
Zain menyadari arti dari tatapan mereka. Namun dia tidak memperdulikannya. Karena dia merasa sudah waktunya untuk mempublikasikan seorang Meka di Kampus mereka sebagai istri Dosga mereka.
"Mungkin mereka senang melihat kita jalan bersama. Gak usah perdulikan mereka sayang. Ayo ke ruangan Mas sekarang," ajak Zain yang mencoba mengalihkan perhatian Meka.
"Iya Mas," balas Meka.
Mereka terus berjalan, sampai sebuah mata yang menakutkan melihat kearah mereka. Bersembunyi dibalik tembok lantai atas, dengan amarah yang memuncak, tangannya bergetar memegang sisi tembok. Rasa tak percaya terlihat di wajah orang tersebut. Ingin meluapkan amarahnya tapi hanya ada tembok yang membentang.
Dosen Arin, sedang berdiri disisi tembok dekat tangga. Dia melihat sepasang manusia dengan santainya memamerkan kemesraan mereka di hadapan khalayak umum. Seakan-akan dunia milik mereka berdua. Amarah kian terpancar dari wajah Bu Arin saat matanya tertuju dengan genggaman tangan Zain yang merekat dijari-jari lentik Meka. Hatinya memanas melihat pemandangan yang menyakitkan matanya.
Bu Arin langsung bergegas turun kelantai bawah dan masuk ke dalam ruangan Dosen. Ntah apa yang akan dilakukannya di dalam ruangan itu.
Sedangkan Zain dan Meka sudah berada di dalam ruangan Zain. Meka duduk di sofa menunggu suaminya mengerjakan tugasnya.
"Sayang, tunggu sebentar ya. Kamu bentar lagi masuk kuliah kan? Mas akan masuk ke dalam kelasmu. Pak Ahmad meminta roker jam pelajaran sama Mas. Jadi Mas mengajar mengambil jamnya Pak Ahmad," jelas Zain.
"Oh..., aku akan menunggu disini. Sepi gak ada Isna dan Ghani. Mereka masih di Semarang nanti siang baru sampai diJogja," ucap Meka yang males-malesan tak bersemangat.
"Kan ada Mas disini. Kamu bisa puas memandang Mas," balas Zain yang sudah duduk di kursi kebesarannya.
"Ya tiap hari kan lihat kamu terus Mas. Pengennya lihat yang lain," ucap Meka manja.
"Iya, nanti Mas akan bawa kamu jalan-jalan ke Bukit Bintang, hanya kita berdua, gimana mau gak?" tanya Zain dari meja kerjanya.
"Benar ya Mas, aku mau. Udah lama gak kesana ya Mas," jawab Meka.
"Iya. Ya udah Mas lanjut lagi ya sayang kerjanya. Bentar lagi kita masuk kelas," ucap Zain sambil mengerjai kerjaannya.
"Iya Mas."
Setelah melewati beberapa menit, akhirnya Zain selesai dengan pekerjaannya.
"Sayang, ayo masuk ke kelasmu. Sebentar lagi jam kuliahmu dimulai," ucap Zain mengingatkan Meka.
"Iya Mas, tapi aku khawatir dengan Mahasiswa yang melihatku keluar dari ruangan ini. Apa mereka memperhatikanku yang sudah lama berada diruangan ini?" Meka bertanya dengan suaminya.
"Itu gak masalah dan tidak ada urusannya dengan mereka. Ayo bersiap-siap, kita akan ke kelasmu."
"Baiklah Mas," balas Meka lesu.
Lalu mereka keluar dari ruangan Dosganya dan berjalan menuju ke kelasnya. Di sepanjang jalan, banyak Mahasiswa yang menatap curiga kearah Meka.
"Kenapa Mahasiswi itu sering di dalam ruangan Dosga itu ya?" tanya Mahasiswi yang tak jauh dari ruangan Dosganya.
"Eh iya benar. Gw perhatikan mereka sepertinya akrab. Apa mereka punya hubungan ya?" balas si B
"Ah dasar itu ceweknya aja yang centil keganjenan. Mungkin dia yang suka nyosor Dosga kita terus. Mana mungkin Dosga kita mau sama tuh cewek yang gak ada apa-apanya," balas temannya dengan sinis.
Begitulah pandangan Mahasiswi yang sedang ngobrol di dekat ruangan Dosga mereka.
Zain dan Meka terus berjalan melewati beberapa ruangan kelas. Lalu akhirnya mereka sampai ke dalam kelas Meka.
Zain masuk duluan ke dalam kelas Meka dan disusul sama Meka yang berjalan dibelakang Zain.
"Pagi semua...!" sapa Zain tanpa ekspresi.
"Pagi Pak Zain...!" sahut mereka semua.
Meka sudah duduk di tempatnya dan melihat bangku Isna dan Deon yang kosong. Lalu dia menatap kembali ke depan.
Meka melihat suaminya yang tanpa ekspresi jika mengajar. Sikap yang sangat bertolak belakang dengan kehidupannya jika mereka diluar Kampus. Meka menjadi senyum-senyum kala mengingat wajah suaminya saat di Apartement, sungguh menggemaskan. Jika saat ini dia seperti singa dengan taring panjang dan auman yang mengerikan serta mata tajamnya yang tak bersahabat lain halnya saat dirumah seperti kucing jantan yang memiliki wajah bulat dengan bulu lebat dan suara lembutnya sangat lucu dan menggemaskan.
Bagi Meka itu merupakan dua karakter yang sangat bertolak belakang. Meka tidak menyadari saat ini Zain sedang berdiri disampingnya, menatapnya dengan tatapan tajam. Meka masih asyik melamun membayangkan kepribadian Zain yang berbeda.
"Ekhem ekhem," Meka mendengar suara deheman dari sampingnya yang dikiranya Mahasiswa disebelahnya.
"Ekhem ekhem," suara deheman itu kembali terdengar.
Meka tersadar dan menoleh kesamping lalu dia mendongakkan kepalanya keatas melihat sosok yang berdiri disampingnya.
"Apa kamu tidak bisa melamun saat berada dirumah? Ini Kampus dan sedang belajar. Jadi fokuslah saat jam pelajaran saya, mengerti!" ucap Zain yang sedikit melembut.
"Hah suami gw galak banget kalau sedang di Kampus," gumam Meka.
Zain mendengar gumaman Meka, dia mencoba menahan senyumnya dan dirinya untuk tidak menghukum istrinya yang menggemaskan itu.
"Meka, kamu bantu saya membagikan lembaran ini ke yang lainnya. Lembarannya ada diatas meja saya, kamu bisa mengambilnya di depan," Zain menyuruh Meka sebagai hukumannya.
"Iya Pak," Meka bangkit dari bangkunya dan berjalan melewati Dosganya yang masih berdiri disampingnya.
Zain sedikit menyunggingkan senyumnya merasa geli dengan wajah cemberut istrinya.
"Kalau ini bukan Kampus, sudah habis kamu sayang, aku buat mendes** terus dan sampai gak bisa berjalan," bathin Zain senyum-senyum.
Zain terus memperhatikan Meka yang membagikan lembaran kertas ke Mahasiswa lainnya. Sampai akhirnya Meka menyelesaikannya dan kembali ke mejanya.
Saat Meka kembali ke mejanya, mereka berpas-pasan, Zain mengedipkan sebelah matanya dengan nakal hingga membuat Meka melotot kearah suaminya yang jahil.
Lalu Zain berjalan ke depan dan kembali mengajar. Sedangkan Meka berusaha fokus mengikuti pelajaran dari suaminya.
Satu jam kurang, pelajaran akhirnya berkahir. Dosga mereka keluar meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Meka masih membenahi bukunya. Saat Meka hendak melangkah dari kursinya, dia melihat kearah Shinta yang terlihat sangat pucat. Namun tatapan mata Shinta terhadapnya tak berubah. Malah semakin membenci penuh dendam. Meka bisa merasakannya.
Meka hendak menyapanya, namun ditahan dengan suara dari Khodamnya.
"Jangan mendekatinya. Menjauhlah darinya, karena dia tak akan tertolong. Dia hanya tinggal menunggu waktunya," ucap Khodamnya yang tak kelihatan.
"Maksudnya dia akan meninggal?" tanya Meka melalui bathinnya.
Namun tak ada jawaban. Membuat Meka kesal. Lalu dia pergi meninggalkan kelasnya dan berjalan menuju ruangan suaminya.
Saat Meka berjalan melewati beberapa ruangan kelas, Meka bertemu dengan Dosennya Bu Arin.
"Eh Bu Arin. Pagi Bu!" sapa Meka dengan tenang.
Bu Arin menatap Meka dengan tajam dan tak bersahabat. Tapi dia berusaha menekan amarahnya yang tadi sempat membara.
"Pagi juga Meka. Kamu ngapain keruangan Pak Zain tadi?" tanya Bu Arin to the point.
"Maaf Bu, kenapa Bu Arin bertanya seperti itu?" Meka kembali melemparkan pertanyaanya.
"Seharusnya Mahasiswi tidak diperbolehkan masuk ke ruangan Dosen terlalu lama. Apa yang kamu lakukan disana?" tanya Bu Arin curiga.
"Ah tidak ada Bu. Saya hanya membantu Pak Zain mengerjakan tugas. Karena beliau yang meminta saya ke ruangannya," jawab Meka dengan wajah tak sukanya.
"Oh ya, kamu tidak sedang mendekati Dosen Zain?" tanya Bu Arin dengan menyipitkan matanya.
"Maaf Bu, sepertinya itu tidak hak Bu Arin mempertanyakannya. Maaf Bu, saya harus keruangan Pak Zain," Meka sedikit menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat dia sebagai Mahasiswi yang berhadapan dengan Dosennya.
Lalu Meka berjalan meninggalkan Bu Arin yang menahan kesalnya. Amarah yang sudah memuncak, ingin segera menghancurkan Meka secepatnya.
"Awas kamu Meka...! Sekarang kamu bisa menyombong, tapi besok dan seterusnya, kamu tidak akan bisa mencoba menggoda laki-laki yang kuinginkan," bathin Bu Arin dengan wajah yang ketat.
Meka terus berjalan dan sampai di depan ruangan suaminya. Lalu dia membuka pintu itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Meka masuk dengan wajah cemberut dan menggerutu.
"Siapa dia melarang-larang gw masuk ke ruangan suami gw sendiri," gerutu Meka sambil duduk di sofa.
Zain melihat ada yang tidak beres dengan tingkah istrinya saat ini. Lalu dia menghampiri Meka yang duduk di sofa. Zain pun ikut duduk disamping Meka.
"Ada apa sayang, kenapa kamu wajahnya ditekuk begitu? Apa ada yang membuatmu kesal?" tebak Zain dengan menatap mata indah Meka.
Meka melihat wajah suaminya yang khawatir dengan dirinya.
"Mas, tadi pas aku kemari, gak sengaja bertemu dengan Bu Arin. Terus dia bertanya ngapain aku keruangan kamu Mas?" cerita Meka.
"Terus kamu jawab apa sayang?" tanya Zain yang masih biasa saja menanggapinya.
Meka terus menatap wajah Zain yang memang sangat tampan. Sehingga membuat banyak kaum hawa menginginkannya.