw dari Kulon Progo," jawab Asih serius.


"Ada apa Meka?" tanya Zain.


"Itu Mas, Asih bilang kenapa kita memilih Desa tua untuk melakukan kegiatan Kampus!" jawab Meka.


"Itu pilihan Kaprodi Komunikasi, dia yang menentukan dan disetujui oleh pihak Kampus," ucap Zain dengan sikap datarnya.


"Siapa Mek, Kaprodinya? Kok dia milih tempat itu? Apa ada alasannya?" Asih memberondong banyak pertanyaan.


"Kaprodinya itu Bu Arin, Mbaknya mantan Lo Sih," ucap Meka agak gak enakan.


"Maksud Lo, mantan gw si Eko?" tanya Asih terkejut.


"Heum," jawab Meka serius.


"Mek, gimana nih? Kok gw jadi takut begini ya!" ucap Deon yang memotong pembicaraan mereka.


"Iya Mek, apa kita batalin aja ya ikut tournya?" tanya Isna.


"Kalau kalian ketakutan, ya lebih baik tidak usah ikut. Kalau gw tetap ikut karena ini akan menjadi pengalaman buat gw," jawab Meka.


"Emang Pak Zain ngasih Lo ikut ketempat itu?" tanya Isna yang melirik ke Dosganya.


"Kalau perginya sama saya, Meka boleh kok mengikuti tour itu," jawab Dosganya.


"Gw ikut deh Mek, kan banyak Mahasiswa yang lainnya," jawab Asih semangat.


"Kalian gimana Na, Deon?" tanya Meka sambil menatap dua sahabatnya itu.


"Mmmm, ya udah, gw ikut jg lah. Lagian, banyak Mahasiswa lainnya yang ikut," jawab Deon.


"Lo gimana Na, ikut gak?" tanya Meka.


Deon menanti jawaban dari kekasihnya. Dia berharap Isna juga ikut bersamanya.


"Iya deh, gw juga ikut Mek. Lagian Deon ikut, masa gw gak ikut!" jawab Isna.


"Tapi inget, kalau kita disana, harus jaga sikap dan jangan sembarangan ngomong. Karena bagaimanapun, itu tempat yang angker seperti kata Asih," ucap Meka yang memperingati yang lainnya.


"Iya, Bapak harap kalian bisa jaga sikap dan hati-hati kalau sudah tiba disana," sambung Dosga mereka.


"Baik Pak," jawab mereka serentak.


"Kalau gitu kita ke depan yuk. Mungkin bus sudah mau berangkat," ajak Meka.


"Iya yuk Mek, gw udah gak sabar nih petualang ke Desa angker," balas Asih yang memang pemberani.


"Teman-teman inget ya, kita kesana tour kegiatan, jadi berhati-hati di Desa itu dan ikuti pantangan-pantangan yang diberlakukan disana," pesan Meka terhadap teman-temannya.


"Iya Mek, gw akan ingat pesan Lo," balas Isna.


"Gw juga akan selalu ingat pesan Lo Mek," Deon juga ikut menjawab.


"Iya..gw pasti mengingatnya," balas Asih yang memanyunkan bibirnya.


Lalu Zain dan Meka berjalan ke depan Kampus dan diikuti oleh yang lainnya dibelakang. Sesampainya mereka di Bus, Meka dan yang lainnya langsung naik. Dimana, bangku-bangku itu belom diisi karena masih pada nunggu di luar Bus.


Zain sebagai Dosen mendapat bangku di depan. Dan dia menempatkan tas ranselnya dan tas Meka dibagian bangkunya. Sedangkan Isna dan Asih duduk di bangku belakang mereka. Sementara Deon duduk bersama Mahasiswa lainnya.


Bu Arin melihat Dosen Zain mengajak Meka duduk disebelahnya. Padahal dia sangat menginginkan tempat duduk disebelah Pak Zain. Namun keinginannya itu ditelannya bulat-bulat. Sehingga dia menatap Meka dengan sangat tajam dan memperlihatkan ketidaksenangannya.


"Pak Zain kenapa Mahasiswi ini harus duduk di bangku bagian Dosen. Seharusnya dia bergabung dengan Mahasiswa lainnya dibelakang," ketus Bu Arin yang tersenyum manis ke Dosga mereka.


"Saya ingin Meka disamping saya Bu Arin. Karena banyak yang akan saya obrolin sama dia," balas Dosen Zain.


Bu Arin semakin kesal dan mendelik kearah Meka. Serta dia tak sungkan-sungkan memperlihatkan kebenciannya dari tatapannya.


"Lihat aja anak ingusan. Kamu ingin melawan Arin yang cantik dan mempesona ini ya! Sekarang lah waktunya kamu mati, nikmati tour mu bersama teman-temanmu di Desa itu, hahahaha," bathin Bu Arin dengan senyum sumringah nya.


Meka bisa melihat tatapan mata Dosennya itu penuh kebencian. Namun dia berusaha untuk tidak terprovokasi dengan keadaan.


"Sayang, ingat saat disana, kamu tidak boleh jauh-jauh dari Mas. Mas tidak ingin terjadi apa-apa denganmu. Kamu dengarkan apa yang Mas ucapkan," ucap Zain yang memperingati istrinya.


"Iya Mas, aku akan patuhi ucapanmu," balas Meka.


Namun entah kenapa perasaan Meka tidak enak. Dia terus menatap Asih sahabatnya.


"Kenapa perasaanku tak nyaman begini ya melihat Asih? Apa akan terjadi sesuatu terhadapnya ya? Perasaan ini seperti ketika aku melihat Mamaku akan pergi. Ya Allah semoga engkau selalu melindungi kami dalam tour kegiatan ini," bathin Meka yang memanjatkan do'anya.


"Sayang kamu kenapa? Mas lihat dari tadi kebanyakan bengong. Apa kamu melihat sesuatu disini?" tanya Zain dengan suara pelan.


"Kalau mahluk ghaib ada Mas, aku lihat dibelakang sana. Tapi aku merasakan hal yang berbeda Mas. Ini perasaan saat kehilangan Mama, Mas," jawab Meka.


"Maksud kamu gimana sayang?" tanya Zain bingung.


"Mas, aku merasakan hal yang tak nyaman dengan Asih. Seperti akan ada sesuatu yang terjadi dengannya. Kamu dengar kan tadi Asih cerita apa tentang lokasi yang kita datangi. Desa tua yang angker bagi masyarakat sekitarnya. Namun Bu Arin justru memilih tempat itu. Aku menjadi curiga Mas sama dia," jelas Meka.


"Tapi Dosen lain juga ikut sayang. Apa tujuan dia mengajak banyak Mahasiswa ke sana?" tanya suaminya lagi.


Meka pun berpikir keras, namun dia tidak ingin menyimpulkan hal-hal buruk yang terjadi nantinya.