Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab


Meka merasa sedikit baikan setelah meminum air putih itu. Dia melihat kearah Wanita tua dan kembali menatap suaminya.


"Assalamu'alaikum Ma!" sapa Zain.


"Wa'alaikumussalam Zain..! Kenapa kamu belom datang juga ke rumah? Apa istrimu tidak memperbolehkanmu menemui orang tuamu?" tanya Mamanya dengan rasa tidak suka.


"Ma, kenapa berkata seperti itu. Meka tidak pernah melarang ku untuk menemui Mama dan Papa. Aku memang belom bisa datang kerumah saat ini karena ada urusan lain. Tapi kalau nanti ada waktu, kami akan segera ke rumah Ma," jawab Zain.


Zain masih dengan posisi berdiri di teras rumah. Dia tidak menyadari kalau Meka saat ini sedang berdiri dibelakangnya dan mendengarkan pembicaraannya.


" menyayangi istrimu daripada Mamamu ini," ucap Mamanya yang mencoba memprovokasi hati anaknya.


"Jangan bilang seperti itu Ma. Zain menyayangi Mama dan Zain juga menyayangi istri Zain. Karena saat ini Meka tanggung jawab Zain. Jadi tentu Zain lebih memperhatikannya Ma. Zain harap Mama bisa mengerti posisi Zain," balas Zain yang bisa menebak ucapan Mamanya.


"Ya sudah Zain, kalau itu mau kamu. Mama tunggu kedatanganmu kerumah ini."


"Iya Ma, Assalamu'alaikum," ucap Zain menyudahi obrolannya.


"Wa'alaikumussalam," sahut Mamanya.


Zain menutup ponselnya. Dia menarik nafas panjang dan menghempaskannya dengan berat. Kemudian dia membalikkan tubuhnya dan terkejut melihat Meka yang sudah berdiri dihadapannya.


"Sayang, kamu sudah lama berdiri disini?" tanya Zain tersenyum.


"Iya Mas, aku udah lama berdiri disini. Maaf ya tadi aku dengerin obrolan kamu sama Mama," jawab Meka tertunduk


"Kenapa? Jangan diambil hati sayang. Mama mungkin sedang merasa cemburu karena Mas saat ini lebih mengutamakanmu. Dan itu membuat sikap Mama seperti anak kecil," ucap Zain sambil memegang dagu Meka.


Meka mendongakkan wajahnya. Melihat ketenangan di dalam mata suaminya. Dimana Zain selalu berkata jujur untuk ssesuatu yang dirasakannya.


"Iya Mas, aku mengerti. Dan aku tidak protes ataupun marah. Aku hanya merasa tidak nyaman karena sudah mengambil perhatianmu dari Mama," balas Meka.


"Kamu tidak mengambilnya sayang. Itu sudah jalannya, Mas harus memberikan perhatian terhadap istri Mas. Tapi bukan berarti Mas tidak sayang dengan Mama."


"Oh iya ya, kamu kan tadi sedang membantu Ibu itu memasak kan. Mas jadi laper nih pengen makan malam disini."


"Ya udah kita masuk sekarang. Dan kita makan malam, setelah itu kita kembali ke Jogja."


merasa senang dengan pujian Deon.


Mereka semua yang berada diatas meja makan sangat menikmati hidangan yang disajikan. Masakan ala kadarnya namun sangat lezat karena makan beramai-ramai.


Setelah mereka menyelesaikan makan malam. Meka dan yang lainnya berpamitan sama Ibu itu.


"Baiklah Bu, ini sudah malam. Kami harus kembali ke Jogja. Terima kasih atas makan malamnya yang sangat luar biasa ini," ucap Meka dengan memberikan pujiannya terhadap masakan Ibu itu.


"Ibu yang seharusnya berterima kasih dengan kalian nak. Ibu akhirnya bisa mengetahui tentang keadaan almarhum Inem. Semoga kebaikan kalian dibalas Allah SWT."


"Aamiin Bu...!" jawab mereka secara bersamaan.


"Kalau gitu kami pamit dulu ya Bu. Dan untuk kasus Inem, Ibu segera menghubungi pihak berwajib agar Inem mendapatkan ketenangan," ucap Meka.


"Iya nak Meka. Ibu akan urus besok dengan adik Ibu secepatnya."


"Nanti kalau Ibu ada masalah atau kendala bisa hubungi kami. No yang tadi sudah dituliskan," ucap Zain.


"Iya nak Zain, terima kasih untuk kalian semuanya ya."


"Iya Bu, kami pamit dulu Bu, Assalamu'alaikum," ucap Meka lalu menyalami tangan Ibu itu.


Kemudian yang lainnya juga ikut menyalami tangan Ibu itu.


"Wa'alaikumussalam nak," jawab Ibu itu.


Mereka pergi meninggalkan rumah itu dengan perasaan lega bercampur kasihan. Kasihan melihat kesendirian Ibu itu dan lega karena permintaan mahluk ghaib itu sudah dilaksanakan.