
Meka hanya mengangguk membenarkan ucapan mereka semua.
"Ya ampuuun Mek...! Kasihan banget dia! Gimana ceritanya bisa terjadi? Gw jadi takut nih Mek!" ucap Isna.
"Terus kita kemana nih Mek? Apa kita akan mendatangi rumah itu. Gw ngeri Mek kalau kesana," sambung Deon.
"Iya Mek, kita balik aja yuk ke Jogja. Nanti malah kita yang kena sasaran," ucap Isna lagi.
"Kita harus kesana Na....Kita kemari kan bareng dengan rombongan, kita harus tau keadaan disana," balas Meka.
"Iya, kita harus melihat langsung keadaan disana. Bapak tidak mau melepaskan tanggung jawab begitu saja terhadap Mahasiswa lainnya. Mari kita lewati semua ini bersama. Kita sudah melangkah sejauh ini dan kita harus menyelesaikannya," ucap Dosga mereka.
Lalu Zain melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mereka melewati beberapa rumah masyarakat disitu. Ada yang memiliki rumah gubuk bahkan tidak layak pakai, ada yang rumahnya mewah bak Istana. Sungguh pemandangan yang nyata berbeda dilihat.
"Apa sebenarnya yang terjadi di Desa ini? Kenapa sangat misterius?" pikir Meka.
"Kamu akan bertemu dengan seseorang yang akan memberitahumu tentang keadaan yang sebenarnya di Desa ini," tiba-tiba Meka mendengar Khodamnya berkata.
Meka menarik nafas dalam dan menghempaskannya perlahan. Meka masih bingung harus berbuat apa. Apakah melanjutkan atau melaporkan semua ini ke Polisi. Namun yang menjadi pikiran Meka, polisi tidak akan mempercayai hal yang berbau mistik.
"Aku bingung Mas, apa kita harus lapor polisi aja ya tentang hilangnya mereka? Pasti keluarga mereka bertanya kemana mereka. Dan kenapa kita justru malah ada," ucap Meka kebingungan.
"Oh iya ya Mek! Gw gak kepikiran sampai disitu. Terus kita harus apa?" tanya Deon.
"Mas, coba kamu hubungi salah satu Dosen di Kampus. Dan coba tanyakan ke mereka, apakah Bu Arin hari ini masuk Kampus atau tidak," ucap Meka yang minta suaminya menghubungi teman Dosennya di Kampus.
"Kenapa Mas harus menghubungi Dosen di Kampus sayang? Mereka kan taunya kita tour kegiatan di sini," balas Zain yang masih fokus membawa mobilnya.
"Coba aja Mas, aku kok rasanya semua ini seperti sudah direncanakan sama Bu Arin ya," ucap Meka curiga.
"Coba ya Mas akan menghubungi mereka."
Lalu Zain menghentikan mobilnya di salah satu rumah warga yang keliatan sudah tak layak digunakan. Rumah yang terbuat dari semen dan beratap seng biasa serta tembok dari kayu. Mobil segera menepi. Zain mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu Dosen di Kampus yang hari ini ada jam kuliah.
"Assalamu'alaikum Pak Ahmad!" panggil Zain.
"Wa'alaikumussalam Pak Zain...! jawabnya.
"Pak Ahmad hari ini ada jam kuliah di Kampus kita?" tanya Zain.
"Iya Pak Zain. Oh ya Pak Zain kemana gak masuk sudah dua hari ini?" tanya Pak Ahmad.
"Maksud anda gimana ya Pak?" Zain malah balik bertanya.
"Tadi saya masuk jam kelas anda. Karena dari kemaren Pak Zain tidak masuk mengajar. Jadi saya dan Bu Arin yang menggantikan Pak Zain mengajar," jelas Pak Ahmad.
"Bu Arin ada di Kampus Pak?" tanya Zain yang terkejut.
"Iya, beliau lagi ngajar sekarang di kelasnya Pak Zain," jawabnya.
"Bagaimana mungkin Pak! Kami kemaren mengadakan tour kegiatan untuk penyuluhan ke Desa," ucap Pak Zain bingung.
"Loh, Pak Zain gimana sih. Tournya kan dilaksanakan bulan depan dengan para Dosen yang bertanggung jawab dan Mahasiswa yang nantinya ikut. Karena belom ada persetujuan dari pihak Kampus," jelas Pak Ahmad.
"Ini gak mungkin Pak! Kami sudah melaksanakannya kemaren, maka dari itu saya gak masuk mengajar," balas Zain.
"Pak Zain ini aneh aja. Ya sudah Pak, saya mau ke ruangan saya dulu. Bapak jangan lama-lama izinnya," ucap Pak Ahmad yang menyudahi obrolannya.
Zain tak menjawabnya, dia malah langsung mematikan ponselnya. Tatapannya kosong dan pikirannya kacau seketika.
"Bagaimana mungkin!" Apa yang terjadi?" gumam Pak Zain.
"Mas, kamu kenapa? Apa yang dikatakan Dosen itu?" tanya Meka gak sabaran.
"Sepertinya kita sengaja dipermainkan sama Bu Arin. Mas bingung dengan kejadian ini," ucapnya sambil menatap ke depan.
Lalu dari dalam rumah reyot itu keluar sosok Kakek yang sudah renta yang menggunakan sorban dikepalanya. Kakek itu melihat ke arah mobil mereka. Dia pun menghampiri mobil itu dan mengetuk pintu mobilnya.
"Eh Mek lihat itu ada kakek-kakek nih," tunjuk Isna.
Zain menoleh kesampingnya dan melihat kakek itu mengetuk pintu kaca Isna. Zain membukanya dan menyapa kakek tua itu.
"Assalamu'alaikum kek? Maaf kalau kami memarkirkan mobil di depan rumah ini," ucap Zain sopan.
"Kalian ini ada keperluan apa ke Desa ini?" tanya nya.
"Mereka sudah tidak ada lagi di sana. Buat apa kalian ke rumah itu? Ayo masuk dulu kerumah saya," ajak kakek itu.
"Mek, Lo percaya sama kakek itu? Nanti dia juga seperti yang lainnya," celetuk Deon.
"Iya Mek, lihat aja rumahnya reyot begitu. Serem ih tuh kakek," sambung Isna.
"Lebih baik kita ikuti aja ajakan kakek itu. Apaan tau kita dapat petunjuk," ucap Dosga mereka.
"Iya Mas, kamu benar. Kakek itu pasti ingin memberitahukan sesuatu ke kita, makanya ngajak kita masuk ke dalam rumahnya," balas Meka.
Lalu Meka dan kedua sahabatnya keluar dari mobil. Sedangkan Pak Zain memarkirkan mobilnya ke halaman rumah itu. Setelah itu dia menyusul Meka yang berjalan ke teras rumah itu.
""Ayo nak, lebih baik kalian masuk ke dalam, gak baik diluar sana," ajak Kakek itu.
Mereka berempat masuk ke dalam rumah itu dan melihat isi dari rumah tersebut. Tidak ada apa-apa sama sekali. Hanya tikar yang digelar di lantai.
Setelah kami semua masuk ke dalam rumah itu, tiba-tiba istri Kakek itu keluar dari arah dapur dan melihat keberadaan kami.
"Ada tamu tok Pak! Kenapa mereka bisa datang kesini Pak? Apa Ki Baron minta tumbal lagi ya Pak bulan ini?" tanya Istrinya yang keceplosan.
"Bu, biarkan mereka duduk dulu dan buatkan minuman untuk mereka," suruh suaminya.
"Iya Pak," balas istrinya.
"Oh ya kalian silahkan duduk dulu. Biar enak kita ceritanya," ucap Kakek itu.
Meka dan yang lainnya duduk lesehan ditikar. Meka menatap sekeliling, dan tidak mendapatkan foto keluarga milik kakek ini disana.
"Oh ya kek, kami kesini karena ada susatu yang mengganjal pikiran. Saya berharap akan mendapat bantuan dari kakek," ucap Meka.
"Berapa orang rombongan kalian yang datang ke Desa ini" tanya Kakek itu.
"Kami lumayan banyak Kek, ada satu Bus. Dan kami disuruh tinggal dirumah besar itu Kel," jelas Meka.
"Apa kalian bertemu Ki Baron dan Kepala Desa? Mereka yang menyuruh kalian untuk tinggal dirumah itu?" tanya Kakek itu lagi.
"Iya Kek, tapi kami tidak tau apa yang terjadi karena kami kemaren malam tidur di luar dari Desa ini," jawab Meka.
"Bersyukurlah, kamu memilikinya. Kalau tidak, kamu juga akan mengalami hal yang sama dengan teman-temanmu," ucap Kakek itu.
"Apa maksud Kakek? Kenapa dengan mereka kek?" tanya Isna yang ikut ngobrol.
"Mereka semua sudah tidak ada. Semua sudah habis dibantai sama Ki Baron dan mahluk ghaib lainnya. Saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong mereka," sesal Kakek itu.
"Boleh kami ingin tau tentang Desa ini?" pinta Zain.
"Tidak ada yang selamat jika sudah masuk ke dalam Desa ini. Kecuali mereka yang membawa tumbal itu masuk ke Desa ini," jelas Kakek itu.
"Membawa tumbal? Maksudnya kek?" tanya Meka.
"Apa kalian ingin mendengarnya?"
Mereka serempak menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Kakek itu.
"Orang yang membawa kalian itu kemari adalah bagian dari salah satu keturunan orang yang ada di Desa ini. Sehingga dia bisa bebas masuk ke dalam Desa ini," ucap Kakek itu.
"Itu artinya Mek, Bu Arin anak dari penduduk Desa ini?" tanya Deon tak percaya.
"Saya rasa kalian sudah mengetahui siapa orangnya," sambung Kakek itu.
"Ya ampun Mek....! Pantes aja dia semangat banget ngakak kita ke Desa ini. Terus bagaimana dengan Dosen lainnya dan Mahasiswa lainnya? Apakah mereka juga ada yang berasal dari keturunan di Desa ini?" tanya Isna.
"Gw gak tau Na, apakah sebagian dari teman kita juga keturunan dari Desa ini!" balas Meka.
"Kalian pasti bingung dan tidak percaya bukan! Tapi itu sudah sering terjadi sebulan sekali mereka akan membawa masuk tumbalnya ke Desa ini untuk menyerahkannya ke Ki Baron dan memperkaya keluarga mereka yang ada disini," jelas Kakek itu.
"Bisakah Kakek menceritakan ke kami bagaiman cerita tentang Desa tua ini. Dan kenapa bisa menjadi Desa yang angker dan penghuninya sudah pada berumur!" pinta Zain semakin penasaran.
"Ceritanya panjang anak muda. Tapi jika kalian tetap ingin mendengarkannya, saya akan menceritakan tentang Desa ini," ucap Kakek itu.
"Iya Kek, kami akan mendengarkannya dan berharap semua ini bisa selesai," harapan Meka.