Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 97


Saat ini Meka baru menyadari bahwa suami tampannya ini sangat berbahaya. Banyak wanita yang menginginkannya hingga menggunakan berbagai macam cara untuk mendapatkannya.


"Mas, banyak sekali wanita yang menginginkanmu, sampai Bu Arin tidak suka jika aku lama-lama berada di dalam ruangannya," jawab Meka.


"Apakah dia berkata kalau dia melarangmu di ruanganku lama-lama?" tanya Zain lagi.


"Iya Mas, dia bilang tidak boleh lama-lama diruangan Dosen."


"Kamu jawab apa saat Bu Arin ngomong seperti itu?"


"Ya, aku jawab, kenapa Bu Arin mempertanyakan hal seperti itu? Dan Bu Arin tidak berhak bertanya seperti itu, aku bilang begitu Mas," jawab Meka dengan kesal.


"Jadi Mas harus gimana? Apa harus berdiam diri di Apartement sayang?"


"Bukan gitu sih Mas. Aku takut kehilanganmu Mas."


"Jangan menjadi parno begitu. Mas gak akan berpaling. Oh ya, untuk tour sudah disepakati berangkat jam dua siang setelah Dzuhur dan makan siang," Zain memberikan info tentang jadwal keberangkatan tour.


Meka masih memasang wajah cemberutnya dihadapan suaminya.


"Kok masih cemberut? Atau Mas umumkan aja ya tentang status kita yang sudah menikah? Dan kita buat acara resepsinya biar kita undang beberapa pihak Kampus dan teman-teman kamu, gimana?" tanya Zain yang memberikan masukannya.


"Menurut Mas gimana?"


"Ya Mas maunya mengumumkan status kita terhadap mereka. Supaya mereka tidak mencibir kamu dan menganggap kamu wanita penggoda."


Meka menatap tajam suaminya. Tak suka mendengar kata penggoda.


"Enak aja bilang aku penggoda. Dari dulu juga aku gak pernah godain kamu. Kamunya aja yang ngejar aku," Meka semakin sewot.


Zain menarik Meka kedalaman dekapannya dan mencium keningnya dengan kelembutan.


"Sapa suruh kamu itu jadi perempuan yang menarik. Sampai Mas terpesona denganmu. Kamu lain dari pada yang lain, makanya Mas ngejar-ngejar kamu. Tapi kamu suka kan sayang, Mas kejar?" goda Zain sambil menoel dagu Meka.


"Ihhhh Mas apaan sih," Meka malu-malu tapi suka.


"Bentar lagi kamu masuk jam kuliah berikutnya kan sayang?"


"Iya Mas, ya udah aku ke kelas dulu ya Mas. Nanti setelah selesai kuliah, aku kemari."


"Iya, Mas juga mau keruangan Rektor, ada yang mau dibicarakan dengan beliau," ucap Zain memberitahukan ke Meka supaya Meka tidak mencarinya jika tidak ada diruangannya.


"Iya Mas, kalau kamu belom selesai urusannya, aku akan menunggu disini aja," balas Meka.


"Ya udah kamu belajar yang benar, sebentar lagi ujian semester. Mas harap kamu bisa fokus belajar."


"Iya Mas, aku ke kelas dulu ya Mas," Meka mencium pipi suaminya. Lalu beranjak dari sofa.


Namun Zain menarik tangan Meka dan duduk diatas pangkuannya. Zain langsung memeluk pinggang Meka yang pas ditangannya lalu mendekatkan wajahnya dan melum** bibir manis Meka. Meka yang sudah merindukan ciuman hangat suaminya, langsung membalasnya.


Hingga beberapa menit pagutan mereka pun terlepas. Zain mengusap lembut bibir Meka yang sangat manis dirasakannya.


"Kamu nakal banget sih Mas. Aku mau masuk kelas, kamu buat aku jadi kepengen aja Mas," ucap Meka tanpa ada rasa malu lagi.


"Nanti malam kita lakukan lagi. Sekarang kita jalani dulu aktivitas kita ya sayang," Zain mengusap lembut rambut Meka.


"Iya Mas, Meka mencium kembali pipi suaminya. Lalu dia berdiri dari pangkuan Zain.


Meka pergi meninggalkan ruangan Zain dan berjalan kearah kelasnya kembali.


Sepasang mata menatap tajam kearah Meka yang baru saja keluar dari ruangan Dosen. Bu Arin terus memantau Meka yang berjalan semakin jauh dari ruangan Dosen.


"Aku ingin segera menghancurkan pengganggu itu! Rasanya sudah tidak sabar menunggu hari esok. Kamu akan menerima akibatnya anak kecil jika melawanku dan menantangku. Aku harus mendapatkannya, walaupun harus membayarnya dengan banyak nyawa, hahahaha," gumam Bu Arin yang tertawa mengerikan dengan seringai jahatnya.


Saat Meka masuk ke dalam kelasnya, dia melihat Shinta yang ternyata menatapnya dengan tajam dan penuh kebencian.


Meka terus berjalan kearah mejanya. Dia tidak menghiraukan tatapan sinis dari Shinta. Karena baginya Shinta bukan lagi sahabatnya yang dulu. Dia sudah berubah dan menjadi iblis yang menakutkan.


"Meka, Isna dan Deon tidak masuk ya hari ini?" tanya salah satu Mahasiswa yang berada dibelakang bangkunya.


Meka menoleh kebelakang dan melihat kearah Mahasiswa itu.


"Oh...pantes, sepi banget. Biasanya kan rame kalau ada Deon di dalam kelas," balas Sandy lagi.


"Hehehe iya."


Mereka tidak mengetahui kalau Deon sudah tidak seperti dulu. Dia sudah menjadi sosok laki-laki yang ganteng dan gagah. Dan berita hotnya, Deon dan Isna sudah menjadi sepasang kekasih. Teman-teman mereka tidak ada yang mengetahuinya.


Kemudian Dosen masuk ke dalam ruangan itu. Dan pelajaran pun dimulai.


Di tempat lain, Deon dan Isna sedang dalam perjalanan dari Semarang ke Jogja. Mereka sudah berangkat dari tadi pagi.


"Na, makasih ya udah perhatian sama Mama aku. Aku senang melihat kalian dekat. Jadi pengen cepat-cepat halalin kamu," ucap Deon dengan tulus.


"Aku senang melakukannya De, semoga Mama kamu bisa terhindar dari iblis itu lagi ya. Dan kita juga terhindar dari godaan syaiton ataupun mahluk ghaib lainnya."


"Iya sayang, sebentar lagi kita akan sampai di Jogja. Meka menyuruh kita bertemu di cafe Phuket. Coba kamu kirim pesan ke Meka, sayang," Deon menyuruh Isna mengabari Meka.


"Oh iya, aku lupa De ngasih khabar Meka, kalau kita sudah berangkat. Aku kirim pesan dulu ya ke Meka!" ucap Isna yang pelupa.


Isna mengambil ponselnya dan mulai mengetik pesan dan mengirimnya ke Meka.


"Sudah dikhabarin kan ke Meka?" tanya Deon yang masih fokus menyetir.


"Sudah De, tapi belom ada balasan," jawab Isna.


"Ya sudah gak apa, kita tunggu aja balasannya. Yang penting sudah kita khabari Meka," balas Deon.


"Iya Deon."


Deon terus melajukan mobilnya ke arah cafe yang sudah dijanjikan dengan Meka.


Kembali ke Kampus, dimana Meka sudah menyelesaikan kuliahnya yang terakhir. Meka berjalan menyusuri setiap ruangan. Hingga dia sampai diruangan suaminya. Meka masuk tanpa mengetuk pintunya. Ternyata Zain belom kembali dari pertemuannya dengan Rektor.


Meka menunggu Zain di dalam ruangan itu sendirian. Dia duduk di sofa hingga tertidur. Dalam tidurnya, Meka bermimpi, dia sedang berada di Apartement mereka.


Tiba-tiba Meka mendengar suara bel berbunyi. Meka merasa heran, siapa yang datang? Dia mencari keberadaan suaminya namun tidak menemukannya.


"Bukannya gw tadi di kampus nungguin Mas Zain? Kenapa sekarang di sini?" gumam Meka.


Lalu terdengar lagi suara bel, Meka berjalan kearah pintu dan mencoba membuka sedikit pintunya. Dia terkejut melihat suaminya yang datang dan berdiri dihadapannya. Ketika Meka hendak melangkah keluar dari pintu dimana, garis pagar ghaib dipasang oleh Khodamnya, tiba-tiba Meka ditarik masuk ke dalam dan dia jatuh ke belakang.


"Awww siapa yang menarikku!" pekik Meka.


Meka melihat Khodamnya yang berbentuk Harimau sudah berada disampingnya. Lalu dia melihat Zain yang masih berdiri di depan pintu dengan mata yang menyala merah.


"Kenapa kamu muncul? Dan apa yang kamu lakukan? Aku mau mengajak suamiku masuk ke dalam!" teriak Meka.


"Dia bukan suamimu. Dia jelmaan genduruwo yang merubah sosoknya menjadi suamimu. Dan jangan lihat matanya!" teriak Khodamnya.


Lalu sosok yang tadi menjadi suaminya berubah menjadi genduruwo yang sangat menyeramkan.


"Arrrrgggg, jangan halangiiii!" teriak genduruwo itu.


"Enyahlah dari sini dan kembali ke asalmu. Jangan ganggu dia."


"Arrrrgggg disaat miiiliikuuu!" teriak genduruwo itu.


"Dia bukan milikmu, milikmu adalah orang yang memujamu. Bawalah dia yang sudah memujamu," ucap Khodam itu.


"Arrrrgggg akuuuu maaauuu diaaaaa!" teriak genduruwo itu.


"Kalau kau tidak mau enyah, maka aku akan memusnahkanmu hingga tak bisa kembali lagi," ucap Khodam yang masih berdiri di hadapannya.


Meka bersembunyi dibalik tubuh Khodamnya yang besar, hingga tak terlihat.


"Arrrrgggg, jangaaaan. Akuuuu akaan pergiii!" teriak genduruwo itu.


Akhirnya genduruwo itu pergi meninggalkan tempat itu. Makhluk ghaib itu tidak bisa menggapai Meka karena ada penjaganya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menjadikan Shinta pemuas nafsunya dan menjadikannya tumbalnya.