
Meka terlihat gugup karena baru ini pertama kali diperkenalkan sama orang tua Zain. Dia berdiri disamping Zain sambil memasang wajah senyumnya.
Mamanya Zain menelisik penampilan Meka, dia tersenyum saat melihat Meka yang takut tapi berusaha tenang.
"Selamat datang dikeluarga Zain, sayang," sambut Mamanya Zain dengan merangkul Meka.
"I...iya Tante, makasih sudah menerima saya masuk dalam keluarga Zain."
Papanya Zain diam seribu bahasa karena istrinya ternyata menerima wanita pilihan anaknya. Dia tidak mau menunjukkan penerimaan dan juga penolakan. Tiada senyum yang terukir diwajahnya, datar tanpa ekspresi. Sehingga membuat Meka sedikit takut.
"Ma, Pa, ada yang mau Zain sampaikan ke kalian berdua. Ini menyangkut hubungan Zain dengan Meka."
"Ayo kemari Zain, Meka duduk disini. Tidak baik ngobrol sambil berdiri," ucap Mamanya.
"Pa.., apa kamu mau berdiri disitu memantau kami?" celetuk istrinya namun tetap menatap lembut kearah suaminya.
Lalu Papanya Zain ikut duduk bersama mereka. Dia berada disamping istrinya dihadapan Zain dan Meka.
"Apa yang mau kamu sampaikan Zain! Kau tau kemaren anak teman Papa mengadu ke orang tuanya, dan mereka marah besar terhadap kami. Kau sungguh kelewatan Zain! Apa kau sadar apa yang akan dilakukan orang tuanya ke kami?" Papanya berdiri dengan emosi yang tak tertahankan lagi sambil menunjuk dengan telunjuknya ke wajah Zain.
"Maaf Pa, tapi itu bukan kesalahan Zain! Zain hanya ingin memilih pilihan Zain. Dan pilihan Zain adalah Meka! Papa harus mengerti itu."
"Kamu yang seharusnya mengerti kami Zain!"
"Pa, sudah jangan marah-marah. Nanti jantung kamu sakit. Stop dan duduklah disini. Kita bicara baik-baik," Mamanya berdiri dan memegang lengan suaminya untuk mengingatkannya agar tak berlebihan marahnya.
Suaminya menoleh ke istrinya dan menghela nafasnya.
"Bagaimana Papa bisa tidak marah Ma! Dia sesuka hatinya saja bertindak," ketus suaminya.
"Pa, biarkan Zain menjelaskannya kepada kita. Dia sudah besar dan bisa menentukan jalan hidupnya. Kita jangan egois untuk tidak mau mendengarkan konfirmasi dari nya. Dia itu anak kita, kita harus lebih percaya dengannya," ucap Mamanya dengan bijaksana.
Meka menatap wajah Mamanya Zain, terlihat tegas tapi tetep ada kelembutan dalam berkata-kata.
"Pa, Ma, Zain tidak bermaksud untuk membuat kalian dalam masalah. Tapi Zain mohon, biarkan Zain menentukan pilihan Zain. Dan Zain tidak tertarik dengan wanita itu. Kemaren dia datang ke Apartement Zain dan memeluk Zain seperti seorang wanita murahan yang sudah terbiasa bertingkah seperti itu. Tanpa malu dia memeluk dan mencoba mencium Zain. Apa itu wanita pilihan Papa?" tanya Zain yang bertindak emosi.
"Dia wanita baik-baik dan dari keluarga baik-baik juga. Kau jangan menilai dia jelek hanya karena datang menemuimu dan memelek serta apalah itu, kau sebut dia wanita murahan. Lantas dia apa!?" tunjuk Papa Zain kearah wajah Meka.
Meka tentu saja tersentak saat namanya disebut dan diperlakukan seperti itu oleh Papanya Zain.
Zain menatap nyalang kearah Papanya dan dia pun berdiri serta mengatakan hal yang membuat mereka terkejut.
"Dia istriku! Jangan pernah menghinanya! Dia lebih baik dari wanita murahan itu dan aku tidak menerima wanita yang gampang memeluk laki-laki lain tanpa ada ikatan. Bagaiman dia bisa menjadi istri dan ibu yang baik yang akan memberiku keturunan yang baik jika dia dengan gampangnya menyerahkan tubuhnya memeluk laki-laki yang tidak ada ikatan apapun, menjijikkan," sarkas Zain dengan emosi yang meluap-luap.
Mamanya Zain sampai tak percaya mendengar berita yang keluar dari mulut anaknya.
"Zain, apakah benar yang kau ucapkan nak?" tanya Mamanya dengan wajah tak percaya.
"Ya Ma, dia istriku. Dan kami sudah menikah secara resmi."
Lantas, Mamanya menatap kearah Meka. Dan dia mendekat ke Meka. Lalu tiba-tiba dia menampar Meka dengan tatapan penuh amarah.
Meka terkejut mendapatkan tamparan dipipinya, lantas dia memegang pipinya yang mendenyut. Dia pun berdiri dan menatap kearah Mamanya Zain.
Zain menatap bingung kearah Mamanya. Dia tak menyangka akan melihat adegan itu.
"Apa yang Mama lakukan!" ucap Zain yang masih berkata lembut terhadap Mamanya.
"Apa yang Mama katakan. Tentu dia wanita baik-baik dan dari keluarga baik-baik," balas Zain tak kalah sengitnya.
Meka berusaha menahan bening air matanya agar tidak terjun bebas dari matanya. Dia tetap tersenyum sambil menahan perih di pipinya.
"Dia sudah memberikan hal buruk terhadapmu Zain. Kau harus sadar itu! Papa tidak merestui hubungan kalian. Dan Papa tidak pernah menganggap pernikahan kalian!" bentak Papanya juga.
"Apapun keputusan dan keinginan kalian, aku akan tetap berada disampingnya. Terserah kalian mau berkata aku ini anak durhaka. Tapi aku tidak bisa meninggalkannya karena Zain mencintainya. Hanya dia yang bisa membuat Zain menjadi lebih baik," ucap Zain tegas.
"Ayo sayang kita pergi dari sini," Zain mengajak Meka meninggalkan rumah orang tua Zain. Namun Meka menahannya.
"Mas, bagaimanapun kita bersalah karena tidak memberitahukan ini kepada orang tau kamu Mas. Mas tidak boleh seperti itu."
"Tante, Om, saya tau bahwa di mata Tante dan Om saya ini wanita yang tidak baik karena menikah tanpa izin dari orang tua Mas Zain. Tapi saya sangat mencintainya. Dan tidak berniat membuat Mas Zain untuk durhaka sama Om dan Tante. Dan satu hal yang harus Tante dan Om tau, saya wanita baik-baik yang tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki lain kecuali Mas Zain. Dan keluarga saya adalah keluarga yang baik dan penuh dengan tata krama. Maaf kalau saya lancang dan tidak sopan karena harus mengatakannya. Terima kasih atas tamparan yang Tante berikan tanpa Tante mengetahui kebenarannya, saya permisi," Meka meninggalkan ruangan itu dan berjalan meninggalkan Zain.
"Maaf Ma, Pa, Zain memilih untuk tetap bersama istri Zain. Maaf karena mengecewakan kalian berdua, Zain pamit Ma, Pa, Assalamu'alaikum," Zain bergegas mengejar Meka yang sudah keluar dari dalam rumahnya.
"Sayang tunggu!" Zain mempercepat jalannya agar tidak kehilangan Meka.
Zain melihat Meka menangis di samping pintu mobil dan menunggu Zain menghampirinya.
Zain datang dan memeluknya. Tubuh Meka bergetar menahan emosi yang tak terluapkan.
"Maaf kan Mas ya, yang membuat kamu seperti ini. Seharusnya Mas tidak membawamu kesini. Maafkan Mas," ucap Zain penuh penyesalan.
click
Meka berada dalam pelukan suaminya dengan terisak-isak. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak Mas, kamu tidak salah. Dan orang tua kamu juga tidak salah Mas," ucap Meka dengan suara sedihnya.
Meka bukan orang yang munafik. Dia tidak ingin kehilangan Zain. Bagaimanapun mereka sudah sah sebagai suami istri. Walaupun harus menentang kemauan orang tua Zain ,dia tidak mau melepaskan Zain. Egois biarlah dikatakan egois. Zain juga menginginkannya.
"Ayo sayang kita kembali ke Apartement," Zain mnegajak Meka kembali pulang ke Apartement mereka.
Meka menegangkan dan dia masuk ke dalam mobil. Begitupun dengan Zain. Akhirnya mereka pergi dari rumah orang tua Zain dengan perasaan yang sedih.
Sedangkan di dalam rumah orang tua Zain, Mamanya terduduk lemas melihat kepergian anak laki-laki satu-satunya. Dia tidak menyangka akan menghadapi situasi seperti ini. Dia merasa kalah dengan wanita pendamping Zain yaitu Meka.
"Pa, gimana ini? Zain kita sudah pergi meninggalkanku! Huhuhuhu," istrinya menangis tersedu-sedu di sofa.
Lalu Papanya Zain duduk disamping istrinya dan menenangkannya.
"Sudah Ma, jangan pikirkan anak tidak tau diri itu! Dia lebih memilih wanita itu daripada orang tuanya. Kenapa kamu masih perduli dengannya, hah!" sentak suaminya yang masih belum bisa meredam amarahnya.
"Dia anak yang kulahirkan Pa! Kamu tau bagaimana rasanya saat aku memilikinya! Aku gak bisa kehilangan Zain! Huhuhuhu,"
Papanya Zain pusing memikirkan keadaan ini. Disatu sisi dia membenci keputusan anaknya dan sisi lain dia harus mengalah terhadap istrinya.
"Jadi Mama mau gimana sekarang?"
"Pa, kita terima ya wanita itu. Kita kasih kesempatan buat mereka menunjukkan bahwa dia memang pantas buat anak kita Zain. Papa dulu juga mempertahankan Mama kan dari orang tua Papa, jadi kasih kesempatan itu ke mereka, agar mereka tidak mengalami apa yang kita rasakan Pa," rengek istrinya yang memohon kepadanya.
Papanya Zain diam tak bisa mengambil keputusan. Dia masih bingung mau berbuat apa.