Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 249


"Gimana Pa, apa yang terjadi dengan pembantu itu?" tanya Zain saat menghampiri orang tuanya.


"Papa juga gak tau Zain. Di dalam sedang ada Ustadz dari mesjid dekat rumah kita bersama beberapa yang lainnya," jawab Papanya.


"Pa, kami berangkat dulu ya. Maaf kalau Zain gak bisa menemani Papa di sini. Zain harus pergi Pa, karena tidak baik buat Meka kalau di sini lebih lama," ucap Zain dengan rasa tak enak.


"Ya sudah nak kalian berangkatlah. Mama juga khawatir kalau Meka di sini. Mama saja takut melihat pembantu itu. Mama gak tau kenapa ada kejadian mengerikan seperti itu," ungkap Mamanya yang masih ketakutan.


"Sabar Bu, mudah-mudahan Ustadz bisa memulihkannya. Tapi sepertinya perrmpuan itu tidak akan bisa selamat Bu," ungkap istri Ustadz yang bernama Badrul.


Kemudian Papanya Meka dan yang lainnya pun menghampiri orang tua Zain dan istri Ustadz Badrul.


"Zain, lebih baik kita menunggu sebentar di sini. Kasihan Papa dan Mama kamu yang sedang menghadapi situasi ini," ucap Papanya Meka sambil memegang pundak Zain.


Saat ini Papanya Meka berpikir ulang untuk pergi secepat mungkin dari rumah ini. Dia penasaran dengan apa yang terjadi terhadap pembantu perempuan itu.


"Apa ini ada hubungannya dengan bayangan hitam yang aku lihat kemaren? Ada apa dengan rumah ini?" bathin Papanya Meka sambil tatapannya mengarah ke kamar pembantu itu.


"T--tapi Pa," Zain ingin protes tapi langsung di balas sama mertuanya.


"Zain, bawa Meka duduk di sofa sana. Nanti Papa akan jelaskan ke kamu," ucap mertuanya.


Zain pun menuruti ucapan mertuanya. Dia membawa Meka duduk di sofa bersama Sandy dan Istrinya.


"Pak besan, saya mau melihat ke dalam sana. Apa Pak besan ingin ikut melihatnya?" tanya Papanya Meka.


Lalu Papanya Zain menoleh ke arah istrinya. Dia meminta pendapat istrinya.


"Iya Pa, coba lihat ke sana. Kami akan menunggu di sini bersama istri Ustadz Badrul," ucap istrinya.


"Ayo Mas, kita lihat ke sana," ajak Papanya Zain.


Keduanya meninggalkan mereka yang sedang menunggu dengan ketegangan.


Sementara di dalam kamar pembantu itu, Ustadz yang mencoba menanganinya, terkejut melihat keadaan Nina.


"Astaghfirullahal'adzim...!" seru Ustad itu.


"Ya Allah...," ucap yang lainnya.


"Astaghfirullah....!" ucap yang lainnya juga.


Mereka semua yang datang ke kamar itu terkejut melihat Nina dengan wajah ketakutan dan mulutnya terbuka lebar, dan matanya melotot menatap ke atas langit kamar.


"Kami akan mencoba membuatnya pergi dengan tenang Pak," jawab Ustadz itu.


Lalu Papanya Meka melihat sekeliling, karena dia bisa merasakan kehadiran mahluk ghaib yang sangat jahat. Hingga matanya menangkap sosok iblis yang berdiri di pojok kamar Nina.


Iblis itu juga menatap tajam ke arah Papanya Meka. Iblis itu melihat bahwa Papanya Meka bukan orang sembarangan. Lalu iblis itu memilih menghilang menghindari tatapan tajam Papanya Meka.


"Kenapa ada iblis di sini? Siapa yang bersekutu dengannya?" lagi-lagi bathinnya Papa Meka bertanya-tanya.


"Ayo Pak, kita bacakan ayat suci Al-Qur'an, agar perempuan ini terlepas dari jerat mahluk ghaib," ucap Ustadz Badrul.


Lalu mereka mengelilingi tubuh Nina dan mulai membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. Saat mereka membaca, tubuh Nina bergetar hebat, Ustadz Badrul memegang keningnya dan yang lainnya memegang ujung kaki Nina. Tubuh Nina terus bergetar hebat, matanya terus melotot hingga hampir keluar dari tempatnya.


"Akhhhhh," Nina kesakitan dan dari sudut matanya keluar darah dan dari sudut bibirnya pun mengeluarkan darah.


Tubuh Nina masih terus bergetar hingga lama kelamaan kulitnya berubah menjadi hitam dan diapun menghembuskan nafasnya terakhir dengan mata melotot menahan sakit serta mulut yang terbuka lebar hampir koyak karena kesakitan.


"Innalillahi wainnailaihi raji'un," ucap Ustadz Badrul sambil menutup mata Nina.


"Semoga Allah menerimanya dan dia tenang berada di sisi Allah SWT, aamiin," ucap teman Ustadz Badrul yang bisa melihat mahluk ghaib.


"Kasihan sekali perempuan itu. Dia menjadi tumbal seseorang," ungkap Ustadz Badrul.


"Apa Ustadz, tumbal?" tanya Papanya Zain.


"Iya Pak, sepertinya dia sengaja di bunuh dan dijadikan tumbal seseorang," jawab Ustadz Badrul. "Kalau boleh tau dari mana dia datang Pak?" tanya Ustadz Badrul yang memang ingin mengetahui asal usul Nina.


"Saya tidak tau Ustadz, tapi adik ipar saya yang membawanya ke sini untuk membantu acara kemaren menantu saya," jelas Papanya Zain.


"Lebih baik kita menghubungi keluarganya, dan membawanya ke tempat keluarganya agar cepat di makamkan. Bapak bisa meminta ipar anda memberikan alamat keluarga perempuan ini," ucap Ustadz Badrul.


"Baik Ustadz, kalau begitu saya akan memanggil ipar saya. Tunggu sebentar Ustdaz," balas Papanya Zain.


Papanya Zian pergi menemui iparnya Yanga sedang berada di dalam kamar Mamanya.


"Mona mana Mama kamu?" tanya Papanya Zain saat sudah berada di kamar mereka.


"Eh Om, Mama lagi di alamat mandi, sakit perut," jawab Mona. "Kenapa ya Om?" tanya Mona yang berpura-pura tidak mengetahui keadaan di luar sana.


"Om mau nanya tentang keluarga si Nina. Dia sudah meninggal dunia. Dan kita harus memulangkannya ke keluarganya," ucap Omnya.