
"Alhamdulillah gw baik Sih. Lo sendiri gimana?" tanya Meka balik.
"Gw baik Mek. Eh gw sekarang lagi dekat loh sama cowok di Kampus gw Mek," Asih memberitahu kedekatannya sama seseorang.
"Oh ya...siapa Sih?" Meka penasaran.
"Dia kakak kelas gw di Kampus. Orangnya baik Mek. Terus anaknya rajin beribadah. Tapi gw gak tau apa dia punya perasaan ya sama gw?" Asih terlihat murung dan terdengar dari nada bicaranya.
"Emang Lo suka sama cowok itu?" tanya Meka.
"Mmmm, iya Mek, tapi gw juga belom bisa memastikan apakah perasaan gw ini pelarian atau tulus buat dia. Perasaan gw masih ngambang Mek," curhat Asih.
"Kalau saran gw ya, mending jalani dulu aja Sih. Nanti juga ketahuan apakah dia punya perasaan sama Lo atau tidak. Dan Lo juga bisa melihat bagaimana perasaan Lo sebenarnya ke dia. Benar gak," Meka mencoba memberikan saran terbaik untuk sahabatnya.
Zain mendengar semua apa yang dibicarakan istrinya. Sesekali dia melirik kearah Meka dengan tersenyum.
Dari luar terdengar suara ketukan pintu. Meka dan Zain melihat kearah pintu. Lalu Meka menatap suaminya.
"Itu pesanan makanan kita sayang, Mas aja yang buka," Zain berjalan kearah pintu dan membuka sedikit pintunya.
Benar yang datang delivery makanan mereka. Zain menerima pesanannya dan membawanya masuk ke dalam.
"Meka ayo makan dulu. Nih sudah datang makanan yang kamu inginkan," Zain meletakkan makanan itu diatas meja makan.
"Iya Mas, bentar ya!" teriak Meka dari dalam kamar.
"Eh Sih, nanti kita sambung lagi ya obrolannya. Gw mau makan dulu. Tuh udah dipanggil sama Pak Zain," ucap Meka.
"Oh ya sudah, jangan lupa Lo khabari ya jam berapa berangkatnya. Selamat menikmati makan malamnya Meka sayang...!" goda Asih dari seberang.
"Hehehe iya iya," obrolan pun selesai. Meka senyum-senyum sambil berjalan keluar dari dalam kamarnya.
Lalu dia melangkah kearah meja makan. Dimana sudah menunggu suaminya.
"Maaf ya Mas nungguin aku. Tadi aku lagi ngobrol sama Asih. Ngasih tau dia tentang keberangkatan tour itu," ucap Meka sambil membenahi makan malam mereka.
"Berarti dia jadi ikut tournya sayang?"
"Iya Mas, dia ikut."
"Ayo kita makan. Mas sudah laper banget," ajak Zain.
"Iya Mas, aku juga sudah kelaparan."
Mereka makan malam dengan santai dan sesekali mereka ngobrol. Hingga akhirnya mereka selesai makan.
Tak terasa waktu sudah semakin larut. Malam yang panjang mereka habiskan dengan berdua sambil ngobrol di dalam kamar. Mereka tak menyia-nyiakan kesempatan, Zain meminta jatahnya malam ini. Dia mulai membuka baju istrinya dan dirinya sehingga mereka sudah sama-sama tak berbaju. Zain dan Meka melakukan hubungan suami istri.
Suara-suara merdu Meka terdengar indah diruangan itu, membuat Zain semakin bergairah dan bersemangat menghentak-hentakkan pinggulnya. Mereka berpacu dalam kenikmatan dunia. Hingga sejam kemudian mereka menyelesaikannya. Zain terkulai di samping Meka dengan nafas yang masih ngos-ngosan. Dia menarik Meka masuk ke dalam dekapannya.
"Kamu benar-benar nikmat sayang," puji Zain sambil mengecup kening istrinya.
Meka tersipu malu mendengar kata vulgar suaminya. Dia merekatkan tubuhnya kedalam dekapan suaminya sambil mencubit-cubit halus dada suaminya.
"Sayang, jangan menggoda Mas lagi. Atau Mas tidak akan berhenti melakukannya," ucap Zain.
"Ah kamu Mas, aku hanya ingin mencubitnya karena gemas. Masa sih kamu tergoda Mas," balas Meka polos.
"Iya sayang, kamu itu buat Mas ketagihan terus."
Kemesraan mereka tak luput dari pendengaran mahluk genduruwo itu. Saat ini genduruwo itu sudah kembali ke tempat tinggal Meka. Dia mendengar semua kegiatan yang dilakukan Meka bersama Zain. Amarah yang menggelegar memenuhi dirinya. Dia kembali ke alamnya dan mengamuk dengan menghancurkan apa yang ada disekitarnya.
Meka tidak merasakan keberadaan mahluk disekitarnya dikarenakan Apartement yang ditempati mereka sudah diberi pagar ghaib oleh Khodamnya. Sehingga mahluk ghaib tak bisa menembus masuk kedalam Apartement mereka.
Malam pun semakin larut, Meka dan Zain kelelahan akibat aktivitas ranjang mereka hingga keduanya tidur terlelap.
Pagi menyapa kedua insan yang sedang tertidur lelap dalam selimutnya. Yang masih enggan membuka mata karena kelelahan. Waktu pun terus berjalan, hingga Meka tersentak karena harus pergi ke Kampusnya.
"Mas, mas bangun udah kesiangan kita. Maaf Mas, aku ketiduran," Meka merasa bersalah atas keadaannya saat ini.
"Sayang sudah jam berapa ini?" tanya Zain.
"Ini sudah jam 8 pagi Mas, kita kesiangan. Ayo mandi, biar ke kampus. Kita sarapan di Kampus aja," Meka beranjak dari tempat tidur dan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Begitu pun dengan Zain, dia buru-buru bangun dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Mereka mandi bersama untuk mempersingkat waktu.
Akhirnya mereka berangkat ke Kampus bersama naik mobil online. Karena mobil Zain belum selesai diperbaiki.
Sesampainya di Kampus, Meka dan Zain berjalan berpegangan tangan. Mereka tidak begitu menyadari bahwa mereka tidak seharusnya saling berpegangan tangan. Saat masuk ke dalam Kampus, banyak Mahasiswa yang memandang kearah mereka.