
Zain menggenggam tangan Meka, mengingatkannya untuk tidak bersikap berlebihan. Meka dapat melihat aura kematian wanita itu. Tapi Meka tidak ingin terlibat dengan psikopat separuh iblis itu.
Zain dan Meka berjalan ke arah Restaurant tempat dimana mereka akan sarapan.
"Sayang, kamu lihat tadi cara dia menatapmu? Mas bisa melihat kalau dia sangat menginginkanmu."
"Aku tidak ingin melihatnya Mas, aku takut jika membalas tatapannya. Karena itu akan membuatku tidak menyadari sesuatu nantinya," jelas Meka.
"Mas sangat mengkhawatirkanmu. Sepertinya ada yang tidak beres di Hotel ini sayang. Mas tidak mau kamu terlibat. Lebih baik kita segera pergi dari sini," ucap Zain.
"Loh memangnya Mas bisa menyewa Hotel ini, medannya dari mana? Bukankah Mas pesan melalui online?" tanya Meka.
"Tidak sayang, Mas memesan Hotel ini dari teman Mas yang ada di Paris ini. Dia merekomendasikannya. Mas anggap dia memilih yang bagus dan nyaman untuk Mas," jawab Zain.
"Kamarnya sih bagus Mas, mewah tapi aku juga merasa aneh dengan Hotel ini. Aku jarang melihat penghuni lainnya. Apakah kamar-kamar itu berisi atau kosong ya Mas?" tanya Meka penasaran.
"Mas juga tidak tau sayang. Mas juga jarang ketemu penghuni kamar. Apa mereka selalu di dalam kamar dan tidak berniat keluar ya?" Zain berpikir seperti itu.
"Lihat Restaurant ini sepi ya Mas. Padahal ini jam sarapan."
Meka mengedarkan pandangannya ke sekeliling, namun hanya beberapa yang ada. Meka dan Zain mengambil sarapan mereka dan memilih meja yang dekat dengan pintu masuk.
"Ayo Mas, kita selesaikan sarapan kita. Perasaanku gak enak," ucap Meka.
"Iya sayang."
Meka dan Zain menghabiskan sarapan mereka dengan kilat. Tak ada obrolan diantara mereka. Meka dan Zain fokus dengan mengunyah makanannya.
Tak berapa lama, mereka menyelesaikan sarapannya. Lalu bergegas pergi dari sana. Meka melihat sesuatu yang aneh dari tatapan pelayan itu. Ntah apa yang membuatnya menyeringai saat menatap Meka.
"Pergi dari sini Meka...ini bukan tempat yang aman untukmu," bisik Khodamnya tiba-tiba.
"Hah." Meka kaget mendengar suara bisikan itu.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Meka melalui bathinnya.
"Hotel ini tidak seperti yang kamu pikirkan Meka. Ini tempat terkutuk yang banyak memakan tumbal. Seorang psikopat separuh iblis telah membuat Hotel ini menjadi suram. Dia anak dari pemilik Hotel ini. Dia adalah laki-laki yang kamu tabrak," ungkap Khodamnya.
"Di--dia?" tanya Meka.
"Ya, saat ini dia sedang menjalankan tugasnya. Wanita yang bersamanya akan merasakan sayatan benda tajam. Dia akan memotong-motong tubuh wanita itu setelah melampiaskan nafsunya. Meka jangan berhenti ketika kamu melewati kamar itu dan mendengar suara jeritan kesakitan dari dalam kamar itu. Pergilah dari sini segera," pesan Khodamnya.
Lalu Meka mengangguk dan mempercepat langkahnya. Mereka memasuki lift dan Meka merasa jantungnya mulai berdegup kencang karena akan melewati kamar itu lagi.
Meka secara gak sadar menggenggam erat tangan suaminya untuk mengontrol dirinya yang tak terkendali karena rasa keperdulian.
"Sayang, ada apa? Kenapa kamu terlihat ketakutan?" tanya Zain cemas.
"Mas, ketika kita melewati kamar itu, bawa aku segera dari sana. Jangan biarkan aku lepas karena mereka akan menarikku untuk melihat ke dalam," pinta Meka dengan terus menggenggam tangan suaminya.
"Iya sayang, kamu jangan khawatir ya. Mas tidak akan membiarkan sesuatu terjadi terhadapmu."
Pintu lift akhirnya terbuka, Meka tidak ingin beranjak dari dalam lift. Matanya terus tertuju ke arah pintu kamar itu.
"Meka pejamkan matamu, dan segera pergi dari hadapan kamar itu," bisik Khodamnya.
"Sayang, ayo kita ke kamar. Kamu tutup mata kalau tidak ingin melihatnya," pesan Zain.
Meka mengangguk mengiyakan ucapan Zain dan Khodamnya. Lalu dia menarik nafasnya dengan berat dan membuangnya perlahan.
"Aku tidak boleh terpengaruh dengan tarikan aura dari kamar itu. Aku harus bisa melewatinya," bathin Meka memberi semangat untuk dirinya sendiri.
Lalu Meka melangkahkan kakinya bersama Zain. Saat dia hendak pergi dari hadapan kamar itu, Meka mendengar suara jeritan kesakitan dan teriakan dari dalam kamar. Meka merasakan bulu kuduknya berdiri. Sekilas dia menoleh ke arah pintu kamar itu. Meka terbelalak saat melihat pemandangan yang mengerikan.
Meka menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Gak mungkin, ini gak mungkin!" Meka berdiri diam seperti patung. Terpaku melihat keadaan di dalam kamar itu yang bisa tembus pandang di lihat Meka.
"Apa yang terjadi, kenapa, kenapa aku melihatnya, ada apa ini?" Meka kalut dan bingung. Dia ketakutan, tapi tubuhnya tidak bisa digerakkannya.
Ya, ternyata Meka memiliki kelebihan yang lain. Setelah dia mengetahui bahwa dia memiliki Khodam dan mata bathin, kemampuan yang Meka miliki semakin terbuka. Dia bisa merasakan apa yang terjadi dengan seseorang melalui bersentuhan. Selain itu kemampuan Meka yang baru saja terbuka adalah, dia bisa menembus pandang sesuatu yang dilihatnya jika dalam kondisi ketakutan.
Iblis-iblis itu menyeringai menyaksikan pembantaian itu. Mereka menampung darah yang keluar dari tubuh wanita itu. Laki-laki itu dengan santainya memotong-motong tubuh wanita itu hingga beberapa bagian, dan mencampakkan nya ke arah iblis-iblis itu sebagai makanan mereka.
Iblis-iblis itu terus menyantap daging manusia itu dengan rakusnya. Sedangkan laki-laki itu menggantung bagian kaki dan tangannya untuk persediaan makanan iblis-iblis itu.
Meka tak sanggup melihat ke dalam, hingga matanya bersitatapan dengan iblis-iblis itu. Mereka menyeringai puas melihat ke arah Meka.
Meka memejamkan matanya, lalu sebuah tarikan membuat Meka tersadar dan dia membuka matanya melihat Zain menarik paksa tangannya. Zain terus berjalan membawa Meka masuk ke dalam kamarnya.
"Mas, maaf, aku, aku gak bisa mengendalikan diriku Mas. Aku melihatnya Mas, aku melihatnya!" Meka ketakutan dan memeluk Zain dengan erat.
"Hust hust hust, jangan takut sayang. Bukankah kamu sudah biasa melihatnya?" tanya Zain sambil mengusap-usap punggung Meka.
Meka melepaskan pelukannya dari dekapan Zain dan dia menatap lekat ke arah suaminya.
"Iya Mas, mungkin karena ini berbeda. Yang di hadapi manusia psikopat setengah iblis. Dia lebih kejam dari pada dukun," jelas Meka.
"Tapi mereka sama-sama mengambil nyawa orang lain bukan?"
"Iya Mas, tapi mereka tetap berbeda. Kalau psikopat, mereka membunuh dengan sadis tanpa rasa takut dan kejam dan mereka melakukannya dengan tangannya sendiri. Kalau dukun mereka melakukannya melalui perantara ghaib untuk menghancurkan seseorang," jelas Meka lagi.
"Apa yang kamu lihat sayang disana?" tanya Zain yang kepingin tau.
"A__aku melihatnya Mas, laki-laki itu, dia, dia memotong tubuh wanita itu Mas," jawab Meka takut.
"Dia benar-benar psikopat sadis sayang," balas Zain.
"Iya Mas, dan yang lebih parahnya, dia memotong manusia itu dalam keadaan masih bernyawa. Dia tidak punya belas kasihan Mas. Dia kejam. Dan dia memberi makan iblis-iblis itu Mas," ucap Meka yang menatap Zain serius.
"Maksud kamu, dia memelihara iblis sayang?" tanya Zain tak percaya.
Meka mengangguk membenarkan ucapan suaminya.
"Iya Mas, kamu benar dia memelihara iblis. Iblis-iblis itu memakan daging manusia yang di lempar oleh laki-laki itu Mas."
"Astaghfirullahal'adzim sayang..., ayo kita pergi dari sini. Mas tidak mau kamu kenapa-napa dan terlibat dengan laki-laki itu. Ayo cepat bawa barang-barangnya," ajak Zain.
Lalu Zain pun bergegas menyiapkan semuanya. Kemudian mereka keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah lift.
Saat menunggu pintu lift, Meka menutup matanya melewati kamar itu. Lagi-lagi Meka digoda dengan suara panggilan iblis dari selama kamar itu.
"Beeeaaauuuté, viiieens paaarrr iiiciiiii....!"
"(Caaantiiik, aayooo keemaaariiilaahhh...)!" panggil suara itu dari dalam kamar.
"Aaaiiideee-mooooiii.....!"
"(Tooolooong aaakkuuuu)!" teriak suara perempuan.
Meka menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tidak ingin mendengar suara-suara itu.
Lalu Khodam Meka muncul dan melindungi Meka dari suara itu dengan memberikan pagar ghaib.
"Kamu sudah tidak mendengarnya lagi Meka. Buka mata kamu dan kamu harus bisa menghilangkan rasa takutmu. Karena dengan ketakutan itu, kamu akan terus diganggu. Dan penglihatanmu akan semakin tajam untuk melihatnya. Kamu harus bisa menetralkan diri kamu sendiri Meka," jelas Khodamnya yang meminta Meka berusaha mengendalikan dirinya.
Meka melihat Khodamnya sekejap hingga dia menghilang dari hadapan Meka.
Lalu pintu lift itu terbuka dan mereka segera masuk ke dalam. Meka dan Zain merasa tenang, dan mereka saling merangkul di dalam lift.
Setelah lift terbuka Zain membawa Meka ke luar dari Hotel itu dan pergi meninggalkan Hotelnya.
Zain sudah memesan Hotel yang terbaik dan ramai penghuninya. Selama dalam perjalanan menuju Hotel, mereka tak ada yang berbicara. Meka lebih memejamkan matanya dan merebahkan kepalanya di pundak Zain.
Sementara Zain mengusap-usap lembut rambut Meka dengan kasih sayang.
"Istirahatlah, kita akan segera sampai," pinta Zain.
Zain pun melihat ke depan, berharap setelah itu tidak ada kejadian lagi yang mereka alami di Paris. Zain ingin menghabiskan waktu berdua dengan sangat menyenangkan.