
Meka dan Kakek tua masih bertahan untuk bersemedi mengembalikan kekuatan dan energi dalam tubuh mereka yang di bantu sama Khodamnya Meka.
Sedangkan di luar sana, mahluk-mahluk kiriman itu terus menerus memberikan teror terhadap mereka yang di dalam ruangan.
Orang-orang yang berada di dalam ruangan bisa mendengar suara kegaduhan di luar sana.
"Maaf Ustadz, suara apa di luar sana ya?" tanya salah satu yang mengaji dengan suara berbisik ke Ustadz yang menemani mereka mengaji.
"Itu suara yang di kirim oleh makhluk tak kasat mata," jawab Ustadz itu singkat.
Salah satu murid mengaji Ustadz Ahmad membelalakkan matanya terkejut, dia tak menyangka jika dugaannya benar bahwa di luar sana banyak mahluk tak kasat mata. Murid Ustadz Ahmad yang bernama Rudy memiliki mata bathin. Dia sama dengan Meka. Hanya bedanya Rudy tak memiliki Khodam.
"Astaghfirullahal'adzim, benarkah itu Ustadz?" baiknya lagi.
"Iya nak Rudy. Udah lebih baik lanjutkan mengajinya. Sebentar lagi masuk Maghrib dan kita akan berhenti," balas Ustadz itu.
"Baik Ustadz."
Rudy pun kembali mengaji mengikuti murid yang lainnya.
"Pak, gimana dengan keadaan nak Meka dan Kakek tua itu? Nenek tadi menanyakan suaminya. Si Nenek khawatir?" tanya istri Ustadz Ahmad di sela mengaji.
"Meka dan Kakek tua sedang memulihkan tenaga mereka. Karena waktu yang di tentukan sudah habis, sehingga mereka banyak menghabiskan energinya. Terutama Kakek tua. Ada insiden yang tak diprediksikan sehingga si Kakek harus bertahan di dunia ghaib sementara, tapi Alhamdulillah, dia kembali dengan selamat, meskipun cidera dalam," jelas Ustadz Ahmad dengan suara berbisik.
"Ibu khawatir Pak, apakah ini akan berakhir?" tanya istrinya lagi.
"Insyaallah Bu, kita berdo'a saja. Ini juga demi kebaikan banyak orang. Agar iblis itu tidak mendapatkan tumbal lagi demi kepuasannya," jawab Ustadz Ahmad.
Lalu si Ummi kembali diam dan melirik sekilas ke Arab Nenek yang duduk di sebelahnya.
Hingga suara Adzan Maghrib berkumandang, mereka menghentikan sejenak aktivitas mengajinya. Mereka melaksanakan Sholat berjama'ah yang di pimpin Ustadz Ahmad.
"Bu, sampaikan ke Pak Zain untuk mereka berhenti sejenak melakukan meditasi. Karena waktu Maghrib sudah tiba. Dan mereka bisa bergabung bersama kita disini," suruh Ustadz Ahmad.
"Baik Pak, Ibu ke sana dulu ya."
Lalu Ummi pergi meninggalkan tempat duduk nya dan berjalan ke arah kamar Meka.
"Tok tok tok, Pak Zain...," panggil Ummi.
Tak berapa lama, Pak Zain membukakan pintu kamar itu dan melihat keberadaan Ummi.
"Iya Ummi," sahut Zain.
"Pak Zain, sudah waktunya Maghrib. Kita bisa berjama'ah di luar. Sampaikan sama nak Meka dan Kakek juga untuk berhenti sementara dari meditasi mereka," ucap Ummi yang menyampaikan pesan suaminya.
"Baik Ummi, saya akan memberitahukan Meka dan Kakek tua."
Lalu Ummi pun meninggalkan kamar Meka dan pergi untuk bersiap-siap Sholat.
Sedangkan Zain, dia menyampaikan ke Meka dan Kakek tua untuk berhenti dan melaksanakan kewajiban terlebih dahulu.
Kemudian Meka dan Kakek tua memberhentikan meditasi mereka dan segera keluar dari ruangan itu. Mereka juga ikut melaksanakan kewajibannya dan bergabung dengan yang lainnya di ruang tengah.
Setelah selesai, Ummi dan Nenek langsung menyiapkan makan malam mereka semua.
"Gimana Bu? Apa semua udah siap makanannya?" tanya Ustadz Ahmad.
"Sudah Pak, anak-anak boleh makan dulu. Lebih baik kita mengisi makanan untuk menambah tenaga Pak," ucap Ummi.
"Iya Bu, kalau gitu Bapak kesana dulu, mau kasih tau untuk segera makan malam," balas suaminya.
"Silahkan Pak, semua sudah siap kok. Ibu juga mau makan, laper Pak."
Kemudian Ustadz Ahmad berjalan kembali ke arah ruang tengah dimana mereka sedang berkumpul.
"Kek, Pak Zain,Ustadz, nak Meka, dan yang lainnya. Sekarang lebih baik kita makan malam dulu. Karena waktu kita akan panjang untuk menghadapi malam bulan purnama. Setelah makan, bagi yang mau beristirahat, silahkan. Biar nanti ketika malam bulan purnama, semuanya siap menghadapi kemungkinan yang terjadi," ucap Ustadz Ahmad menjelaskan panjang lebar.
"Baik Ustadz," balas murid pengajiannya.
"Ayo kita makan dulu Ustadz, Pak Zain, nak Meka," ajak Kakek tua.
"Iya kek," balas mereka.
Semua menikmati makan malam mereka bersama. Mereka mengambil makanan dan duduk di ruang tengah berkumpul semuanya.
Saat sedang asyik menikmati makan malam, Meka mendengar bisikan dari Khodamnya.
"Meka, kamu dan Kakek tua harus segera melanjutkan meditasi kalian. Karena dukun dan Iblis itu sudah marah akibat ulah kalian yang merusak rencananya. Jadi lebih baik kalian mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Ingat Meka, yang akan dihadapi adalah iblis yang sangat ganas. Jadi kamu harus mencoba kekuatan kamu nantinya," jelas Khodamnya.
"Baik, setelah selesai makan, aku akan kembali ke kamar untuk meditasi lagi. Terima kasih sudah mengingatkanku," balas Meka.
Sang Khodam menghilang dari pandangan Meka. Dan Meka kembali menikmati makan malamnya bersama suaminya Zain.
"Makan yang banyak ya sayang biar tenaga kamu kembali lagi," ucap Zain.
"Iya Mas, makasih sudah menungguku. Kamu juga makan yang banyak ya," balas Meka dengan tersenyum.
Di hadapan mereka, Rudy melihat Meka yang dekat dengan laki-laki yang dia tidak mengenalnya.
"Siapa mereka. Cantik, tapi apakah disebelahnya itu pasangannya? Beruntung sekali laki-laki itu. Tapi.., perempuan ini sepertinya berbeda," bathin Rudy yang mencuri pandang ke arah Meka.
Ternyata sikap Rudy itu terlihat oleh Kakek tua. Dan Kakek itu tersenyum dengan pandangan laki-laki yang sangat tampan itu. Rudy sosok laki-laki yang memang sering mengikuti pengajian bersama Ustadz Ahmad.
Rudy sebenarnya anak orang kaya, Papanya memiliki perusahaan terkenal di Ibu kota sana. Papanya Rudy menginginkan dia menjadi penerusnya. Namun Rudy tidak menginginkannya. Dia ingin menjadi dirinya sendiri, menjadi seorang dokter. Ya saat ini pekerjaan Rudy adalah seorang Dokter Spesialis bedah. Tapi dia tidak ingin terlihat mencolok diantara murid lainnya ketika mengikuti pengajian. Dan dia sengaja menyembunyikan identitasnya yang asli.
Kakek tua bisa melihat ketertarikan Rudy terhadap Meka. Dia hanya bisa tersenyum melihat sikap Rudy barusan.
Setelah selesai menikmati makan malam, Meka dan Kakek tua melanjutkan meditasi mereka. Karena Meka telah memberitahukan apa yang disampaikan Khodamnya terhadap dirinya.
"Kek, lebih baik sekarang kita lanjutkan meditasi kita. Karena waktu sangat cepat berjalan," ucap Meka.
"Nak Meka benar. Saya juga masih merasakan tubuh Kakek yang lemah dan terkadang nyeri di dada. Memang sebaiknya kita kembali ke ruangan untuk meditasi," Kakek tua mendukung ajakan Meka.
"Ustadz, maaf, kami harus kembali bermeditasi sebelum malam bulan purnama tiba," ucap Meka yang ingin meninggalkan ruangan itu.
"Oh iya silahkan nak Meka. Saya akan mengobrol bersama Ustadz Ridwan disini. Pak Zain bisa kembali bersama nak Meka," suruh Ustadz Ahmad.
Rudy yang berada diseberang mereka, mencuri dengar pembicaraan Ustadz Ahmad dan Meka. Dia pun penasaran, akan hal apa yang sedang dihadapi mereka.
Meka dan Kakek tua serta Zain kembali ke dalam ruangan. Sesampainya di ruangan, Kakek dan Meka melanjutkan meditasinya. Sementara Zain duduk berdiam diri di dekat Meka.
Di luar rumah ternyata sudah banyak mahluk ghaib yang datang dikirim iblis itu. Mahluk-mahluk itu menggeram dan mencoba membuka pintu rumah itu. Namun pintu itu tak juga bisa di buka. Hingga mahluk-mahluk itu dengan beringas memukul-mukul serta mencakar pintu dan tembok rumah itu.
Tentu saja yang berada di dalam ruangan itu terkejut mendengar suara aneh dari luar rumah itu.
"Suara apa itu Ustadz?" tanya Rudy yang mewakili penasaran murid lainnya.
"Itu pasti ulah mahluk-mahluk itu. Mereka sudah kembali kesini," jawab Ustadz Ahmad.
"Bagaimana kalau kita mengusir mereka Ustadz?" tanya Ustadz Ridwan.
"Tidak perlu sekarang Ustadz, karena rumah ini sudah di beri pagar ghaib yang. Insyaallah mahluk-mahluk itu tidak bisa menerobos masuk," jawab Ustadz Ahmad.
Murid-murid yang lainnya merasa tenang. Mereka murid yang memang sudah lama ikut pengajian Ustadz Ahmad. Bahkan mereka sering di ajak untuk membantu orang-orang yang melakukan perjanjian dengan hal ghaib.