Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 152


Tak terasa mereka akhirnya tiba di Hotel yang sangat ramai penghuninya. Hotel itu terlihat mewah dengan banyaknya hiasan bunga dan cafe-cafe kecil di sekitarnya.


Zain membangunkan Meka yang tertidur lelap di bahunya.


"Sayang, ayo bangun. Kita sudah sampai," ucap Zain.


"Beneran kita udah sampai ya Mas?" tanya Meka.


"Iya sayang, itu Hotelnya di depan," Zain menunjukkan Hotel tersebut.


Meka melihat arah pandangan yang ditunjuk Zain. Dia melihat bangunan yang lebih berwarna.


"Ayo Mas kita turun, aku ingin istirahat," ajak Meka yang tak sabaran.


Setelah menyelesaikan pembayaran dengan mobil online, Zain dan Meka masuk ke dalam Hotel. Mereka melakukan ceking selama beberapa hari. Kemudian Zain dan Meka menaiki tangga escalator menuju kamar mereka.


"Mas, semoga di tempat ini kita tidak menemukan hal-hal yang aneh ya Mas," harap Meka.


"Sayang, dimana-mana pasti akan ada hal yang tak menyenangkan. Kemanapun kita pergi, kita tidak bisa menghindarinya. Tapi, kita tidak perlu terlibat dalam setiap masalah yang muncul," jelas Zain.


"Kamu benar Mas, seperti diriku yang tak bisa menghindar memiliki mata bathin ini. Semua harus bisa aku kendalikan, jika ingin nyaman," balas Meka.


Lalu mereka tiba di lantai dua, dimana kamar Meka dan Zain tak jauh dari tangga escalator. Zain membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Meka masuk duluan.


"Ayo sayang, masuklah, biar kita istirahat dulu," suruh Zain.


Meka pun masuk ke dalam. Dia melihat kamar yang sangat luas dan banyak lukisan pemandangan dan bunga yang disajikan. Lu Meka beranjak ke arah balkon, dari situ, dia bisa melihat aktifitas orang yang berada di depan Hotel.


Mereka yang sedang nongkrong di cafe-cafe kecil terlihat jelas oleh Meka dari balkon.


"Sayang, katanya mau istirahat, kenapa malah berdiri disitu?" tanya Zain yang menghampiri Meka.


"Aku hanya ingin melihat ke bawah aja Mas. Rasanya senang banget melihat keramaian di luar sana. Nanti siang, aku ingin jalan-jalan ya Mas," pinta Meka.


"Iya, Mas akan bawa kamu jalan ke tempat yang Mas janjikan kemaren," balas Zain.


"Sungguh Mas!" Meka merasa senang.


"Iya sayang, sekarang, Mas akan bantu kamu beres-beres barang kita."


"Oh ya Mas, jangan pernah cerita ke Mama atau yang lainnya ya perihal keadaan kita disini. Aku gak mau mereka khawatir ya Mas," pinta Meka.


"Kalau itu yang terbaik, Mas gak akan cerita sama siapapun sayang," balas Zain.


Lalu mereka berdua membereskan barang-barang yang di bawa ke Hotel. Setelah selesai, mereka akhirnya pergi ke suatu tempat yang di janjikan Zain. Tempat yang sangat menyenangkan yaitu Mont Saint-Michel.


Mont Saint-Michel adalah Pulau berbatu di Normadi ini di jadikan salah satu tujuan Zain untuk membawa Meka kesana, karena keindahannya yang eksotis, terdiri dari bangunan-bangunan tua bersejarah dibingkai dengan panorama lautan dan bebatuan alami menjadikan kawasan ini bak lukisan antik yang menawan.


Selain itu, Meka dan Zain bisa menyusuri kawasan ini dan melihat lebih dekat arsitektur klasik dan juga menemukan berbagai pedagang yang menawarkan jajanan lokal serta pernak-pernik yang bisa dijadikan souvernir mereka pulang habis liburan dari Perancis.


Meka menatap takjub pemandangan itu dan lebih mendekatkan dirinya ke bangunan itu. Meka juga mengabadikan moment itu berfoto berdua dengan Zain.


"Mas, ini benar-benar indah. Luar biasa Mas bangunannya yang unik," puji Meka.


"Iya sayang, dulu Mas pernah kesini bareng teman-teman. Dan Mas berharap jika Mas datang ke sini bisa membawa pasangan Mas. Dan akhirnya keinginan itu terwujud sayang," cerita Zain.


"Wah berarti aku beruntung ya Mas bisa menikah dengan Mas. Dan kesini berdua dengan Mas," balas Meka sambil menggandeng lengan Zain.


"Yang beruntung itu Mas, atau kita memang sama-sama beruntung, hahaha," Zain tertawa bahagia bersama Meka.


Apa yang terjadi tadi, semua hilang. Meka terlihat senang dan dari matanya terlihat binar-binar bahagia. Meka seakan terlepas dari belenggu yang mengerikan. Dia terus berlari ke sana kemari mengajak Zain berfoto berdua.


Hingga akhirnya dia kelelahan dan meminta Zain untuk beristirahat sejenak.


"Sayang, aku capek. Kita istirahat dulu ya," pinta Meka dengan memohon.


Zain dan Meka berjalan menyusuri bangunan-bangunan tua dan berhenti di tempat penjual jajanan kecil. Zain memesankan Meka makanan yang sesuai dengan seleranya dan lidahnya.


Setelah beristirahat untuk meregangkan otot kaki. Zain dan Meka melanjutkan jalan-jalan mereka ke tempat pusat perbelanjaan yang sangat terkenal di kota Paris.


"Gimana, apa sudah enakan kakinya? Atau kita istirahat lagi disini?" tanya Zain yang mengurut kaki Meka.


"Ah sudah mendingan Mas. Tadi karena tak terbiasa jalan jauh dan lama. Jadinya agak pegal," jawab Meka.


"Terus sekarang gimana? Apa kamu mau Mas gendong?" tanya Zain menggoda


"Malu ah Mas. Kayaknya sih udah mendingan deh Mas. Ayo kita lanjut lagi Mas jalan-jalannya," ajak Meka yang bersemangat.


"Beneran kamu udah kuat jalan lagi?" tanya Zain menatap ke arah Meka.


"Iya Mas beneran kok. Kaki ku sudah baikan. Aku ingin ke tempat lain lagi jalan-jalannya."


"Kalau gitu, Mas akan bawa kamu ke pusat perbelanjaan yang terkenal di sini. Kamu bebas mau belanja apa aja," ucap Zain menyenangkan Meka.


"Wah, aku mau Mas....! Aku pengen beli sepatu, jam tangan dan tas, ah iya, aku juga ingin membeli oleh-oleh buat Mama Mas dan Papaku," balas Meka dengan semangatnya.


"Mas senang melihat kamu udah kembali ceria sayang. Apapun yang kamu mau pasti Mas berikan," ucap Zain.


Kemudian Meka dan Zain bergegas pergi ke Galeria Lafayette. Zain mengajak Meka belanja di salah satu tempat yang sangat terkenal. Dimana Galeries Lafayette merupakan salah satu tempat belanja kelas dunia yang cukup terkenal.


Jarak yang mereka tempuh ke tempat itu akan memakan waktu yang lama. Namun tak menyurutkan keinginan Meka untuk terus jalan-jalan.


Akhirnya mereka sampai juga di Galeries Lafayette. Lagi-lagi Meka di buat takjub oleh pemandangan yang di sajikan di hadapannya, dimana Galeries Lafayette ini memiliki interior yang megah dan berkelas sehingga membuat tempat ini terlihat mewah.


Meka dan Zain terus berjalan berkeliling di dalam mall. Meka bisa melihat banyak butik-butik yang menjual barang branded, mulai dari Hermes, Louis Vuitton hingga Chanel. Hingga membuat Meka bersemangat untuk berbelanja.


"Wah Mas, ini benar-benar tempat yang keren. Boleh ya, aku membeli salah satu tas brandednya Mas?" tanya Meka penuh harap.


Meka memperlihatkan wajah imut dan manisnya di hadapan Zain untuk menarik simpatik Zain agar mau memberinya banyak uang demi memenuhi keinginannya.


"Tentu sayang, kamu boleh membelinya. Tapi Mas tidak mau membeli barang, jika itu tidak berguna, ok!" tekan Zain.


"Pasti Mas, aku akan membeli barang sesuai kebutuhanku," balas Meka.


Meka sangat antusias memasuki salah satu butik yang menjual tas branded. Zain menunggu Meka di sofa. Sedangkan Meka asyik memilih-milih tas yang sesuai kemauannya.


Hingga akhirnya, Meka menemukan apa yang disukainya. Tas yang cantik dan mewah, tidak terlalu besar, Meka memilih salah satu tas bermerk. Setelah menyelesaikan pembayarannya, Zain dan Meka berjalan-jalan lagi di sekitar mall.


Lalu Zain mengajak Meka berhenti untuk mengisi perut yang sudah kosong.


"Sayang, Mas sudah laper. Ayo kita makan dulu. Setelah itu kamu boleh lanjut belanja lagi."


"Baik Mas, maaf ya kalau aku kebablasan belanjanya. Habis tempatnya sangat menggodaku untuk belanja, hehehe," Meka terkekeh.


"Mas tidak marah, tapi kamu juga harus berhenti sejenak agar memiliki tenaga buat berjalan lagi."


"Iya Mas."


Lalu mereka beristirahat sebentar di salah satu cafe. Di cafe itu Zain memesan makanan dan minuman. Seperti biasa, Zain selalu memesan makanan yang sesuai dengan lidah Meka.


"Mas, sepertinya setelah ini, lebih baik kita kembali ke Hotel. Aku sudah lelah jalan-jalannya," ucap Meka memberitahu.


"Itu lebih baik sayang. Mas juga cukup lelah. Mungkin besok kita akan beristirahat seharian di dalam kamar Hotel," balas Zain.


"Hehehe, iya Mas."


Lalu mereka menikmati makanan yang sudah di hidangkan di atas meja mereka. Meka makan dengan lahap dan begitu juga dengan Zain. Mereka berdua seperti orang yang tak makan berhari-hari. Perjalanan yang mereka lakukan membuat perut mereka kosong sehingga menuntut untuk segera diisi.


Meka dan Zain menikmati makanan itu tanpa adanya obrolan sedikitpun. Hingga makanan itu tandas tak bersisa. Zain tersenyum melihat ke arah Meka yang kekenyangan.