Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 180


Meka dan Zain saling memandang penuh arti. Setelah si Khodam membacakan mantranya, Mbah yang tadi ngobrol sama mereka sudah tidak bisa melihat Zain dan Meka.


"Pergilah dari sini Meka, waktunya tidak banyak. Karena pagar ghaib ini hanya sementara," ucap Khodamnya memberitahu.


"Baiklah, terima kasih atas bantuannya," balas Meka.


"Mas, ayo kita keluar dari sini," ajak Meka.


Zain dan Meka keluar dari pendopo itu dan mereka berdua berjalan ke arah warung bagian depan. Meka melihat orang-orang yang berkunjung ke warung itu. Tapi dia tidak tau yang mana Dukun itu.


Meka dan Zain terus melangkah, mereka berjalan cepat meninggalkan warung itu.


Sesampainya Meka dan Zain di parkiran, mereka segera masuk. Zain langsung mengemudikan mobilnya jauh dari warung itu.


Akhirnya mereka bisa lepas dari pandangan Dukun itu. Meka merasa legah, dan dia langsung memeluk lengan suaminya.


"Mas was-was banget sayang tadi. Mas khawatir dengan kamu. Bagaimana bisa kita keluar dari sana tanpa terlihat Dukun itu?" tanya Zain penasaran.


"Iya Mas, Khodamku memberi kita pagar ghaib tadi sehingga si Mbah dan Dukun itu tidak bisa melihat keberadaan kita," jawab Meka.


Zain mengerutkan keningnya bingung mendengar Meka menyebutkan nama si Mbah.


"Si Mbah? Maksudnya?" tanya Zain bingung tapi tetap fokus nyetir.


"Mas, si Mbah yang tadi menemui kita itu sudah meninggal. Dia sengaja membawa kita ke pendopo itu. Dimana tempat itu adalah tempat kesukaannya. Dan si Mbah sudah menyelamatkan aku dari Dukun itu," jawab Meka.


"Itu artinya si Mbah mahluk ghaib?" tanya Zain tak percaya.


"Iya Mas dia mahluk ghaib. Dia hanya akan memperlihatkan dirinya kepada orang tertentu. Dan karena aku memiliki Khodam leluhur, yang memang harus dilindungi, makanya dia membawaku ke pendoponya," jawab Meka.


"Oh Tuhan.....Mas gak nyangka bisa berbicara dengan mahluk ghaib. Pantes saja dia tidak makan. Ternyata dia mahluk ghaib," ucap Zain yang tak menyangka.


"Tadi juga si pelayan pasti merasakan bulu kuduknya berdiri. Mas tidak lihat gimana wajah pelayan tadi?" Meka balik bertanya.


"Iya sayang, dia kelihatan bingung. Terus seperti mencari sesuatu, wajahnya kelihatan ketakutannya," jawab Zain.


"Iya Mas, itu karena dia tidak bisa melihat si Mbah. Dan dia pasti ketakutan berada di pendopo itu. Karena tidak ada orang yang boleh menginjakkan kakinya ke pendopo itu, karena pendopo itu tempat kesayangan si Mbah," jelas Meka.


"Loh terus kenapa kita bisa ke pendopo itu tanpa di hentikan pemilik yang sekarang?" tanya Zain bingung.


"Aku gak tau Mas, mungkin pemilik sekarang adalah anak si Mbah, dan dia mengerti jika si Mbah yang menginginkannya. Sehingga dia membiarkan itu terjadi," jawab Meka.


Zain tidak berkata lagi, dia diam dan fokus mengemudikan mobilnya.


Sementara Meka menikmati pemandangan dari luar jendela.


Hingga sejam kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Zain membawa Meka untuk mengobati kakinya yang sakit.


Saat Meka menginjakkan kakinya ke dalam rumah sakit, langkah Meka terhenti. Dia mendengar jeritan-jeritan kesakitan di dalam rumah sakit itu. Dan Meka juga mendengar suara tangisan bayi yang menyayat hati.


Meka melihat banyak wanita yang berjalan di dalam rumah sakit dengan wajah pucatnya. Dan Meka juga melihat wanita itu menggendong sesuatu, tapi bukan bayi, melainkan....


"Oh ya ampuuun Mas....!" Meka terkejut dan menutup mulutnya tak percaya.


"Ada apa sayang?" tanya Zain heran.


Beberapa orang menoleh ke arah Meka dengan raut wajah bingung.


"Kenapa perempuan itu?" tanya si karyawan di meja bagian rekam medis.


"Aneh, kayak lihat hantu aja ya," balas temannya.


Ucapan Meka juga membuat yang lainnya mengeluarkan kata-kata.


"Ada apa dengan perempuan itu?" tanya si Ibu yang duduk di depan ruangan Dokter kandungan.


"Iya Bu, buat orang kaget aja dengar suara kencangnya," celetuk perempuan yang masih muda.


Dan banyak lagi yang lainnya berkomentar mendengar suara kencang Meka.


"Mas, i--itu Mas," Meka menunjuk ke arah salah satu wanita yang sedang memegang janinnya.


"Mana sayang? Wanita yang sedang menunggu di depan ruangan Dokter kandungan ya," ucap Zain dengan suara pelannya.


Meka lupa akan sesuatu. Kalau suaminya tidak bisa melihat apa yang di lihatnya.


"Itu Mas.....wanita yang sedang menggendong janinnya yang masih berdarah-darah," ucap Meka dengan suara pelannya.


"Sayang, Mas tidak bisa melihatnya. Kamu menunjuk siapa?" tanya Zain.


Lalu Meka tersadar dan menatap suaminya. Dia pun tersenyum hambar.


"Aku lupa Mas, kalau kamu tidak bisa melihatnya," ucap Meka lupa.


"Terus kamu nunjukin siapa?" tanya Zain lagi.


"Mas, t--tadi a--aku lihat wanita yang wajahnya pucat sedang menggendong janin yang masih berlumuran da--darah Mas. Mereka sedang berjalan dan duduk di depan ruangan Dokter kandungan," jawab Meka yang takut.


"A--apa...! Ja--janin sayang?" tanya Zain tergagap.


"Iya Mas, janin yang masih berbentuk gumpalan daging Mas. Wanita-wanita itu menangis Mas sambil melihat ke arah janin yang ada di genggaman tangannya," jawab Meka.


"Astaghfirullahal'adzim sayang..!" Zain terkejut mendengar penjelasan Meka.


"Kamu serius sayang?" tanya Zain lagi.


"Iya Mas serius. Kita pergi dari sini aja Mas. Aku gak mau berurusan dengan mereka," Meka mengajak Zain keluar dari rumah sakit itu.


"Tapi kaki kamu harus di obati sayang. Apa kamu gak bisa tidak melihat ke mahluk itu?" tanya Zain.


"Mereka tau Mas kalau aku bisa melihat mereka. Jadi tidak mungkin menghindarinya," jawab Meka.


"Baiklah kalau kamu menginginkannya. Kita pergi dari sini," ucap Zain yang menuruti kemauan Meka.


Zain dan Meka melangkah pergi dari sana. Meka mencoba menghindari dari tatapan mahluk yang menyeramkan itu. Tapi tetap saja, Meka tak bisa menghindarinya


Mahluk-mahluk itu sudah mengetahui keberadaan Meka. Dan mereka melihat kehadiran Meka di ruang sakit itu.


"Tooolooong kaaamiiii!" teriak salah satu mahluk itu.


"Hihihihihihi, keeembaaliiikaaan jaaniiinkuuuu, aaanaaakku....hihihihihihi," mahluk itu menyeringai memamerkan senyum mengerikannya.


"Mas mereka tau aku disini. Gimana ini?" tanya Meka yang terus menggandeng lengan Zain.


"Ayo pergi dari sini, cepatan," ajak Zain sambil menarik tangan Meka.


"Jaaangaaan peeergiiii, tooolooong, hihihihihihi," mahluk itu melengking meminta tolong.


Namun Meka tak menggubrisnya, dia terus berjalan dan akhirnya bisa keluar dari rumah sakit itu.


Zain langsung membawa Meka ke mobil. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lebih cepat agar segera menjauh dari rumah sakit itu.


"Ya Allah Mas..., mahluk tadi meminta tolong Mas," ucap Meka memberitahu.


"Minta tolong sama siapa sayang?" tanya Zain yang sekilas menoleh ke arah Meka.


"Mereka minta tolong sama aku, Mas. Mereka menyodorkan janinnya ke arahku. Meminta agar janinnya di kembalikan," jawab Meka.


"Janin di kembalikan, janin siapa sayang?" tanya Zain lagi.


"Aku juga gak tau Mas, apa maksudnya. Aku rasa kita tidak usah membahasnya Mas," jawab Meka.


"Iya sayang. Tapi menurut Mas ngapain mahluk itu minta tolong ke kamu?"


"Ya gak ngerti juga sih Mas. Udah kita cari klinik dekat sini aja Mas," ajak Meka.


"Iya sayang, nih Mas pelankan dikit jalan mobilnya, biar bisa ketemu kliniknya," balas Zain.


Meka masih memikirkan mahluk tadi. Dia merasa seperti ada kaitannya dengan masalah yang sedang di hadapinya. Mengingat cerita tentang Bu Arin dan Gadis kembang desa itu.


"Apa ini suatu kebetulan, atau memang itu suatu pemberitahuan," gumam Meka.


"Kamu bilang apa sayang?" tanya Zain yang mendengar Meka ngomong.


"Ah nggak Mas, aku masih teringat mahluk tadi," jawab Meka yang sengaja tidak jujur.


Akhirnya mereka sampai di sebuah klinik yang tak jauh dari rumah sakit itu.


"Ini sayang kliniknya. Kita sampai juga. Ayo turun bait cepat di obati lukanya.


"Iya Mas, ayo."


Zain dan Meka keluar dari mobil, mereka masuk ke dalam klinik yang ternyata ramai pengunjung. Meka melihat banyak Ibu dan anak kecil yang berobat.