
Meka terus menatap ke arah Shinta. Wajah sahabatnya itu sudah berubah menjadi pucat dan mengerikan.
Meka melangkah mendekatinya, lalu Meka memberanikan diri untuk memeluk Shinta sahabatnya yang telah tersesat.
"Shinta, maafkan aku juga yang tidak bisa menyelamatkanmu," ucap Meka sedih.
"Meekaa, aakuuu yaang saalaah. Maaaf suudaah meembuuaatmuu haampiir ceelaakaa," balas Shinta sedih.
"Aku memaafkanmu Shinta. Kamu sahabat kami, kami merasa kehilanganmu," sesal Meka.
"Kaaamuu biiisaaa meeliiihaatkuu Meeekaaa! Seelaaamaaa iiinii aakuuu tiidaak taauu kaalaau kaamuu meeemiiliikii maaataaa baathiin," ucap Shinta.
"Ya, aku memang memilikinya Shin, dan aku tau kamu melakukannya dan mengirim mahluk itu untuk memisahkanku dengan Pak Zain. Shin, maaf kalau aku tidak memberitahumu. Aku dan Pak Zain sudah menikah. Sebenarnya aku ingin memberitahumu tapi sikapmu berbeda hingga aku mengurungkannya," ungkap Meka.
Sedangkan orang tua Shinta terbengong melihat Meka yang ngomong sendiri. Mereka bergidik ngeri melihatnya.
"Pak Zain, sama siapa nak Meka berbicara?" tanya Bapaknya Shinta.
Shinta dan Meka menoleh ke orang tuanya. Shinta merasa sedih melihat kesedihan di wajah kedua orang tuanya.
"Meka lagi ngobrol sama Shinta, Pak," jawab Zain memberitahu.
"Apa! Pak Zain jangan berkata yang enggak-enggak. Anak saya sudah meninggal loh. Kalau orang meninggal tidak mungkin bangkit kembali," protes Bapaknya Shinta.
"Maaf Pak, Meka memang sedang berbicara dengan Shinta," jawab Zain lagi.
"Shinta anakku...! Ibu merindukanmu nak...!" raung Ibunya.
Shinta menatap sendu orang tuanya. Air mata darah kembali keluar dari mata Shinta.
"Meekaa, kaataakaan saamaa meeerreekaa, aakuuu miintaa maaaaf," pinta Shinta.
Meka berjalan menghampiri orang tua Shinta dan menyampaikan pesannya.
"Bu, Pak, Shinta menyampaikan kepada saya, bahwa dia meminta maaf," ucap Meka.
"Bagaimana kami percaya kalau dia Shinta anak kami?" tanya Ibunya.
Shinta yang mendengar pertanyaan Ibunya, langsung memberikan jawabannya melalui Meka.
"Kaataakaan paadaa meeerreekaa, aakuuu laahiirr daalaam keeaadaan huujaaann daann meeemiiliikii taandaaa buulaaat hiitaam diri puungguuungkuu," Shinta memberikan jawabannya.
"Kata Shinta, dia lahir pada saat hujan lebat. Dan dia juga memiliki tanda lahir di punggungnya. Apakah itu benar?" tanya Meka.
"Pak, gimana mungkin Shinta masih ada diantara kita?" tanya Ibunya gak percaya.
"Iyo Yo Bu, Bapak rasanya kurang percaya seperti ini," sambung Bapaknya.
"Tanyakan nak Meka, siapa panggilan masa kecilnya?" tanya Bapaknya.
Meka menoleh ke Shinta, dia menunggu jawaban dari Shinta.
"Kaataakaan paadaa meeerreekaa, aakuuu diipaanggiiil keeliincii keeciil kaareenaa aakuuu suukaa dii keepaang duuaaa," jawab Meka.
Lalu Meka menyampaikan jawabannya ke orang tua Shinta. Mereka terkejut mendengarnya. Tak menyangka jika jawaban itu benar. Keduanya meneteskan air mata dan jatuh ke kursi tempat duduk mereka.
"Nak Meka, kenapa Shinta belom tenang disana? Apa yang membuatnya seperti itu?" tanya Bapaknya bingung.
"Maaf Pak, Bu kalau saya harus menyampaikannya semua ini," jawab Meka.
"Ada apa nak Meka?" tanya Ibunya Shinta.
"Shinta bersekutu dengan iblis dan dia menumbalkan saya kepada genduruwo sehingga dia bisa mendapatkan suami saya. Saya sudah memperingatinya dan mengajaknya untuk kembali dan tidak meneruskannya. Namun Shinta sudah dibutakan dengan ambisinya. Sehingga genduruwo itu mengambil Shinta sebagai tumbalnya," jelas Meka.
"Astaghfirullahal'adzim Pak!" Ibunya Shinta berulang kali beristighfar sambil mengelus dadanya.
"Bu, sabar. Ini juga salah kita yang gak pernah memperhatikan Shinta," sesal Bapaknya.
"Tidak Pak, Ibu yang salah. Anak perempuan satu-satunya seharusnya tinggal bersama orang tuanya, dan bukan ngekost sendirian," sesal Ibunya juga.
"Pak, Bu, jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Ini sudah kehendak Allah SWT," ucap Deon yang mencoba menenangkan mereka.
"Meekaa teeriimaa kaasiih. Aakuuu Salaam terbang disaanaa. Aakuuu suudaah meendaapaatkaan maaaaf," ucap Shinta.
Lalu Shinta menghilang dari pandangan Meka. Dia sudah merasa tenang di alamnya.
"Terima kasih nak Meka, Pak Zain dan teman Shinta yang lainnya. Kalian selalu ada untuk Shinta, walaupun sekarang Shintanya sudah tidak bersama kita lagi, kalian tetap membantu," ucap Mamanya Shinta bersyukur.
"Jangan seperti itu Bu. Kami sahabat Shinta akan selalu ada untuknya. Walaupun dia tersesat sekalipun kami akan selalu mengingatkannya," jelas Meka.
Setelah selesai dengan urusan Shinta, Meka dan yang lainnya berpamitan dengan orang tua Shinta.
"Kalau begitu, kami permisi pulang dulu Pak, Bu. Kami akan selalu berdo'a untuk Shinta," ucap Zain.
"Terima kasih Pak," balas Ibunya.
"Oh ya Bu, sebelum kami kembali. Kami ingin berziarah ke makamnya Shinta. Apa boleh kamu mengetahuinya?" tanya Meka.
"Oh nak Meka dan yang lainnya boleh berziarah ke makamnya Shinta. Tempatnya gak jauh dari rumah eyangnya.
Setelah mereka berempat berpamitan untuk pulang, mereka menuju makamnya Shinta untuk menaburkan bunga.
"Kita sudah sampai. Ini tempatnya," ucap Zain tenang.
"Ini tempat pemakamannya?" tanya Isna gak percaya.
"Ayo kita turun dan masuk ke dalam. Jangan lama-lama disini Mek, aku bisa merinding," celetuk Deon.
Isna dan Deon keluar dari dalam mobil. Dan Meka serta Zain juga sudah duluan keluar dari mobil.
Zain membawa mereka menyusuri jalan kecil menuju pemakaman.
"Tempatnya tampak sepi dan rumah juga jarang sekitar sini. Kenapa ada pemakaman disini? Siapa yang mau berkunjung kesini?" gumam Meka.
"Iya ya Mek, kok gw jadi serem Mek!" balas Deon.
"Dasar penakut," ledek Isna.
"Bebeb ku, kamu kan sudah tau kalau aku emang dari sononya penakut. Tapi kamu tetap cintakan sama aku?" tanya Deon.
"Cinta dong Deon....! Tapi kalau kamu penakut, siapa dong yang bisa aku harapkan," jawab Isna.
"Ya kalau keadaannya genting, aku akan maju duluan berada dihadapanmu bebku," balas Deon.
Setelah mereka berbincang, akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju. Meka melihat pemakaman yang tak terurus. Hanya ada beberapa makam disini.
"Sepi banget ya Mas," ucap Meka.
"Iya sayang, apa kita harus masuk ke dalam?" tanya Zain bimbang.
Tiba-tiba Khodamnya Meka muncul dihadapannya. Meka terkejut karena Khodamnya itu memperlihatkan wujud Harimaunya.
"Ada apa?" tanya Meka mengernyit.
"Kembalilah Meka, kalian sudah dibohongi sama orang tua perempuan itu," jawab Khodamnya.
"Maksudnya apa?" tanya Meka lagi melalui bathinnya.
"Perempuan itu sebelum pergi, meminta orang tuanya membawa kamu ke rumah itu dan membuat kamu merasa bertanggung jawab hingga kamu menginginkan datang ke pemakaman ini, sebagai barter. Kamu akan ditukar dengan Shinta. Shinta kembali hidup dan jiwamu terkurung di dunia ghaib selamanya," jelas Khodamnya.
"Apa!" teriak Meka.
"Kembalilah, aku akan membukakan jalan menuju dunia nyata untuk kalian," ucap Khodamnya.
"Maksudnya ini dunia lain, gitu?" tanya Meka penasaran.
"Kalian sudah memasuki dunia ghaib saat kalian turun dari mobil dan memasuki gapura yang berada di depan sana. Itulah batas dunia ghaib dan nyata. Ayo kembalilah, cepat Meka!" usir Khodamnya.
Meka langsung memberikan instruksi mendadak kepada mereka dengan kata,
"Lariiiiiii!" Meka berlari menarik tangan Zain dan Isna tanpa menoleh ke belakang.
"Ayo Deon, Isna lari kencang. Kita harus melewati gapura itu dan ajnag menoleh ke belakang!" teriak Meka sambil berlari.
Deon dan Isna serta Zain mengikuti Meka yang berlari kencang. Hingga akhirnya mereka keluar dari gapura, dan langsung masuk ke dalam mobil.
Zain segera melajukan mobilnya dengan kencang. Sesaat kemudian mereka menoleh ke belakang, namun tidak melihat gapura itu lagi.