
Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Meka membangunkan Zain agar segera mandi.
"Mas, ayo bangun! Kita harus segera kembali kesana," ucap Meka sambil membangunkan Zain.
Perlahan Zain membuka matanya dan melihat sosok istrinya yang sedang duduk disampingnya.
"Kamu udah lama bangun sayang?" tanya Zain yang langsung duduk.
"Iya Mas," jawab Meka.
"Sekarang kamu mandi dulu biar kita sarapan. Mungkin Isna dan Deon sudah bangun juga," ucap Meka.
"Mas mandi dulu ya, kamu tunggu disini dan jangan kemana-mana," tekan Zain agar Meka tak keluar dari kamar tersebut.
"Iya Mas."
Lalu Zain pun segera beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.
Sedangkan Meka menunggu diruangan itu sambil berdiri di depan jendela kamarnya.
Angin berhembus kencang menerpa wajah Meka yang sedang berdiri di depan jendelanya. Samar-samar Meka melihat sosok bayangan wanita sedang menatapnya dengan tatapan sendu. Wajahnya sangat mengerikan, darah bercucuran dari wajahnya dan tatapannya sangat menyedihkan. Meka mengucek-ngucek matanya untuk memastikan mahluk ghaib itu kenapa menatap Meka dengan penuh kerinduan dan penyesalan.
Tiba-tiba sosok itu datang dengan hadirnya Harimau putih milik Meka.
"Meka, kembalilah ke Desa itu dan lihat keadaan disana. Sahabatmu sudah menjadi korban keganasan mahluk ghaib disana. Dia terbuai dengan godaan hingga merenggut nyawanya sendiri. Dan segeralah kembali ke tempatmu jika semua sudah selesai. Jangan berurusan dengan Desa itu dan sampai dukun itu mengetahui kelebihanmu. Mereka tidak akan mengetahui karena aku sudah memberikan pagar ghaib untuk dirimu," jelas Khodamnya.
Meka meneteskan air matanya dan menggelengkan kepalanya tanda tak percaya mendengar berita tentang Asih.
"Apa yang terjadi! Bukankah kemaren malam kami masih ngobrol berdua dan dia masih ada. Kenapa kau mengatakan hal seperti itu!" teriak Meka.
Teriakan Meka terdengar oleh Zain yang sedang berada di dalam kamar mandi. Dia buru-buru menyelesaikan mandinya dan memakai handuknya hanya sebatas pinggang lalu dia keluar melihat Meka.
"Meka kamu kenapa teriak-teriak sayang?!" tanya Zain saat keluar dari kamar mandi.
Meka menoleh kebelakang melihat Zain yang keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk sebatas pinggang. Lalu dia menghambur ke dalam pelukan Zain dan menangis tersedu-sedu.
"Mas, Asih..!"
"Asih kenapa sayang?" tanya Zain sambil memegang kedua bahu Meka.
"Dia..dia udah gak ada Mas. Hiks hiks hiks. Aku menyesal Mas tidak memaksanya untuk ikut denganku kemaren. Aku malah membawanya kesana untuk mengambil kehidupannya. Aku bersalah Mas...!" Meka merutuki sikapnya yang merasa bersalah.
"Hussst jangan ngomong seperti itu sayang, kamu tidak bersalah. Dia yang bersalah tidak mau mendengarkan ucapanmu. Dia terlalu arogan dan serakah atas keinginannya yang menganggap enteng keadaan disana. Itu bukan salahmu," ucap Zain yang mencoba menenangkan Meka.
"Tidak Mas, aku tetap ikut andil dalam hal ini. Seandainya aku tidak menawarkannya untuk ikut ke Desa itu, pasti dia sekarang masih bersama kita Mas," sesal Meka yang masih menangis.
"Sudah-sudah jangan menangis lagi, ayo kita sarapan dulu. Setelah itu kita kembali kesana dan melihat apa yang terjadi. Mas juga pengen tau dengan keadaan disana," ucap Zain.
"Iya Mas."
Kemudian Zain membawa Meka keluar dari dalam kamar dan menyamperin kamar Deon.
Saat Meka hendak mengetuk pintu kamar Deon, Isna membuka pintu kamarnya dan melihat kedatangan Meka dan Dosga mereka.
"Meka, Pak Zain," sapa Isna.
"Eh Na, ayo sarapan. Kita harus segera ke Desa itu," ajak Meka.
"Iya Na, nih juga gw sama Deon baru aja mau ke kamar Lo. Ternyata kalian sudah ada di depan sini," balas Isna.
"Bentar Mek, Deon lagi siap-siap di dalam. Gw akan nyusul Lo di bawah," balas Isna.
"Baiklah, kami duluan ya."
Meka dan Zain melangkah ke lantai bawah dengan menggunakan tangga jalan hingga akhirnya mereka sampai di lantai bawah dan menuju Reseptionist untuk cekout. Setelah itu Zain dan Meka duduk di lobby menunggu Deon dan Isna sambil menunggu mobil yang dipesan Deon melalui hotel.
Tak berapa lama, Isna dan Deon menyusul mereka ke lobby.
"Ayo Mek, kita cari sarapan," ajak Isna yang sudah mulai kelaparan.
"Iya, kita nunggu mobilnya bentar lagi datang," balas Meka.
"Pakai mobil siapa Mek?" tanya Deon.
"Kita sewa mobil dari hotel. Biar bebas bergerak kesana kemari nantinya saat berada di Desa itu," jawab Meka.
Ketika mereka menunggu di lobby dan ngobrol membahas Desa Tua, seseorang yang duduk di dekat mereka, tiba-tiba menyela ucapan mereka.
"Permisi, maaf, apa kalian sedang membahas tentang Desa Tua?" tanya orang tersebut.
Meka dan yang lainnya saling menatap. Lalu Meka kembali menoleh ke seseorang yang bertanya itu.
"Maksud anda apa ya?" tanya Meka curiga.
"Maaf, tadi tidak sengaja saya mendengar kalian membahas tentang Desa yang terkenal angker itu. Setau saya, Desa itu sudah jarang dikunjungi orang luar. Banyak masyarakat Desa itu yang pergi dari sana demi menyelamatkan keluarganya. Hanya beberapa orang saja yang berani tinggal disana. Mereka orang yang bersekutu dengan iblis demi harta untuk menghidupkan keluarganya di kota," jelas seseorang itu.
"Bagaimana anda mengetahuinya?" tanya Zain yang menatapnya curiga.
"Saya salah satu cucu dari orang tua yang masih berada disana," jawab orang tersebut.
"Terus kenapa anda disini?" tanya Zain lagi.
"Saya baru datang dari Jogja dan ingin menjemput nenek dan kakek saya agar mereka mau meninggalkan Desa itu," ucapnya.
"Bisakah anda menceritakan tentang Desa Tua itu dan kenapa dikatakan Desa Tua?" tanya Meka kepengen tau.
"Mek, kita gak boleh percaya sama orang lain begitu saja," bisik Isna.
Meka menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Isna.
"Ceritanya panjang Mbak. Saya disini bersama keluarga kecil saya. Tapi mereka tidak ingin ikut ke Desa itu untuk menemui orang tua saya," ucap orang tersebut.
"Apa yang terjadi dengan Desa itu dan anda siapa?" tanya Meka kembali.
"Dulu Desa itu dihuni beberapa kepala keluarga. Saat itu ada seorang gadis yang menjadi kembang desa dan banyak disukai pemuda disana. Dan di Desa itu juga ada seorang dukun muda bernama Ki Baron. Dia termasuk salah satu yang memperebutkan gadis itu. Namun si gadis memilih laki-laki biasa saja yang memang sangat tampan dan menikah dengannya hingga memiliki anak perempuan. Hingga suatu hari kejadian itu terjadi. Ki Baron yang sudah gelap mata membunuh suami dari wanita itu dan menyimpannya di salah satu kamar di dalam rumah mereka. Ki Baron berpikir jika suaminya meninggal, dia bisa mendapatkannya. Namun wanita itu justru bunuh diri," orang itu menjeda ceritanya.
"Terus apa yang terjadi lagi Mbak?" tanya Meka yang semakin penasaran.
"Ki Baron murka, dia meminta bantuan terhadap iblis untuk menghidupkan kembali wanita itu. Dan iblis itu memberikan syaratnya, Ki Baron harus menumbalkan gadis yang masih perawan dan memberi makan mahluk ghaib yang ada di Desa ghaib sebulan sekali. Karena mahluk ghaib yang diberi makan itu akan menjaga jasad wanita itu di atas batu nisannya. Setelah ki Baron mendapatkan tumbal pertamanya, jasad wanita itu kembali hidup dan melayani Ki Baron layaknya suami istri. Tapi setelah beberapa tahun kemaren, Ki Baron tidak mendapatkan tumbal karena gadis-gadis di Desa itu pergi keluar dari sana. Hingga tidak ada anak-anak dan perempuan serta lelaki perjaka," jelas orang itu.
"Lalu siapa korban pertamanya?" tanya Isna.
"Korban pertamanya adalah gadis yang ada di Desa itu dan beberapa pemuda disana. Dan itu terus terjadi setiap bulan pasti ada yang menghilang dari Desa itu. Maka dari itu orang tua yang memiliki anak gadis dan laki-laki muda memilih keluar dari Desa. Dan yang tinggal disana hanya mereka yang sudah separuh baya," jawab orang itu.
"Terus anak dari gadis kembang Desa itu kemana? Bukannya dia memiliki anak?" tanya Isna yang semakin banyak bertanya.
"Anak dari gadis kembang Desa itu adalah saya Mbak. Saya anak kecil itu. Eyang membawa saya kabur dari Desa itu saat saya masih kecil dan menitipkannya bersama paman saya di Jogja. Sedangkan Eyang sendiri kembali ke Desa itu.