Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 35


Setelah selesai mereka bercinta, Zain mengajak Meka untuk membersihkan diri.


"Sayang, ayo kita mandi. Habis tuh kita cari makan. Aku laper banget!" ucap Zain yang masih dalam posisi memeluk pinggang Meka.


"Kamu duluan aja Zain, habis itu baru aku. Aku mau menghubungi Mama, apa sudah sampai atau tidak," ucap Meka.


"Ayolah sayang, kita mandi bersama biar mengirit waktu," balas Zain. Tanpa aba-aba Zain menggendong Meka kekamar mandi. Dan didalam kamar mandi mereka mengulangi lagi penyatuannya. Zain terus-terusan menggempur Meka didalam kamar mandi. Hingga akhirnya pertempuran selesai. Zain menggendong Meka keluar dari kamar mandi dan memakaikannya baju kembali.


"Sayang, ayo kita nikah, aku ingin cepat-cepat menikahimu. Biar kita bisa hidup bersama," Zain menginginkan Meka mendampinginya.


"Tapi aku masih kuliah Zain. Masih tiga tahun lagi. Tunggulah sampai aku selesai," balas Meka.


"Lama banget sayang. Aku gak mau kamu berpaling dariku. Aku takut kehilanganmu sayang," Zain menatap mata Meka dengan lekat.


"Biarkan aku kuliah dulu Pak Dosga....! Lagian ortu ku juga gak akan ngasih jika aku nikah saat kuliah," Cha mencoba memberikan masukan terhadap Zain.


"Hmmmm, Zain membuang nafas beratnya.


"Baiklah sayang, ayo kita keluar cari makan. Perutku sudah keroncongan," Zain mengusap-usap perutnya menandakan laper.


"Tunggu, aku akan menghubungi Mama dulu. Karena Ini sudah dua jam berlalu," balas Meka. Dia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi no Ibunya. Ternyata no Ibunya belom aktif. Lalu dia mengirim pesan kepada Ibunya agar mengabarinya jika sudah sampai di Sumatera.


"Gimana sayang, sudah nyambung?" tanya Zain yang sedang melihat ponselnya.


"Belom aktif. Tapi aku sudah mengirim pesan," balas Meka.


"Kalau gitu sekarang kita cari makan yuk," ajak Zain.


"Sebentar, aku mau kekamarn Asih dulu ya. Mau lihat keadaannya dulu," Meka meninggalkan Zain yang menuju kamar Asih.


"Tok Tok Tok, Sih...! " panggil Meka. Lalu perlahan dia membuka pintu kamar Asih. Meka melihat Asih sedang menghubungi seseorang.


Meka pun masuk dan mengatakan, " Gw mau keluar cari makan sama Pak Zain. Kamu mau ikut atau nitip sesuatu?" tanya Meka dengan suara yang sangat pelan.


"Gw mau keluar bareng Eko. Katanya dia mau kekost, ngajak keluar," jawab Asih.


"Oh.., si Eko mau kemari? Asyekkk Asih ada temannya, biar gak jadi obat nyamuk hihihi," Meka menggoda Asih sambil menaik-naikkan alisnya.


"Hussssst," Asih meletakkan jari telunjuknya dibibir menyuruh Meka untuk tidak bersuara. Lalu dia mengusir Meka dengan menggunakan tangannya.


Meka pun keluar dari dalam kamar Asih sambil ketawa-ketawa. Baginya sangat lucu jika bisa menggoda Asih. Lalu dia masuk kedalam kamarnya dan mengajak Zain keluar. Namun saat dia hendak berbicara, dia mendengar Zain sedang ngobrol dengan seseorang. Meka mendengar Zain marah dengan orang tersebut. Zain tidak menyadari kehadiran Meka karena dia membelakangi pintu kamar Meka.


"Hmmmm, siapa yang sedang ngobrol sama Zain? Dan kenapa dia marah-marah gitu?" bathin Meka yang menerka-nerka.


Meka berdiam diri dibelakang Zain. Dia hanya mendengar apa yang dibicarakan Zain. Setelah Zain selesai ngobrol ditlp dengan seseorang, dia membalikkan badannya dan saat berbalik, Zain terkejut karena sudah ada Meka dibelakangnya.


"Sayang! Sejak kapan kamu disitu?" tanya Zain gugup.


"Oh...baru aja. Kamu ngobrol sama siapa Zain," Meka menatap curiga kearah Zain.


"Tadi bokap yang tlp. Tapi nanti aja ya kita bahas di Apartement aku. Sekarang kita makan dulu, perutku sudah laper banget ya..!" Zain memperlihatkan sisi manjanya sambil merangkul pinggang Meka.


"Janji nanti kamu harus menjelaskannya dengan ku," balas Meka.


"Iya janji sayang!" Zain mengecup kening Meka.


Mereka keluar dari dalam kamar Meka dan berjalan kemobil Zain yang ada di depan kost Meka. Zain dan Meka pergi meninggalkan kost-kostannya mencari tempat makan yang nyaman buat bersantai.


"Asih gak jadi ikut sayang?" tanya Zain sambil menyetir.


"Nggak, katanya Eko akan mengajaknya keluar jalan-jalan," jawab Meka.


"Oh ya, udah ada balasan dari Mama kamu yang?" tanya Zain lagi.


"Oh iya, coba aku hubungi lagi ya, mana tau udah aktif," Meka langsung mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Mamanya. Ternyata ponsel Mamanya sudah aktif dan seketika dijawab.


"Wa'alaikumussalam sayang! Mama sudah sampai di Sumatera nih. Tapi Mama lagi nunggu Om kamu. Katanya dia sudah mau sampai," balas Mamanya.


"Om sama siapa Ma jemput ke Bandara?" tanya Meka lagi.


"Katanya sih sama adik kamu Abiyu. Mama udha kangen banget sama dia. Sayang kamu jaga diri ya baik-baik. Mama gak bisa lagi ke Jogja. Mama akan do'akan yang terbaik untukmu sayang walaupun dari jauh," ucap Mamanya diseberang sana.


"Mama kok ngomong gitu sih! Gak mungkin lah, Mama gak kejogja lagi. Udah ah, ngomongnya aneh," Meka merasa aneh mendengar ucapan Mamanya. Lalu dia teringat kembali dengan bisikkan yang didengarnya tadi.


"Ya udah sayang, Hati-hati disana. Kamu harus kuat ya dan semangat walaupun tanpa Mama disisi kamu. Mama tutup dulu ya tlp nya, Mama mau ambil barang," Mamanya langsung menutup tlp nya karena buru-buru mau ambil barangnya.


Meka tertegun sesaat, lalu dia menoleh kesamping dan menatap Dosganya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


Zain yang menyetir, menoleh sekilas. Dia melihat Meka yang bengong tapi pandangannya kearah dirinya.


"Sayang, ada apa? Mama ngomong apa,hah!" tanya Zain bingung.


Meka tak menggubris ucapan Zain, karena pikirannya lagi traveling ntah kemana-mana.


"Apa mungkin bisikkan itu benar! Gak ah, Mama sudah sampai di Bandara. Kenapa Mama bisa ngomong seperti itu?" Meka bermonolog sendiri tanpa menghiraukan pandangan Zain.


Zain segera menepikan mobilnya karena melihat gelagat aneh dari Meka. Lalu dia menggoyangkan lengan Meka.


"Sayang kamu kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Zain menatap mata Meka.


"Pak, Mama bilang, aku harus bisa kuat dan harus semangat walaupun tidak ada Mama disisi ku. Maksudnya apa ya Pak?" tanya Meka dengan pandangan kosong.


"Tapi Mama kamu sudah sampai di Sumatera kan sayang? Kenapa kamu masih khawatir?" tanya Zain bingung.


"Aku gak tau yang, tapi perasaanku masih belom tenang. Ntah kenapa, aku merasakan firasat kurang baik," Meka masih diam mematung.


"Ya udah sekarang kita makan dulu ya. Tuh didepan ada cafe. Kita berhenti disana dan makan dulu. Nanti kamu bisa hubungi Mama kamu lagi ya," Zain mencoba menenangkan Meka.


Akhirnya Zain melanjutkan menyetir mobilnya kearah cafe yang sudah tak jauh lagi dari mereka. Hingga mobil masuk ke area parkir dan Zain memarkirkan mobilnya. Lalu dia mengajak Meka keluar dari mobil dan masuk kedalam cafe.


"Ayo sayang, kita duduk disana aja," Zain mengajak Meka duduk di depan kasir.


Zain membawa Meka duduk di meja yang diinginkan. Mereka memesan makanan dari menu yang ada. Sedangkan Meka mencoba lagi menghubungi Mamanya, namun tak diangkat-angkat.


"Berdering yang tlp nya?" tanya Zain saat menatap Meka.


"Berdering tapi gak diangkat yang!" jawab Meka yang juga menatap ke Zain.


"Coba lagi sayang, mana tau tadi Mama lagi sibuk," Zain mencoba menenangkan Meka.


Meka mencoba lagi menghubungi Mamanya, namun tak diangkat juga. Meka semakin gelisah. Karena tadi Mamanya masih bisa dihubungi. Dan saat ini justru gak diangkat.


"Gimana ini Pak, gak diangkat juga!" Meka semakin khawatir.


"Kamu punya no Om mu?" tanya Zain yang mencari alternatif lain.


"Oh iya no Om," Meka mencoba menghubungi no Om nya yang menjemput Mamanya. Tapi tetep gak diangkat juga sama Om nya.


"Gak diangkat juga sayang?" tanya Zain. Zain juga ikut-ikutan gelisah melihat Meka kebingungan.


"Kita tunggu aja ya yang, mudah-mudahan nanti kita coba lagi menghubungi mereka. Sekarang kita makan dulu. Nih makanannya udah dateng," Zain memberikan makanan Meka kehadapannya.


Meka pun memakan makanannya sambil membayangkan keadaan Mamanya disana.


Dia pun tak tenang mengunyah makanannya.


Zain merasa bingung dengan sikap aneh Meka. Namun dia tidak mau mengungkapkannya karena takut Meka membencinya.


Lalu tiba-tiba ponsel Meka berdering. Meka langsung mengambil ponselnya, dan melihat no Papanya. Meka langsung mengangkat tlpnya.