
Setelah Dosen mereka keluar dari ruangan kelas, Deon dan Isna segera menghampiri Meka di mejanya.
"Eh Mek, Lo tadi dengar gak sih apa yang di ceritakan teman-teman kita?" tanya Deon menatap Meka serius.
"Heum," jawab Meka cuek.
"Mek, ini serius loh....Kok Lo cuek gitu jawabnya!" kesal Deon.
Isna tidak ikut bertanya, dia hanya memandang wajah Meka yang santai, sehingga Isna berpikir bahwa Meka tak tertarik dengan berita Robby.
"Terus gw harus gimana Deo....n?!" tanya Meka yang menatap Deon serius.
"Ya, masa Lo gak kepengen tau apa yang terjadi Mek!" ucap Deon.
"Gak ah, gw lagi gak mau berurusan dengan hal ghaib saat ini. Karena fokus gw hanya diri gw dan orang terdekat gw," balas Meka.
Perkataan Meka di benarkan oleh Deon dan Isna. Meka tak harus terus menerus ikut campur dalam masalah orang lain. Karena itu akan membahayakan kehidupannya pribadi.
"Sorry Mek, Lo benar. Gw hanya terbawa perasaan yang ingin membantu teman," sesal Deon.
"Gak apa De, gw maklum kok. Karena Lo gak di posisi gw, jadi jiwa Lo menggebu-gebu ingin membantu. Tapi Lo harus tau De, dengan membantu seseorang, kita harus siap menerima resikonya," jelas Meka.
"Apa Lo membantu kami juga seperti itu Mek? tiba-tiba Isna bertanya.
"Maksudnya Na?" tanya Meka balik.
"Maksud gw, selama ini Lo kan bantuin gw Sam Deon. Apa itu juga ada resikonya Mek?" tanya Isna.
"Iya Na, itu pasti. Tapi kalian sahabat gw dan gak mungkin membocorkan identitas gw ke yang lain. Namun beda dengan Robby. Dia pasti akan mengatakan dengan yang lainnya," jawab Meka menjelaskan.
"Tapi kasihan si Robby Mek. Apa kita tidak bisa datang kesana Mek? Apa Lo gak bisa membantunya secara diam-diam tanpa sepengetahuan keluarganya?" tanya Isna yang masih menunjukkan sikap pedulinya.
"Ya udah, gw minta izin dulu sama Pak Zain. Sapa tau dia mau ikut juga melihat si Robby," jawab Meka memberikan harapan.
"Kalau gitu, ayo kita samperin Dosga kita," ajak Deon.
"Iya biar kita segera kesana, kalau memang Pak Zain ngasih izin," sambung Isna.
Lalu mereka bertiga keluar dari ruangan kelasnya dan berjalan ke arah ruangan Pak Zain. Dalam perjalanan lagi-lagi mereka mendengar cerita Robby yang sudah semakin kritis.
"Eh si Robby cowok tampan itu katanya makin kritis sekarang!" ucap Mahasiswa A.
"Oh ya, ya Allah kasihan banget dia. Emang sakit apa kok mendadak sih?" tanya yang satunya lagi.
"Gw gak tau, tapi selentingan gw dengar dia kerasukan mahluk halus di Kampus kita ini," jawab Mahasiswa A.
"Berarti Kampus kita angker dong, ih.....," sambung teman yang lainnya lagi sambil bergidik.
"Udah yuk ah jangan bahas mahluk halus. Gw takut kayak si Robby kesambet," balas Mahasiswa A.
Mereka mempercepat langkahnya menuju gerbang Kampus.
Sementara Meka dan kedua sahabatnya saling bersitatapan. Mereka berhenti sejenak dan masih dalam posisi saling menatap. Berbagai macam pikiran yang ada dalam otak mereka masing-masing.
"Mek, mereka bilang apa tadi?" tanya Deon memastikan pendengarannya.
"Si Robby kritis. Benarkah itu?" Meka juga bertanya.
"Mek, kasihan banget anak itu? Tolong bantu dia Mek!" seru Isna.
"Na, aku gak menjanjikannya, ok!" kesal Meka.
Meka meninggalkan keduanya. Dia kesal dengan Isna yang terus-terusan memintanya membantu Robby. Meka bukan orang dermawan yang setiap saat membantu orang lain di atas keselamatannya.
Saat dia berjalan ke arah ruangan Pak Zain, Meka melihat kabut hitam berada di atas atap ruangan suaminya.
"Apa yang terjadi? Apa itu?" tanya Meka dengan ngomong sendiri.
Meka mempercepat langkahnya dan sedikit berlari. Lalu dia menerobos masuk ke dalam ruangan suaminya dan melihat suaminya tergeletak di atas mejanya.
"Mas, Mas, bangun....!" teriak Meka.
"Loh Mek, Pak Zain kenapa?" tanya Deon yang ikut berlari ketika melihat Meka berlari di hadapannya.
"Gw gak tau De," jawab Meka singkat.
Lalu Meka melihat ada darah keluar dari bibir Zain. Wajahnya sedikit membiru dan tubuhnya dingin.
"A--apa yang harus aku lakukan?" tanya Meka lagi.
Lalu Meka meminta bantuan Khodamnya melalui bathinnya.
"Bagaimana ini, kenapa dia seperti ini?" tanya Meka dengan Khodamnya.
"Dia di ganggu oleh iblis yang di kirim peremouan dari keluarganya," jawab Khodamnya.
"Bagaimana ini?" tanya Meka lagi.
"Jiwanya sebagian sudah di bawa ke alam mereka. dia masih berusaha melawannya. Sehingga darah mengalir dari bibirnya," jawab Khodamnya
"Aku harus gimana ini? Terlalu banyak yang menginginkannya!" teriak Meka dalam hatinya.
"Ikutlah bersamaku ke alam ghaib. Kita akan membawanya kembali. Duduklah bermeditasi di dekat suamimu. Baringkan dia di sana," perintah Khodamnya.
Lalu Meka meminta tolong sama Deon untuk membantunya membaringkannya di sofa.
"De, tolong bantu gw untuk meletakkan pak Zain di sana, di sofa," pinta Meka.
"I--iya Mek, ayo," Deon mengikuti perintah Meka.
Isna hanya mengikuti mereka dari samping. Dia tidak bisa berbuat banyak.
"Na, De, tolong kunci pintu ruangan itu. Kalian berjagalah disini. Aku akan menjemput Pak Zain. Tolong bantu aku dengan berdoa membacakan ayat-ayat Al-Qur'an," pinta Meka lagi.
"Baik Mek, kami akan membantu Lo," balas Isna.
"Iya Mek, kami akan berjaga disini," sambung Deon.
Lalu Meka mengambil posisi di sebelah Zain. Dia mulai duduk menyilangkan kakinya.
"Meka berkonsentrasi lah, kamu akan bertemu dengan iblis-iblis yang sudah menunggumu," ucap Khodamnya.
Lalu Meka bermiditasi dan menutup matanya. Dalam sekejap jiwanya terlepas dari raganya. Sang Khodam membawanya langsung melewati portal gerbang ghaib.
Meka dan Khodamnya memasuki wilayah ghaib. Mereka berjalan menyusuri jalan yang mana banyak rumah-rumah tak berlampu.
Meka melihat kehidupan iblis-iblis itu yang ada disana. Mereka ada yang berkumpul memakan seonggok daging seperti tubuh manusia.
Meka dan Khodamnya tidak akan terlihat karena Khodamnya memberikan benteng ghaib terhadap mereka.
"Ayo Meka cari dia," ajak Khodamnya.
Meka berusaha melihat ke sekeliling mereka. Hingga dia melihat Shinta yang sedang menangis meraung-raung di sudut teras. Dia di lecehkan sama sosok iblis yang bertanduk merah.
"Terus Meka, jangan hiraukan dia!" ucap Khodamnya memberi peringatan.
Meka membuang mukanya ke depan dan tidak memperdulikan keadaan Shinta. Meka berjalan lagi. Dia melihat sahabatnya Asih yang sedang melayani iblis dengan wajah hitamnya.
"Asih....," Meka tertegun melihat sahabatnya yang sedang melayani iblis itu.
"Jangan mendekatinya Meka. Dia bukan sahabat kamu lagi, kalian sudah berbeda alam," tegas Khodamnya.
"T--tapi dia sahabatku," balas Meka sendu.
"Waktu kita tidak lama Meka. Kita harus segera ke tempat Zain. Dia berada di kurungan dan di jaga oleh beberapa iblis," ucap Khodamnya.
Meka menunduk, dan mengikuti langkah Khodamnya. Hingga mereka sampai di sebuah jalan kecil, di depannya terlihat kurungan besar, dimana ada beberapa iblis yang bertanduk merah, bertaring tajam panjang serta wajah yang menakutkan, iblis-iblis itu baru saja berpesta porah dengan memakan daging manusia.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Meka.
"Aku akan menghadapi mereka. Dan jangan menghiraukanku, gunakan liontin itu dengan memakai darahmu. Dan segera bawa lari dia, dia tidak akan mengenalmu Meka. Tapi teruslah berlari hingga melewati portal tadi. Kau akan aku berikan pagar ghaib untuk melewati semuanya," jelas Khodamnya.
"B--baik, aku mengerti."
"Ingat Meka, jangan melihat ke belakang dan berhenti menatap ke arah mereka yang kamu kenal. Jika itu terjadi maka pagar ghaib akan langsung terbuka dan semua iblis akan melihatmu dan menyerangnya, mengerti!" tegas Khodamnya.
"A--aku mengerti." balas Meka.
Lalu Meka berdo'a dan berjalan dengan kaki gemetarnya.