Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 98


Meka melihat genduruwo itu menghilang. Lalu dia menatap kearah Harimau itu.


"Jika kau melangkah keluar dari garis batas ghaib yang aku buat, maka kau akan selamanya ikut dengannya karena keinginanmu sendiri mengikutinya," ucap Khodam itu dengan wujud harimaunya.


Meka menangis karena merasa tertipu dengan ilusi yang dibuat mahluk ghaib itu.


"Kembalilah ke alammu. Ini hanya mimpi. Pejamkan matamu dan berdo'a meminta kepada penciptamu untuk keselamatanmu."


lalu Khodam wujud Harimau itu menghilang dari hadapan Meka.


Meka melakukan apa yang disuruh oleh Khodamnya. Dia memejamkan matanya dan berdo'a.


"Sayang-sayang, ayo bangun. Kita harus ketemu sama Ghani kan?" Zain membangunkan Meka dengan mengusap kepalanya Meka.


Meka merasakan seperti ada yang menyentuhnya, lalu dia tersentak dan bangkit duduk. Meka melihat Zain dan langsung memeluknya.


"Mas, aku mimpi..,aku bermimpi...,. aku gak mau kehilanganmu," Cha menangis dipelukan Zain.


"Kamu kenapa sayang? Wajahmu kelihatan pucat dan ini, kamu berkeringat sayang. Ada apa?" tanya Zain khawatir dan cemas.


Zain membawa Meka duduk kembali disofa dan memberikannya air putih untuk diminum.


"Coba tarik nafas kamu dan buang perlahan-lahan. Ceritakan apa yang terjadi," pinta Zain.


Meka melihat wajah cemas suaminya. Dia memeluknya lagi menghilangkan rasa takut kehilangannya. Lalu Meka melepaskan pelukannya dan mulai berbicara.


"Mas, tadi aku bermimpi buruk. Dalam mimpi itu aku sedang berada di Apartemen kita. Tapi aku tidak melihat adanya kamu di dekatku. Lalu tiba-tiba bel pintu berbunyi. Aku pikir siapa yang datang. Trus aku mencoba untuk membukanya, aku lihat kamu yang datang. Awalnya aku heran, kenapa kamu diluar dan datang. Saat aku ingin melangkah keluar dari Apartemen untuk menerima uluran tanganku, tiba-tiba aku ditarik kebelakang," Meka menjeda ucapannya.


"Terus apa yang terjadi sayang? Siapa yang menarikmu?" Zain semakin penasaran dengan cerita istrinya.


"Ternyata yang menarikku itu adalah Khodam ku Mas dalam wujud Harimau. Dia mengatakan kalau itu bukan kamu melainkan genduruwo yang merubah wujudnya seperti kamu Mas. Aku terkejut dan bersembunyi dibelakang Harimau itu!"


"Ya Allah sayang...! Dia sudah menipu kamu?"


"Iya Mas, lalu perlahan-lahan kamu berubah menjadi genduruwo wujud aslinya dengan mata merahnya yang menyeramkan. Dan dia..dia pergi mencari Shinta Mas," cerita akhir Meka dengan wajah sedihnya.


"Kenapa dia harus mencari Shinta? Jangan bilang kalau genduruwo itu akan membawa Shinta!" tebak Zain dengan rasa tak percayanya.


Meka mengangguk membenarkan ucapan suaminya.


"Ya, kamu benar Mas, genduruwo itu akan membawa Shinta ke alamnya dan menjadikannya pemuas nafsunya. Karena genduruwo itu tidak bisa membawaku Mas.


"Astaghfirullahal'adzim sayang..., apa Shinta mengetahui itu akan menjadi konsekuensi jika dia membuat perjanjian dengan mahluk ghaib?" tanya Zain geleng-geleng kepalanya.


"Dia terlalu congkak Mas, dia menganggap apa yang dilakukannya saat ini akan selalu berhasil. Padahal yang namanya mahluk ghaib tidak akan bisa dipercaya. Manusia saja sulit untuk dipercayai, apalagi mahluk ghaib," ucap Meka.


"Kamu benar sayang. Mas tidak menyangka Mahasiswi Mas akan berbuat hal keji seperti itu untuk mendapatkan seseorang," Zain membenarkan ucapan Meka.


"Sebenarnya tadi di kelas, aku bertemu Shinta Mas. Dia menatapku dengan tatapan sinis dan tidak bersahabat. Wajahnya juga sedikit pucat. Aku tidak diperbolehkan untuk mendekatinya Mas," ungkap Meka sekilas mengingat keadaan tadi.


"Apa Khodam mu sayang yang melarangnya?"


"Iya Mas, dia bilang jauhi dia."


"Pasti itu karena dia sudah bersekutu dengan mahluk ghaib sayang. Semoga saja kita selalu dihindari dari hal-hal buruk."


"Aaamiiin Mas."


"Ayo sekarang kita ke cafe. Apa mereka sudah memberi khabar?"


"Oh iya, aku belom ngecek ponselku Mas," jawab Meka.


Meka mengambil ponselnya dari dalam tas. Lalu dia mengeceknya dan ternyata ada pesan dari Isna. Meka membaca pesan itu yang memberitahukan mereka akan segera sampai di cafe itu. Meka kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Ayo Mas kita jalan sekarang. Mereka sudah mau sampai di Phuket," ajak Meka.


"Oh baiklah."


Zain dan Meka keluar dari dalam ruangannya dan berjalan menuju parkiran. Saat tiba di parkiran secara tidak sengaja mereka bertemu dengan mantan Asih sahabat Meka di kontrakan.


Eko sedang menjemput Kakaknya yang bernama Bu Arin.


Saat ini Eko dan Bu Arin hendak masuk ke dalam mobil. Ternyata mobil Eko terparkir bersebelahan dengan mobil Zain.


"Loh Meka!" ucap Eko terkejut saat melihat Meka ada di Kampus tempat kakaknya mengajar.


"Eh Eko!" sahut Meka yang berpura-pura.


Zain menatap Eko dengan tidak suka. Dia bisa melihat bahwa laki-laki di hadapannya saat ini memiliki perasaan terhadap istrinya. Lalu Zain mengambil tangan Meka dan menggenggamnya.


Bu Arin yang melihat adegan itu menjadi heran. Dalam pikirannya penuh tanda tanya dan kecurigaan. Sedangkan Eko sudah mengetahui kalau laki-laki yang disebelah Meka adalah kekasihnya.


"Loh Pak Zain jemput Meka?" tanya Eko yang tidak mengetahui jika Zain adalah Dosen di Kampus itu.


Eko tidak tau bahwa laki-laki yang di cintai Kakaknya adalah kekasih Meka. Hingga saat itu juga dia mengetahui kebenarannya.


"Loh Ko, kamu kenal dengan mereka?" tanya Bu Arin.


"Eh iya Mbak, Meka ini yang aku ceritakan. Sahabat dari mantanku. Mereka satu kontrakan. Dan kemaren kami pernah jalan bareng Mbak!" jelas Eko.


Bu Arin terkejut mendengar bahwa perempuan yang disukai adiknya adalah Mahasiswi di Kampusnya yang menjadi penghalangnya untuk mendapatkan Dosga Zain. Tapi tiba-tiba dia menyeringai penuh arti. Dan dia memiliki rencana jahat hasil pertemuan ini.


"Oh....kebetulan sekali ya Pak Zain. Dunia ini emang benar-benar sempit ya Pak. Ternyata mantan adik saya adalah sahabat Meka," ucap Bu Arin yang berpura-pura tersenyum ramah.


"Eko, Pak Zain ini Dosen di Kampus ini. Dan beliau teman Mbak disini, iya kan Pak Zain..," ucap Bu Arin sambil menyentuh lengan Dosga Zain.


Zain buru-buru menjauhkan lengannya dari Bu Arin yang terlihat genit.


"Oalah.....Ternyata satu Kampus toh semuanya. Benar-benar tak terduga ya Mbak," balas Eko tersenyum menatap Meka.


"Maaf Ko, kami mau jalan dulu ya. Ada urusan," Meka sengaja menghentikan obrolan yang tidak nyaman ini.


"Oh kalian mau kemana? Kalau mau makan siang, bareng kita aja!" ajak Bu Arin yang mencoba akrab.


"Ah tidak usah Bu, kami masih ada urusan lainnya. Kalau gitu kami duluan ya Bu Arin, Eko," balas Dosga Zain.


Bu Arin tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa diam saja.


"Oh iya Pak, silahkan," jawab Eko.


Lalu Zain membawa Meka masuk ke dalam mobil. Dan Zain melajukan mobilnya meninggalkan area Kampus.


"Mas tidak menyangka kalau Eko adalah adiknya Bu Arin. Kamu jangan pernah mendekatinya ya sayang," pinta Zain yang tidak ingin istrinya kenapa-napa.


"Maksud Mas dekat sama Eko? Buat apa aku dekat sama dia. Lagian gak ada urusan Mas sama dia," jawab Meka.


"Ya mungkin saat ini tidak. Mas lihat sepertinya dia punya perasaan sama mu sayang," ungkap Zain sambil tetap fokus menyetir.


"Apa Mas bisa melihat rasa sukanya denganku?"


"Ya, kami sesama lelaki pasti mengetahui apakah laki-laki lain memiliki perasaan terhadap kekasihnya apalagi kamu istri Mas," balas Zain.


"Iya Mas, aku juga merasakannya, bagaimana dia menatapku ketika waktu itu kita jalan berempat," Meka membenarkan tebakan suaminya.


"Ya udah, kamu jangan berinteraksi lagi dengan dia. Mas takut dia punya niat jelek terhadap kita."


"Iya Mas."


Tiba-tiba ponsel Meka berbunyi. Meka langsung mengambilnya dari dalam tas.


"Akhirnya panjang umur mereka."


"Deon dan Isna ya sayang?" tanya Zain.


"Iya Mas, aku angkat dulu ya Mas."


"Heum."


"Hallo Assalamu'alaikum Deon!" sapa Meka.


"Wa'alaikumussalam Mek, kami udah mau sampai nih. Kalian dimana?" tanya Deon diseberang.


"Kami juga nih bentar lagi sampai, kalau kalian duluan sampai, tunggu aja di cafe. Kita makan siang dulu ya," pinta Meka.


"Oh iya, baiklah. Sampai ketemu di cafe ya, Assalamu'alaikum," ucap Deon menyudahi tlp nya.


"Iya De, Wa'alaikumussalam," sahut Meka.