Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 113


Hai pembaca setia karyaku...Makasih sudah mengikuti terus cerita penuh drama.


Penulis sangat senang jika pembaca karyaku ini merasa senang dengan kisah Meka. Walaupun diawal penulisan ceritanya rada-rada keliru, baik itu penyebutan nama ataupun yang lainnya, penulis tetap berusaha memperbaiki dan memberikan yang terbaik.


Sebagai penulis pemula, banyak kesalahan yang dibuat. Namun penulis berusaha belajar untuk lebih baik.


Untuk mendukung karya ini jangan lupa beri semangat penulis dengan memberikan LIKE, VOTE, HADIAH DAN KOMENNYA YA....


Silahkan dibaca teyussss....😘


____________________________________________


Meka masih curiga dengan cerita yang di dengarnya. Lalu Meka mendengar bisikan bathinnya.


"Meka pergilah dari sini. Dia bukan anak gadis dari kembang Desa bersama suaminya. Tapi dia anak dari dukun Ki Baron bersama mayat hidup kembang Desa itu. Jauhi dia, dia sedang mencari tumbal buat jasad Ibunya yang ingin mereka bangkitkan kembali.


Meka terkejut dan menatap ganas kearah wanita itu. Lalu Meka mengirim pesan kepada Zain dan yang lainnya supaya tidak kelihatan kalau dia sudah mengetahui identitas wanita di hadapan mereka.


Zain, Isna dan Deon segera membaca pesan dari Meka. Mereka pun terkejut membaca pesan Meka.


"Isna dan Deon, ayo kita pergi dari sini. Karena wanita yang dihadapan kita ini bukan manusia normal. Dia setengah iblis dan manusia. Dia anak dari dukun Ki Baron. Saat ini dia bertugas mencari tumbal untuk jasad Ibunya di hutan itu. Bersikaplah biasa saja dan jangan memandanginya," isi pesan Meka terhadap Isna dan Deon.


Sedangkan isi pesan Meka untuk suaminya berbunyi,


"Mas ayo pergi dari sini. Wanita ini berbohong, dia anak dari dukun Ki Baron yang sengaja keluar dari Desa untuk mencari tumbal untuk jasad Ibunya yang berada di hutan. Dan dia setengah iblis dan manusia. Jangan perlihatkan keterkejutan Mas, coba biasa saja biar tidak ketahuan kalau kita mengetahui identitasnya," begitulah isi pesannya terhadap Zain.


Meka berpura-pura menghubungi seseorang agar wanita itu tidak curiga kalau dia tadi mengirim pesan.


"Kamu menghubungi siapa sayang?" tanya Zain yang mengerti akting Meka.


"Ini Pak, saya menghubungi Om saya. Katanya mau jemput kemari. Apa sudah datang ya?" Meka memberikan kodenya kepada suaminya.


Zain yang mengerti kode dari Meka, langsung berdiri dan mengecek mobil temannya yang akan dipinjamnya.


"Bapak itu kemana Mek?" tanya Isna yang ikut berakting.


"Dia ngelihat mobil Om gw yang mau jemput," jawab Meka.


"Kalian mau kemana rupanya?" tanya wanita itu sedikit curiga.


"Kami mau ke Klaten Mbak," jawab Meka tersenyum.


"Bukannya tadi kalian cerita tentang Desa itu dan mau kesana? Kalau tidak keberatan kita bisa bareng kesana," ucap wanita itu menyudutkan Meka.


"Oh itu, tadi itu cerita teman-teman kita Mbak. Kami hanya mendengar cerita dari teman-teman kuliah aja kok Mbak," balas Meka.


Lalu Zain datang dari depan hotel dan menghampiri Meka.


"Ayo, itu mobil Om kamu sudah ada di depan. Ayo balik, kalian mau kuliah kan?" tanya Zain yang masih berpura-pura.


"Iya Pak," jawab ketiganya serentak.


"Mbak maaf ya, kami harus balik ke Klaten. Seneng bisa bertemu dengan Mbaknya," ucap Meka basa basi.


"Oh iya silahkan Mbak. Saya juga masih nungguin teman saya disini," balas wanita itu.


Mereka berempat pergi meninggalkan hotel itu segera. Lalu mereka masuk ke dalam mobil milik teman Pak Zain yang sengaja di pinjamnya.


"Pak, mobil siapa ini?" tanya Deon yang sudah masuk ke dalam mobil.


"Ini saya pinjem punya teman yang rumahnya di daerah sini juga. Karena kalau pakai mobil online gak akan ada yang mau masuk ke Desa itu. Jadi saya pinjem aja mobilnya biar mempermudah kita bergerak," jelas Zain.


"Oh....," jawab Deon.


"Eh Mek, itu tadi benaran anak Ki Baron ya? Kok bisa kembang Desa itu punya anak sama Ki Baron?" tanya Isna penasaran.


"Gadis kembang Desa itu bukan lagi dirinya. Melainkan iblis yang menempati jasadnya. Jadi anak itu bagian dari iblis dan manusia. Gw gak mau berurusan dengannya," jawab Meka.


"Tidak, karena gw dipagari sama Khodam gw. Sehingga tidak ada yang bisa melihat kelebihan gw dan keberadaan Khodam gw.


"Pantes dia tidak takut lihat Lo. Tapi dari tadi dia mandangin Lo mulu Mek!" seru Deon.


"Iya Mek, kayaknya dia tau Mek kalau Lo punya kelebihan," sambung Isna.


"Biarkanlah. Sekarang kita harus menyelamatkan yang lainnya dan membawa mereka keluar dari Desa itu," ucap Meka.


Zain terus melajukan mobilnya sampai tiba di depan pintu masuk hutan yang menuju Desa tua.


"Ayo baca Bismillahirrahmanirrahim dulu dan banyaklah berdo'a. Jangan melihat ke arah kiri, karena disitu lah tempat jasadnya di hidupkan," terang Meka.


"Iya Mek, gw gak akan noleh sana sini deh," celetuk Deon.


"Sama Mek, gw gak berani lirik sana sini. Atuuuut gw Mek!" sambung Isna.


"Mas, ayo kita masuk. Apapun yang terjadi jangan pernah keluar dari mobil ini ya," pinta Meka memperingatin mereka.


"Iya Mek."


Lalu Zain mulai memasuki hutan angker itu dengan kecepatan sedikit kencang, dia fokus dengan melihat jalanan didepannya.


Meka menatap ke depan dan terus menjaga pandangan Zain. Banyak mahluk ghaib yang mencoba mendekati mobil itu. Namun semuanya terpental karena pagar ghaib yang dibuat Khodam Meka.


Hingga sebuah bola api meleset kearah mobil yang ditumpangi Meka. Namun lagi-lagi justru bola api itu kembali ke asalnya.


"Meka, Ki Baron sudah mengetahui tentang dirimu, tapi tetaplah tidak tau apa-apa. Saat ini dia mengincar dirimu karena dirimu spesial buatnya dan iblis yang disembahnya," ucap Khodamnya Meka.


"Hah, sudah aku duga ini akan terjadi juga. Aku harus gimana? Apakah harus melawannya atau menganggap masa bodo' dengan kejadian yang menimpa rombongan disana?" tanya Meka melalui bathinnya.


"Jika kamu ingin melakukan kebaikan, maka musnahkan jasad gadis kembang Desa itu. Kamu bisa memusnahkannya dengan menggunakan kalung liontin bulan sabit itu. Tusuk jantungnya dengan menggunakan liontin itu. Liontin itu akan berubah tajam seperti belati. Tapi itu tidak mudah. Karena banyak mahluk ghaib yang menjaga tubuh itu," jelas Khodamnya.


"Sepertinya aku tidak mau berurusan dengan hal seperti itu. Sangat membahayakan buat diriku sendiri dan yang lainnya," Meka masih berbicara menggunakan bathinnya.


"Lihatlah disebelah kiri Meka. Mahluk ghaib itu sedang berpesta porah memakan daging-daging manusia milik teman-temanmu. Dan berhati-hatilah dengan Dosen wanita itu, dia sudah bukan Dosenmu lagi. Dia sudah menjadi bagian dari Iblis yang disembahnya. Nenek tua yang selalu berada di dekatnya itu adalah jelmaan Iblis yang juga disembah Ki Baron. Dosenmu sengaja mengajak kalian ke Desa itu untuk menumbalkan kalian dan dirimu," jelas Khodamnya.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku dari awal? Kenapa harus kejadian, baru kamu memberitahuku?" tanya Meka kesal.


"Tidak semua harus aku ketahui Meka. Tapi dari semua hal bahaya, aku bisa melindungimu dan menjagamu," jawab Khodamnya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Meka lagi.


"Berpura-pura lah tidak mengetahui keadaan yang terjadi. Hingga kamu nanti akan mengetahui kebenarannya," jawab Khodam itu.


Meka masih terus menatap ke depan jalanan. Dia terus memikirkan semuanya. Rasa lelah melanda dirinya. Tapi dia harus terus menjalani semua ini.


"Mas, kita udah mau sampai. Gimana kalau kita langsung ke rumah Kepala Desa, setelah itu kita ke rumah itu," ucap Meka.


"Loh Mek, kenapa kita gak langsung aja ke rumah itu? Kenapa harus kerumah Kepala Desa Mek?" tanya Isna dari belakang.


"Gak tau nih, gw pengen aja kerumah Kepala Desa dulu," jawab Meka.


Zain terus melajukan mobilnya ke arah rumah Kepala Desa. Rumahnya tak terlalu jauh jauh rumah tempat rombongan menginap.


"Mas, kita sebaiknya bertanya ke salah satu penduduk disini, karena aku gak tau dimana rumahnya," ucap Meka


"Mek, kenapa sepi banget ya Desa ini? Rumah-rumah disini sudah pada runtuh. Kemana semua penghuninya ya?" tanya Deon.


"Iya Mek, kok serem banget ya. Desanya hanya ada beberapa rumah saja yang masih bagus dilewati," ucap Isna


"Iya Desa ini sepi banget, hanya ada beberapa rumah yang kita lewati. Dan semua penghuninya sudah separuh baya dan ada juga yang sudah tua renta," balas Meka yang menatap heran.


"Mas coba berhentikan mobil ini dan kita tanya Nenek tua itu," ucap Meka yang meminta Zain berhenti.


Mobil pun berhenti di pinggiran pagar kayu rumah itu. Lalu Meka turun dari mobil bersama ketiganya.