Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 118


Setelah mobil Zain menjemput Nenek itu, mereka berlalu dari rumahnya menuju gapura masuk ke Desa. Akhirnya mobil Zain bertemu dengan Bus yang di tumpangi teman-teman Meka.


Zain pun turun dari mobil menemui Mahasiswanya serta Dosen yang ada di dalam Bus.


"Pak Robby dan Pak Anton tolong jaga anak-anak di dalam Bus ini. Apapun yang terjadi, jangan pernah berhenti saat melewati hutan itu. Karena yang akan kita lewati adalah hutan angker. Dan berdo'a agar kita bisa keluar dari hutan itu. Kalian mengerti?" ucap Dosga mereka dengan tegas.


"Maaf Pak, sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa teman-teman kita menghilang dan terjadi pembunuhan sesama mereka?" tanya ketua rombongan yaitu Ridho.


"Saya tidak bisa menjelaskannya karena waktu kita tidaklah banyak. Setelah keluar dari sini, saya akan menjelaskan semuanya, sekarang ayo kita berangkat," jawab Dosga mereka.


"Pak, apakah ini berhubungan dengan mahluk halus?" tanya Mahasiswi yang sudah ketakutan.


"Ya, ini berhubungan dengan mahluk ghaib. Jangan takut dan terus berdo'a," jawab Dosganya.


Lalu Zain kembali ke dalam mobilnya dan mereka memandu Bus untuk keluar dari Desa itu.


"Nak Meka, Nenek yakin kalau Kita Baron sudah mengetahui tentang kamu. Bagaimana kalau dia menyerangmu?" tanya Nenek itu.


Meka diam mendengar pertanyaan Nenek itu. Sejujurnya Meka sangat ketakutan menghadapi hal seperti ini, tapi lagi-lagi dia harus berurusan dengan hal ghaib. Dengan Meka membantu menyelamatkan teman-temannya, itu berarti dia harus siap dengan konsekuensi apapun terhadapnya. Seandainya dia disuruh memilih, memiliki mata bathin atau tidak, dia akan memilih tidak memilikinya. Karena mahluk ghaib akan selalu mendekat ke kehidupannya jika dia memiliki mata bathin.


"Eh Mek, Lo ditanyain tuh sama si Nenek, malah melamun," senggol Isna.


"Ah iya Nek, kalau kita Baron menyerang saya, insyaallah saya akan siap Nek," jawabnya.


Saat mobil memasuki jalanan hutan angker itu, Meka banyak melihat mahluk ghaib yang berdiri sepanjang jalan hutan. Mereka berusaha mendekati mobil dan Bus mereka. Namun mereka tidak berani mendekat karena ada seekor Harimau besar yang mengikuti mobil Meka dari samping. Makhluk-makhluk ghaib itu menggeram karena makanan mereka bisa lepas dari genggaman mahluk itu.


Sesaat kemudian, muncullah mahluk berbentuk perempuan setengah hewan. Matanya menyalang, rambut panjang menjuntai dengan wajah yang menyeramkan, matanya melotot dengan memperlihatkan warna putih semua. Telinganya panjang seperti hewan serta kaki dan tangannya seperti kalong dengan kulit yang terkelupas. Sosok yang sangat menyeramkan menghadang jalan Meka dan yang lainnya.


"Awas Maaaaaaass!!!" teriak Meka dari bangku belakang.


Zain tiba-tiba ngerem mendadak karena teriakan Meka hingga tabrakan dari belakang pun terjadi. Bus yang mengikuti mereka pun akhirnya melakukan hal yang sama dengan ngerem mendadak dan menabrak bagian belakang mobil.


Meka dan yang lainnya berada di dalam mobil terluka karena benturan dan mereka pun pingsan. Begitu juga dengan tangan dan di dalam Bus, mereka terluka terhempas kedepan. Sebagian dari mereka ada yang pingsan dan yang lainnya masih sadarkan diri.


"Apa yang terjadi Pak Anton?" tanya Ridho ketua rombongan yang masih sadar.


"Bapak gak tau Dho, mobil depan tiba-tiba berhenti mendadak. Dan Bapak juga terpaksa ngerem mendadak," jawab Dosennya.


Sedangkan di dalam mobil, Meka dan Kakek itu melihat sosok mahluk ghaib itu berdiri di depan dengan menyeringai dan menyemburkan cairan hijau miliknya, membuat mobil mereka melepuh bagian depan dan tidak bisa berjalan. Meka dan Zain bingung harus berbuat apa dengan keadaan mobil yang rusak.


Lalu Harimau putih itu berdiri di hadapan mahluk ghaib itu.


"Grrrrrrr," Harimau itu pun mengaum memekakkan telinga mahluk ghaib yang berada di hutan angker.


"Siiaapaa kaamuu.....!" ucap iblis itu.


"Jangan ganggu leluhurku dan yang lainnya. Kalau tidak, aku akan memusnahkanmu beserta mahluk yang ada disini," ancam Khodamnya Meka.


"Jaaangaan haalaangiii aakuu meengaambiilnyaa, meereekaaa suudaah meenjaadi tuumbaalkuu, minggiirr!!" teriak iblis itu.


Khodam meka mengirim pesan kepada Meka melalui bathinnya.


"Pergilah keluar dari sini. Cepat kalian harus naik ke Bus. Aku akan menghentikan iblis ini! Sekarang pergilah...!" teriak Khodamnya Meka.


"Mas, Kakek, ayo kita keluar dari mobil ini..! Bawa Nenek dan Deon serta Isna masuk ke dalam Bus. Kita harus segera meninggalkan hutan ini, ayo cepatan...!" ucap Meka sedikit teriak.


Lalu Zain dan Kakek membawa yang lainnya keluar dari mobil dan berjalan menuju Bus yang ada di belakang.


Namun lagi-lagi iblis itu mengahalau langkah mereka dengan melemparkan cahaya warna merah untuk membawa mereka ke dunia ghaib. Tapi Khodamnya Meka segera menghalaunya dan membuat pagar ghaib yang sangat kuat terhadap Bus yang ditumpangi Meka.


"Loh Pak Zain ada apa ini? Kenapa kalian masuk ke sini?" tanya Pak Anton.


"Nanti saja Pak penjelasannya. Sekarang ayo bawa Bus keluar dari hutan ini, buruan Pak!" perintah Zain dengan suara sedikit kuat.


Pak Anton pun gelagapan, tapi dia tetap menjalankan Bus itu dengan segera. Bus pun berjalan dengan kecepatan tinggi menembus hutan angker yang dikelilingi mahluk ghaib.


Sedangkan iblis dan Khodamnya Meka masih beradu kekuatan. Iblis itu tidak membiarkan tumbalnya lepas begitu saja. Dia terus melesatkan bola-bola api menembus pagar ghaib yang dibuat Khodamnya Meka.


"Kuuuraaang aajaarrr, beeraaniinyaa kaauu menghaaalaangiikuu, muussnaahlaah kaauuu maahluuuk berbuuluuu!" teriak iblis itu sambil mengarahkan cambuk apinya kearah Harimau putih itu.


Harimau itu menghindar dan mencakar tubuh iblis itu.


Namun iblis itu tak tinggal diam. Dia mengarahkan siluman di hutan itu serta mahluk ghaib seperti Dhanyang, Demit, Kuntilanak, Pocong, Genderwo, Kalongwewe, Tuyul, Lelembu, Lampor, Wedhon, Kemamang, Wewegombel, Sundelbolong. Mereka mahluk ghaib yang sering dikasih makan oleh iblis itu dari warga Desa yang memberikan tumbal.


"Arrrrgggg maanaaa maakaanaankuuu!" teriak genduruwo itu dengan marah.


"Diiaa teelaah meeeleepasskaannya..! Maahluuk beerbuuluu puutiiih iiituu, muusnaahkaan sisa kaareenaa suudaah meencuuriii tuumbaal kiitaa..!" teriak iblis itu uang berusaha memprovokasi mahluk halus lainnya.


Makhluk-makhluk yang jumlahnya banyak merasa marah karena santapan malam mahluk-mahluk itu tidak ada. Mahluk yang berada di sana sudah menunggu sangat lama makanan yang banyak datang ke Desa itu. Sudah setahun lamanya mahluk ghaib di Desa tak menikmati banyak daging manusia hingga saat ini mahluk itu disuguhkan dengan tumbal manusia yang banyak. Dan sekarang mahluk ghaib itu akan kehilangan santapannya.


Ternyata Khodamnya Meka juga tak tinggal diam, dia memanggil sekawanannya muncul di hadapan mahluk ghaib yang banyak. Mahluk-mahluk ghaib di hutan itu seketika terkejut dan nyalinya langsung menciut melihat banyaknya sosok hewan besar berbulu putih dengan gigi taring menjuntai yang siap mencabik-cabik daging mahluk ghaib disana.


Dengan kehadiran Harimau putih lainnya membuat iblis itu marah besar dan menyerang satu persatu Harimau putih. Namun kekuatan iblis itu serta mahluk penghuni hutan angker disana tidaklah sebanding dengan kawanan Harimau putih besar.


Harimau-harimau itu mengaum di hutan angker itu hingga membuat mahluk ghaib yang berada di hutan itu menjerit karena kesakitan mendengar auman Harimau putih. Dan Desa itu mendengar gelegar dari hutan serta tanah Desa itu sempat bergoyang akibat auman kuat Harimau putih. Iblis yang mencoba melawan, akhirnya musnah karena kesakitan.


Lalu Khodamnya Meka menghilang dari hutan angker menuju Meka. Dia mengajak Meka masuk ke dalam hutan dimana seorang perempuan terbaring diatas batu nisannya.


"Cepat Meka, tusukkan liontin itu ke jantungnya sebelum dia bangkit kembali..!" perintah Khodamnya.


Lalu Meka mengambil liontinnya tangan seketika berubah menjadi belati dengan ujungnya menyala merah. Meka mengangkat belati itu dan menancapkannya tepat di jantung perempuan itu. Hingga beberapa saat, dadanya terbelah dan keluar asap hitam berbau busuk hingga jasad itu pun berubah menghitam lalu sedikit demi sedikit dagingnya menyusut hingga tersisa tulang belulang.


"Ayo kembali ke Bus," ajak Khodamnya.


Mereka kembali ke dalam Bus dan Meka melihat semuanya tertidur.


"Aku akan memulihkan mereka semua dan menghilangkan ingatan mereka saat berada di Desa ini. Sehingga mereka tak menyadari bahwa mereka pernah datang kesini," ucap Khodamnya.


"Lalu bagaimana dengan mereka yang sudah meninggal dan menghilang?" tanya Meka.


"Biarkan polisi mengusutnya sendiri. Karena Dosenmu juga sudah menghilangkan ingatan beberapa Dosen dan teman-teman yang lainnya di Kampusmu tentang keberangkatan mereka ke Desa ini. Sehingga mereka tau bahwa akan ada tour kegiatan, namun belum terlaksana," ucap Khodamnya.


"Terus bagaimana dengan mereka yang tersisa disini? Apakah mereka akan tetap berada di Bus ini?" tanya Meka bingung.


"Aku yang akan mengurusnya. Kamu kembalilah ke Jogja bersama yang lainnya dengan menggunakan mobil disana.