Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 104


Sepanjang perjalanan Meka banyak melihat mahluk ghaib yang melintas dijalan. Dia selalu mengingatkan Zain untuk berhati-hati dan tidak terlalu ngebut membawa mobilnya malam ini.


"Kita harus harus mempersiapkan perlengkapan yang akan dibawa besok Mas. karena besok pagi kita harus berangkat ke Kampus mengikuti tour itu," ucap Meka.


"Nanti Mas akan bantu kamu sayang," balas Zain yang masih fokus menyetir.


Isna dan Deon sudah terlelap dalam mimpinya. Mereka merasa terbuai oleh ayunan mobil yang berjalan. Hingga akhirnya mereka sampai di Jogja dan menuju Apartement Zain.


Sesampainya di Apartemen, Meka membangunkan Isna dan Deon.


"Na, Deon, ayo bangun. Kita sudah sampai di Apartemen. Kalian bisa lanjutin mimpinya di kamar nanti," ucap Meka sambil menggoyangkan tubuh Isna.


Lalu Isna membuka matanya dan melihat kearah Meka lalu beralih ke Deon yang masih tidur.


"Mek, kita udah sampai Ya?" tanya Isna bengong.


"Iya kita sudah sampai. Bangunin tuh Deon!" suruh Meka sambil menunjuk kearah Deon.


Lalu Isna pun membangunkan Deon. Mereka keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam dan menuju Apartement nya Meka.


Setelah mereka sampai dilantai atas, Zain dan Meka masuk ke dalam kamar untuk bersih-bersih.


"Mas, kamu mau mandi duluan?" tanya Meka.


"Mandi bareng aja yuk sayang," ajak Zain dengan senyum penuh arti.


"Kamu pasti ada maunya nih?" tanya Meka curiga.


"Hehehe, biasa dong sayang, minta jatah. Besok beberapa hari Mas akan berpuasa. Maka dari itu, malam ini Mas ingin memuaskan yang dibawah," ucap Zain tanpa filter.


"Kamu gak capek Mas? Emang masih sanggup melakukannya?" tanya Meka tak percaya dengan keinginan suaminya.


"Sanggup dong sayang, yuk," Zain langsung menggendong Meka masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi terjadilah penyatuan suami istri yang masih menikmati pernikahan mudanya. Erangan demi erangan memenuhi ruangan kamar mandi itu. Tidak ada yang dapat mendengar suara merdu dari keduanya. Mereka akhirnya menyelesaikan penyatuan itu dengan mandi bersama.


Setelah selesai mandi, Meka dan Zain keluar dari dalam kamar mandi, lalu berpakaian. Kemudian Meka dibantu sama Zain untuk membenahi perlengkapan yang akan dibawa esok hari.


"Sayang, kamu sudah khabari Asih kan?" tanya Zain.


"Udah Mas.Tapi, aku lupa Mas menanyakan tentang besok, apakah dia langsung ke Kampus atau kita jemput?" ucap Meka yang bingung.


"Ya udah coba kamu tanyakan lagi sama dia. Kirim pesan aja sayang, sampaikan aja ke dia, besok kita jemput dikostannya, biar kumpul semua," saran Zain.


"Oh boleh juga itu Mas. Ya sudah, aku kirim pesan dulu ke Asih ya Mas," balas Meka.


"Iya sayang."


Setelah mereka mempersiapkan segala keperluan untuk besok, Zain langsung naik ke atas tempat tidurnya. Dia membaringkan tubuhnya menunggu kedatangan Meka.


Sedangkan Meka masih sibuk berbalas pesan sama Asih di sofa. Meka tak menyadari jika suaminya sedang menunggunya.


"Sayang, ayo sudah malam.Jangan lama banget tidurnya. Besok kita harus berangkat pagi ke Kampus!" ucap Zain yang sedikit mengencangkan suaranya.


"Iya Mas, bentar. Nih udah selesai kok Mas," balas Meka.


Setelah Meka selesai berbalas pesan sama Asih, dia pun melangkah kearah tempat tidur. Dimana Zain sudah menunggunya.


"Ayo tidur, Mas udah ngantuk nih."


"Iya Mas," Meka naik ke atas tempat tidur dan mulai membaringkan tubuhnya disamping suaminya.


Zain memeluk Meka dari samping dan mulai memejamkan matanya. Rasa nyaman saat dia bisa memeluk istrinya ketika tidur.


Mereka akhirnya tidur dengan lelap karena letih dan capek akibat pergualatan panas mereka di kamar mandi dan perjalanan jauh yang dilakukan mereka. Semua menjadi satu hingga menciptakan kelelahan dan letih.


Meka dan Zain sudah bersiap-siap di dalam kamarnya. Begitu juga dengan Deon dan Isna. Mereka sudah mempersiapkan segalanya.


Meka dan Zain keluar dari dalam kamarnya dan melihat Deon serta Isna surga menunggu di Sofa.


"Udah siap semuanya?" tanya Meka saat sudah keluar dari kamar.


"Sudah Mek, ayo kita berangkat," balas Isna.


"Tapi kita jemput teman gw dulu ya dikostannya. Kita sama-sama berangkat ke Kampus," ucap Meka.


"Oh yang kemaren Lo bilang itu ya Mek?" tanya Isna lagi.


"Iya Na. Tadi malam gw udah kirim pesan ke dia, kalau kita akan menjemputnya," jawab Meka.


"Ya udah, kita berangkat sekarang, kayaknya pakai mobil Pak Zain aja ya. Mobil gw kan kecil gak muat kalau berlima, apalagi kita bawa banyak perlengkapan," ucap Deon.


"Gak apa-apa, pakai mobil saya aja. Nanti biar diparkir di Kampus ketika kita pergi," balas Zain.


Lalu mereka pun keluar dari Apartement itu menuju lantai bawah dan berjalan kearah mobil.


Mobil pun melaju meninggalkan Apartement, menuju kost-kostan Asih. Jalan tak begitu ramai, hingga membuat mereka cepat sampai di kostan Asih.


Ternyata Asih sudah menunggu di depan kostnya. Begitu melihat Meka keluar dari mobil, Asih langsung menghampirinya.


"Udah siap semua perlengkapan Lo Sih?" tanya Meka saat berjalan kearah Asih.


"Udah nih Mek. Ayo berangkat!" ajak Asih yang penuh semangat.


Lalu mereka masuk ke dalam mobil. Asih bergabung bersama Isna dan Deon. Mereka saling memperkenalkan diri masing-masing.


"Oh...ini yang namanya Asih!" ucap Isna yang merasa senang atas kehadirannya.


"Iya Na, ini dia sahabat gw dulu di kost. Tapi sekarang dia udah pindah kost ditempat ini," jawab Meka yang menoleh kebelakang


"Semoga kita bisa menjadi teman baik ya Asih. Senang bisa berkenalan dengan Lo," ucap Isna dengan tulus.


"Iya gw juga senang bisa gabung bersama kalian. Gw jadi punya banyak teman," balas Asih.


"Oh ya nih Deon, kekasihnya Isna," Meka memperkenalkan Deon sebagai kekasih Isna.


"Hai...!" apaan Deon.


"Hai," balas Asih.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Dosga mereka.


"Iya Mas, ayo kita langsung ke Kampus aja. Oh ya kita sarapan di Kampus aja gimana?" tanya Meka terhadap sahabatnya yang duduk dibelakang.


"Boleh juga sih Mek, biar gak jauh-jauh dari Kampus," jawab Deon.


"Iya gw juga setuju, kita sarapan di Kampus aja," Isna pun menyetujuinya.


Lalu mobil pun bergegas menuju Kampus. Selama perjalanan mereka saling ngobrol membahas tentang tour nanti. Mereka semua merasa bersemangat untuk kegiatan itu. Tanpa mereka sadari bahwa akan ada bahaya yang menanti mereka saat kegiatan itu berlangsung. Terutama Meka, dia akan mengalami hal-hal yang mengerikan saat tour itu dilaksanakan.


Akhirnya mereka semua sampai di area Kampus. Meka melihat Mahasiswa yang mengikuti kegiatan itu sudah pada berdatangan.


Zain memarkirkan mobilnya dan mereka semua keluar dari mobil. Lalu segera menuju kumpulan Mahasiswa itu untuk mengecek absensi kehadiran peserta, dimana masing-masing peserta akan diberikan nametag nya dan langsung dipakai di baju masing-masing.


Sedangkan Zain pergi menemui panitia kegiatan tour itu untuk memberitahukan agar menunggunya setengah jam.


Lalu Zain menghampiri Meka dan mengajak istrinya sarapan terlebih dahulu. Meka pun mengajak yang lainnya agar ikut sarapan bersama mereka berdua.


Mereka segera menuju ke kantin Kampus. Dan memesan makanan masing-masing untuk sarapan. Banyak Mahasiswa yang heran melihat kedekatan Meka dan Dosga mereka. Pandangan buruk dan tanda tanya melintas dipikiran masing-masing Mahasiswa itu. Meka yang menyadarinya, tak menghiraukan hal itu. Dia lebih mementingkan mengisi perutnya daripada memikirkan apa yang dipikirkan mereka tentangnya.