Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 291


Adalah sosok laki-laki itu dengan senyum ramahnya juga dapat khabar kamu yang ingin dicapai dengan


terbangun, dia duduk di atas tempat tidur kecil dan melihat sekeliling. Sakit di kepalanya sudah mulai reda. Namun saat ini yang ada diingatkannya hanya Mona yang dicintainya. Zain beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu.


Tepat saat pintu terbuka, Papa dan Mamanya Zain sudah berdiri di depan pintu kamar itu. Mereka juga berencana ingin menemui anaknya di dalam kamar.


"Sayang, kamu sudah sadar nak?" Mamanya Zain langsung memeluk anaknya dengan rasa bahagia.


"Emang apa yang terjadi dengan Zain Ma?" tanya Zain bingung.


Papa dan Mamanya Zain sudah sepakat tidak akan menceritakan apapun kepada Zain tentang jiwanya yang lepas dari raganya. Mereka memilih menutup rapat-rapat kejadian itu.


"Sayang m, kamu pingsan kemaren di rumah. Dan tidak sadarkan diri. Mama khawatir, makanya kami bawa kamu ke rumah Ustadz Ahmad. Karena Papa mau mengenalnya," jawab Mamanya Zain.


"Iya Zain, kami benar-benar khawatir. Karena kamu tidak mau bangun saat itu," sambung Papanya. "Sekarang gimana keadaanmu nak?" tanya Papanya.


"Zain sudah baik-baik saja Pa, Ma," jawab Zain yang sedang celingak-celinguk.


"Kamu kenapa Zain?" tanya Mamanya heran.


"Ma, kemana Mona? Kenapa Zain tidak melihatnya? Dan kenapa dia tidak menunggu Zain di sini?" tanya Zain santai.


Mama dan Papanya saling menoleh. Mereka terpelongo mendengar pertanyaan anaknya yang menanyakan tentang keberadaan Mona, wanita yang sudah merusak anaknya.


"Sayang, kasihan Mona, dia sudah menunggumu kemaren malam di sini. Dan hari ini dia izin mau ke luar kota untuk urusan pekerjaan," jelas Papanya Zain.


"Oh gitu ya. Ma, Zain laper mau makan," ucap Zain memberitahu.


"Iya sayang, ayo kita makan. Ustadz dan yang lainnya juga sendang menunggu kamu diruang makan," balas Mamanya.


Kemudian Papa dan Mamanya membawa Zain bergabung dengan yang lainnya di ruang makan. Di sana ada meja makan panjang yang bisa menampung lebih dari enam orang.


"Alhamdulillah akhirnya nak Zain sadar. Ayo silahkan duduk," ucap si Nenek yang menyuruh Zain duduk.


"Gimana keadaanya?" tanya Papanya Meka terhadap besannya.


"Dia merasa baikan Pak besan. Kami sangat bersyukur Zain tidak kenapa-napa," balas Papanya Zain.


Zain bingung saat mendengar kata besan. Dia menatap lekat wajah Papanya Meka. Zain merasa sangat familiar dengan melihatnya. Namun saat dia memaksa mengingat sesuatu, kepalanya akan terasa sakit. Zain pun menunduk dan memejamkan matanya sejenak.


"Ada apa nak Zain?" tanya Kakek tua saat melihat reaksi Zain berbeda.


Mereka yang ada di meja makan itu menoleh ke arah Zain semuanya. Mereka menjadi cemas dan khawatir.


"Tidak apa-apa, saya hanya seperti mengingat seseorang dengan wajah seperti Bapak itu," jawab Zain sambil menunjuk ke arah mertuanya.


Seketika semuanya terdiam. Terutama Papanya Zain dan Meka. Mereka ingin memberitahu sebenarnya yang menimpa Zain, tapi khawatir kalau Zain tidak akan mempercayainya dan menganggap mencoba menjauhinya dari Mona. Makanya mereka memilih diam saat ini.


"Ah ayo silahkan di makan. Nanti keburu dingin loh sarapannya," ucap Ummi yang sengaja membuyarkan pikiran mereka semua.


"Walah, sampai lupa ada makanan yang lezat di depan mata," celetuk Kakek tua. "Ayo kita makan," ajaknya.


"Iya mari makan Pak, nikmati hidangan ala kadarnya ya," ucap Ustadz Ahmad selaku tuan rumah.


"Iya, kamu justru bersyukur keluarga Ustadz mau menerima dan menghidangkan sarapan buat keluarga Zain," balas Papanya Zain dengan rasa haru.


Mereka semua menikmati sarapan bareng di pagi hari. Zain masih belum mengerti dengan keadaan yang di alaminya saat ini. Sesekali dia melirik ke arah Papanya Meka. Lalu menoleh ke arah Papanya dan Mamanya. Zain merasa mereka seperti menyembunyikan sesuatu darinya.


Setelah sarapan, mereka berkumpul di ruang tengah. Papanya dan Mamanya Zain mengajaknya untuk berbicara sesuatu.