Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 61


"H HHeum. Dia melihat kearah mobil ini Mas. Tatapannya menakutkan, ayo kita pergi dari sini," ajak Meka yang menghindari mahluk tersebut.


i kita coba aja, mana tau enak," Meka menunjuk warung yang tidak terlalu ramai pengunjungnya.


menahan lapernya.


"Iya Mas, ayo."


Lalu Zain dan Meka keluar dari mobil dan masuk kedalam warung tersebut. Di dalam warung, hanya ada beberapa pengunjung. Hingga masih ada meja yang kosong.


"Kamu kenapa sayang. Kenapa dia ngomong seperti itu ya?" tanya Zain.


"Apa dia bisa melihat khodam yang mengikutiku ya," gumam Meka sambil menatap sosok Harimau Putih yang berada disamping Meka.


"Ya dia bisa melihatku Meka. Dia memiliki ilmu bathin. Dia sama sepertimu. Tapi dia mantan dukun sakti yang mencoba hidup seperti orang lain," bisik Khodamnya.


"Pantes dia melihat terus kearah ku! Apa dia mengerti dengan aku yang memiliki khodam?" bathin Meka berbicara sama Khodamnya.


"Dia tau Meka. Tapi dia tidak mengetahui kalau kamu memiliki liontin merah yang sangat besar kekuatannya," balas Khodamnya melalui bathin.


"Mas, kamu kenapa lihatin aku seperti itu?" tanya Meka saat melihat suaminya memperhatikannya.


"Iya soalnya, dari tadi aku lihat kamu seperti sedang berbicara sendiri. Kamu kayak orang komat kamit sayang," balas Zain.


"Oh iya itu Mas, aku tadi sedang bicara sama Khodam yang berada disampingku," ucap Meka yang sedikit canggung sama Zain kalau sudah berbicara Khodam.


"Oh....." jawab Zain singkat. Dia tidak mau membuat Meka merasa tak enak hati saat ditanyakan tentang Khodamnya.


Tak berapa lama, pesanan mereka datang. Pelayan tua itu mengantarkan pesanan mereka.


"Ini Mas dan Mbak, soto ayamnya. Silahkan dinikmati," ucap pelayan tua tersebut.


"Terima kasih Mbok," jawab Zain dengan senyum ramahnya.


"Mbak nya hebat ya bisa memiliki mahluk besar seperti disampingnya," tunjuk pelayan tua itu.


Meka hanya tersenyum membalasnya. Dia tidak ingin berurusan dengan banyak orang.


"Mbak, hati-hati, banyak yang akan mengincarmu saat mereka mengetahui keberadaanmu," pesan pelayan tua itu. Lalu dia meninggalkan meja mereka.


Meka menatap kepergian pelayan tua itu. Lalu dia menoleh kearah suaminya.


"Sudah sayang, ayo kita sarapan dulu. Jangan biarkan hal yang tak nyaman membuat selera makan kita hilang," ucap Zain yang mengingatkan Meka.


Lalu Meka dan Zain menikmati soto ayam yang masih hangat. Meka melupakan sesaat ucapan pelayan tua itu. Dia memilih menikmati sarapan paginya bersama suaminya.


Setelah selesai makan, Zain membayar makanan mereka dikasir.


"Mas, kamu harus hati-hati dengan seseorang yang berada didekatmu. Karena dia sedang mengincar istrimu," pesan pelayan tua itu yang mengetahui tentang Dosen perempuan yang menyukai Zain.


Zain hanya mengangguk dan tersenyum ramah ke pelayan tua itu. Lalu dia menghampiri Meka dan mengajaknya pergi dari tempat itu.


Zain pun kembali melajukan mobilnya kearah kontrakan Meka.


"Kamu tidak menghubungi Asih dulu sayang? Sapa tau dia gak di kontrakan," ucap Zain.


"Nggak Mas, biarin aja. Kalau dia tidak ada, aku mau beres-beres barang-barangku buat dipindahin ke Apartemenmu," balas Meka.


"Oh ya sudah kalau gitu."


Zain terus melajukan mobilnya. Ternyata jalanan tidak terlalu padat dan ramai, sehingga tidak macet. Akhirnya mereka sampai di depan kontrakan Meka.


Meka menatap sendu kontrakan tersebut. dia teringat saat bersama Mamanya didalam kontrakan.


"Rasanya aku gak kuat Mas berjalan memasuki kontrakan itu," ucap Meka yang terus menatap kearah kontrakan.


"Iya aku tau sayang. Kamu pasti teringat sama Mama ya. Terus gimana, apa kita lanjut ke Kampus?" tanya Zain.


"Kamu temani aku dulu ya ke dalam. Nanti kalau memang Asih tidak ada dikamarnya, kita gak usah lama-lama disana. Aku gak mau sedih berlarut-larut," ucap Meka yang tiba-tiba merasakan sedih lagi.


"Iya sayang, ayo keluar."


Mereka keluar dari mobil dan masuk kedalam kontrakan. Kebetulan rumah itu sepi, karena Mahasiswi disana sudah berangkat kuliah.


Saat Meka hendak melangkah ke kamar Asih, dia merasakan hawa yang tidak nyaman yang berasal dari kamar Asih. Lalu dia mengetuk pintu kamar Asih. Namun tak ada sahutan. Kemudian dia mencoba mengetuk lagi. Lalu pintu kamarnya terbuka dan terlihat sosok Asih yang pucat dan semakin kurus.


"Asih.....! Aku kangen banget sama kamu!" teriak Meka yang langsung memeluk sahabatnya.


"Meka.....! Kamu kemana aja sih!" balas Asih sambil memeluk Meka juga.


"Kamu sama siapa kesini?" tanya Asih.


"Aku sama Dosgaku Sih. Kamu ndak kuliah loh?" tanya Meka yang heran melihat kamar Asih berantakan.


Meka menelisik sekitar ruangan kamar Asih. Dia terkejut melihat sosok laki-laki yang sedang duduk disamping tempat tidur Asih. Sosok itu menatap Meka dengan tajam. Dan Meka membalasnya dengan tatapan tajam juga.