Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 132


Deon, Isna dan Zain ngos-ngosan di dalam mobil. Mereka merasa bingung karena disuruh tiba-tiba lari dari sana.


"Mek, kenapa Lo nyuruh kita lari? Apa ada penampakan disana?" tanya Deon yang wajahnya kelihatan pucat dan ketakutan.


"Iya Mek, kenapa Lo nyuruh kita pergi dari sana? Kita kan belom ke makamnya Shinta?" tanya Isna bingung.


Zain tak banyak bicara, dia sudah mengetahui jika saat seperti itu, pasti ada sesuatu yang terjadi terhadap istrinya. Zain terus memusatkan pikiran dan memfokuskan matanya ke depan untuk membawa mobil menjauh dari area itu. Dia membawa mobil mencari supermarket terdekat.


"De, Na, kita sudah di bohongin," ucap Meka yang tak habis pikir.


"Maksud Lo apa Mek?" tanya Isna curiga.


"Iya Mek, jangan menggantung gitu kalau ngomong. Kita penasaran dan pengen tau," ketus Deon.


"Kita di bohongi sama orang tua Shinta. Ternyata selama ini mereka memang menunggu kedatangan gw disana. Mereka ingin mengembalikan Shinta anak mereka hidup kembali dengan menukar gw. Pemakaman itu adalah alam ghaib yang kita masuki. Sebenarnya itu makam orang-orang yang bersekutu dengan iblis. Dan di biarkan gak terawat," Meka menjeda ucapannya.


"Jadi tadi kita memasuki dunia lain Mek?" tanya Deon tak percaya.


"Lo serius Mek?" tanya Isna juga.


"Iya, kita sudah memasuki dunia ghaib, dan tidak akan kembali. Kita akan terkurung selamanya disana. Shinta sengaja menyuruh kita agar ke makam itu dan kita akan terperangkap selamanya. Jadi jiwa kita akan berada disana dan tubuh kita akan di temukan ntah dimana," jelas Meka.


"Ya ampuuuun Mek....! Berarti maksud Lo, Shinta ada disana dan sudah menunggu kita untuk di perangkap disana?" tanya Isna terkejut.


"Astaghfirullahal'adzim Mek...., kok Shinta seperti itu ya. Hidupnya aja jahat begitu, ternyata udah mati juga masih jahat seperti itu. Gw gak mau mendo'akannya. Biar dia di hukum di neraka nantinya," kesal Deon yang emosi.


"Gw gak habis pikir dengan orang tuanya. Apa mereka benaran orang tua Shinta ya?" pikir Meka.


"Iya ya Mek. Karena kalau di lihat rumah eyangnya itu kok agak nyeremin ya," sambung Isna.


Lalu muncullah Khodamnya Meka dan berkata


"Meka, laki-laki dan wanita yang separuh baya itu memang orang tua Shinta. Rumah yang kamu datangi adalah rumah dukun yang akan melakukan ritual penukaran jiwa kalian. Orang tuanya sudah gelap mata dan membenci kamu. Karena kamu, anaknya harus pergi dengan cara seperti itu. Manusia yang jahat," jelas Khodamnya.


"Ya Allah, sebegitunya mereka sama gw. Padahal memang anaknya yang salah, tapi tetap tidak mau menerima kesalahan anaknya," gumam Meka.


Zain yang mendengar gumaman istrinya, menoleh ke samping sebentar.


"Kenapa sayang? Apa Khodammu berkata sesuatu?" tanya Zain.


"Iya Mas, ternyata Shinta dan orang tuanya membenciku Mas. Orang tuanya ternyata menyalahkan aku atas kematian anaknya. Dan sengaja menjebak ku untuk datang ke rumah itu yang ternyata rumah seorang dukun yang membantu mereka melakukan barter jiwa," jelas Meka.


Zain langsung mengerem mendadak saat mendengar penjelasan istrinya.


"Mas....! Kenapa ngerem mendadak?" tanya Meka bingung.


"Awww Pak, kejedot saya!" teriak Deon.


"Pak Zain nih....ngerem gak bilang-bilang," celetuk Isna.


Mereka bertiga marah dan kesal dengan tindakan yang dilakukan Dosga mereka.


"Maaf sayang, Mas terkejut mendengar penjelasanmu. Kamu gak kenapa-napa kan?" tanya Zain khawatir.


"Nggak Mas."


"Yang kenapa-napa tuh kami loh Pak dibelakang," celetuk Isna.


"Iya, saya spontan melakukannya," balas Zain.


"Sayang, berarti mereka menginginkan jiwamu ditukar sama dia? Jahat banget mereka. Alhamdulillah kita bisa lepas dari sana. Mas gak tau kalau sampai kita terperangkap disana," ungkap Zain.


"Iya Mas, kita bersyukur karena Allah SWT masih melindungi kita," balas Meka.


"Mek, gw serem banget lihat mereka. Udah ah jangan berhubungan dengan mereka lagi jika orang tua Shinta mencoba menghubungi Lo," ucap Deon kesal.


"Iya, gw juga gak mau mendengarkan keluhan mereka lagi," balas Meka.


"Iya Mas, kita cari cafe aja dulu. Kamu bisa istirahat juga. Lagian aku juga pengen ngemil atau makan nantinya," sambung Meka.


"Benar Pak, kita cari makan dulu. Saya juga kelaparan nih," Deon pun ikut menimpali.


"Baiklah, kita cari cafe dulu biar nyantai disana," Zain menyetujuinya.


Lalu mereka mencari cafe di sepanjang jalan. Ketika mereka menemukannya, Zain memarkirkan mobilnya di cafe itu.


"Akhirnya sampai juga, ayo kita masuk ke dalam," perintah Zain.


"Ayo Mas," balas Meka.


Lalu mereka berempat masuk ke dalam cafe dan memilih tempat yang nyaman buat ngobrol.


Saat mereka duduk, seorang pelayan datang menghampiri meja mereka.


"Selamat sore Mbak, Mas, silahkan pesanannya," ucap pelayan itu sambil menyerahkan buku menunya.


"Makasih Mbak. Nanti kami akan panggil balik kalau mau pesan ya," balas Isna ramah.


"Baik Mbak, silahkan dengan saya Nina, kalau mau pesan," ucap pelayan itu memperkenalkan namanya.


"Iya Mbak."


Lalu pelayan itu pergi meninggalkan meja mereka dan kembali ke tempatnya.


Sedangkan ke empat orang itu melihat menu-menu makanan, hingga akhirnya mereka memesan makanan.


Beberapa menit kemudian, makanan yang dipesan datang. Semua di hidangan diatas meja.


Deon dan Isna menjadi laper banget setelah melihat hidangan itu. Tanpa menunggu lama, mereka menyantap dan menikmati makanan itu.


Zain dan Meka juga ikut menyantap makanannya. Mereka menikmati makanan, dan melupakan sejenak peristiwa yang tadi.


"Oh iya Mek, apa yang akan terjadi kalau Lo ternyata membuat berantakan rencana orang tuanya Shinta?" Apa mereka akan mengejar Lo?" tanya Isna penasaran.


"Gw juga gak tau Na. Semoga saja mereka bisa merenungkan kesalahan anaknya dan tidak berbuat hal yang sama seperti Shinta," jawab Meka.


"Pantas ya tadi orang tua Shinta marah banget sama Lo. Ternyata mereka memang menginginkan Lo. Dan Bapaknya Shinta yang mengambil kendali atas obrolan kita tadi. Lo gak perhatikan mata Ibunya Shinta saat memandang Lo?" tanya Deon.


"Nggak De, gw fokus sama Shinta yang ada di ruangan itu," jawab Meka.


"Apa! Shinta dari tadi sudah berada di ruangan itu? Wah ini benar-benar sudah direncanakan mereka ya Mek," balas Deon.


"Iya, jahat banget ya sekeluarga. Aduh nih mulut gak bisa disuruh diem. Maunya mengumpat terus," ucap Isna memarahi dirinya sendiri karena orang lain.


"Udah jangan mengumpat orang yang sudah tiada. Memang sih keluarganya juga jahat dan orang tuanya ikut andil dalam kejahatan itu. Gw gak tau apakah Ibunya sangat membenci gw. Tapi gw udah gak mau berurusan dengan mereka," balas Meka.


"Syukurlah Lo cepat sadarnya. Biasanya Lo kan selalu memaafkan mereka yang jahat," celetuk Deon.


"Kalau memaafkan, gw tetap memberi maaf. Tapi tidak mau berhubungan dengan mereka yang sudah berbuat jahat," terang Meka.


"Wah gw senang punya sahabat seperti Lo Mek. Bisa menempatkan suatu sikap. Memaafkan dan tidak ingin berhubungan dengan mereka lagi. Itu bagus juga," sambung Deon.


"Udah ayo lanjutkan makan kalian biar kita kembali ke Apartemen," ucap Dosga mereka.


"Siap Pak Zain," balas Deon.


"Iya Mas," jawab Meka.


Isna juga membalas ucapan Dosganya.


Setelah sejam mereka disana, akhirnya mereka kembali ke Apartemen.