Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 62


Meka berbicara melalui bathinnya terhadap Khodamnya.


"Kenapa ada mahluk itu disini?" tanya Meka melalui bathinnya.


"Dia mengikuti temanmu. Mereka bertemu di telaga saat temanmu sedang melamun," jawab Khodamnya.


Meka menatap Asih yang berdiri dihadapannya. Lalu dia menatap ke sosok laki-laki itu.


"Asih wajahmu kenapa pucat seperti ini? Apa kamu mengalami sesuatu?" tanya Meka menelisik.


"Kenapa Lo ngomong seperti itu Mek? Gw baik-baik aja kok," Asih berusaha menutup sesuatu hal dari sahabatnya ini.


"Asih coba jujur sama gw. Lo pasti menyimpan sesuatu!" Meka mencoba memaksa Asih untuk jujur.


"Sayang, Mas berangkat dulu ya. Biar kalian bebas ngobrolnya. Nanti khabari jam berapa Mas jemput," ucap Zain yang hendak berangkat ke kampus.


"Iya Mas, kamu hati-hati ya dijalan. Nanti pasti aku khabari."


"Sih, gw anter Mas Zain dulu ya kedepan," ucap Meka.


Asih hanya mengangguk dan menatap keheranan dengan panggilan Meka terhadap Dosganya.


"Sejak kapan dia manggil Mas? Apa ada yang gw lewatin?" gumam Asih.


Lalu Meka dan Zain melangkah keluar dari dalam kamar Asih. Zain berpamitan terhadap Meka. Dia mengecup kening Meka. Sedangkan Meka menyalami tangan suaminya.


"Kamu hati-hati disini ya sayang?" ucap Zain.


"Iya Mas. Udah sana berangkat," balas Meka.


Zain mengecup kembali kening Meka dan sekilas bibir manisnya juga kena sasaran.


"Ihhhhh Mas Zaaaiiin!" protes Meka malu-malu tapi senang.


Setelah Zain pergi meninggalkan Meka dikontrakannya, Meka kembali masuk kedalam kamarnya Asih. Meka masih melihat keberadaan sosok mahluk tak kasat mata itu di dalam kamar Asih.


Mahluk itu tak bisa melawan Meka karena ada Khodam yang mengawasinya.


"Asih, ayo kita cerita. Gw pengen dengar tentangmu sejak gw tinggal ke Medan?" tanya Meka yang mengajak Asih duduk di pinggiran tempat tidurnya.


"Gw bingung mau mulai cerita dari mana Mek! Sejak Lo pergi, gw sering ngerasa aneh dengan diri gw. Setiap bangun tidur, badan gw rasanya sakit semua, dan..!" Asih menggantung ucapannya. Dia tidak enak hati untuk melanjutkannya.


"Dan apa Sih?" tanya Meka curiga.


"Dan gw seperti mimpi basah. Terkadang anak-anak sini sering melihat gw pucat gitu. Tapi gw memang ngerasa sering lemas Mek," jelas Asih.


"Asih lebih baik Lo ke Ustadz, biar apa yang mengikutimu pergi dari tubuh Lo. Karena yang gw lihat ada sosok laki-laki yang ngikutin Lo," jelas Meka sambil memegang tangan Asih.


"Serius Lo Mek!?" Apa Lo bisa ngelihatnya?" tanya Asih.


Meka tak menjawab tapi dia justru melirik ke sebelah mereka. Meka teringat pesan Papa dan yang lainnya, agar orang lain tidak mengetahui bahwa dia memiliki kelebihan.


"Gw bisa merasakannya Sih. Tapi saran gw lebih baik Lo ke Ustadz ya. Sekarang Lo gak masuk kuliah apa?" tanya Meka.


"Udah beberapa hari belakangan ini, gw gak masuk kuliah. Gw gak mau teman-teman ngelihat wajah gw yang pucat," ucap Asih.


"Apa Lo jarang sholat? Maaf kalau pertanyaan gw agak gak enak Lo dengar?" tanya Meka yang menatap Asih serius.


"Iya Mek, gw jarang melaksanakan sholat," jawab Asih yang merasa malu.


"Kalau gitu Lo harus sering melaksanakan sholat, agar terhindar dari hal yang buruk dalam hidup Lo."


"Iya Mek, gw akan kembali terus melaksanakannya. Oh ya ngomong-ngomong, belakangan ini Lo kemana? Dan kenapa bisa sama Pak Dosga Lo?" tanya Asih penasaran.


"Gw juga punya cerita sama Lo. Mama gw sudah meninggal Sih kemaren saat pulang ke Medan. Dan gw sama Pak Zain pulang ke Medan sampai beberapa hari. Lalu Papa gw minta gw segera menikah dengan Pak Zain. Dan dia setuju kami menikah."


"Ya Lo benar Sih. Kami menikah setelah 3 hari kematian Mama gw. Dan sekarang gw harus tinggal bersama dia di Apartementnya," sambung Meka.


"Gw turut berduka cita ya Mek. Lo pasti sangat syok dan sedih ya saat kemaren kehilangan Mama Lo. Gw juga merasa kehilangan. Karena kemaren kan kami sempat dekat saat Mama Lo di Jogja," ucap Asih yang ikut merasakan kesedihan Meka.


"Iya Sih, makasih ya. Memang kemaren gw benar-benar terpukul atas kehilangan Mama gw. Tak hanya Mama, adik gw juga telah meninggal ikut bersama Mama gw Sih," terang Meka.


Asih yang yang mendengar penuturan Meka, merasa terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia gak percaya dengan apa yang menimpa sahabatnya ini.


"Ya Allah Meka.....! Kenapa bisa seperti itu? Apa yang terjadi sebenarnya? Trus Papa Lo gimana keadaannya?" tanya Asih beruntun.


"Ceritanya panjang Sih. Yang pasti saat Mama gw tiba di Bandara dan dijemput sama Om gw dan kebetulan adik gw juga ikut menjemput Mama gw. Disaat itulah terjadi kecelakaan itu yang mengakibatkan Mama dan adik gw meninggal. Sedangkan Om gw masuk rumah sakit," ungkap Meka dengan raut sedihnya.


"Lo yang sabar dan harus kuat ya Mek. Semoga Papa Lo tabah menghadapi semuanya."


"Iya Sih, makasih ya Sih. Oh ya gw ke kamar dulu ya, mau ngepak-ngepak barang gw biar dipindahin ke Apartement Zain."


"Yaaaa, gw kesepian dong Mek! Gw gak ada temannya lagi dong disini? Lo harus sering-sering ngunjungi gw ya Mek!" pinta Asih terhadap sahabatnya.


"Iya Sih, gw akan sering main kemari ya."


"Gw bantuin ya Mek, gw juga bosan dikamar terus. Gimana kalau kita jalan-jalan hari ini. Merayakan hari pernikahan Lo, mau ya!" bujuk Asih.


"Gw izin dulu ya sama Mas Zain. Bentar gw hubungi dulu dia."


Meka mengambil ponselnya dan menghubungi no Dosganya. Setelah tersambung, dari seberang, Zain mengangkat tlpnya.


"Assalamu'alaikum sayang! Ada apa?" tanya Zain.


"Wa'alaikumussalam Mas. Aku mau izin jalan-jalan bareng Asih, boleh ya?" ucap Meka yang memohon terhadap suaminya.


"Kapan mau perginya? Bukannya kamu mau beresin barang-barang sayang?" tanya Zain yang kurang senang jika istrinya pergi tanpa dia.


"Habis bersin barang Mas. Boleh ya, aku pengen ngobrol diluar sama Asih. Kan udah lama gak ketemu," rengek Meka.


"Mmmm, baiklah. Tapi ingat, kamu harus hati-hati dan jangan buat yang aneh-aneh. Kalau ada apa-apa segera hubungi Mas ya!" ucap Zain yang mengingatkan Meka.


"Iya Mas, aku akan hati-hati kok. Nanti aku khabari ya kalau mau pulang, makasih sayang muach...!" balas Meka yang merasa senang karena diizinkan jalan sama Asih.


"Iya sayang, emmmuach. Assalamu'alaikum!" ucap Zain diseberang.


"Wa'alaikumussalam Mas."


Lalu tlp pun dimatikan dan Meka akhirnya mendapatkan izin dari suaminya. Dia menatap kearah Asih dan tersenyum dengan girangnya seperti habis mendapatkan lotre, Meka merasa senang.


"Gimana Mek, dibolehin?" tanya Asih penasaran.


"Tentu dong! Aku boleh jalan sama Lo kok. Ayo bantu gw sekarang beres-beres," ajak Meka.


Lalu mereka berdua keluar dari kamar Asih. Dan saat keluar, Meka menatap tajam kearah sosok laki-laki itu. Mereka berdua menuju kamar Meka yang sudah lama tak ditempati. Meka membuka pintu kamarnya dan masuk kedalam.


"Wuih...pengab banget ya Sih, kamar gw!" seru Meka yang merasakan sesak. Lalu dia membuka jendela kamarnya agar udara masuk kedalam kamarnya.


"Iya kan Lo udah hampir seminggu gak nempatin nih kamar."


"Iya, gw beresin baju-baju gw dulu aja," Meka mulai merapikan baju-baju nya kedalam cover.


Sejam kemudian, Meka yang dibantu Asih akhirnya menyelesaikan semuanya. Barang-barang yang akan dibawa Meka ke Apartement Zain sudah siap semuanya.


"Sekarang Lo mandi gih Sih, gw nunggu disini aja. Habis tuh kita jalan keluar," suruh Meka.


"Ok, gw mandi dulu ya." Asih keluar dari kamar Meka menuju kamarnya. Saat masuk kedalam kamarnya dia merasakan bulu kuduknya merinding. Namun dia berusaha menepis rasa takutnya.


Kemudian Asih mulai membersihkan kamarnya sama dia juga mulai membersihkan dirinya di dalam kamar mandi. Setelah beberapa menit mandi, Asih keluar dari dalam kamar mandi dan mulai berhias.