
"Kalau begitu, kamu jangan memperlihatkan dirimu terlebih dahulu. Kita akan memantaunya di tempat lain."
"Gw sedikit deg-degan Mek, jika besok bertemu dengan Mama gw. Kayaknya gimana gitu. Ada rasa takut dan enggan jika berdekatan dengannya. Apa karena Mama gw begitu mudahnya melenyapkan nyawa suaminya sendiri yang tak lain Papa gw ya, sehingga gw takut berhadapan dengannya."
"Itu hal wajar Deon, Lo pasti ketakutan. Tapi bagaimanapun dia itu Mama Lo yang melahirkanmu. Sapa tau dengan dibawa ke Ustadz dia akan berubah," Meka melihat keraguan dimata Deon terhadap Mamanya.
"Semoga ya Mek."
"Asyiiik makanannya akhirnya datang juga. Gw dah laper banget nih," ucap Meka dengan berbinar saat melihat makanan yang dihidangkan.
"Iya nih, gw juga udah kelaparan," sambung Isna yang tidak merasa sungkan lagi.
"Oh ya Deon, Na, ada yang mau gw sampaikan ke kalian."
"Tentang apa Mek?" tanya Isna.
"Sepertinya serius banget nih," sambung Deon.
"Iya Deon, nh serius banget. Ini tentang Shinta Na," jawab Meka.
"Ada apa lagi dengan dia? Apa Lo udah tau keadaannya Mek?" Isna balik bertanya.
Meka melirik kearah suaminya Zain. Dia meminta dukungan dari Zain, apakah harus disampaikan atau tidak. Zain mengangguk tanda setuju dan memperbolehkan Meka bercerita dengan sahabatnya.
"Shinta berulah lagi Na, Deon. Dia masih belom mau menyerah. Sekarang dia menggunakan mahluk ghaib genduruwo untuk memisahkan gw sama Pak Zain."
Deon dan Isna terpelongo dengan mulut terbuka yang berisi makanan sambil menatap Meka mendengar penjelasannya.
"Tutup mulut kalian, nanti makanan dalam mulut kalian jatuh." ledek Meka.
"Ah Lo Mek, gw terkejut mendengarnya. Lo serius Mek, dia masih mencobanya lagi," ucap Isna dengan raut wajah yang serius.
"Ya Mek, bukannya Lo tadi bilang bahwa Shinta sudah dimusnahkan iblis yang ada sama dia?" tanya Deon kebingungan.
"Iblis itu memang sudah musnah Deon, tapi dia malah bersekutu dengan genduruwo. Dia menjanjikan gw untuk menjadi budak nafsu genduruwo itu, sedangkan Pak Zain bisa dimilikinya," jelas Meka sambil minum minumannya.
"Astaghfirullahal'adzim tuh anak....! Apa gak takut ya akan akibatnya? Bisa-bisanya berbuat seperti itu demi mendapatkan sesuatu," kesal Isna.
Zain menikmati makanannya sambil mendengar cerita istrinya. Dia masih mengkhawatirkan keadaan Meka yang sedang diganggu genduruwo.
"Terus setan itu udah musnah atau masih mengejar Lo Mek?" tanya Isna ketakutan.
"Mek, Lo lihat gak tuh genduruwo. Pasti serem banget ya? Ihhhhh serem gw kalau jadi Lo. Bisa pingsan lihat yang begituan," sambung Deon.
"Genduruwo itu belum musnah Na, dia masih mencoba mendekati gw dengan merubah wujudnya menjadi orang yang dekat dengan gw," jelas Meka.
"Maksud Lo merubah wujud menjadi Pak Zain?!" tanya Isna yang menatap serius ke Meka.
"Iya Na. Gimana ya menyadari Shinta. Karena bisa saja mahluk itu menginginkan Shinta jika tidak bisa mendapatkan apa yang dijanjikan dengannya."
Mereka berhenti sejenak menikmati makanannya. Meka menatap ke Isna dan Deon.
"Dia juga bisa berubah menjadi Deon," tiba-tiba Meka bersuara.
semua menatap kearah Meka. Baik Zain, Deon maupun Isna, mereka terdiam sesaat menghentikan kunyahannya.
"Kenapa Lo bisa bilang seperti itu Mek?" tanya Isna.
"Karena dia juga orang yang dekat dengan gw Na," jawab Meka serius.
"Dan Lo Na, harus percaya sama gw, kalau nanti apa yang Lo merasa aneh melihat kejanggalan di dekat gw, Lo harus yakin bahwa itu bukan Deon," terang Meka tersenyum.
"Ah Lo nakutin gw aja deh Mek," celetuk Deon karena saat ini dia yang dibahas.
"Gw pikir Lo orangnya pemberani, ternyata penakut juga," balas Isna.
"Hahaha, udah jangan serius banget," Meka mencoba menghilangkan kecemasan Isna dan ketakutan Deon dengan tertawa.
"Lo ini, orang udah serius dengerinnya, Lo malah candain. Horor tau denger gituan," sebel Isna.
"Iya ni si Meka seneng banget buat jantung gw berdegup kencang seperti orang habis lari maraton," Deon mendukung kekesalan yang dilontarkan Isna.
"Iya-iya, tapi gw serius loh gak bercanda mengenai itu genduruwo yang bisa merubah wujudnya menjadi siapa saja. Jangan terlalu serius Na, Deon..! Udah yuk makan lagi," Meka berusaha tersenyum dihadapan sahabatnya agar mereka tak terlalu ketakutan.
"Gimana gak serius Mek, Lo cerita mahluk ghaib, siapapun yang mendengarnya pasti serem," balas Deon yang memang paling mudah ditakutin.
"Yang penting waspada aja dan kita saling percaya."
"Eh iya Pak, itu gimana ya keberangkatan tour nanti?" tanya Deon yang menerobos ucapan Dosganya.
"Oh iya, gimana Na, Deon, kalian ikut gak!? Kalau gw sih ikut karena seneng aja bisa tour ke desa yang agak terpencil. Pasti seru, apalagi berkemah." ucap Meka antusias.
"Emang Pak Zain ngebolehin Lo ikut Mek?" Deon bertanya.
"Boleh," jawab Pak Zain langsung.
"Nah tuh dah dengarkan. Gw diizinin untuk ikut kegiatan tuor itu. Kalian gimana?" tanya Meka.
Saat ini mereka sudah selesai menikmati makan malamnya. Meka melupakan sejenak tentang kejadian tadi sore yang dialaminya. Begitu banyak hal yang dihadapinya setelah menikah. Dia itu juga belum seberapa kejadian. Mungkin masih ada kejadian lainnya yang akan datang dari keluarga suaminya.
Meka melihat kebahagiaan diwajah Zain, tapi disisi lain Meka melihat kegundahan hati Zain. Meka menyadari secara tidak langsung, dia menjauhkan Zain dari keluarganya. Tapi itu adalah keputusan mereka berdua.
"Mek, Lo melamun...?" tanya Isna yang menatap Meka tanda tanya besar.
"Ah iya, sorry gw udah gak sabaran buat tour nanti. Oh ya rencananya teman gw juga ada yang mau ikut sih."
"Siapa Mek?" tanya Isna.
"Teman kost kemaren. Gw ngajak dia biar kita rame aja," jawab Meka.
"Asyik tuh tambah teman, sapa tau bisa gantiin Shinta, ya kan?" Isna senang bisa mendapatkan teman baru.
"Orangnya baik kok, mudah-mudahan dia tak berubah ya." Meka teringat sahabat kostnya Asih.
"Udah malam, kita balik sekarang ya," Pak Zain tiba-tiba menyela obrolan mereka.
"Ah iya Pak, kita balik sekarang aja. Udah malam banget emang sih!" balas Deon.
Lalu mereka beranjak dari meja itu setelah selesai semuanya. Mereka terus berjalan hingga keluar dari cafe itu. Tapi Meka merasakan seperti ada yang mengikutinya. Bulu kuduknya langsung berdiri merasakan banyaknya mahluk ghaib dihadapannya.
Meka melihat ada beberapa pengunjung yang baru datang dan keluar dari cafe berjalan berdampingan dengan mahluk jelek. Meka tidak tau apakah mereka diikuti atau mereka yang membawanya. Hingga mata Meka menatap sekilas mahluk tinggi besar hitam dengan mata berwarna merah menyala serta berbulu hitam sedang menatap tajam kearahnya.
"Mahluk itu mengikutimu Meka!" ucap Khodamnya tanpa wujud.
"Kenapa harus aku yang diikutinya?" tanya Meka melalui bathinnya.
"Karena temanmu sudah membuat perjanjian dengannya untuk menumbalkan mu sebagai pengantinnya di dunianya," jawab Khodamnya.
"Terus apa yang harus aku lakukan?" tanya Meka lagi.
"Dia tidak bisa membuatmu menjadi pengantinnya dialamnya selagi kau menggunakan liontin bulan sabit itu. Karena liontin itu memiliki kekuatan yang bisa memusnahkan makhluk ghaib selamanya, akan tetapi....," Khodam nya berhenti.
"Kenapa berhenti?"
"Akan tetapi dia bisa saja membunuhmu dengan berbagai cara. Kau harus berhati-hati," lalu Khodam itu tak bersuara lagi.
"Tuh kan Meka melamun lagi dan malah berhenti," tegur Deon.
"Sayang, kamu baik-baik aja? Apa ada yang terjadi lagi?" Zain tau jika Meka diam itu berarti dia sedang berkomunikasi dengan Khodamnya.
"Iya Mas, dia masih terus mengikutiku, mahluk itu berada disana," tunjuk Meka dengan matanya.
Deon dan Isna juga menoleh kearah yang ditunjuk Meka. Namun mereka tak bisa melihat hal ghaib. Sehingga mereka tak mengetahui keberadaannya.
"Mek, gw dan Deon gak bisa ngelihat seperti Lo. Kalaupun gw bisa lihat, hah bisa pingsan gw," ucap Isna yang masih menatap kearah yang ditunjuk Meka.
"Udah yuk kita pulang, biar istirahat," sambung Deon.
"Sayang, nyetirnya hati-hati ya. Kan udah larut malam, banyak demit yang berseliwiran," bisik Meka.
"Iya sayang. Kamu juga ingatin Mas terus ya kalau mendadak ngebut," balas Zain.
"Pasti Mas."
Mereka akhirnya meninggalkan Phuket dan kembali ke Apartementnya Zain. Disepanjang perjalanan, Meka selalu mengingatkan Zain untuk jangan terlalu ngebut.
Mereka asyik ngobrol di dalam mobil. Ntah kenapa Meka merasakan perasaan yang tak enak, hatinya gelisah. Dia melihat keluar jendela dan sesekali dia melihat ke depan. Saat dia melihat ke depan.
Tiba-tiba Meka berteriak.
"Mas berhenti........Awaaaaaas Maaaasss!" teriak Meka saat melihat anak kecil di depan mereka sedang berdiri.