
Rudy mengajak Meka berjalan melihat-lihat istananya. Semua mahluk yang ada di istana itu menunduk ketika Rudy dan Meka melewatinya.
"Kenapa mereka menunduk saat dia lewat? Apakah dia orang penting di istana ini?" bathin Meka yang masih melihat sekelilingnya.
"Kenapa, kamu penasaran?" tanya Rudy tiba-tiba yang saat ini berjalan berdampingan dengan Meka.
"Hah, maksudnya?" tanya Meka balik. "Kenapa dia bisa tau kalau gw penasaran?" tanya Meka dalam bathinnya.
"Sudahlah tidak usah di pikirkan. Sekarang kita akan menuju kamar kamu, sebaiknya kamu istirahat di dalam," ucap Rudy memerintah.
"Aku akan menuruti ucapanmu. Asalkan kamu tidak menahanku selamanya di sini. Karena tempatku sesungguhnya bukan di alam ini," balas Meka melirik Rudy.
"Hahahahaha, tentu aku akan mengembalikanmu kali ini," ucapnya. "Namun tidak lain kali Meka," bathin Rudy.
Meka hanya diam menanggapi ucapan Rudy. Dia terus berjalan bersama Rudy menuju kamar yang sudah disiapkannya.
"Nah ini kamar kamu, silahkan beristirahat. Besok aku akan mengembalikanmu ke alammu. Saat ini biarlah kamu tinggal di kamar ini," ucap Rudy.
"Ya aku akan tinggal di sini. Kalau gitu aku mau beristirahat dulu. Terima kasih sudah membantuku," ucap Meka dengan tulus.
"Tidak perlu berterima kasih Meka. Aku akan selalu menjagamu," balas Rudy.
Kemudian Meka masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan Rudy yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. Setelah Meka masuk, Rudy pergi dari kamar itu. Dia berjalan ke arah kamarnya.
Di dalam kamar, Rudy memanggil Khodamnya Meka.
"Keluarlah," perintahnya.
"Aku berhutang nyawa denganmu. Aku janji setelah ini semua selesai, aku akan menceritakan semuanya kepadamu dan Meka. Terima kasih atas bantuanmu yang sudah menyelamatkan Meka dari iblis itu," ucap Khodam itu.
"Aku melakukannya karena aku sangat mencintainya. Tapi takdir kami saat ini tidak berpihak ke kami berdua itu karenamu. Aku harap penjelasanmu nanti bisa meredakan amarahnya," balas Rudy.
"Tentu, kalau begitu aku akan melihat keadaan laki-laki itu di dalam ruangannya," Khodam Meka berpamitan pergi dari istana Rudy. Dia kembali ke kamarnya Meka menjaga Zain yang tertidur pulas di buat Khodam Meka.
Malam terus berlanjut, Meka yang berada di dalam kamarnya melihat isi dari kamar itu. Meka melihat ada bingkai foto perempuan yang sangat mirip dengannya saat kecil dulu. Tapi Meka tidak merasa pernah berfoto seperti itu.
"Kenapa wajahnya sama persis denganku? Apakah itu diriku? Atau ada orang lain yang memang mirip denganku?" gumam Meka yang berdiam diri di hadapan bingkai foto besar yang di pajang di dinding kamarnya.
Kemudian Meka berjalan ke arah meja rias, dia melihat ada foto seorang wanita muda yang sedang menggendong anak kecil yang wajahnya mirip seperti dirinya. Meka mengernyitkan keningnya menatap dalam-dalam foto itu.
"Foto ini, mirip sekali denganku. Tapi siapa wanita ini yang sedang menggendongku?" Meka semakin penasaran dengan apa yang dilihatnya.
Kamar yang ditempati Meka adalah bekas kamar wanita yang telah melahirkannya. Ibu Meka yang sebenarnya adalah sosok jin dari kerajaan yang saat ini ditinggali Meka. Wanita itu adalah adik dari raja jin penguasa wilayah lain. Dan Rudy adalah pangeran pewaris mahkota raja jin yang sudah meninggal dunia.
Meka tidak mengetahui asal usulnya yang sebenarnya. Dia hanya mengetahui bahwa dirinya anak dari Mama dan Papanya. Meka dan Biyu almarhum adiknya bukanlah berasal dari rahim ibu yang sama. Mereka berbeda Ibu tapi satu ayah.
Semua itu yang mengetahuinya hanyalah Khodam Meka. Sejarah itu hanya dia yang mengetahuinya.
Malam pun semakin larut, Meka tak mau memikirkan hal-hal yang membuatnya bingung. Dia memutuskan untuk naik ke atas tempat tidur. Meka membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya hingga lama-kelamaan diapun terlelap.
Pagi menjelang, Meka terbangun karena dia tersentak teringat akan suaminya Zain. Meka duduk dan melihat suasana kamarnya. Ternyata dia masih berada di Istana Rudy.
Lalu Meka beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu kamar itu. Meka keluar dari kamar dan berjalan-jalan mencari keberadaan Rudy. Setiap langkahnya, mahluk yang berada di sepanjang ruangan itu menunduk hormat kepada Meka.
"Maaf yang mulia, Pangeran ada di dalam kamarnya. Mari saya antar ke kamar Pangeran," ucap pelayan ghaib itu.
Meka pun menuruti ajakan pelayan itu. Dia berjalan di belakang pelayan itu hingga mereka sampai di sebuah ruangan yang sangat megah. Pelayan itu meninggalkan Meka di dalam kamar Rudy.
"Eh kenapa saya ditinggal sendirian di sini?" tanya Meka bingung.
Namun pelayan itu sudah pergi dan menutup pintu kamar itu dari luar.
Meka pun memberanikan diri berjalan melihat sekeliling ruangan itu.
"Ruangannya bagus banget. Ternyata dia sosok yang romantis. Banyak banget bunga di sana. Apakah itu memang di sediakan di dalam kamarnya ini?" gumam Meka yang bertanya-tanya.
Hingga Meka tak sadar, sosok Rudy sudah berdiri disampingnya.
"Ekhem ekhem," tak baik memperhatikan kamar seorang laki-laki lain," tegur Rudy.
Meka kaget karena mendapatkan Rudy yang berada di sampingnya.
"Kenapa kamu muncul tiba-tiba?" protes Meka.
"Aku sudah dari tadi memperhatikanmu. Apa kamu suka kamar ini?" tanya Rudy memancing.
"Tidak biasa saja," jawab Meka. "Aku mau kembali ke alamku. Sekarang kamu antarkan aku kembali," ucap Meka yang langsung pada intinya.
"Baiklah, aku akan mengantarkanmu. Apakah sebaiknya kamu mengisi perutmu dulu. Karena kasihan bayi dalam kandunganmu," ucap Rudy menyarankan Meka untuk makan terlebih dahulu.
"Tapi aku ingin bertemu dengan suamiku," balas Meka tak suka.
"Hah, baiklah aku akan mengantarkanmu kembali ke alammu. Sekarang pejamkan matamu," perintah Rudy.
Rudy tak ingin menahan Meka di sini. Dia khawatir membuat Meka tak nyaman jika berlama-lama di Istananya.
Kemudian Meka menuruti perintahnya. Dia memejamkan matanya. Dan dalam sekejap, Meka sudah kembali ke raganya. Dia membuka matanya perlahan. Lalu Meka melihat Rudy yang sudah berada di sampingnya. Dan melihat Zain yang berada disamping kirinya.
"Aku pamit dulu. Aku akan terus menjagamu. Maaf kalau membuatmu tak nyaman dengan membawamu ke Istanaku," ucap Rudy.
"Aku yang berterima kasih ke kamu karena sudah menolongku lagi. Terima kasih," balas Meka dengan tulus dan senyum manisnya.
Rudy pun mengangguk dan dia langsung menghilang. Setelah kepergian Rudy, Zain bangun dari tidurnya. Dia memegang kepalanya yang terasa pusing.
"Duh kepalaku, kenapa tak nyaman begini?" tanya Zain yang belum menyadari kalau Meka sudah bangun dan melihatnya.
"Kamu kenapa Mas?" tanya Meka yang mengagetkan Zain.
Zain menoleh ke arah Meka dan dia tersenyum bahagia melihat istrinya yang sudah bangun.
"Sayang, kamu sudah bangun dari tadi?" tanya Zain sambil menggenggam tangan Meka.
"Aku baru aja bangun kok Mas," jawab Meka.