
"Mas, Shinta masih mencoba merebut mu dariku. Dia mengirim mahluk genduruwo kesini. Barusan aku melihatnya dan dia mencoba mendekatiku. Lalu mahluk itu menghilang saat Harimau itu muncul," jelas Meka yang sedikit ketakutan saat mereka hendak keluar.
"Kamu tau dari mana sayang?" tanya Zain khawatir saat hendak melangkah keluar.
"Barusan mahluk itu ada disini Mas,"
"Mahluk apa sayang? Kamu melihatnya?" Zain jadi merasa was-was.
Meka sedang melamun membayangkan jika genduruwo itu sampai menyetubuhinya. Karena yang Meka tau, bahwa genduruwo itu sangat suka dengan manusia perempuan. Dan dia akan merubah dirinya menjadi sosok yang dekat dengan manusia itu demi menyalurkan hasratnya.
Meka narik nafas beratnya. Dia menatap kearah suaminya. Dia khawatir jika suatu saat genduruwo itu merubah dirinya menjadi suaminya.
"Sayang, malah melamun," Zain menyadarkan Meka dari lamunannya.
"Ah iya Mas, kamu bilang apa tadi?" tanya Meka saat kesadarannya kembali.
"Aku tanya kamu tau dari mana? Dan kamu bilang barusan mahluk itu ada disini. Mahluk apa yang kamu maksud sayang?" Zain menatap istrinya serius.
"Mahluk itu adalah genduruwo Mas. Dan aku diperingatkan oleh Khodam yang menjagaku, agar berhati-hati. Karena bisa saja dia merubah wujud menjadi sepertimu. Karena dia menginginkanku seperti yang sudah dijanjikan Shinta kepadanya.
"Kurang ajar sekali perempuan gila itu! Berani-beraninya dia mencoba membuatmu menjadi budak se* mahluk ghaib itu. Akan aku kasih dia pelajaran," umpat Zain yang emosinya meledak.
"Mas sabar, kamu jangan terpancing emosi ya. Kita berdo'a sama Allah SWT untuk meminta perlindungannya ya," Meka menenangkan emosi suaminya.
"Maaf sayang, aku tidak mau kehilanganmu. Kalau kenapa-napa sama mu, aku akan menyeretnya dan memberikannya hukuman yang pantas diterimanya," Zain sungguh berapi-api saat mengucapkannya.
"Semoga tidak terjadi hal yang buruk ya Mas." Meka tersenyum hangat melihat suaminya. Namun tetap ada kegelisahan dihatinya saat ini.
"Oh ya sayang, jika besok-besok kamu berhadapan denganku, jangan lupa kamu baca do'a dulu ya. Karena aku juga khawatir mahluk berbulu itu merubah wujudnya menggantikan ku untuk berhubungan denganmu. Dan ingat, aku setiap melakukan denganmu, akan memberikan kecupan hangat di keningmu," jelas Zain yang mengingatkan istrinya.
"Iya Mas, aku akan berhati-hati. Ayo sekarang kita keluar. Pasti mereka sudah menunggu didepan," Meka mengajak suaminya menghampiri Ghani dan Isna.
"Heum," Zain membuka pintu kamarnya dan keluar dari dalam bersama Meka.
"Nah itu mereka. Akhirnya muncul juga," ucap Isna yang sudah merasa bosan menunggu.
"Maaf ya, kalian lama menungguku. Ayo kita berangkat sekarang," Meka berjalan duluan bersama Zain di depan.
Sesampainya dilantai bawah, mereka berjalan keluar dan masuk ke dalam mobil Zain. Zain mulai melajukan mobilnya menelusuri jalanan di Jogja.
"Kalian mau makan apa Na, Deon?" tanya Meka yang menoleh kebelakang.
"Aku sih ngikut kamu aja Mek. Gak tau nih kalau Deon," Isna menoleh kearah Ghani.
"Ya sama sih Mek, aku ngikut Isna, hehehe," Deon salah tingkah. Dia merasa gak enak sama Dosganya yang selalu membantu mereka.
"Kalau gitu kita makan di Phuket aja ya," Zain menawarkan Phuket tempat mereka makan malam.
"Duh Mek, gw kalau ke Phuket, dananya gak cukup. Besok-besok bisa puasa gw, hehehe." Deon cengengesan.
"Ah Lo Deon, kayak sama siapa aja. Kita nih sahabat, selagi gw ada, gak masalah ngajak kalian makan. Kecuali nanti kalau gw lagi apes dan kalian yang ada, kalian yang traktir gw. Benar kan!" Meka menatap satu persatu sahabatnya.
"Iya Mek, pasti gw akan ingat kebaikan Lo ini," jawab Deon.
"Udah jangan buat keadaan menjadi haru dong...! Jadi sedih nih gw Deon!" seru Isna sambil memajukan bibirnya.
"Kamu majukan bibir gitu, apa minta aku buat cium kamu ya sayang," bisik Deon yang membuat Isna terpaku.
Isna menoleh kearah Deon, dan dia melihat Deon tersenyum penuh arti dengannya.
"Kenapa Na, kok ngelihatin aku seperti itu?" Deon sengaja mengeraskan suaranya supaya Isna semakin salah tingkah.
Meka yang mendengar Deon berbicara seperti itu, dia langsung menoleh kebelakang.
"Emang Isna kenapa Deon?" Meka ikutan bertanya saat melihat wajah Isna yang merah.
Merah menahan emosi atau merah karena tersipu malu. Hanya Isna yang mengetahuinya.
"Gak tau nih Mek, Isna ngelihatin gw Mulu dari tadi," Deon merasa puas menjahilin Isna.
"Lo ada masalah Na?" tanya Meka khawatir.
"Eh nggak ada kok Mek. Gw cuma ngeliat doang, sapa tau ada kotoran hewan yang nempel di hidungnya itu," tunjuk Isna dengan memajukan bibirnya.
Meka menatap Deon dengan serius dan mencoba mencerna ucapan Isna barusan. Dia mencari sesuatu diwajah Deon dan akhirnya tawanya pun meledak.
"Wkkkkkkk, dasar kamu Na, hahahaha, maksud kamu itu lalat yang buang kotorannya dihidung Deon?" tanya Meka sambil menunjuk hidung Deon yang ada tahi lalatnya.
"Yup, Lo benar banget Mek. Hebat Lo bisa langsung nalar ucapan gw," jawab Isna dengan wajah polosnya
Deon menatap Isna dengan kesal, dia akhirnya dikerjain juga sama kekasihnya ini.
"Kita impas Deon, Lo jahilin aku kan tadi? Dan aku juga ngerjain kamu. Pas kan," Isna memainkan alisnya menggoda Deon.
Deon mendengus merasa kesal. Tapi dalam hatinya dia merasa senang karena Isna merupakan kekasih yang enak buat di candain.
Deon memberanikan dirinya menatap Isna secara dekat, dan dalam sekejap, Ghani mencium pipi Isna.
Isna terpaku, darahnya berdesir tak karuan. Jantungnya berdegup kencang. Ingin berucap tapi tak mampu mengeluarkan kata-kata.
Lalu Deon mencium pipi sebelahnya lagi. Dan Isna masih diam membisu seperti patung yang bertahan dalam diamnya.
"Kenapa, kamu mau aku mencium bibir kamu?" bisik Deon tepat ditelinga nya.
Isna ingin terbang jauh keangkasa, membawa dirinya agar menjauh dari Deon. Orang yang sudah mencuri ciuman pertama dipipinya. Laki-laki pertama yang menyentuhnya.
"Na, sadar Na. Kita sudah sampai," Deon menggoyang-goyangkan tangan Isna.
Isna tersadar dari lamunannya, dia melihat kearah Deon.
"Kita sudah sampai Deon?" tanya Isna seperti orang yang baru kembali dari komanya.
"Iya, kamu kelamaan melamunnya. Tuh lihat Meka dan Pak Zain sudah duluan ke dalam cafe," tunjuk Deon kearah luar mobil.
"Oh iya, ayo kita keluar," ajak Isna.
Deon merasa lucu melihat sikap Isna yang malu-malu seperti tadi.
"Na, tungguin dong!"
"Iya, aku tungguin, buruan jalannya De..!"
Mereka pun masuk ke dalam cafe itu. Dan Deon mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan mencari Meka.
"Itu mereka Na, ayo kesana," tunjuk Deon.
"Oh iya itu mereka." ucap Isna yang membenarkan penglihatan Deon.
Deon dan Isna menghampiri Meka dan Dosganya.
"Kenapa kalian lama banget Na, Deon?" tanya Meka saat sahabatnya mendekat.
"Iya tadi Isna lagi melamun," jawab Deon jujur.
"Ihhhh apaan sih Deon..!" Isna memukul lengan Deon dengan sebel.
"Awww sakit Na, ampun ampun udah sekarang kita pesan makanan ya. Perut aku udah lapar nih," ucap Deon yang tanpa malu-malu.
"Nih pesan aja," Meka menyerahkan buku menu kehadapan Isna dan Deon.
Setelah mereka memesan makanannya. Meka bertanya kepada Deon.
"Oh ya Deon, Lo udah hubungi Mama Lo gak buat besok kita ketemuan?" tanya Meka yang mengingatkan Deon.
"Eh gw lupa Mek. Apa gw tlp sekarang aja ya Mek?" Deon malah bertanya balik.
"Ya coba aja dulu kamu tanya sekarang Mama Lo lagi dimana? Dan kalau emang dirumah, ya besok ajak ketemuan aja," jelas Meka.
"Ya udah gw coba deh tlp nya," Deon mengambil ponselnya dan menghubungi no Mamanya.
Beberapa kali deringan belom juga diangkat, dan saat deringan terakhir, terdengar suara sahutan dari seberang.
"Deon.....kamu dimana nak sekarang?" tanya Mamanya yang berteriak diseberang tlp.
"Maaf Ma, Deon gak bisa kasih tau Mama, Deon dimana. Oh ya Mama gimana khabarnya, sehatkan Ma?" Deon bertanya lagi.
"Mama kepikiran kamu nak. Apa kamu membenci Mama?"
"Deon gak pernah membenci Mama, Deon sayang banget sama Mama. Tapi Deon kecewa dengan jalan yang Mama ambil. Dan itu membuat Deon tak bahagia Ma."
"Maafin Mama, Deon. Mama lakukan itu demi kamu sayang. Dan Mama tidak bisa keluar dari lingkaran itu. Kamu harus ngertiin Mama," Mamanya mencoba membujuk anaknya agar mau seperti dia.
"Maaf Ma, Deon gak bisa ngertiin Mama kalau dalam hal seperti itu. Oh ya Ma, besok Deon pengen ketemu sama Mama. Apa bisa kita ketemuan Ma?" tanya Deon hati-hati.
"Benaran kamu mau ketemu Mama sayang?" tanya Mamanya penuh harap.
"Iya Ma, besok jam 9 pagi kita ketemuan di cafe Phuket, Mama tau kan cafe itu?"
"Iya sayang, Mama pasti akan datang nemui kamu. Mama kangen banget sama kamu Nak," ucap Mamanya yang terdengar dengan suara sendunya.
"Baiklah Ma, aku harus kembali ke tempatku sekarang. Sampai ketemu besok ya Ma, Assalamu'alaikum Ma," ucap Deon dan menutup tlpnya.
Mamanya tak menjawab salam dari Deon. Dia enggan mengucapkan hal seperti itu karena dia pun sudah sangat jauh dari agamanya.
"Gimana Deon, apa kata Mama kamu?" tanya Isna.
"Mama setuju untuk ketemu besok sama aku Na, Tapi aku khawatir kalau Mama nanti ada yang mengikutinya. Karena sepertinya gerak-geriknya selalu dipantau keluarganya," ungkap Deon yang sudah duduk di samping Isna.