Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 114


Meka dan yang lainnya sudah turun dari mobil dan berjalan ke arah rumah nenek itu. Si nenek menatap heran melihat kehadiran kami di Desa itu.


"Assalamu'alaikum nek!" sapa Zain.


Namun nenek itu tak menjawab salam dari Zain. Dia menatap tajam ke arah mereka berempat.


"Nek maaf kami mengganggu aktifitas nenek. Kami hanya mau menanyakan rumah Kepala Desa disini nek?" tanya Meka yang sesopan mungkin.


"Ada apa kalian mencari rumahnya?" tanya nenek itu.


"Kami ingin bersilaturrahmi nek. Sekalian mau menemui teman-teman kami yang kemaren datang ke Desa ini," jawab Meka.


Nenek itu terlihat ketakutan saat mendengar kata teman-teman yang datang. Dia menatap satu persatu ke arah Meka dan yang lainnya.


"Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian masih disini?" tanya nenek itu.


"Kami ingin ke rumah Kepala Desa nek!" jawab Isna dari belakang.


"Mau apa kalian kesana?" tanyanya kembali.


"Ada yang ingin kami tanyakan nek. Tolong bantuannya agar kami bisa menemui Kepala Desa ini," ucap Zain tegas.


"Rumahnya disana yang memiliki banyak tanaman kaktus. Jangan mencarinya dan bertanya kepadanya, karena kalian tidak akan mendapatkan jawabannya," jelas nenek itu.


Zain dan Meka menatap bingung dengan ucapan nenek itu. Lalu Meka menoleh kearah Zain.


"Gimana Mas?" tanya Meka.


"Ayo pergi dari sini. Kita harus ke rumah Kepala Desa itu dan menemukannya," jawab Zain.


"Nek, terima kasih atas infonya. Kami permisi dulu," ucap Meka dengan sopan.


Nenek itu tak menjawabnya, dia hanya memandang iba melihat kedatangan Meka dan yang lainnya.


"Bodoh! Mengantar nyawa kesini!" umpat nenek itu.


Namun masih terdengar oleh Meka apa yang diucapkan Nenek tua itu. Meka pun menoleh kebelakang dan menatap Nenek itu sekilas. Dia melihat senyum menyungging dibibir tuanya.


Kemudian mereka masuk ke dalam mobil dan Zain membawa mobil perlahan-lahan hingga berhenti di sebuah rumah mewah dengan halaman luas.


"Mek nih ya rumah Kepala Desanya? Gila bener....gede banget ya Mek! Ngalahin rumah gw," celetuk Deon yang duduk dibelakang.


"Tapi rumahnya sepi banget ya Mek? Kayak gak ada kehidupan di dalamnya. Apa gak serem tinggal di rumah besar begini?" tanya Isna yang masih menatap rumah itu dari jendela kacanya.


"Tapi dia hanya Kepala Desa disini, rumahnya besar banget? Apa yang dihasilkannya hingga bisa memiliki rumah sebesar ini?" tanya Meka takjub dengan pemandangan mewah itu.


"Jangan-jangan dia menggunakan pesugihan Mek!" celetuk Deon.


"Iya ya, mungkin Kepala Desanya juga ikutan menumbalkan orang sehingga dia memiliki harta banyak begini. Masa jabatan hanya Kepala Desa bisa memiliki rumah semewah ini, apalagi Desa ini tidak ada kehidupan yang bisa menghasilkan uang banyak," sambung Isna.


"Ayo kita turun, kita temui Kepala Desa itu," ajak Zain yang membuyarkan rasa penasaran mereka.


"Eh iya Pak, ayo kita keluar dari mobil. Gw penasaran pengen melihat isi rumahnya," balas Deon.


"Hahaha, buat apa Lo pengen tau isi rumah Kepala Desa itu Deon...? Tumben Lo jadi orang kepo," ketus Isna.


"Ih berisik deh Lo Na. Gw penasaran aja. Kali aja rumahnya di dalam biasa aja. Dari luar kelihatan mentereng ternyata di dalam meredup alias kosong melompong gak punya apa-apa," ucap Deon dengan sadisnya.


"Hahaha, betul-betul-betul. Gw salut dengan pemikiran Lo yang cerah secerah matahari diatas kepala kita," sambung Isna yang semakin ngelawak.


"Ayo kita masuk ke dalam. Kalian kenapa malah membahas hal yang tak penting," ucap Dosga mereka serius.


"Sama Pak, saya juga mewakili pikiran Deon. Kami sejalan," sambung Isna dengan lugunya.


"Udah yuk kita masuk. Nanti rasa penasaran kalian akan ketahuan saat kita berada di dalam rumahnya," jawab Meka.


Mereka berjalan memasuki pekarangan rumah itu. Halaman yang sangat luas dengan taman yang ditumbuhi bunga kaktus dan ada beberapa pohon beringin yang besar dengan ranting yang berjuntai ke tanah.


"Mek tuh pohon beringinnya kok gede banget ya? Serem gw ngelihatnya," Ucap Deon yang meneliti pohon beringin itu.


"Ngapain Lo lihatin tuh pohon. Nanti Lo ditelannya baru tau," ketus Isna.


"Ih Na, Lo jahat banget ya sama kekasih sendiri. Bukannya menggandeng gw biar gak takut, malah nakutin gw," ucap Deon cemberut.


Meka menatap pohon beringin itu. Meka dapat melihat keberadaan genduruwo di dekatnya yang sedang memakan sesajen berupa daging dan manusia serta kembang tujuh rupa yang terletak di samping pohon itu. Dan hanya Meka yang dapat melihatnya. Meka sempat merasa mual melihat mahluk itu mengunyah daging manusia, hingga bulu kuduk Meka berdiri.


"Ayo cepat, kita harus masuk ke dalam rumah itu!" ajak Meka.


"Meka, mahluk itu peliharaan Kepala Desa itu. Dia mengikuti Ki Baron untuk bersekutu dengan iblis demi harta dan kemewahan. Jangan terperdaya dengan keluguan Kepala Desa itu," Khodamnya Meka memberi peringatan terhadapnya.


Meka mengangguk mengiyakan ucapan Khodamnya.


Saat mereka hendak melangkah menginjakkan kaki ke teras rumah itu, tiba-tiba Kepala Desa itu keluar dari rumahnya dan melihat kehadiran Meka dan yang lainnya.


"Loh nak Meka, sudah lama disitu?" tanya Kepala Desa yang berpura-pura.


"Ah nggak Pak, kami baru aja sampai," jawab Zain yang mengambil alih jawabannya.


"Bukannya kalian ada di rumah itu? Dan kenapa kalian masih ada disini?" tanya Kepala Desa itu tak percaya.


"Iya Pak, kami kemaren jalan-jalan ke kota dan sudah kemalaman, jadi kami putuskan untuk pagi ini kembali ke sini. Tapi tadi di rumah itu kosong Pak. Kemana ya mereka?" tanya Meka pura-pura tidak tau.


"Oh saya kurang tau nak Meka. Mungkin mereka ada di sekitar Desa," jawab Kepala Desa itu dengan wajah sedikit memucat.


"Oh gitu ya Pak. Baiklah kalau gitu, kami mau mencari mereka. Biar bisa ikut melaksanakan kegiatan yang dijadwalkan," balas Meka lagi.


"Oh i..iya silahkan. Saya juga mau keluar karena ada urusan," ucap Kepala Desa itu.


"Baik Pak, kami permisi dulu mau cari teman yang lainnya," pamit Meka.


Deon dan Isna hanya diam saja. Mereka gak berani bicara karena takut salah atau malah merepotkan Meka. Mereka berdua memilih diam dan memandangi sekeliling rumah itu.


"Iya silahkan nak Meka dan Pak Zain," balas Kepala Desa itu.


Lalu mereka pergi keluar dari pekarangan rumah itu. Saat Meka hendak masuk ke dalam mobil, dia melihat sosok wanita muda seperti sahabatnya sedang menatapnya dengan kesedihan. Meka ingin menghampirinya, namun ditahan oleh Khodamnya.


"Jangan kesan Meka! Dia sudah berbeda alam denganmu. Jangan sampai dia membawamu ikut serta bersamanya," ucap Khodamnya yang tiba-tiba menghadang Meka.


Meka pun berhenti dan kembali masuk ke dalam mobil. Dia masih menatap ke arah sosok mahluk ghaib itu. Meka bisa melihat air mata yang mengalir di pipi sahabatnya itu. Dia pun meneteskan air matanya juga.


"Lo kenapa Mek?" tanya Isna bingung.


"Sayang, kenapa kamu menangis" tanya Zain khawatir.


"Mas, aku melihat Asih disana, dia menangis Mas," jawab Meka sedih.


"Apa Mek! Lo lihat Asih? Maksud Lo, dia sudah menjadi mahluk ghaib?" tanya Deon tak percaya.


"Lo serius Mek itu Asih?" Isna pun ikut bertanya.