
Tetapi tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram leher Isna dengan jari-jari runcing panjang. Isna tersentak dan membalikkan badannya menghadap iblis yang sangat mengerikan itu. Dengan tatapan lapar, iblis itu menjulurkan lidahnya ke perut Isna yang tanpa busana.
"Ja--jangan bu--bunuh saya," suara Isna tersendat-sendat tercekik hingga nafasnya mulai tak beraturan.
"Aakuu maauu jaaniin iituu....!" geram iblis itu dengan air liur yang menetes dari lidahnya.
Isna menatap jijik, dia pun mual-mual melihat iblis itu.
"Le--epaskan...," suara Isna mulai terdengar pelan. Wajah Isna mulai memucat dan mengering.
Lalu tanpa membuang waktu, iblis itu menghempaskan tubuh Isna keluar dari jendela yang berada di lantai empat. Isna terhempas keluar dan tubuhnya tergeletak di aspal bawah bagian samping Apartement itu. Dengan tubuh tanpa pakaian, Isna tergeletak bersimbah darah.
Iblis itu muncul seketika dan menjilati darah yang keluar dari goa milik Isna serta menyantap janin yang berada di rahimnya.
Tak disangka ada seorang laki-laki tua bersama istrinya yang tinggal di Apartment itu melihat kejadian Isna. Lalu dia berlari menghampirinya dan berteriak.
"Tolong......!" teriak laki-laki tua itu.
"Bu cepat beritahu keamanan disini?" perintah suaminya.
Kemudian security datang dan berhasil membawa tubuh Isna ke rumah sakit. Laki-laki tua dan istrinya ikut mengantar Isna ke rumah sakit.
Sementara di kediaman Ustadz Ahmad. Ternyata Zain sedang diikat oleh mereka. Karena Kakek tua khawatir jika jiwanya kembali, dia akan kembali ke perempuan yang membuatnya seperti ini.
"Apa dia tidak akan marah kek di perlakukan seperti ini?" tanya Papanya Zain.
"Saya juga belum tau, tapi kita harus mencobanya. Karena malam ini tepat jam dua belas malam jiwanya akan kembali. Saya dan Ustadz Ahmad akan berjaga di sini. Bapak dan yang lainnya bisa menunggu di luar dan lebih baik kalian beristirahat. Percayakan Zain sama kami dan berdo'alah untuk keselamatannya.
"Baik kek, kami akan menunggu diluar," balas Papanya Zain.
Setelah semuanya keluar dari ruangan itu, Kakek tua mulai bersemedi di hadapan tubuh Zain. Dan Ustadz Ahmad berdoa dengan berdzikir. Mereka berdua menunggu detik-detik jiwa Zain kembali ke raganya. Hingga larut malam akhirnya yang dinantikan terjadi.
"Apa yang terjadi kek dengan tubuhnya?" tanya Ustadz Ahmad bingung.
"Jiwanya sudah kembali ke raganya dan iblis itu mencoba membawa tubuhnya. Tapi sepertinya dia tidak akan bisa menemukannya."
"Ayo kita selesaikan ini semuanya," ucap Ustadz Ahmad. Lalu Ustadz Ahmad terus melantunkan ayat suci untuk membuat tubuh Zain tenang.
Dan perlahan-lahan tubuh itu turun ke tempat tidur. Lalu mata Zian terbuka, namun pikirannya belum pulih sepenuhnya.
Kakek tua dan Ustadz Ahmad menghampiri Zain.
"Pak Zain....anda sudah sadar?" tanya Ustadz Ahmad.
Zain melirik ke arah Ustadz Ahmad dan Kakek tua. "Kenapa saya berada di sini?" tanya Zain bingung.
Ustadz Ahmad membantu Zain untuk duduk dan bersandar di kepala dipan tempat tidur.
"Kamu dibawa sama orang tua kamu kesini karena kemaren pingsan di rumahmu," jawab Ustadz Ahmad.
Sementara Kakek tua hanya diam melihat keadaan Zain yang belum pulih sepenuhnya.
"Mama dan Papa saya berada di sini?" tanya Zain bingung.
"Ya, Papa dan Mama kamu sedang berada di sini," jawab Kakek tua.
Zain melirik ke arah Kakek tua yang berdiri disamping Ustadz Ahmad.
"Lebih baik kamu beristirahat. Karena ini sudah malam. Besok kamu bisa menemui Papa dan Mama kamu. Karena mereka sangat mengkhawatirkanmu dari kemaren," ucap Kakek tua.
"