Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 33


Meka hanya mengangguk. Diapun masuk kedalam kelasnya. Didalam kelas, Meka melihat Isna, Shinta saja. Sedangkan Deon tidak kelihatan dimejanya.


Meka tidak menyapa kedua sahabatnya itu. Dia langsung duduk di sebuah bangku yang kosong. Dia sengaja memilih bangku didepan agar jauh dari kedua sahabatnya.


Lalu Isna menghampiri Meka dan duduk dihadapannya.


"Ya ampuuun Meka..!!Lo kemana aja? Kemaren malam dicariin gak ada. Bahkan kemaren juga gak masuk kampus! Lo kenapa sih Mek?!" tanya Isna dengan wajah bingungnya.


"Gw gak ada apa-apa Is. Lagi gak enak badan aja kemaren pulang malam-malam," kilah Meka.


Shinta juga menghampiri Meka. Dia pura-pura simpatik dengan keadaan Meka.


"Meka, cerita dong ke kita kalau Lo ada amslaah?" Shinta ikut nimbrung.


Meka mendongakkan kepalanya kedepan menatap kedua sahabatnya itu.


"Gw gak ada masalah. Makasih sudah care sama gw!" ketus Meka dengan wajah yang tak ramah.


Shinta merasa geram melihat wajah Meka yang menjijikkan baginya. Shinta seperti musuh dalam selimut. Berpura-pura baik ternyata punya tujuan. Benar-benar serigala berbulu domba.


Shinta meninggalkan Meka bersama Isna. Isna masih ingin mengetahui apa yang terjadi kemaren malam.


"Mek, please! Cerita dong ke gw. Lo kenapa?" tanya Isna lagi. Isna merasa sedih karena Meka tidak mau terbuka. Padahal mereka adalah sahabat.


"Gw gak apa-apa Na! Lo gak usah mikirin gw," ucap Meka yang males menanggapi pertanyaan Isna.


Isna pun meninggalkan Meka sendirian. Dia kembali kebangkunya menunggu Dosen masuk.


Meka lebih menyibukkan diri dengan melihat berita di ponselnya sambil menunggu Dosen.


Lalu dari depan pintu, masuklah seorang Dosen yang tak lain adalah Dosga mereka. Pak Zain masuk menggantikan Dosen lain yang sedang berhalangan.


"Selamat Pagi semuanya!" sapa Pak Zain.


"Pagi Pak..!" sahut semuanya.


"Loh kenapa Pak Zain yang masuk! Bukannya seharusnya Bu Krisda yang masuk Pak?" tanya salah satu mahasiswa.


"Saya menggantikan beliau, karena sedang berhalangan," jawab Dosga mereka.


Kejadian sebelumnya, setelah Pak Zain mengantarkan Meka kedalam ruangannya, dia pun berjalan menuju ruangannya. Setelah beberapa menit masuk kedalam ruangannya, Bu Krisda menghubunginya dan meminta tolong agar menggantikannya mengajar dikelas Meka.


Awalnya Pak Zain menolak, tapi Bu Krisda memohon karena suatu hal, maka Pak Zain pun menyanggupinya. Dia pun bersiap-siap untuk masuk kedalam kelasnya Meka.


"Owhhhh!" seru semua mahasiswa.


"Pak, rencana tournya sudah berapa persen persiapannya?" tanya salah satu mahasiswi.


"Kalau untuk urusan itu kalian bisa menanyakannya dengan Bu Arin, ok," tegas Dosga mereka.


Pak Zain pun memulai pelajarannya. Dia memberikan materi sesuai instruksi Bu Krisda. Selama pembelajaran berlangsung, Pak Zain mengirim pesan kepada Meka. Namun Meka tak membalasnya karena tidak ingin menjadi perhatian mahasiswa lainnya.


Hingga jam pelajaran yang disampaikan Dosganya selesai. Lalu Pak Zain menyudahi materinya dan meninggalkan ruangan itu.


Saat keluar ruangan, Pak Zain sempat melirik kearah Meka. Dan saat yang sama Meka juga melihat kearah Dosganya. Mereka saling melempar senyuman penuh arti.


Meka belom mau keluar ruangan, dia menunggu mahasiswa lainnya keluar duluan dari ruangan kelas. Setelah ruangan sepi, barulah Meka keluar dari ruangan dan berjalan menuju tempat Dosganya. Namun Meka tidak tau kalau didalam sana ada Shinta yang sedang mencoba mendekati Dosganya dengan pelet.


"Pak, saya boleh gak minta bantuan Bapak untuk meminjamkan saya catatan tadi, karena tadi saya sempat ketinggalan," ucap Shinta dengan gaya yang dibuat menggoda.


"Kamu bisa meminjam dengan teman yang lainnya, sekarang silahkan kamu keluar dari ruangan saya!" tegas Pak Zain dengan menatap dingin kearah Shinta.


Namun Shinta tidak perduli, dia terus mendekati Pak Zain. Dan mencoba merayunya.


"Pak..,tolonglah sekaliiii ini aja," ucap Shinta dengan suara dibuat seperti orang mende***.


Saat Shinta hendak membacakan mantra dihadapan Pak Zain, tiba-tiba Meka masuk nyelonong begitu saja kedalam ruangan. Dia terkejut melihat Shinta dengan posisi yang mencondongkan tubuhnya kearah Dosganya.


"Shinta!!" Meka kaget melihat kehadiran Shinta diruangan itu.


"Eh, Meka. Sorry, gw tadi mau minjem catatan yang tadi sama Pak Zain," ucap Shinta gugup.


"Sialan, lagi-lagi rencana gw gagal gara-gara perempuan ini! Padahal sedikit lagi gw bisa menguasai Pak Zain," bathin Shinta yang merasa kesal dengan kedatangan Meka.


Meka menatapnya penuh curiga dan tersenyum. Dia merasa curiga dengan Shinta yang berada didalam ruangan kekasihnya.


"Bisa Lo tinggalin gw sama Pak Zain sekarang," tekan Meka dengan intonasi datar.


"Oh i..iya boleh," jawab Shinta gelagapan. Dia pun keluar dari ruangan Pak Zain dengan hati yang dongkol.


"Benar-benar sialan tuh perempuan. Gw harus secepatnya mengambil Pak Zain dari lo," gumam Shinta sambil menatap kearah pintu ruangan Pak Zain yang tertutup.


Sedangkan didalam ruangan, Meka menatap tajam kearah Dosganya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Meka dengan wajah datarnya.


Zain menghampiri Meka dan berdiri dihadapan Meka.


"Aku tidak melakukan apa-apa sayang, kamu mau lihat CCTV nya?" tanya Zain sambil merangkul pinggang Meka. Zain langsung membawa Meka melihat rekaman CCTV mulai dari pertama Shinta masuk dan apa yang dilakukannya sampai Meka datang keruangan itu. CCTV diruangan itu hanya Meka yang mengetahui keberadaannya.


Meka melihat Shinta masuk keruangan kekasihnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dan Meka juga melihat bagaimana Shinta mencoba menggoda kekasihnya. Zain hanya duduk nyantai sambil memangku Meka.


"Terus kenapa kamu membiarkan Shinta mencondongkan tubuhnya kearah kamu?" protes Meka.


"Udah ah, aku males membahasnya," ucap Meka.


"Kamu kenapa sih yanx? Sepertinya hari ini kamu tidak bersemangat. Apa perlu aku buat kamu semangat biar suasana makin hot!" goda Zain sambil merangkul pinggang Meka.


"Jangan menggodaku Zain!" Meka memanyunkan bibirnya.


"Hahaha, habis kamu hari ini kelihatan berbeda sayang. Sini biar aku seneng ini," lagi-lagi Zain menggoda Meka.


Tanpa menunggu persetujuan Meka, Zain langsung menempelkan bibirnya ke bibir Meka. Zain menatap mata Meka dengan lekat, lalu perlahan dia mulai melu*** bibir Meka dengan lembut. Meka pun mulai memejamkan matanya menghayati kenikmatan yang diberikan Zain melalui ciuman. Zain terus memberikan sensasi nikmat terhadap Meka. Hingga suasana menjadi panas dan mereka hilang kendali. Tak hanya dibibir, Zain juga memberikan sentuhan didada Meka. Dia mer**** nya dengan lembut hingga Meka mengeluarkan suara merdunya.


Tak sampai disitu saja, tangan Zain bergerilya dibawah pusar Meka dan itu memberikan sensasi nikmat bagi Meka. Lagi-lagi Meka mengeluarkan suara merdunya hingga pelepasan pertamanya. Lalu Zain mulai menyingkap rok panjang Meka keatas sampai pusar, hingga mereka akhirnya melakukan penyatuan untuk kesekian kalinya. Zain terus menggerakkan pinggulnya dengan gaya ***** *****. Mereka terus melakukannya tanpa perduli dengan diluar ruangan. Hingga akhirnya mereka melakukan pelepasan secara bersamaan. Zain langsung terduduk di kursi kerjanya dan menarik Meka keatas pangkuannya.


"Sayang, kamu sungguh nikmat sekali," ucap Zain dengan suara yang ngos-ngosan.


"Zain jam berapa ini? Kita kan harus ngantar Mamaku ke Bandara!" sahut Meka dengan suara ngos-ngosan juga.


"Hahh, tunggu benarin dulu ini celanaku sayang!" ucap Zain sambil menyuruh Meka berdiri.


Zain membenarkan celananya dan membantu Meka membenahi pakaiannya.


"Sayang, ayo kita menikah!" ajak Zain tiba-tiba sambil memeluk Meka.


"Aku masih kuliah Zain! Tunggu aku sampai selesai ya?" balas Meka.


"Heumm, aku akan menunggumu sayang. Ayo kita berangkat ke kostnya. Kita jemput Mama kamu ya," ajak Zain.


Mereka keluar dari dalam ruangan Dosen dan berjalan menuju parkiran. Banyak mata yang memandang mereka berdua. Terutama Shinta dan Bu Arin yang berada dilantai dua kampus. Mereka memandang tak suka kearah keduanya yaitu Meka dan Zain.


"Sayang, jangan kamu perdulikan ya apa yang diucapkan mereka," Zain berusaha menenangkan perasaan Meka.


Meka hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Zain.


Mereka berdua masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan kampus.


Sepanjang perjalanan, Meka hanya menatap keluar jendela. Pikirannya selalu terarah ke Mamanya. Dia tidak ingin membiarkan Mamanya pulang ke Sumatera. Perasaannya merasa tak tenang dan khawatir.


Zain melihat sikap Meka yang diam saja. Lalu dia mengambil tangan Meka dan meletakkannya diatas pahanya sambil menggenggamnya.


"Katakan, apa yang sedang kamu pikirkan sayang?" tanya Zain dengan sekali lirikkan karena posisinya sedang menyetir.


"Zain, kenapa ya hatiku gelisah. Aku seperti tak rela jika hari ini Mama balik ke Sumatera," terang Meka sambil menatap kedepan.


"Apa kamu khawatir akan terjadi sesuatu terhadap Mama kamu?" tanya Zain lagi.


"Ntahlah yanx, aku gak tau juga. Tapi aku merasa tidak ingin ditinggal sama Mama," ucap Meka.


"Do'akan saja ya sayang, semoga Mama sehat selalu. Kamu jangan perlihatkan wajah seperti itu dihadapan Mama kamu, karena nanti Mama kamu merasa sedih dan tak tega ninggalin kamu," nasehat Zain agar Meka tetap tersenyum saat Mamanya pulang ke Sumatera.


Meka membuang nafasnua dengan berat.


"Aku akan usahakan ya Zain. Mudah-mudahan kekhawatiran ku ini tidak terjadi," ucap Meka sambil memaksa tersenyum.


"Aamiin," balas Zain.


Mereka pun kembali diam, Meka lebih memilih melihat jalanan dan Zain fokus menyetir hingga beberapa jam kemudian mereka sampai dikostannya Meka.


"Ayo sayang, kita jemput Mama kamu dikost," ajak Zain keluar dari mobil setelah mereka sampai.


Meka dan Zain masuk kedalam kostan Meka. Zain menunggu diruang tamu dan Meka berjalan kearah kamarnya. Ternyata saat Meka masuk, Asih berada didalam kamarnya bersama Mamanya.


"Eh Lo gak kuliah Sih?" tanya Meka saat melihat Asih ngobrol sama Mamanya.


"Mek, gw ikut ya nganter Mama Lo? Ya kali aja ini terakhir kali gw ketemu Mama Lo," ucap Asih nyeplos.


"Ya udah kalau Lo mau ikut gak apa! Yuk Ma, kita berangkat. Zian sudah nunggu didepan," ucap Meka sambil mengajak Mamanya keluar kamar.


"Iya sayang, ayo," balas Mamanya.


Mereka bertiga berjalan keluar dari kamar menuju ruang tamu.


"Eh nak Zain. Jadi ngerepotin nak Zain ya!" seru Mamanya Meka.


"Ah nggak kok Tante. Mana barang yang mau dibawa Tante, biar Zain angkat," ucap Zain yang ingin membantu mengangkat barang Mamanya Meka.


"Ini nak," tunjuk Mamanya Meka.


Mereka pun bergegas meninggalkan kost-kostan dan masuk kedalam mobil. Meka dan Mamanya serta Asih duduk bertiga dibelakang. Sedangkan Zain sendirian didepan menyetir.


Sepanjang perjalanan, Meka tak henti-hentinya bergelayut manja dengan Mamanya. Dia gak mau lepas dari pelukan Mamanya.


"Kamu ini udah gede, tetep juga seperti ini," canda Mamanya.


"Biarin, namanya juga Mama sendiri. Kan gak ada larangan buat bermanja-manja sama Mama," balas Meka.


"Emang kamu gak malu dilihat sama nak Zain tuh!" tunjuk Mamanya Meka sambil mengusap lembut rambut Meka.


"Gak, buat apa malu. Ya kan Pak!" ucap Meka.


"Iya Mek!" jawab Pak Zain sambil tersenyum.