Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 136


Meka berharap Shinta tidak mengganggu Deon dan Isna lagi. Setelah kejadian itu, Deon dan Isna kembali ke kamar mereka melanjutkan persiapan ke Kampus.


Sedangkan Meka, segera masuk ke dalam kamar menemui suaminya. Saat Meka masuk ke dalam, dia tak menemukan Zain di ruangan itu. Lalu dari kamar mandi, Zain keluar dengan menggunakan handuk sebatas pinggang.


"Mas baru selesai mandinya?" tanya Meka.


"Iya sayang, tadi Mas agak mulas perutnya. Jadi ya nyetor dulu," jawab Zain.


"Kamu gih mandi, biar cepat berangkatnya," suruh Zain.


"Iya Mas, aku mandi dulu ya," Meka masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan. tubuhnya.


Sementara Zain bersiap-siap di depan cermin. Lalu dia pun menunggu Meka di sofa sambil menonton TV.


Tak membutuhkan waktu yang lama, Meka selesai dari kamar mandi. Dia melihat Zain sudah rapi dengan setelannya.


"Mas, kemaren aku mengirim pesan sama Papa. Dia kangen sama kita Mas," ucap Cha sambil menggunakan pakaiannya.


"Terus kamu bilang apa sayang?" tanya Zain.


"Aku bilang, nanti kalau Mas Zain bisa, kami akan main ke kampung," jawab Meka.


"Papa sehatkan disana?" tanya Zain lagi.


"Alhamdulillah sehat Mas. Papa juga kirim salam sama kamu. Dan ya seperti Mamanya Mas, kepengen punya cucu."


"Kamu siap kan sayang kalau kita punya anak?" tanya Zain yang sedikit khawatir.


"Insyaallah siap dong Mas. Malah aku pengen banget punya anak, Mas," jawab Meka.


Zain bangkit dari sofa dan menghampiri Meka. Lalu dia memeluk pinggang Meka dan tersenyum penuh arti.


"Kalau gitu ntar malam kita bisa buat anak, ya," ucap Zain blak-blakan.


"Hehehe iya Mas, kalau kamu gak capek, kita buat anak," balas Meka yang tersenyum malu.


"Istriku ini makin menggemaskan banget. Mas bersyukur mendapatkanmu sayang," ucap Zain mensyukuri.


"Aku juga Mas, sangaaaaat bersyukur bisa memilikimu, meskipun banyak yang terjadi dan menginginkanmu," balas Meka dengan senyumannya.


"Udah siap! Ayo kita berangkat," ajak Zain.


"Iya Mas, aku ambil tas dulu," balas Meka.


Lalu Zain dan Meka ke luar dari kamarnya dan menunggu Deon dan Isna.


Sesaat kemudian Deon dan Isna keluar dari kamarnya, lalu melihat Dosga dan Meka sudah selesai.


"Ayo Na berangkat. Deon mana?" tanya Meka.


"Tuh lagi siap-siap," jawab Isna.


"Ya udah, gw sama Pak Zain duluan ya, karena Pak Zain harus menyiapkan materi di ruangannya."


"Deon..buruan. Jangan lama-lama, nanti demitnya muncul lagi," Isna menakut-nakuti Deon.


Saat mendengar Isna berkata demit, Deon buru-buru keluar dari dalam menuju ruangan tengah.


"Isssssh Na, Lo ngapain sih nakutin aku?" tanya Deon tak suka.


"Habis lama banget sih," celetuk Isna.


"Sabar dong Na, namanya juga lagi bersiap-siap, masa harus buru-buru," ketus Deon.


"Udah ayo kita berangkat. Kalian naik mobil Deon?" tanya Dosga mereka.


"Iya Pak, saya dan Isna naik mobil saya. Karena nanti habis pulang kuliah, kami mau nyari kost dulu Pak," jawab Deon.


"Ya sudah, hati-hati dijalan," ucap Dosga mereka.


"Siap Pak," balas Deon.


Lalu mereka keluar dari ruangan Apartement menuju parkiran dilantai bawah. Sesampainya di parkiran, mereka berpisah. Zain bersama Meka naik mobilnya, sedangkan Deon dan Isna naik mobil Deon.


"Oh ya Mas, aku teringat sama sepupu kamu yang bernama Mona. Sepertinya dia sangat menyukaimu. Apakah kalian dulu sempat dekat?" tanya Meka hati-hati.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu sayang?" tanya Zain bingung.


"Aku melihat dari tatapannya ke kamu Mas. Dia terlihat sangat mencintaimu. Apa dia pernah mengutarakan isi hatinya?" Meka sengaja memancing suaminya untuk berkata jujur.


Zain menghela nafasnya, dia menarik tangan Meka dan menggenggamnya.


"Dulu, dia sering bermain sama Mas waktu kecil. Hingga kami dewasa. Mas tidak menyangka kalau perhatian yang Mas berikan ternyata disalah artikan olehnya. Mas hanya menganggap dia sebagai adik sepupu dan tidak lebih. Ternyata dia mencintai Mas karena perhatian yang Mas berikan selama ini," jelas Zain.


"Lalu kapan dia mengutarakan perasaannya Mas?" tanya Meka yang semakin penasaran.


"Waktu Mas dan dia melanjutkan kuliah di Luar Negeri. Dia mengatakan bahwa dia mencintai Mas dan bersedia menjadi istri Mas. Tentu Mas menolaknya, karena tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapnya. Mas sengaja menghindar dari dia. Setelah Mas menyelesaikan kuliah, Mas kembali ke Indonesia dan mengajar di Kampus kita. Dan Mas melihat ada Mahasiswi yang jutek tapi sangat cantik, dia bisa mencuri hati Mas," jelas Zain sambil tersenyum.


"Loh Mas menyukai Mahasiswi di Kampus kita?" tanya Meka dengan polosnya.


"Iya sayang, dia sungguh menggemaskan, dan Mas sangat mencintainya.


Meka yang mendengar ucapan suaminya memuji wanita lain, merasa kesal dan cemburu.


"Terus kenapa Mas malah menikahi aku?" ketus Meka dengan wajah cemberut.


"Ya karena Mas mencintaimu sayang," jawab Zain yang di dalam hatinya sudah menahan tawa.


"Mana boleh seperti itu! Mas me cintai dua wanita di Kampus itu, kalau tau begini, aku gak mau sama Mas," sesal Meka yang gak tau apa-apa.


"Loh Mas hanya mencintai kamu sayang!"


"Terus Mahasiswi yang Mas bilang itu gimana?" tanya Meka bingung.


"Ya ampuuun istriku sayang...! Mahasiswi itu ya kamu Meka....!" terang Zain.


Meka dengan wajah polosnya terbengong mendengarnya. Dia tersipu malu, dengan rona merah muncul di pipinya, membuat Meka semakin menggemaskan.


"Ihhhh Mas kenapa gak bilang dari tadi sih," kesal Meka yang pura-pura merajuk.


"Mas hanya ingin menguji cintamu sayang. Ternyata Mas gak salah pilih. Semoga rumah tangga kita rukun selamanya ya sayang," harap Zain.


"Aamiin Mas..."


Akhirnya mereka sampai di Kampus. Zain memarkirkan mobilnya dia area parkir khusus Dosen dan karyawan.


Setelah itu, Zain dan Meka keluar dari mobil. Mereka berjalan kearah ruangan Pak Zain.


Dari kejauhan Meka melihat sosok wanita yang pernah membuatnya celaka. Bu Arin berjalan dengan tatapan kosong. Dia sering melamun dan terkadang tak fokus berjalan. Tak ada yang mengetahui mengapa itu terjadi dengan Bu Arin.


"Mas, bukankah itu Bu Arin?" tanya Meka dengan menunjuk ke arah Bu Arin.


Zain melihat ke arah yang ditunjuk oleh istrinya.


Lalu Zain bisa melihat sosok Bu Arin yang jahat.


"Iya sayang, itu dia. Kenapa wajahnya kusut seperti itu?" tanya Zain.


"Iya ya Mas. Apa sesuatu terjadi dengannya ya? Tapi ya sudahlah Mas, mungkin itu akibat dari perbuatannya sendiri," sesal Meka atas perbuatan Bu Arin.


Lalu Meka dan Zain berjalan terus ke arah ruangan Dosganya. Sesampainya diruangan itu, .Eka dan Zain masuk ke dalam.


Meka duduk di sofa menunggu Zain. Dia melihat isi ponselnya dan membaca berita terupdate.


"Sayang, kamu jam berapa masuk kelas?" tanya Zain.


"Bentar lagi Mas. Aku nunggu Deon dan Isna aja Mas. Males sendirian di dalam kelas itu. Yang ada mereka bergosip tentang ku. Jadi lebih baik aku nungguin disini aja ya Mas," Meka memohon terhadap Zain.


"Ya sudah, asal kamu tidak bosan ya," balas Zain.


"Mudah-mudahan nggak sih Mas. Kan ada kamu yang enak di pandang," goda Meka.


"Pagi-pagi pinter ya menggoda Mas. Awas nanti malem, siap-siap kamu sayang," balas Zain mengingatkan saat malam tiba.