
Meka masih menceritakan tentang genduruwo itu kepada Zain.
"Ya Allah sayang..., syukurlah kita cepat keluar dari tempat itu.
"Iya Mas, sebenarnya iblis itu mengincar Isna dan Deon, tapi karena aku membantu mereka, maka aku juga kan kena imbasnya. Setiap mereka yang diinginkan iblis itu, maka tidak akan ada yang lepas. Sementara Deon sudah lepas darinya, sehingga dia mencoba menarik kami ke dalam lingkaran ilusi dan menyerap energi seseorang yang dimilikinya. Akibatnya tubuh kita akan melemah dan menyusut hingga meregang nyawa," ungkap Meka yang menatap ke depan.
"Kalau kamu dan temanmu masuk dalam lingkaran ilusi, bagaiman dengan kami?" tanya Zain penasaran.
"Kalian juga Mas, walaupun kalian di ruangan sebelah, tapi yang di inginkan iblis itu Deon dan Isna. Begitu kami masuk dalam lingkaran ilusi, maka kalian juga masuk ke dalamnya. Makanya saat aku menusuk liontinku ke udara, lingkaran ilusi itu menghilang. Dan akan kembali dalam waktu 5 menit sampai 10 menit Mas. Kalau kita tidak segera pergi dari batas kost-kostan itu maka kita akan ketarik ke dalam lingkaran itu lagi," jawab Meka menjelaskan.
"Apa ini hanya terjadi dengan mereka, Deon dan Isna?" tanya Zain lagi.
"Tidak Mas, itu semua akan terjadi dengan mereka yang datang ke kost itu dengan kondisi masih perawan dan perjaka. Dan mereka yang hanya di inginkan iblis itu. Aku tidak tau Mas, orang yang bersekutu dengan iblis itu, memilih mangsanya. Tidak semua mereka yang datang dengan kondisi perawan dan perjaka yang diambil. Tapi mereka yang memiliki jiwa lemah dan rentan dirasuki. Sedangkan lingkaran ilusi itu hanya terjadi dengan kita Mas. Karena Deon sudah berhasil di selamatkan Ustadz itu. Dan iblis itu terpaksa menggunakan lingkaran ilusi itu Mas," jelas Meka lagi.
"Kalau begitu Deon dan Isna tidak bisa tinggal di tempat itu?" tanya Zain.
"Iya Mas, mereka harus keluar dari sana. Tapi bagaimana caranya ya. Tidak mungkin mereka kembali ke sana!"
"Biar mereka yang menentukan jalannya sayang. Kamu sudah cukup membantu mereka saat ini. Dan kamu juga tidak bisa membahayakan dirimu. Mas gak mau kamu kenapa-napa," ucap Zain yang sedikit egois.
Zain tidak ingin Meka terlalu jauh terlibat dalam urusan Deon dan Isna. Bagaimanapun Zain menginginkan Meka dan dia hidup nyaman dan tenang. Walaupun mereka adalah sahabat, tapi masing-masing memiliki kehidupan nya sendiri.
Namun Zain juga tidak bisa memaksakan keinginannya. Walaupun dia sedikit egois, tapi hati nuraninya masih ada untuk menolong yang lainnya.
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang. Meka masih menatap ke depan dengan pandangan kosong.
Zain sesekali melirik ke arah Meka dan menggenggam Meka dengan menyadarkannya agar tidak larut dalam pikirannya sendiri.
Sementara Deon dan Isna yang berada di belakang Meka, mengikuti terus mobil di depannya.
"Na, apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa Meka dan kamu tadi ngos-ngosan gitu di depan kost-kostan?" tanya Deo yang masih fokus mengikuti mobil Pak Zain.
Sepanjang perjalanan antara Deon dan Zain tidak ada yang bersuara. Isna masih menerka-nerka apa yang terjadi.
"Aku juga gak tau De, yang pasti Meka menyuruhku untuk segera keluar dari kamar. Setelah itu kami buru-buru berjalan ke kamar kamu. Tapi yang anehnya, aku dan Meka tidak bisa sampai ke kamar kamu. Dan aku mendengar Meka mengatakan, kalau kami masuk dalam lingkaran ilusi. Maksudnya apa?" tanya Isna bingung.
"Lingkaran ilusi?" ulang Deon.
"Ya lingkaran ilusi. Terus aku juga melihat Meka diam sejenak dan tiba-tiba dia seperti menusuk di udara. Ya seperti orang yang sedang meletuskan balon. Begitulah gerakan Meka saat itu. Dan setelah itu, dia langsung menarik aku dengan berlari kencang keluar kost-kostan," jelas Isna.
"Aneh, terus aku juga tadi bingung tiba-tiba Pak Zain narik aku keluar kamar buru-buru. Emang sih tadi aku sempat dengar suara Meka teriak, tapi aku gak ngerti kenapa dia teriak gitu. Aku pikir karena dia ingin menyuruh cepat-cepat biar segera ke rumah Ustadz," ucap Deon dengan pemikirannya.
"Lebih baik kita menunggu aja. Nanti Meka akan menjelaskannya di tempat Ustadz itu. Aku juga masih penasaran De," ucap Isna.
"Sama Na, aku juga penasaran pengen tau ceritanya," balas Deon.
Mobil pun terus melaju, hingga akhirnya mereka sampai di rumah Ustadz Ahmad.
Zain dan Deon memarkirkan mobilnya di perkarangan rumah Ustadz itu.
Deon dan Isna keluar dari dalam mobil dan menghampiri Meka yang sudah keluar dari mobilnya.
Sementara Ustadz Ahmad sedang berdiri di teras rumahnya menunggu kedatangan mereka. Ustadz itu melihat Meka dan yang lainnya sedang berjalan ke teras rumah Ustadz itu.
"Assalamu'alaikum Ustadz! sapa Pak Zain saat mereka sudah di teras rumah.
"Wa'alaikumussalam, ayo masuk ke dalam," sahut Ustadz itu dan mengajak mereka masuk.
"Baik Ustadz," jawab Pak Zain dan yang lainnya.
Di dalam rumah itu sudah menunggu Kakek tua itu. Ternyata Ustadz dan Kakek itu sudah menunggu kedatangan Meka dan yang lainnya.
Pak Zain dan yang lainnya juga mengikuti langkah Meka.
"Ayo silahkan duduk dulu," ucap Kakek itu.
"Iya kek," balas Meka.
Mereka mengambil tempat duduk masing-masing. Meka duduk disamping suaminya. Dan Isna di samping Deon.
"Maaf Ustadz, saya langsung ke intinya aja. Ada apa Ustadz memanggil Meka?" Zain bertanya langsung dan tidak mau bertele-tele.
"Sabar Pak Zain, kita minum teh dulu. Apa Pak Zain dan Meka punya acara lain?" tanya Ustadz itu tersenyum.
"Iya Pak Ustadz, rencananya saya dan Meka akan menemui orang tua saya setelah kembali dari luar negeri," jawab Pak Zain.
"Kalau gitu, waktunya tidak banyak. Baiklah, saya langsung saja ke ceritanya," ucap Ustadz itu.
Meka dan yang lainnya saling menatap satu sama lain. Mereka menunggu apa yang mau di sampaikan Ustadz itu.
"Begini nak Meka, yang akan bercerita bukan saya. Melainkan Kakek ini yang akan bercerita," ucap Ustadz itu.
"Oh, kiranya ada apa ya kek? Sepertinya sangat penting," balas Meka sambil bergantian menatap Ustadz dan Kakek itu.
"Iya Meka, ini berhubungan dengan kalian. Saya sudah tau tentang kematian perempuan itu. Salah satu Dosen kalian," ucap Kakek itu.
Meka tidak terkejut mendengar ucapan Kakek itu karena dia tau kalau Kakek itu memiliki kelebihan yang sama dengannya.
Namun berbeda dengan Deon dan Isna. Mereka bingung kenapa Kakek tua itu bisa mengetahui tentang kematian Bu Arin? Berbagai macam pikiran yang berputar di otak Deon dan Isna.
Sedangkan Zain, dia tenang dan tidak menunjukkan ekspresi kaget. Dia juga tau kalau Kakek itu memiliki kelebihan, walaupun dia tidak mengetahui semuanya dengan jelas tentang si Kakek, dia tetap tenang mendengarnya.
"Apa yang Kakek ketahui tentang kematian Dosen itu?" Zain bertanya mewakili Meka.
"Saya melihat kalau Dosen itu pergi dengan mengorbankan jiwanya demi mendapatkan, maaf suami nak Meka. Tapi kematiannya itu tidak direlakan orang tuanya. Dan akhirnya orang tua Dosen itu meminta bantuan dengan dukun sakti lainnya untuk membalaskan kematian anaknya," jelas Kakek itu yang belum semuanya di ceritakannya.
"Hah, itu sudah saya duga kek. Makanya kemaren saya dan Pak Zain tidak datang ke tempat Dosen itu untuk ngelayat," balas Meka.
"Iya Kek, saya melarang istri saya ke sana. Karena saya khawatir jika orang tuanya akan melukai Meka," sambung Pak Zain.
"Dan saat ini, dukun itu sedang meminta bantuan iblis yang sangat kuat untuk membantu Bu Arin membalaskan dendamnya ke nak Meka. Tentunya dengan tumbal yang mengerikan," jelas Kakek itu lagi.
"Tumbal!" ulang Deon kaget dan mulai ketakutan.
"Ya nak Deon. Setiap bersekutu dengan hal ghaib pasti ada konsekuensi nya dan mereka akan meminta tumbal sebagai imbalannya. Dan itu harus dilaksanakan agar keinginan seseorang terkabul," jelas Ustadz Ahmad.
"Apa yang akan dilakukan Dosen itu kek?" tanya Meka.
"Apa tumbalnya kek?" tanya Meka.
"Tumbalnya adalah wanita hamil satu sampai dua, tiga bulan. Karena wanita yang hamil muda sangat harum dan janinnya merupakan tambahan kekuatan iblis itu. Sehingga Dosen itu akan mengambil kembali jiwa Pak Zain saat bulan purnama tiba," ungkap Kakek itu.
Meka menoleh ke samping menatap sendu ke arah suaminya. Dia sedikit takut akan kehilangan Zain.
"Kapan bulan purnamanya kek?" Zain bertanya karena hatinya mulai gundah.
"Mungkin sekitar dua bulan lagi Pak Zain," jawab Kakek itu.
"Dan kita tidak bisa menghentikan mereka untuk mendapatkan tumbal itu. Karena banyak wanita hamil yang ada di sekeliling mereka. Dan itu mempermudahnya untuk mendapatkan kekuatan tambahan," jelas Ustadz Ahmad.
Meka merasa keadaannya semakin rumit. Seharusnya orang tua Bu Arin, merasa berdosa dan bersalah. Bukan malah membuat kehidupan mereka semakin hancur karena bersekutu dengan iblis. Meka sangat menyayangkan hal itu.