Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 141


Malam pun semakin larut. Meka duduk berdua dengan Zain di atas tempat tidur mereka.


"Sayang, apa yang terjadi sebenarnya tadi?" tanya Zain yang masih penasaran.


"Mas, Aku kok ngerasa seperti jadi pembunuh ya. Setiap orang yang menyukaimu, pasti akan berakhir tragis," ucap Meka.


"Jangan ngomong seperti itu sayang. Itu udah resiko mereka yang berjalan di jalan yang gak benar. Kamu tidak salah, toh kamu wes bilang dan memperingati mereka untuk berubah dan tidak melakukannya. Namun mereka tetap pada ambisinya. Jadi jangan menyalahkan diri kamu sendiri ya," balas Zain yang berusaha menetralkan pikiran Meka.


"Tapi Mas, mereka melakukan itu karena aku memilikimu," protes Meka.


"Sayang, mau kamu memiliki Mas atau tidak, mereka tetap akan melakukannya. Dan itu tidak ada hubungannya. Kebetulan kamu memiliki kelebihan sehingga bisa menghalau keinginan mereka," jelas Zain.


"Kasihan Bu Arin ya Mas," ucap Meka.


"Kenapa dengan dia? Kamu belum menjelaskannya tadi sama Mas. Mas pengen tau kejadiannya," pinta Zain.


"Tadi, setelah kita kembali dari luar, kamu langsung tertidur Mas. Sedangkan aku langsung masuk kamar mandi. Setelah aku selesai, aku lihat kamu tertidur di sofa. Ya, aku biarin kamu. Aku nungguin kamu, tapi kok gak bangun juga, bahkan sangat lelap. Hingga akhirnya, aku memegang tangan kamu dan berkonsentrasi. Ternyata kamu sedang berada di alam mimpi dunia ghaib. Aku melihat kamu bersama Bu Arin. Jujur aku terkejut Mas, dan tiba-tiba Khodamku datang dan memberitahuku bahwa Mas sedang ditipu penglihatan. Mas melihat Bu Arin sebagai aku. Hingga kalian hampir melakukan hubungan Mas. Syukurnya semua itu dihentikan olehku," jelas Meka.


"Jadi maksud kamu, Mas berada di dunia lain gitu?" tanya Zain tak percaya.


"Iya Mas. Bu Arin bersekutu dengan iblis untuk membawa jiwa kamu ke dunia lain. Kalian akan tinggal selamanya di dalam dunia itu. Dan itu artinya kalian meninggal di dunia nyata," ungkap Meka.


"Astaghfirullahal'adzim sayang..! Sebegitunya wanita itu menginginkan Mas. Dia sudah dibutakan oleh ambisinya. Terus bagaimana dengan dia?" tanya Zain.


"Bu Arin sudah meninggal Mas. Karena jiwanya terperangkap selamanya di dunia itu. Dia tidak berhasil membawa jiwamu. Dia tidak akan bisa kembali Mas, karena itu sudah kemauan dia untuk masuk ke dunia lain," jawab Meka.


"Itu artinya, besok akan ada informasi tentang wanita itu?" tanya Zain lagi.


"Iya Mas, kita tunggu aja besok khabarnya," jawab Meka.


"Sayang maaf ya, karena membuat kamu banyak terlibat dengan hal seperti itu. Atau Mas rubah aja kali ya wajah tampan Mas ini?" canda Zain.


"Ihhhh Mas, masa gara-gara itu, kamu merubah wajah Mas," balas Meka gak terima.


"Habis Mas mu ini tampan banget, sampai banyak wanita yang mengejar Mas," canda Zain lagi.


"Percaya diri banget kamu Mas."


"Oh ya, Deon dan Isna belum kembali. Apa mereka langsung tinggal dikost barunya ya?" tanya Zain.


"Coba deh aku kirim pesan. Gak mungkin mereka langsung tinggal dikost barunya Mas," jawab Meka.


"Ya sudah, coba kamu kirim pesan sayang."


Lalu Meka mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke Isna.


"Na, kalian dimana? Apakah kalian langsung menginap dikost baru kalian?" Meka mengirim pesan ke Isna.


Meka menunggu balasan pesan dari Isna. Tapi hingga setengah jam tak ada balasan. Lalu terdengar suara pintu Apartemen di buka. Ternyata Isna dan Deon kembali. Meka segera keluar dari dalam kamarnya melihat Deon dan Isna pulang.


"Na, Deon, gimana, apakah sudah dapat kostannya?" tanya Meka saat melihat kedua sahabatnya.


"Sorry Mek, ponsel gw lowbet pas mau bales. Deon juga ponselnya udah gak aktif, makanya kami langsung balik. Biar kamu gak khawatir," ucap Isna.


"Oh...iya, gw khawatir sama kalian karena gak ada khabarnya."


"Sorry ya Mek," balas Deon.


"Gimana dengan kostannya? Udah dapet belum?" tanya Meka lagi.


"Udah Mek, tadi kita langsung bayar uang kostannya. Mungkin besok gw dan Deon udah langsung pindah ke kostan baru." jawab Isna.


"Oh... Kalian sudah makan malam belom?" tanya Meka.


"Sudah Mek, tadi kami singgah dulu di cafe buat ngisi perut," jawab Deon.


"Lo kayak gak tau aja Deon, cacingnya sering gak bisa diajak kompromi," ledek Isna.


"Ihhhh Lo Na. Emang cacing Lo gak meronta ingin dimanja?" balas Deon yang gak mau ngalah.


"Hahaha, dimanja apaan Deon...! Kayak kucing aja dimanjain."


"Udah ah, aku mau mandi duluan. Lo nunggu di sofa dulu," suruh Deon.


"Iya buruan ya," balas Isna.


"Ya udah kalau gitu, istirahatlah Na. Besok gw bantu ya buat pindahan. Sekalian gw juga pengen tau dimana kostan kalian."


"Eh Mek, wajah Lo kenapa tuh kok pucat gitu?" tanya Isna sambil membolak-balikkan wajah Meka.


"Ihhhh Isna, apaan sih. Wajah gw baik-baik aja," balas Meka kesal karena diperlakukan begitu.


"Lo harus jujur, ada apa Meka.....?!" tanya Isna.


Meka membuang nafas kasarnya. Dia menatap Isna dalam.


"Ayo kita duduk di sofa," ajak Meka.


Isna menuruti kemauan Meka. Mereka duduk di sofa berdua.


"Ada apa sih Mek?!" Isna semakin penasaran dibuat Meka.


"Na, besok kita akan mendapatkan khabar buruk di Kampus," ungkap Meka.


"Hah.., khabar buruk gimana Mek?" tanya Isna mengerutkan keningbya.


"Iya ini tentang Bu Arin."


"Ada apa lagi dengan dia Mek? Kayaknya tuh Dosen gila banget ya pengen dapetin Dosga kita. Gak kapok juga," gerutu Isna.


"Gak baik ngomongin orang yang sudah meninggal," ucap Meka tiba-tiba.


"Apa Lo bilang!" teriak Isna terkejut sambil menutup mulutnya tak percaya dengan kedua tangannya.


"Iya Na, Bu Arin sudah meninggal."


"Lo serius Mek? Bercanda kan Lo?" tanya Isna menggelengkan kepalanya.


"Gw serius Isna...!"


"Lo tau dari mana?" tanya Isna lagi.


"Karena dia membuat ulah untuk membawa jiwa Pak Zain ke alam ghaib," ucap Meka.


"Maksud Lo gimana sih? Coba Lo ceritakan ke gw," pinta Isna.


Meka menceritakan kejadian yang dialaminya tadi sore. Setelah mereka kembali dari luar hingga kejadian itu terjadi, semua Meka ceritakan ke Isna.


Isna geleng-geleng kepala tanda tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Dia sampai bergidik ngeri membayangkan kejadian itu secara nyata.


Meka masih terus bercerita hingga Deon secara gak sengaja ikut mendengar sedikit tentang cerita Meka. Ya, Deon yang keluar dari dalam kamar Isna, gak sengaja mendengar cerita Meka. Lalu dia menghampiri Meka dan menatapnya tak percaya.


"Gw gak salah dengarkan Mek?" tanya Deon yang langsung duduk disamping Isna.


Apa Lo barusan mendengar cerita gw De?" tanya Meka.


"Iya gw tadi sempat mendengar cerita Lo tentang Bu Arin yang membuat Dosga kita berpikir, apa yang dilihatnya itu adalah elo. Dan gw dengar kalau Bu Arin terkurung selamanya di dunia ghaib. Lo serius mengucapkan itu Mek? Itu artinya Bu Arin tidak selamat?" tanya Deon kaget.


"Iya De, Lo benar. Bu Arin tidak selamat dan artinya dia sudah meninggal dunia," balas Meka.


Deon dan Isna saling bertatapan. Mereka ketakutan mendengar cerita menyeramkan itu. Demi ambisi, Bu Arin rela bersekutu dengan iblis dan menginginkan hidup di dunia ghaib dengan Dosga mereka dengan harapan bahagia memiliki keluarga disana. Namun justru dia sendiri yang terperangkap disana.


"Ya Allah Mek...! Perasaan setiap orang yang menginginkan Dosga kita, berakhir tragis ya," ucap Isna spontan.


"Gw juga tadi ngomong gitu sama Pak Zain. Tapi dia bilang itu bukan kesalahan gw. Mereka saja yang memilih jalan seperti itu," jelas Meka merasa tak nyaman.


"Pak Zain benar Mek, itu bukan salah Lo. Mereka tidak bijak untuk mengambil jalan yang baik dalam hidupnya. Jadi Lo jangan pernah ya menyalahkan diri Lo sendiri," hibur Isna.


"Iya Mek, jangan berpikir seperti itu. Kita selalu mendukung Lo kok jika itu menyangkut keselamatan Lo dan Dosga kita," sambung Deon.


"Makasih ya, kalian berdua sahabat gw yang terbaik. Dulu Shinta dan Ani sahabat gw, tapi mereka pergi selamanya. Hanya kalian berdua yang masih bersama gw. Gw harap kalian jangan jauh dari gw ya," pinta Meka dengan mata yang berkaca.


Isna memeluk Meka, merasa terharu dengan ucapan sahabatnya ini. Dia sangat menyayangi Meka seperti saudaranya sendiri.


"Kami tidak akan meninggalkan Lo Mek. Percaya ya sama gw dan Deon," bujuk Isna.


"Lah, gw gak bisa dong meluk Meka," ucap Deon seenaknya.


"Lo mau kena bogem sama Dosga kita. Terus mau gw hajar karena menyentuh permeouan lain!" ketus Isna yang sewot dengan ucapan Deon.


"Becanda sayangku, love-loveku...!" goda Deon sambil mencoel dagu Isna.


Mereka bertiga akhirnya tertawa terbahak-bahak. Hingga ketiganya memutuskan kembali ke kamar masing-masing.