
Papanya Meka melepaskan pelukannya dan kembali menyantap makanan yang dimasak anaknya.
Meka hanya memperhatikan Papanya yang dengan lahap memakan hasil masakannya.
Lalu Meka mengedarkan pandangannya dan melihat foto Mama dan Papanya yang sedang berada di Luar Negeri.
"Mama terlihat cantik sekali ya Pa dalam foto itu," Meka menunjukkan foto itu dengan arah pandangannya.
"Ya, Mama kamu cantik seperti kamu sayang,* balas Papanya.
"Oh ya Pa, ada yang mau Meka ceritakan ke Papa."
"Soal apa nak?"
Meka melirik kearah pintu kamar Papanya, dia merasa seperti ada yang sedang menguping pembicaraan mereka. Lalu Meka berdiri dan mengecek keluar pintu kamar Papanya. Kemudian dia mengunci pintu kamar itu. Meka kembali duduk disamping Papanya.
"Ada apa Meka?" tanya Papanya yang heran dengan tingkah anaknya.
"Meka tadi merasa seperti ada yang menguping pembicaraan kita Pa," jawab Meka.
"Kamu mau cerita apa sayang?" tanya Papanya lagi.
Meka narik nafas panjang dan menghembuskannya dengan berat.
"Tadi saat Meka dan Pak Zain ke pemakaman Mama dan Biyu, kami didatangi seorang kakek-kakek yang menjadi kuncen di pemakaman itu. Lalu dia meminta Papa besok datang menemuinya," jelas Meka.
"Untuk apa Papa kesana Meka?"
"Meka juga gak tau Pa, tapi kakek itu berkata bahwa ada hal yang harus dibicarakannya sama kita Pa," terang Meka sambil menatap Papanya.
"Ada apa ya?" Papanya bingung.
"Apa ada sesuatu yang terjadi ya Pa, hingga kuncen pemakaman meminta kita menemuinya," ucap Meka.
"Itu yang Papa pikirkan sayang. Tadi Papa juga bermimpi aneh. Setelah kalian berpamitan, Papa mencoba memejamkan mata hingga tanpa sadar Papa terlelap. Lalu Papa bermimpi, dalam mimpi Papa melihat Mama sedang menenangkan Biyu yang sedang menangis. Dari jauh Papa mencoba mendekati mereka tapi, gak bisa," ucap Papa nya yang berhenti sejenak.
"Terus Pa, apa yang terjadi," balas Meka yang menunggu kelanjutan ceritanya.
"Mereka menatap Papa, tapi Papa gak bisa menghampiri mereka. Seperti ada pembatas antara Papa dan Mama kamu. Dan pembatas itu tidak kelihatan. Papa mencoba memanggil-manggil Mama kamu dan mencari jalan untuk menghampiri mereka, namun tak ada jalannya. Hingga Papa mendengar Biyu mengatakan,
"Kembalikan, kembalikan punyaku..!" ungkap Papanya.
"Sampai kapan Papa tertidur?" tanya Meka menyelidik.
"Saat Papa terbangun sudah pukul 15.00 siang nak. Habis itu Papa merasa kelaparan. Dan syukurnya kamu masuk kedalam kamar," jelas Papanya.
"Hmmmm, pantes aja Tante dan Om berkata seperti itu tadi. Ternyata Papa sedang berada dialam mimpi," bathin Meka.
"Meka juga Pa, Tadi pagi bermimpi tentang Biyu. Dalam mimpi itu Biyu minta tolong, dan hal yang sama mengatakan, "Kembalikan," ucap Meka.
"Kenapa bisa seperti itu? Apa maksudnya?" Papa Meka terlihat seperti sedang berpikir.
"Pa, sepertinya besok kita harus menemui kuncen itu. Biar kita tau ada apa yang terjadi," pinta Meka.
"Sepertinya begitu nak. Tapi Papa harap apa yang kita alami ini tidak seorangpun keluarga yang mengetahuinya," harap Papanya.
"Iya Pa."
Meka masih merenungkan apa yang terjadi saat ini. Baginya kejadian-kejadian yang dialaminya ini cukup aneh.
"Papa sudah selesai makannya?" Meka melihat piring Papanya sudah bersih.
"Masakan kamu benar-benar enak sayang, persis seperti Mama kamu, pinter masak. Semoga kamu hidup bahagia bersama Zain nantinya ya," harap Papanya yang menginginkan kebahagiaan anaknya.
"Ahhh Papa," Meka masih mau kuliah dan kerja Pa, belom mau menikah," rengek Meka.
"Kamu harus menikah sayang, Papa tidak bisa melihat kamu sendirian. Turitilah kemauan Papamu ini," pinta Papanya sambil membelai rambut Meka.
"Hahh, baiklah Pa. Meka akan menurutinya," Meka merangkul Papanya dengan manja.
"Ya sudah, kamu istirahat sana. Oh ya, tadi Om kamu menghubungi Papa. Katanya kalian kesana menjenguk Om mu?"
"Iya Pa, Meka sampai lupa kalau Om juga masih dirawat dirumah sakit. Jadi tadi Meka dan Pak Zain kesana. Om berasa bersalah banget Pa. Dia keliatan sedikit setress. Karena merasa lalai menjaga Mama dan Biyu.
Papa kan tau, Om Sandy adik Mama satu-satunya. Dan Om Sandy sangat menyayangi Mama dan Biyu. Dia sangat terpukul sekali Pa," ucap Meka menerawang saat tadi mereka berkunjung ke rumah sakit.
"Ya, Papa tau Om mu itu. Dia sangat manja sama Mamamu. Semasa lajangnya dia sering sekali kerumah ini mengajakmu bermain dan makan masakan Mamamu," Papa Meka teringat masa lalu saat adik iparnya masih lajang.
"Om juga nitip salam sama Papa, kemungkinan besok Om Sandy pulang kerumah mereka. Sebelum Meka ke Jogja, Meka mau ketemu Tante dan Om Sandy dulu ya Pa," ucap Meka memberitahukan.
"Kasihan Om Sandy."
"Ya sudah, kamu istirahatlah sekarang, karena nanti malam akan ada tahlilan ke dua."
"Iya Pa, Meka balik dulu kekamar. Meka bawa ya semuanya. Papa juga istirahat lagi," Meka meninggalkan Papanya dengan membawa makanan yang dimakan Papanya.
Meka berjalan luar kamar dan melihat ke sekeliling, lalu dia menutup kembali pintu kamar Papanya. Dia pun berjalan kearah dapur meletakkan piring bekas makan Papanya. Setelah itu dia kembali kekamarnya untuk beristirahat.
"Meka, Papa kamu sudah makan?" tanya Om nya yang tiba-tiba datang saat Meka membuka pintu kamarnya.
"Eh Om. Iya Papa sudah makan kok Om," jawab Meka yang berusaha tersenyum.
"Kamu dari mana aja tadi Meka? Om mengkhawatirkanmu karena sampai siang belom juga kembali," Omnya berpura-pura simpati.
"Oh..Meka tadi menjenguk Om Sandy adiknya Mama dirumah sakit," jelas Meka.
"Oh...gara-gara dia kan, kecelakaan itu terjadi. Om masih marah sekali melihatnya," ungkap Omnya Abang dari Papanya.
"Kenapa Om ngomong seperti itu?" tanya Meka yang merasa tak suka.
"Iya, kalau gak karena dia, pasti saat ini Mama dan adik kamu masih berkumpul sama kita. Itu karena keteledoran dia yang membawa mobil," Omnya menyalahkan adik Mamanya.
"Om, itu semua sudah kehendak Allah SWT. Tidak boleh Om ngomong seperti itu. Om Sandy juga mengalami hal yang buruk. Syukurnya dia masih selamat. Meka harap Om jangan mengintimidasi Om Sandy seperti itu. Maaf Om kalau Meka tidak sopan berbicara. Meka masuk dulu Om," ucap Meka yang berusaha untuk tidak memarahi orang yang dihadapannya.
Lalu Meka masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya secara pelan untuk menghormati Omnya.
Sedangkan Omnya terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menatap Meka yang masuk kedalam kamarnya.
Lalu Omnya pergi meninggalkan kamar Meka dan kembali keruang tamu bergabung dengan istrinya.
Sementara Meka membersihkan badannya di dalam kamar mandi. Selang beberapa saat dia pun keluar dari dalam kamar mandi. Lalu dia naik keatas tempat tidur untuk merebahkan tubuhnya. Namun Meka tidak langsung merebahkan tubuhnya. Dia memilih duduk diatas tempat tidur dan mencoba meditasi dengan menghilangkan pikirannya dan berkata "Ijinkan aku melihatmu jika kau ada," seperti itulah ucapan Meka.
Tiba-tiba hadir seekor Harimau besar dihadapannya. Meka pun terlonjak kaget dan terjengkang kebelakang saat melihatnya. Meka mundur sesaat dengan rasa ketakutan.
"Jangan takut Meka, aku tidak akan mencelakai mu," ucap Harimau itu yang bisa berbicara.
Meka terus menatapnya dengan rasa takut. Dia tidak menyangka dengan ucapannya, Harimau itu bisa muncul dihadapannya.
"Si...siapa kamu!" ucap Meka.
"Akulah yang selalu berada disisimu Meka. Aku khodam leluhur dari kakek buyutmu dulu. Dan kau adalah orang pilihanku," ucap Harimau itu.
"Kenapa aku menjadi pilihanmu?" tanya Meka.
"Kau orang baik dan rajin beribadah, serta memiliki hati yang tulus terhadap semua orang. Aku hanya mengikutimu sesuai janjiku dulu dengan leluhurmu," ucap nya.
Meka terdiam dan masih menatap kearah Harimau itu.
"Meka, kamu dikelilingi banyak orang jahat, maka berhati-hatilah setiap melangkah. Dan selalu berdoa minta perlindungan terhadap Allah SWT. Dan kamu harus menolong adikmu Biyu, karena ada sesuatu yang terjadi dengannya. Besok kamu dan Papamu akan menemui kuncen itu, kalian akan mengetahuinya," Lalu Harimau itu pergi menghilang.
"Kenapa dia bisa tau tentang kuncen itu? Ah aku lupa dia kan jin, pasti tau segalanya," gumam Meka.
Lalu Meka merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, namun matanya masih belom bisa terpejam. Dia masih memikirkan ucapan Harimau itu tentang Biyu.
"Ada apa dengan Biyu ya?" tanya Meka dalam hatinya.
Lama melamun membuat Meka mengantuk dan akhirnya dia pun tidur terlelap. Hingga sore menjelang Maghrib, Meka tersentak bangun karena dia merasa seperti ada yang mencubitnya untuk segera bangun.
"Oh...sudah Maghrib ternyata," pikir Meka. Lalu dia bergegas kekamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat Maghrib.
Dalam do'anya, Meka mengirimkan do'a untuk Mama dan adiknya. Air matanya menetes saat membacakan do,'a. Setelah Meka selesai melaksanakan kewajibannya, Meka keluar dari kamarnya untuk melihat keadaan Papanya. Meka berdiri didepan pintu kamar Papanya dan mengetuk pintunya.
"Tok tok tok, Pa..," panggil Meka. Hingga beberapa kali Meka mengetuk tak disahuti juga. Meka mencoba membuka pintu kamarnya ternyata tak dikunci. Lalu Meka masuk dan melihat Papanya tidak ada didalam kamarnya
"Loh Papa kemana ya?" pikir Meka.
Hai pembaca setiaku, cerita ini hanyalah fiksi dari si penulis saja. Jadi apa yang dipikirkan penulis, dituangkan kedalam cerita ini. Mengenai Khodam, penulis sangat buta ilmu karena banyak berbagai macam jawaban tentang khodam menurut Islam.
Maka dari itu, cerita ini hanyalah hiburan saja dan pemikiran penulis untuk menghibur.
Jangan lupa baca juga karyaku
KASIH SAYANG YANG TERTUNDA YA..
Kasih selalu author vitamin LIKE, VOTE DAN HADIAH YANG BANYAK SERTA JADIKAN AKU FAVORITMU....
Selamat menikmati cerita hiburan ini....