Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 268


Kakek tua masih terus menatap serius ke arah Khodam itu. Dan sang Khodam menyadarinya.


"Jangan memandangku seperti itu. Dan jangan banyak bertanya," ucap Khodam itu tegas.


"Kau terlalu lama menyembunyikan rahasia itu. Sampai kapan, bahkan Meka akan membencimu jika itu demi keuntungan," ucap Kakek tua.


Sang Khodam tidak mau berdebat dengan laki-laki paruh baya ini. Dia memilih menghindar dan menghilang dari pandangan Kakek tua. Sebelum Kakek tua menyadarinya, dia pun menghilang.


Lalu Kakek tua hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya karena capek dengan sikap sang Khodam yang tak berani berkata jujur.


Saat Kakek tua terdiam dan masih berdiri di tempatnya, Nenek datang menghampirinya.


"Ada apa kek? Kenapa kamu terlihat gelisah seperti ini?" tanya si Nenek.


"Ya, karena kelahiran anak Meka sebentar lagi. Keturunan jin dan manusia yang memiliki kekuatan luar biasa. Sehingga membuat iblis itu sangat menginginkannya. Iblis itu bisa mencium aroma berbeda dari janin Meka," jawab Kakek tua.


"Keadaan nak Meka bagaimana? Apa dia baik-baik saja?" tanya Nenek tua.


"Dia berada di alam ghaib bersama laki-laki yang bernama Rudy. Dia bangsa Jin yang memiliki ikatan terhadap Meka," jawab Kakek tua.


"Apa! Kenapa bisa begitu? Tapi nak Meka sudah menikah dengan nak Zain. Jadi bagaimana bisa memiliki ikatan dengan laki-laki itu?" tanya Nenek itu dengan keheranan.


"Ceritanya sangat rumit. Dan yang mengetahui itu semua hanya sang Khodam dan Papanya Meka," jawab Kakek itu lagi. "Hah sudahlah Bu, mari kita beristirahat," ajak Kakek tua.


"Iya Pak, ayo. Besok kita harus bangun pagi. Karena Pamannya Meka harus kembali kan ke Medan?" tanya Nenek itu meyakinkan.


"Ya benar, mereka akan kembali. Tetapi tidak dengan Papanya Meka. Dia akan tetap berada di sini sampai Meka kembali ke alam nyata," jelas Kakek tua.


Lalu Kakek dan Nenek memutuskan untuk beristirahat di dalam kamar.


Malam pun semakin larut. Suara hewan-hewan kecil terdengar di sekitar rumah Ustadz Ahmad. Di dalam kamar, Papanya Meka tidak bisa tidur dengan tenang. Dia mengkhawatirkan Meka yang berada di alam ghaib.


"Hah, bagaimana kalau dia tidak kembali? Apa yang harus aku lakukan? Ini semua salahku yang mengikuti kemauan Khodam itu," gumam Papanya Meka yang masih menyalahkan dirinya sendiri.


Papanya Meka akhirnya kelelahan karena terlalu banyak berpikir hingga dia tertidur di sofa depan TV.


Di luar rumah Ustadz Ahmad suasana sangat mencekam. Suara burung gagak terdengar di atas pohon yang terletak di halaman rumah Ustadz. Istri Omnya Meka merasa gelisah. Dia tak tenang untuk memejamkan matanya.


"Bang, aku kok merasa gak nyaman ya," ucap Tantenya Meka yang berbaring di tempat tidur.


Sandy yang sedang duduk di sofa mengerjakan tugas dalam menyelesaikan kuliah S2 secara online terpaksa memberhentikan aktifitasnya. Lalu dia menghampiri istrinya yang berbaring di tempat tidur.


"Kamu kenapa terlihat berkeringat gini sayang?" tanya Sandy saat melihat keadaan istrinya aneh.


"Aku gak tau bang. Rasanya panas," jawab istrinya yang merasa bajunya sudah basah. "Bang, apakah bisa jendela kamar kita di buka?" tanya istrinya.


Sandy yang melihat gelagat aneh istrinya mengernyitkan dahinya. Tanpa membuang waktu dia langsung berteriak dari dalam kamar dengan membuka pintunya dia memanggil Kakek tua dan Ustadz Ahmad.


"Kakek......., tolong......!" teriak Sandy.


"Ustadz...., tolong istri saya....!" Sandy pun memanggil Ustadz Ahmad.


"Bang...., cepat kemari....!" terakhir dia memanggil Papanya Meka.


Kakek tua yang kebetulan belum tidur, langsung terkejut mendengar suara teriakan Sandy. Dia dengan sigap bergegas keluar dari kamarnya.


"Ada apa itu Pak dengan Omnya Meka?" tanya Nenek tua khawatir.


Begitu juga dengan Ustadz Ahmad dan Papanya Meka. Mereka mendengar suara teriakan Sandy yang meminta tolong. keduanya buru-buru keluar dari kamar masing-masing dan berlari ke arah kamarnya Sandy.


"Apa yang terjadi San?" tanya Abang iparnya.


"Ayo segera lindungi istrinya Sandy!" imbuh Kakek tua.


"Kenapa kek? Apa iblis itu mengetahui ada janin yang sedang tumbuh di sini?" tanya Ustadz Ahmad.


Kakek tua langsung masuk ke dalam kamar Sandy. Dia melihat ada pengaruh iblis yang ingin menarik istrinya Sandy keluar dari dalam kamar. Hal ini sama seperti yang dilakukan iblis itu terhadap Meka.


Kakek tua duduk bersemedi di lantai dan dia membuat gelembung tak kasat mata yang akan di tiupkan nya ke arah istrinya Sandy guna memberinya rasa tenang dan dingin.


Sang Khodam yang berada di alamnya, bisa merasakan kekhawatiran. Karena pagar ghaib yang digunakannya untuk menutup rumah itu dari halauan mahluk ghaib, saat ini sedang goncang akibat hantaman dari iblis itu.


Lalu Khodam itu muncul di kamarnya Sandy. Dia melihat Kakek tua duduk bersemedi dan membuat gelembung besar untuk istrinya Sandy saja.


"Iblis itu berusaha menarik istrinya untuk keluar rumah. Karena dia menginginkan janin dari orang baik untuk tumbalnya dan menambah kekuatannya," jelas Khodam.


"Jadi, apa yang harus saya lakukan?" tanya Papanya Meka cemas melihat kegelisahan iparnya.


"Saya akan keluar dari ruangan ini dan menemui iblis itu," ucap Khodam itu. Lalu dia benar-benar menghilang dari ruangan itu. Dia muncul di halaman luas Ustad Ahmad. Khodam itu memandang dalam kegelapan sekitar rumah Ustadz Ahamad. Namun dia tidak bis melihat wujud iblis itu. Tapi dia merasakan kehadiran iblis itu.


"Kenapa aku tidak bisa mendeteksinya? Hebat iblis itu bisa bersembunyi dariku," gumam Khodam itu. Lalu dia memusatkan pikirannya dan langsung Khodam itu bisa melihat keberadaan iblis itu.


Tanpa buang waktu, Khodam itu melemparkan belati tajam yang mengeluarkan cahaya biru ke arah iblis itu tepat di dadanya.


Sang iblis yang tidak sempat menghindar, akhirnya terkena belati tak biasa itu.


"Kau..., sialan...! Lagi-lagi kau merusak keinginanku!" raung iblis itu dengan geramnya.


"Sudah ku katakan, jangan mencoba mengganggu keluarga ini. Kalau tidak, kau akan berurusan dengan ku," tekan Khodam itu.


"Akhhhhh.....," iblis itu kesakitan karena belati itu bukan benda yang biasa. Benda itu sudah dimantrai sehingga membuat iblis itu terluka sampai mengeluarkan darah hitam dari sudut bibirnya.


"Aku akan membuat perhitungan denganmu...!" teriak iblis itu saat wujudnya memudar dan lama-lama menghilang.


Kemudian setelah memastikan iblis itu musnah, Khodam itu kembali ke dalam kamarnya Sandy.


"Sudah selesai," ucap Khodam itu.


Kakek tua dan Papanya Meka serta Ustadz Ahmad bingung dengan ucapan sang Khodam.


"Apa yang terjadi di luar? Bagaimana iblis itu?" tanya Papanya Meka.


"Dia sudah menghilang dan terluka. Saat ini istrinya dia aman dari iblis itu. Maka dari itu kembali lah besok pagi dengan segera," suruh Khodam itu.


"Baik, besok pagi mereka akan kembali ke Medan," balas Papanya Meka.


"Lebih baik sekarang kalian kembali ke kamar masing-masing. Dan laki-laki itu juga, suruh istrinya tidur karena hawa panas sudah lenyap dan kembali normal," ucap sang Khodam


Setelah itu mereka kembali ke kamarnya dan kembali beristirahat tidur. Sedangkan Khodam itu masih berjaga di rumah Ustadz Ahmad. Dia tidak ingin kecolongan dari iblis ataupun mahluk ghaib lainnya.


Pagi yang sangat cerah tiba. Mereka menjalankan sholat subuh. Setelah itu, Ummi dan Nenek tua menyiapkan sarapan untuk semuanya. Sebelum Sandy dan istrinya kembali ke Medan, mereka melakukan sarapan bareng.