Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 193


Ki Baron masih menimbang perkataan Kakek tua itu, lalu dia menoleh ke arah Meka yang hanya diam dari tadi tanpa bersuara.


"Apa dia tidak bisa melakukannya dengan sendirinya?" tanya Ki Baron dengan menunjuk ke arah Meka.


"Dia tidak bisa melakukannya sendiri," jawab Kakek tua itu yang tak ingin Ki Baron mengetahui Khodam yang dimiliki Cha.


"Bukankah tadi aku mendengar jika dia memiliki Khodam?" tanya Ki Baron to the point tanpa bisa menahan dirinya yang sudah penasaran dari tadi dengan Khodam Meka.


"Oh itu bukan Khodam, dia hanya memiliki mata bathin seperti diriku," bohong Kakek tua itu.


"Kenapa tadi Kakek mengatakan Khodam?" tanya Ki Baron terus.


"Baron, aku kesini bukan membahas tentang Khodam. Aku ingin kamu membantuku untuk menghancurkan sesuatu yang bisa menghentikan semua masalah ini," ucap Kakek tua itu dengan rasa dongkol.


"Baiklah, aku akan membantu kalian. Ayo sekarang kita lebih baik ke rumah itu. Jangan sampai dukun itu duluan dari pada kita," ajak Ki Baron.


"Ayo, itu lebih baik," balas Kakek tua itu.


Mereka bertiga bergegas ke rumah yang di maksud Ki Baron. Rumah yang sangat angker di Desa tua itu, dimana rumah itu sering terjadi pembunuhan untuk mendapatkan tumbal buat iblis di sana.


Meka membawa mobil itu menuju rumah itu yang tak jauh dari tempat Ki Baron.


Saat ini mereka sudah berada di depan rumah yang mengerikan. Meka melihat begitu banyak demit-demit serta mahluk ghaib lainnya yang berseliweran di rumah itu. Tidak hanya di rumah itu, tapi di samping rumah itu, dimana perbatasan alam ghaib dan nyata, banyak mahluk ghaib yang menatap akan ke arah Meka.


Mahluk-mahluk itu ingin menggapai mereka, namun waktunya tidak bisa. Karena mereka harus mematuhi aturan yang di buat Ki Baron waktu itu dan berlaku selamanya. Walaupun Ki Baron saat ini sudah tak memiliki kekuatan lagi, namun mahluk-mahluk itu tetap tidak bisa menembus dunia nyata.


Kakek tua dan Ki Baron berjalan ke arah pintu rumah itu. Sedangkan Meka masih berdiri mematung menatap nanar ke arah rumah yang menyimpan kenangan menyedihkan. Hati Meka terasa sakit ketika mendengar teriakan-teriakan kesakitan dan minta tolong.


"Meeeekaaaa, aakhiiirnyaaa kaaamuuu daaataaang. Aaaakuuu suuudaaah laaamaa meenuungguumuu. Baantuu aakuuu Meekaa, aakuuu ingiinnn beebaas," ucap Asih sahabat Meka yang meregang nyawa di rumah itu.


Meka menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menangis.


"Itu bukan kamu Asih. Bukan....," bentak Meka sambil menangis.


Kakek tua dan Ki Baron membalikkan badannya dan berlari ke arah Meka.


"Nak Meka ada apa?" tanya Kakek tua itu Anang kemudian melihat ke arah demit yang mencoba menipu Meka.


"Ayo nak Meka, jangan hiraukan mahluk itu. Kita punya tujuan yang harus di selesaikan disini," ucap Kakek tua itu.


"Jangan lihat kesana, mahluk itu penghuni abadi di sini. Mereka yang sudah menjadi tumbal iblis itu tidak akan bisa keluar dari Desa tua ini," ucap Ki Baron menyela.


Meka tak ingin mempertanyakannya saat ini. Karena dia punya tujuan yang harus selesai sebelum malam bulan purnama nanti.


"Ayo kek kita masuk," ajak Meka.


Lalu mereka bertiga berjalan ke arah pintu rumah itu. Perlahan Ki Baron membuka pintu itu dengan kunci yang dimilikinya.


"Klik" bunyi suara kuncinya.


Perlahan-lahan pintu itu terbuka, aroma busuk yang sangat menyengat hingga membuat Meka muntah-muntah. Dia berlari ke samping rumah itu mengeluarkan sesuatu yang mendesaknya.


Udara dari dalam rumah itu sangat beraroma busuk. Bau yang tak sedap itu masih terasa walaupun Meka sudah jauh dari depan pintu itu.


Ki Baron membiarkan pintu rumah itu terbuka lebar, supaya bau busuk dari dalam rumah itu keluar dan berganti dengan udara segar.


"Biarkan udara busuk ini keluar Ki. Supaya kita bisa bernafas di dalam sana nantinya," ucap Kakek tua itu.


"Iya kek," baals Ki Baron yang mengikuti saran Kakek tua itu.


Lalu Meka datang menghampiri Ki Baron dan Kakek tua.


"Gimana nak Meka, apa bisa kita lanjutkan masuk ke dalam untuk menuju kamar di atas sana?" tanya Kakek tua.


Kakek tua dan Ki Baron perlahan jalan memasuki rumah yang gelap itu. Sesampainya mereka di dalam ruangan itu, banyak sekali mahluk ghaib yang melakukan aktifitasnya.


Suara-suara ghaib terdengar di dalam rumah itu. Penampakan seorang perempuan dengan bayi di tangannya sambil duduk di kursi goyang menangis hingga terkekeh menakutkan.


Perempuan itu menoleh ke arah Meka dengan senyum menyeringai.


"Hihihihihihi, jaangaan aambiil aanaakuu!" geram perempuan itu dengan ketakutan.


Meka yang melihatnya, merasa kasihan dengan perempuan itu. Saat dia melihat ke perempuan itu, tiba-tiba suara ribut terdengar dari dalam kamar di atas.


"Suara apa itu kek?" tanya Meka yang mulai waspada.


"Itu berasal dari kamar atas, kamar yang terkunci bertahun-tahun," jawab Ki Baron.


Meka menoleh ke lantai atas, dimana mereka pernah menginap di kamar atas tepat disamping kamar yang terkunci.


"Itu artinya ada sesuatu yang ada di dalam kamar itu?" tanya Meka.


"Kamar itu tempat jasad laki-laki itu berada," jawab Ki Baron.


Meka tercengang mendengar nya, dan itu berarti mereka kemaren tinggal berdampingan dengan mayat yang sudah bertahun-tahun.


"Oh ya ampuuun, tempat ini benar-benar mengerikan," bathin Meka.


"Ayo kita ke atas," ajak Ki Baron.


"Ayo nak Meka. Jangan hiraukan mahluk yang ada disini," ucap Kakek tua itu mengingatkan.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya dari belakang. Meka berhenti dan diam sejenak. Namun langkah itu juga tak terdengar lagi.


Meka melanjutkan mengikuti Kakek tua dan Ki Baron, lagi-lagi Meka mendengar suara langkah kaki dari belakang tubuhnya. Meka menjadi penasaran bercampur merinding. Dia memantapkan hatinya untuk membalikkan badannya ke belakang. Hingga hitungan ke tiga dia pun berbalik dan mendapatkan sosok yang dekat dengannya. Meka berteriak,


"Aaaaaaaaaa!" teriak Meka sambil menutup matanya.


Meka tak sanggup melihat wajah itu yang mendadak sangat dekat dengan wajahnya. Bau anyir bercampur busuk langsung masuk ke dalam hidung Meka hingga menyebabkan Meka muntah-muntah saat itu juga.


Kakek tua itu langsung berlari mendekat ke Meka. Dia. mengusir mahluk yang mengganggu Meka.


"Nak Meka, kamu gak apa-apa?" tanya Kakek tua itu.


"Bau sekali kek, saya gak tahan, perut saya mual banget kek," ucap Meka yang tak bisa menghentikan rasa mualnya.


Kakek itu membantu Meka duduk di tangga sementara. Mereka berhenti sejenak menunggu Meka merasa nyaman.


Sosok yang mencoba merasuki Meka tertawa terbahak-bahak, lalu menangis.


"Hahahahaha, hiks hiks hiks hiks. Aakuuu maauuu iikuuutt....!" ucap mahluk itu dengan suara menyayat hati.


Saat Meka duduk di tangga, tiba-tiba ada benda terjatuh di hadapan Meka dan Kakek tua.


"Gedebuk" sosok jasad jatuh tepat di atas pangkuan Meka.


"Aaaaaaaaaa, Meka lantas membuang jasad laki-laki itu dengan gemetar.


"Astaghfirullahal'adzim," ucap Kakek tua itu dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Wajah Meka terlihat pucat, dia benar-benar di buat tak nyaman di dalam rumah ini.


"Ngucap nak Meka, beristighfar ya," pinta Kakek tua yang menuntun Meka mengucapkan baca'an-baca'an Al-Qur'an.


Tiba-tiba jasad laki-laki itu menghilang. Kemudian ada tetesan dari jatuh tepat di kepala Meka hingga mengalir ke wajahnya. Bau amis dan anyir serta busuk langsung menusuk hidung Meka membuatnya kembali muntah-muntah. Meka berteriak seperti orang kesetanan mengusap-usap wajahnya yang terkena darah mahluk menjijikkan itu.