
Zain yang mendengar apa yang diceritakan istrinya, terkejut dan ketakutan. Tanpa sadar dia pun ikut mual saat Meka cerita tentang mengunyah janin bayi.
"Stop sayang...! Cukup, Mas gak mau dengar lagi. Ceritanya serem banget. Tapi kamu gak apa-apa kan sayang?" Zain membolak-balikkan tubuh istrinya.
"Mas apaan sih..! Lihat tuh, pada ngelihatin kita," tunjuk Meka dengan sebelnya.
"Aku khawatir kamu kenapa-napa! Sekarang teman kamu itu kemana? Kenapa harus menggunakan pelet dan bersekutu dengan iblis? Mas gak habis pikir dengan teman kamu itu. Semoga kita selalu dilindungi Allah SWT ya sayang."
Zain diam sejenak menatap mata Meka. Dia merasa kasihan dengan keadaan Meka yang harus melihat segalanya.
"Semoga istriku ini bisa bertahan dan menyesuaikan dirinya dengan hal-hal yang berbau ghaib," bathin Zain.
"Aamiin Mas."
"Sekarang kita kembali ke sahabat kamu. Mereka pasti sudah nungguin kita," ajak Zain.
Meka mengangguk dan menggenggam tangan suaminya. Mereka berjalan dan menghampiri kedua sahabat Meka.
"Nah itu mereka, baru aja diceritain," ucap Isna saat melihat kedatangan Meka dan Dosganya.
"Iya nih beib kenapa lama banget sih? Ada something?" tanya Deon curiga.
"Gak ada apa-apa Deon. Maaf ya kalian jadi nunggu kelamaan. Tadi sedikit rame di toilet, jadi ngantri," bohong Meka.
Lalu Meka menatap meja hidangan yang sudah tersedia pesanan makanan mereka.
"Wahhhh makanannya sudah datang ya. Udah gak sabar nih pengen langsung makan," ucap Meka antusias saat melihat hidangannya.
Meka dan Zain langsung duduk ditempatnya. Meka melihat kedua sahabatnya yang menatapanya dengan mimik wajah penuh tanda tanya.
"Hahaha wajah kalian itu kenapa? Jangan lihatin gw kayak penjahat yang mau di sidang, serem tau," Meka protes dengan tatapan sahabatnya.
"Habis Lo penuh misteri sih! Kayaknya banyak banget yang Lo simpen dari kita Mek," balas Isna.
Meka melirik ke samping dan melihat suaminya yang cuek. Lalu dia kembali menatap kedua sahabatnya. Meka bingung mau cerita atau tidak terhadap sahabatnya ini. Lalu Meka mencoba berbicara melalui bathinnya terhadap Khodamnya.
"Bolehkah aku menceritakan kelebihanku terhadap kedua sahabatku?" tanya Meka melalui bathinnya.
"Mereka orang baik dan bisa dipercaya Meka. Ceritakanlah biar kamu tidak merasa sendirian untuk menyimpan semua itu," balas Khodamnya tiba-tiba.
Meka terus menatap kedua sahabatnya dan kemudian dia menoleh kesamping meminta persetujuan suaminya.
"Bolehkah Mas, aku cerita ke mereka?" tanya Meka berbisik.
Zain pun mengangguk mengiyakan ucapan istrinya.
Lalu Meka menarik nafasnya dan menghempaskan nafasnya dengan panjang.
"Kalian mau makan dulu atau cerita dulu nih?" Meka memberikan dua pilihan terhadap sahabatnya.
"Ya dua-duanya dong Mek...! Makan diselingi dengan ngobrol," jawab Isna.
"Sorry Na, kalau gw cerita diselingi makan, bisa-bisa kalian stop makannya. Lebih baik kita makan dulu aja ya sekarang, habis tuh kita ke Apartement gw. Tar gw ceritain semuanya," Meka memberikan pilihan yang pertama.
"Ok, ok sekarang ayo kita makan," ajak Deon.
Mereka menikmati hidangan yang sudah ada diatas meja. Deon sangat senang bisa makan bersama sahabatnya lagi.
"Pak Zain, kami gak nyangka loh kalau Bapak dan Meka bisa menikah. Tapi kapan nih Pak pestanya. Biar ngundang teman kampus?" tanya Deon sambil mengunyah makanannya.
Zain menoleh ke depan melihat ke Deon. Dia hanya tersenyum dan tidak memberikan jawaban. Lalu Meka berinisiatif menjawab pertanyaan Deon.
"Tenang aja Deon, nanti juga bakalan ada undangan buat Lo dan Isna. Lo gak sabaran banget pengen makan daging rendang hihihi," Meka mencoba mencairkan suasana dengan candanya.
"Tau aja Lo Mek, si Deon pengen makan daging rendang. Gw juga mau loh...," sambung Isna.
"Hahaha iya iya, nanti pasti gw khabari dan undang kalian."
Lalu mereka kembali mengunyah makanannya dan menikmati kebersamaan yang lama tak dirasakan Meka dan sahabatnya.
"Kenyang banget gw Mek...," ucap Isna.
"Sekarang mau jalan-jalan di Mall atau lanjut ke Apartement gw nih?" tanya Meka.
"Kayaknya eike pengen langsung denger cerita tentang Lo deh beib. Kita ke Apartement yei aja kali ya," pinta Deon.
"Gimana Pak Zain?" tanya Meka yang menoleh kearah suaminya.
"Heum," jawab Zain.
"Ihhhh Pak Zain ini irit banget ya kalau ngomong," celetuk Deon.
Meka dan Dosga mereka melihat kearah Deon bersamaan. Lalu Meka menjawab.
"Ah Lo kayak gak tau aja Pak Zain kan emang dari dulu irit bicara, cuma sama Meka aja yang mau bicara, ya kan Mek?" Isna ikut menimpali ucapan Deon dan meminta Meka menjawabnya.
"Iya mungkin," jawab Meka gamblang.
"Hmmmm, dua-duanya sama aja ,suka irit bicara. Kalian emang cocok Mek, jodoh," celetuk Isna.
Deon mengangguk membenarkan ucapan sahabatnya Isna.
"Bener banget, eike setuju beib."
Pa Zain tidak mempermasalahkan apa yang disampaikan Mahasiswinya ini. Dia menganggap itu hanya sekedar intermezo dalam obrolan.
"Udah sekarang kita jalan ke Apartement gw. Tapi kalian mau nginep atau bagaimana nih disana? Karena rencananya sore gw dan Pak Zain akan kerumah orang tuanya Pak Zain," jelas Meka.
"Mmmm, gimana beib?" tanya Deon dengan menoleh kearah Isna.
"Bolehkah kita nginap di tempat Lo Mek? Kita udah lama gak kumpul dan saling curhat. Boleh ya?" Isna memohon dengan wajah memelas.
Meka menoleh kearah suaminya untuk meminta izinnya. Dan Zain mengangguk mengizinkan mereka untuk nginep di Apartement mereka.
"Boleh kok, Pak Zain udah ngizinin. Terus pakaian kalian gimana? Apa kita ke kost and kalian dulu baru ke Apartement gw?" tanya Meka.
"Kalau Pak Zain gak keberatan, kalian bisa anterin kami ke kostan dulu buat ambil perlengkapan menginapnya," pinta Isna yang merasa sungkan dengan Dosganya.
"Ayo kita jalan sekarang," ucap Pak Zain.
"Berarti kita ke kostan dulu dong beib?! Ihhhh eike senang banget bisa curhat-curhatan lagi sama kalian!" seru Deon dengan semangatnya.
"Meka, kamu tunggu aja di mobil. Nih kuncinya, Mas mau bayar dulu ya," ucap suaminya yang menyuruh mereka ke mobil duluan.
"Heum," Meka menerima kunci mobil yang diberikan suaminya.
"Ayo Na, Deon, kita duluan aja. Pak Zain mau bayar makanannya dulu," ajak Meka.
Namun saat Meka hendak meninggalkan suaminya, tiba-tiba dia disuruh berhenti.
"Berhenti Meka...! Jangan tinggalkan dia, jika kamu melangkah keluar cafe ini, maka kamu akan kehilangan suamimu. Lihatlah ke samping, dia sudah menunggu," ucap Khodamnya yang menyuruh Meka jangan meninggalkan suaminya.
Meka menoleh kesamping, ternyata nenek bongkok itu berada disana bersama Shinta. Ternyata Shinta sedari tadi sudah melihat keberadaan Meka dan yang lainnya. Sehingga dia mengambil tempat dipojokan untuk memantau kegiatan mereka.
Meka yang tidak mengetahui keberadaan Shinta, membiarkan suaminya berjalan sendirian. Tapi saat dia hendak melangkah jauh, dia diperingatkan oleh Khodamnya.
Ternyata Shinta benar-benar tidak berhenti mengejar Pak Zain.
Diujung dekat kasir, Shinta bersiap-siap menghampiri Dosganya. Dia berjalan cepat untuk menggapai sasarannya. Namun Meka yang sudah melihat Shinta, buru-buru meninggalkan sahabatnya dan berlari kecil menghampiri suaminya.
Namun langkahnya terhenti karena ada tembok ghaib pembatas yang menghalanginya. Meka tidak bisa berjalan maju. Dia bingung dan berteriak, Sayang awaaaaaas!" teriak Meka.
Tapi Zain tidak mendengar suara Meka yang berteriak dibelakangnya. Meka berusaha menembus dinding ghaib itu tapi tidak berhasil.
"Berdo'alah Meka dan genggam liontin itu, maka kamu bisa menembusnya," bisik Khodamnya.
Lalu Meka berdo'a memohon kepada yang kuasa untuk bisa melewati pembatas ghaib ini. Dan dia memegang erat liontin itu. Tiba-tiba liontin itu bercahaya dan Meka melewati pembatas ghaib itu. Dia langsung berlari dan menarik suaminya ke belakang dirinya sebelum Shinta menyentuh lengan suaminya.
Meka dan Shinta hanya berjarak beberapa meter saja dari Zain. Dengan kecepatan yang dimiliki Meka, dia bisa lebih dulu menggapai suaminya ketimbang Shinta. Sehingga Shinta tidak berhasil mengguna-guna Dosganya.