Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 182


Meka dan Zain duduk berhadapan dengan Ustadz Ahmad.


"Apa gerangan nak Meka dan Pak Zain datang kemari?" tanya Ustadz itu.


"Sebelumnya, saya dan Meka minta maaf karena datang tiba-tiba, Ustadz. Meka yang menginginkan untuk segera datang kemari karena ada yang mau Meka bahas," jawab Zain mewakili istrinya.


"Oh..., apa kiranya yang ingin nak Meka bahas?" Ustadz itu bertanya lagi.


"Maaf Ustadz, kalau boleh tau, dimana Kakek itu sekarang?" Meka malah balik bertanya.


"Oh...nak Meka mencari Kakek tua itu?"


"Iya Ustadz, karena saya ingin menanyakan sesuatu sama Kakek itu," jawab Meka.


"Beliau sedang berada di kamar. Kalau gitu biar saya panggilkan sebentar," ucap Ustadz itu.


"Biar saya aja Ustadz yang menemuinya," Meka menghentikan langkah Ustadz itu yang hendak berdiri dari tempat duduknya.


"Ya sudah kalau nak Meka yang ingin menemuinya ke kamar beliau. Kamarnya ada di sebelah sana, tepat di sebelah lemari kayu itu ya," tunjuk Ustadz Ahmad.


"Iya Ustadz," Meka pun berdiri dan dia berjalan ke kamar yang ditunjuk Ustadz itu.


Meka pun sampai di depan pintu kamar Kakek tua itu. Lalu dia mengetuk pintu kamar itu.


"Tok tok tok Kek....!" panggil Meka dengan suara yang pelan dan santun.


Tak lama kemudian Nenek tua keluar dari dalam kamar itu.


"Loh Meka disini? Ada apa? Apa ndak ketemu sama Ustadz Ahmad di depan?" tanya Nenek itu.


"Sudah Nek, Ustadz Ahmad ada di dekat. bersama suami saya," jawab Meka sambil menyalami tangan Nenek itu.


"Oh Meka mau ketemu Kakek ya? Bentar Nenek panggilkan ya," si Nenek masuk ke dalam memanggil suaminya.


Sementara Meka menunggu di depan pintu kamarnya sambil berdiri.


Beberapa menit kemudian, si Kakek keluar dari dalam kamarnya.


"Kek," sapa Meka sambil menyalami tangan si Kakek.


"Ayo kita ke ruangan depan. Lebih baik kita membahasnya bersama Ustadz Ahmad," ajak Kakek itu.


"Baik Kek," balas Meka.


Meka dan Kakek tua itu berjalan ke ruangan depan bergabung dengan yang lainnnya. Meka langsung duduk di sebelah Zain. Dan Kakek itu duduk di samping mereka.


"Ini loh Kek, nak Meka ini datangnya mendadak ingin menemui Kakek. Katanya ada yang harus di bahasnya," Ustadz Ahmad membuka suaranya.


"Iya Kakek sudah tau," balasnya singkat.


"Loh maksudnya Kakek sudah tau apa yang mau saya bahas?" tanya Meka tak menyangka si Kakek bisa mengetahui tujuannya.


"Kalau seperti yang saya pikirkan tujuan nak Meka kesini, berarti kita sepemikiran," jawab Kakek itu dengan tenang.


Meka melihat Kakek itu seperti menyimpan kecemasan. Itu semua terlihat dari wajah dan cara bicaranya. Meka bisa merasakan bahwa keadaan sudah semakin tidak baik.


"Dia sudah semakin kuat Meka," ucap Kakek itu tiba-tiba.


"Apakah dia berhasil mendapatkan tumbal janin bayi Kek?" tanya Meka.


"Ya, dia sudah banyak menikmati janin bayi itu. Sebentar lagi malam bulan purnama Meka. Apakah kamu siap?" tanya Kakek itu yang menatap Meka tajam.


Sorot mata Kakek itu tidak seperti biasanya. Ada kekhawatiran yang terpancar dari tatapannya.


"Maaf Kek, kalau boleh tau apakah iblis itu sudah memang mendapatkan tumbalnya? Tapi siapa yang memberinya?" tanya Ustadz Ahmad yang menyela obrolan mereka.


"Ya, dia sudah mendapatkannya. Dan cukup cepat dia mendapatkannya. Dia mudah memakan janin-janin itu di dua tempat. Ada dua dua wilayah yang menjadi tempat dia mendapatkan kekuatannya," jelas Kakek itu.


"Dua tempat? Maksudnya dua wilayah ya Kek?" tanya Ustadz Ahmad.


"Ya, dan wilayah itu tidak jauh dari rumah perempuan yang menginginkan suamimu. Yang sekarang sudah terperangkap di dunia ghaib," jawab Kakek itu.


"Bu Arin..!" ungkap Meka dan Zain berbarengan.


"Benar, dialah yang memberikan janin-janin yang masih berada dalam kandungan Ibunya. Dan hilang begitu saja tanpa tersisa. Dan wanita yang mengalaminya juga akan hilang nyawanya," jelas Kakek itu.


"Loh bagaimana mungkin dia melakukannya Kek?" Apakah dia memiliki koneksi lainnya sehingga mudah iblis itu mendapatkan makanannya.


"Tidak, dia mencari tumbal itu sendiri. Dia bisa menjadi manusia utuh dan jelas berkat bantuan iblis itu. Keduanya saling menguntungkan," ucap Kakek itu.


Suasana menjadi tegang dengan pembahasan yang rumit. Tidak ada yang membuka suara saat ini. Hingga istri Ustadz Ahmad datang menyuguhkan minuman di atas meja.


"Umi kok repot-repot," ucap Meka yang merasa tak enak. Dia pun menyalami tangan Umi itu.


"Ah tidak repot kok nak Meka. Ayo silahkan, biar tenggorokannya tidak kering. Dari tadi saya dengar ngobrol, pasti kehausan," tebak Ini itu.


"Umi tau aja, kalau Meka saat ini memang sangat haus. Terima kasih ya Umi," ucap Meka.


"Iya nak Meka. Umi tinggal dulu ya ke belakang. Si Nenek lagi berada di dapur untuk menyiapkan makan malam nanti," balas Meka..


"Nak Meka makan malam disini kan?!" tanya si Umi.


"Anu Ini, sepertinya kami akan segera pulang ke rumah aja Umi," jawab Meka sambil menoleh ke suaminya.


Meka merasa tak enak hati saat menolak permintaan Umi itu. Dia tidak ingin terlalu berlama-lama di rumah Ustadz Ahmad.


"Jangan menolak rezeki nak Meka. Si Nenek udah sangat antusias memasak untuk makan malam kita," ucap Umi itu mengingatkan Meka.


"Baiklah Umi, kami akan makan malam bareng disini," Zain tiba-tiba membalasnya.


"Alhamdulillah kalau kalian akan makan malam disini. Kalau gitu Umi tinggal dulu ya. Mau nemani si Nenek masak," ucap Umi itu yang pamit dari hadapan mereka.


"Iya Umi," balas Meka.


Setelah kepergian Umi, mereka melanjutkan obrolannya. Meka menatap suaminya yang tidak tau menahu dengan masalah yang akan dihadapi nantinya.


Meka menunduk sejenak, dia tidak tau mau berbicara apa lagi. Seakan-akan pikirannya buntu saat itu juga. Kepalanya pusing memikirkan banyak hal. Sungguh rumit menjadi orang yang memiliki mata bathin dan Khodam.


"Kek, apa yang harus kita lakukan untuk menghadapinya nanti?" tanya Meka dengan wajah masih menunduk.


"Kita akan menghadapinya bersama. Saya akan meminta Ustadz Ahmad menyiapkan beberapa murid didik mengajinya. Dan suami kamu akan ikut mengaji bersama mereka nantinya, agar terlindungi dari jangkauan iblis itu. Dan kita harus memusnahkan mahluk itu semua," jelas Kakek tua itu.


"Apa yang akan terjadi jika itu tidak berhasil memusnahkannya Kek?" tanya Meka penasaran.


"Jika tidak berhasil, maka pasangan suami istri di Desa tua itu akan kembali hidup berkat bantuan iblis janin anaknya. Dan suami kamu akan menempati tubuh laki-laki pasangan kembang Desa itu. Dan perempuan yang menyukai Zain akan menempati tubuh kembang Desa itu sendiri," jelas Kakek itu lagi.


Meka terkejut mendengarnya, dia membayangkan bagaimana nasibnya jika kehilangan suaminya nanti. Meka tidak ingin itu terjadi dengannya.


Meka pun mengangguk memahami apa yang di sampaikan Kakek tua itu.


Sedangkan Zain hanya diam mendengarkan dan mengikuti alur masalahnya. Dia tidak bisa ikut memberikan masukan karena Zain memang tidak memiliki kelebihan dalam dirinya.


"Saya setuju dengan saran dari Kakek. Nak Zain harus ikut bersama kami mengaji. Agar menghindari iblis itu membawa nak Zain ke dunia mereka," sambung Ustadz Ahmad.


Mereka semua terdiam, dan masih sibuk dalam pikiran masing-masing.