Aku Ternyata Memiliki Khodam

Aku Ternyata Memiliki Khodam
Bab 255


Setelah kepergian Ustadz Ahmad dan Kakak tua serta yang lainnya, Zain kembali ke dalam kamar di mana Meka berbaring.


"Pa, Om, Tante, lebih baik kalian beristirahat saja. Biar Zain yang menemani Dae di sini," ucap Zain.


"Baiklah Zain, Papa dan Om akan kembali ke rumah Ustadz Ahmad untuk menginap satu malam di sana. Papa akan batalin keberangkatan kita ke Medan. Setelah Meka pulih baru kita berangkat," balas Papanya Meka.


"Baiklah Pa, Zain pun berpikir hal yang sama," ucap Zain.


"Kalau begitu kami naik grab online saja Zain. Sebentar lagi kami ke sana. Biar Papa menemani Meka dulu di sini," pinta Papanya Meka.


"Kalau begitu Papa bisa beristirahat dulu, Zain akan menemani Meka di sini," balas Zain.


"Bang, sebenarnya apa yang terjadi dengan Meka? Kenapa dia bisa pendarahan begitu?" tanya Sandy adik iparnya.


"Abang juga belum tau San, nanti kalau Meka sudah pulih, kita akan menanyakannya," jawab Abang iparnya.


"Iya Bang, aku juga heran, apa Meka kena guna-guna ya Bang?" tanya istrinya Sandy.


"Hust kamu itu dek, jangan ngomong sembarangan. Semoga saja tidak," bantah suaminya.


"Aku hanya bertanya Bang, aku hanya mengkhawatirkan keadaan keponakan kita. Kasihan dia Bang, baru aja hamil, sudah ada gangguan seperti itu," balas istrinya.


"Ya sudah, lebih baik kita berdo'a supaya Meka terhindar dari hal-hal begitu," ucap Abang ipar mereka.


Kemudian Papa dan Omnya Meka serta Tantenya memilih beristirahat di sofa. Hingga hari menjelang petang, Papanya Meka berpamitan untuk kembali ke rumah Ustadz Ahmad.


"Zain, Papa dan Om kamu balik dulu ke rumah Ustadz. Tadi Papa sudah izin sama dia untuk menginap di sana malam ini."


"Iya Pa, kalau begitu Papa bawa saja mobil Zain," ucap Zain.


"Tidak perlu Zain, karena Ustadz Ahmad dan Kakek akan kemari sebentar lagi. Mereka ingin melihat keadaan Meka," balas Papa mertuanya.


"Oh, Papa bareng Ustadz ke rumah mereka?" tanya Zain.


"Iya Zain," jawab Papanya.


Ustadz Ahmad dan Kakek tua sengaja mengunjungi Meka sebelum Maghrib. Mereka berencana ingin memantau keadaan di sekitar Meka dan Zain. Karena ketika mereka berdua di rumah sakit, Ustadz khawatir akan banyak mahluk ghaib yang mendatangi Meka.


Akan tetapi Ustadz tidak memberitahukan hal itu ke Papanya Meka. Dia berencana mengecek sendiri keadaan di sana.


Tak berselang lama, Ustadz dan Kakek tua datang ke ruangan itu.


"Assalamu'alaikum," ucap Ustadz Ahmad ketika membuka pintu kamar.


"Wa'alaikumussalam Ustadz, kek, jawab Zain yang langsung berdiri mematung kedatangan Ustadz dan Kakek tua.


Papanya Meka dan Sandy ikut berdiri menyambut kedatangan mereka.


"Ustadz, ayo silahkan duduk dulu," Papanya Meka mempersilahkan keduanya duduk.


"Ah terima kasih Pak. Gimana keadaan Meka?" tanya Ustadz.


Ustadz Ahmad berjalan menghampiri Meka yang sudah duduk sambil memakan buah yang di kupas Zain.


"Alhamdulillah Ustadz, saya sudah baikan," Meka langsung menjawab ucapan Ustadz Ahmad.


Sementara Kakek tua berjalan keluar dari kamar itu. Dia melihat sekeliling banyak sekali mahluk ghaib yang melihat ke arah kamarnya Meka. Mahluk-mahluk itu tidak semuanya jahat. Mahluk ghaib yang jahat terus memandang kamar Meka. Aroma janin Meka sangat mempengaruhi penciuman mahluk itu.


"Tidak perlu khawatir, aku akan menjaga Meka di sini. Mahluk-mahluk itu tidak berani mendekat," tiba-tiba Khodamnya Meka muncul dihadapan Kakek tua.


"Kehamilan Meka sangat berpengaruh besar bagi keselamatannya. Kau harus benar-benar menjaganya. Jangan sampai kecolongan lagi. Kerahkan semua pengikutmu," perintah Kakek tua.


"Ya aku salah karena tadi kecolongan. Aku juga tidak menyangka Meka akan mendapatkan serangan mendadak seperti tadi. Itu tidak akan terulang kembali," balas Khodamnya Meka.


"Ngomong-ngomong, kau berhutang nyawa dengan pemuda itu. Kau telah mengingkari janjimu dulu. Kenapa kau melakukannya?" tanya Kakek tua memancing Khodam itu.


"Jika aku menceritakannya, apakah kau akan menyimpannya?" tanya Khodam itu.


"Aku bukan orang yang suka membuka aib siapapun. Kalau kau ingin bercerita, katakanlah," jawab Kakek tua.


Khodam Meka berpikir, apakah saat ini waktu yang tepat untuk membuka ceritanya? Namun sesaat dia berubah pikiran.


"Ah sudahlah, aku tidak ingin menceritakannya. Nanti ada saatnya semua itu disampaikan," ucap Khodam itu.


"Ah baiklah, terserah kau saja. Yang terpenting, kau jangan lengah dan tetap lindungi Meka. Aku yakin, kau punya sesuatu yang sangat rahasia, sehingga tidak ingin menceritakannya," balas Kakek tua.


"Tentu aku akan melindungi Meka," ucap khodam itu. Lalu dia pun menghilang dari hadapan Kakek tua.


Sementara mahluk-mahluk itu menggeram, mencoba mendekati Kakek tua itu. Namun mahluk-mahluk itu terpental akibat pelindung yang di buat Rudy. Khodam Meka tidak bisa menahan mahluk-mahluk itu karena kondisinya saat ini sedang kekurangan tenaga. Dia harus mengembalikan tenaganya agar bisa menghadapi iblis itu. Sehingga Rudy yang memberikan pelindung terhadap Meka.


Kemudian Kakek tua amsuk ke dalam kamar Meka, dia melihat ke arah Ustadz Ahmad dan memberikan kode melalui matanya.


"Baiklah nak Meka, Zain sebaiknya kami kembali ke rumah. Karena sebentar lagi akan Maghrib," pamit Ustadz Ahmad.


"Oh baik Ustadz, terima kasih atas kunjungannya," balas Zain.


"Pak, bisa kita berangkat sekarang?" tanya Ustadz Ahmad kepada Papanya Meka.


"Iya Ustadz, kita berangkat sekarang," balas Papanya Meka.


Setelah berpamitan, Papanya Meka dan yang lainnya pergi meninggalkan Meka dan Zain di dalam ruangan itu. Saat mereka keluar dari kamar itu, Papanya Meka terkejut.


"Astaghfirullahal'adzim," ucapnya kaget saat melihat banyak mahluk ghaib yang berada di dekat kamar Meka.


"Jangan dilihat Pak, mahluk-mahluk itu tidak akan bisa mengganggu Meka," jelas Ustadz Ahmad.


"Kenapa seperti itu Ustadz?" tanya Papanya Meka penasaran.


"Karena sudah diberi pagar pelindung oleh pemuda itu," Kakek tua yang memberikan jawabannya.


"Baiklah Ustadz, mari kita pergi," ajak Papanya Meka.


Mereka pergi dari depan kamar Meka. Mahluk-mahluk itu terus mencoba menembus pagar itu. Namun tak bisa juga. Lalu iblis yang bekerja sama dengan Mona muncul tepat dihadapan kamar Meka. Dia bisa mencium aroma darah segar dari janin Meka.


"Aku harus mendapatkannya. Aku akan sangat kuat jika bisa memakan janin itu. Janin itu bukan janin biasa. Kalau dia tumbuh, maka kekuatannya akan tidak tertandingi," gumam iblis itu. Iblis itu menatap tajam ke arah kamar itu.


"Sialan, dia memasang pagar ghaib, aku Tidka bisa menembusnya," maki Iblis itu.


Lalu iblis itu menghilang meninggalkan mahluk-mahluk lainnya yang sedang mencoba menembus pagar ghaib.