Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 38


Meka dan Zain masih berada di bandara. Mereka menunggu diruang tunggu untuk keberangkatan.


"Sayang, kamu yang tenang ya. kita akan sampai kok disana!" Zain berusaha membuat Meka tenang.


Meka hanya menatap sekilas Dosganya dan dia kembali melihat ponselnya.


Lalu pemberitahuan untuk keberangkatan sudah terdengar. Meka dan Dosganya naik ke Pesawat. Sebelum berangkat mereka berdo'a untuk keselamatan agar sampai ke tujuan.


Setelah semua persiapan selesai, Pesawat pun berangkat. Meka dan Dosganya harus melakukan transit ke Jakarta. Selama satu jam mereka berada di Pesawat, akhirnya mereka sampai di bandara Soekarno-Hatta. Lalu kedua nya masuk keruang tunggu untuk berangkat ke Sumatera.


Jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Dan Pesawat berangkat pukul 17.30. Meka terus gelisah dan semakin tegang. Dia bingung dengan perasaan yang dirasakannya. Selama menunggu setengah jam, Zain berusaha menghibur Meka agar tidak terlalu memikirkan apa yang akan terjadi.


Hingga akhirnya mereka naik ke pesawat dan berangkat menuju Sumatera.


Selama perjalanan, Meka mencoba memejamkan matanya untuk menenangkan hatinya. Saat matanya terpejam, dia terlelap. Dalam tidurnya, Meka bermimpi melihat Mama dan adik bungsunya melambaikan tangannya kearah Meka. Meka melihat disekelilingnya hanya lahan kosong tak ada penghuninya.


Meka merasa senang bisa bertemu Mamanya dan adiknya.


"Ma.., Meka senang banget bisa ketemu Mama! Tapi kenapa Mama sudah berganti pakaian? Dan Biyu kenapa pakaiannya kembaran sama Mama berwarna putih?" Meka heran melihat keduanya.


"Sayang, belajarlah untuk mandiri dan kamu juga harus kuat hidup sendiri. Mama tidak bisa menemanimu lagi. Mama sayang sama Meka. Jadilah anak dan istri yang baik," pesan Mamanya sambil membelai rambut anaknya dengan lembut.


"Kenapa Mama bilang seperti itu! Mama kok ngomongnya aneh gitu? Ini juga kenapa kalian kelihatan putih pucat? Mama dan Biyu sakit ya? Ayo berobat biar Meka bawa ke Dokter!" Meka menarik tangan Mama dan adiknya. Namun mereka tak bergerak.


"Ayo Ma! Kalian harus berobat!" Meka mencoba menggenggam tangan Mamanya lagi. Namun yang tidak ada tangan yang dipegang.


Meka membalikkan badannya kearah Mamanya. Dan dia justru melihat Mama dan adiknya menjauh melambaikan tangannya seperti tanda perpisahan. Semakin lama sosok keduanya menjauh dan menghilang. Meka berteriak


"Mama...! Biyu...!" Meka tersentak terbangun dari tidurnya. Dia melihat kesampingnya. Lalu melihat kedepan. Ternyata dia berada didalam Pesawat.


"Sayang, kamu kenapa? Kamu teriak-teriak gitu. Kamu mimpi ya?" tanya Zain yang khawatir.


"Zain, aku mimpiin Mama dan Biyu tapi mereka menjauh dariku. Dan aku melihat mereka menggunakan pakaian couple berwarna putih. Trus wajah mereka pucat seperti orang sakit. Aku coba mengajak mereka untuk berobat, tapi mereka malah menjauh dariku. Aku takut Zain! Kenapa mimpiku buruk sekali!" Meka memeluk Zain dari samping duduknya.


"Nih kamu minum dulu. Kamu pasti terus mikirin mereka sehingga kamu bermimpi buruk yang," Zain menenangkan Meka dengan mengusap-usap bahu Meka.


Akhirnya Pesawat sampai di Sumatera dengan menempuh perjalan dua jam. Mereka tiba di Sumatera sudah dalam keadaan gelap. Zain mengajak Meka turun dan mengambil barangnya di kabin. Setelah itu mereka turun dari Pesawat.


"Sayang, kamu gak coba menghubungi Papa kamu? Kasih tau kalau kita sudah di Sumatera," ucap Zain sambil terus berjalan.


Meka mengangguk dan mengambil ponselnya. Lalu dia menghubungi no Papanya. Namun beberapa kali panggilan, tidak juga diangkat. Meka terus mencoba menghubungi tapi tetep juga gak diangkat.


"Bagaimana sayang, gak diangkat juga?" tanya Zain.


Meka menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia semakin panik dan khawatir.


"Ada apa ini Zain?" tanya Meka dengan nada pelan.


Zain membawa Meka berjalan keluar untuk naik Grab online. Setelah mereka naik ke dalam mobil. Meka mencoba lagi menghubungi no Papanya. Tetapi nihil, tidak ada yang menjawab panggilannya.


"Coba hubungi Om kamu sayang!" suruh Zain.


"Iya kamu benar, aku akan coba." Lalu Meka menghubungi no Omnya, dan langsung diangkat oleh Tantenya.


"Assalamu'alaikum Om..!" sapa Meka.


"Wa'alaikumussalam nak!" sahut Tantenya.


"Loh kok Tante yang ngangkat. Om kemana Tan?" tanya Meka.


"Iya Om kamu lagi berobat nak!" jawab Tantenya yang berbohong. Tantenya gak sanggup harus mengatakan apa yang sedang terjadi. Dia tak sanggup Jiak harus berterus terang.


"Oh..., emang Om sakit apa Tante?" tanya Meka lagi.


"Sakit biasa Meka. Kamu dimana nih nak?" tanya balik Tantenya.


"Meka udah mau jalan kerumah Tan! Tadi Meka hubungi no Papa, tapi gak diangkat-angkat. Tante sekarang dimana? Meka juga hubungi no Mama, kenapa gak aktif ya Tan?" tanya Meka heran.


"Iya nak, Tante memang sedang nemani Biyu yang sedang tidur pulas dan tidak bangun-bangun lagi. Dan Papa kamu sedang nerima tamu didepan yang datang melayat," bathin tantenya sambil menahan tangisnya.


"Oh ya sudah, nanti Meka minta tolong sampaikan sama Papa, kalau Meka udah jalan menuju rumah. Nih lagi didalam grab mobil. Mungkin sekitar setengah jam Meka sampai. Dan Meka datang bersama teman Meka Tan!" Meka memberitahukan kedatangannya sebentar lagi.


"Iya nak," Tantenya tak sanggup meneruskan obrolannya, dan dia pun mematikan ponselnya. Tantenya menangis tersedu-sedu. Lalu kakak iparnya, istri dari abangnya Papa Meka menghampirinya.


"Siapa dek yang tlp?" tanya nya.


"Meka kak, dia bentar lagi sampai. Aku gak sanggup kak melihat kehadirannya yang akan melihat kepedihan ini," terang iparnya.


"Biar kakak aja yang sampaikan sama Papa ya Meka. Kamu istirahatlah dikamar Biyu ya," suruh iparnya.


"Iya kak, hiks hiks hiks," Tantenya terus menangis.


"Kamu jangan larut dalam kesedihan, kasihan baby dalam perutmu. Kamu sudah makan dek?" tanya kakak iparnya.


"Aku belom selera makan kak!" balasnya.


"Jangan seperti itu dek, ingat kamu lagi mengandung. Nanti anak kamu kelaparan didalam. Biar kakak suruh bibi nyiapin makanan kamu ya dan diantar kemari," ucap kakak iparnya.


Lalu istri abangnya datang menghampiri adik iparnya yang sedang duduk menemani jenazah istri dan anaknya.


"Dek, sebentar lagi anakmu sampai disini," ucap kakak iparnya.


"Gimana ini bang, aku gak sanggup menemuinya. Dia pasti merasa terpukul atas kehilangan Mama dan adiknya," ucap Papanya Meka dengan abangnya.


"Biar abang yang menyambut mereka. Kamu disini aja," jawab abangnya.


Lalu abangnya meninggalkan adiknya yang sedang terduduk disamping istri dan anaknya. Dia berjalan kearah pintu luar rumah yang sedang terbuka. Karena banyak orang yang berdatangan untuk melayat. Abangnya pun bergabung dengan tamu bapak-bapaknya sambil menunggu kedatangan Meka. Mereka ngobrol membahas tentang kecelakaan yang terjadi dengan almarhum.


Sedangkan Meka dan Dosganya masih dalam perjalanan. Mereka hampir sampai diarea rumah Meka. Meka semakin deg-degan. Perasaannya semakin gelisah bercampur sedih.


Tak berapa lama mobil Meka memasuki area perumahan Meka. Dia heran melihat ada bendera kuning di depan jalan besar.


"Pak, kenapa ada bendera kuning ya didepan tadi?" tanya Meka heran.


"Ada yang meninggal mungkin yang," balas Dosganya.


Perasaan Meka mulai tak karuan. Dia teringat kembali akan kata-kata dari bisikkan kemaren. Dia terus melihat kedepan. Semakin kedepan, Meka melihat orang sangat ramai keluar masuk dari depan gang rumahnya. Lalu mobil masuk kedalam gang, tapi tidak bisa karena ada yang meninggal. Akhirnya mobil berhenti dan mereka turun dari mobil. Meka melihat bendera kuning didepan gang nya.


"Siapa yang meninggal ya Pak?" Meka semakin panik saat orang-orang melihat kearahnya.


"Ayo sayang kita jalan terus, dimana rumah kamu?" tanya Dosganya.


"Ayo Pak, aku kok gak enak ya, ada apa ini kenapa mereka masuk kerumah ku?" Meka berlari ke arah rumahnya.


Zain mengikuti langkah Meka yang berjalan buru-buru.


"Sayang hati-hati, pelan-pelan, jangan lari nanti kamu jatuh," Zain mengingatkan Meka.


Meka tak menghiraukan ucapan Dosganya, dia terus berlari hingga sampai kedepan pagar rumahnya. Dia tercekat dan berdiri seperti patung. Tatapannya melihat kedalam rumah melihat banyak orang yang membaca yasinan.


Apa ya yang akan terjadi sama Meka....?


Ayo selalu dukung karyaku ya. Jangan lupa juga singgah ke Novel ku yang satu lagi.


KASIH SAYANG YANG TERTUNDA.


Kisahnya ini bagus banget. Walaupun awal ceritanya rada kurang menarik tapi semakin kedalam semakin menarik kisahnya.


Jangan lupa kasih aku Vitamin Like, Vote, Hadiah juga ya.... Dan jadikan aku Favoritmu....


See you again....!!